
...***...
Matahari telah condong ke arah barat, tanda memasuki waktu ashar telah sangat jelas. Gandara Fusena sedang mengerjakan sholat ashar dengan sangat khusuk. Namun tetap, di dalam do'anya ia meminta petunjuk kepada Allah SWT agar menunjukkan keberadaan anaknya Darya Fusena yang kini entah berada di mana.
"Semoga hamba masih bisa bertemu dengan anak hamba ya Allah." Dalam hatinya sangat berharap untuk itu. "Namun saat itu aku seperti melihat sosok anakku dari pemuda itu." Dalam hatinya masih ingat dengan apa yang ia lihat saat itu.
Namun saat itu lamunannya teralihkan oleh seorang wanita yang sangat cantik, yang sengaja datang ke sana dan duduk bersama dengannya?.
"Apakah saya boleh ikut duduk bersamamu tuan?."
"Sebaiknya nini cari tempat lain saja. Karena tempat ini tidak aman untuk nini."
"Kenapa tuan sangat yakin mengatakan itu pada saya?. Apakah tuan takut?. Akan tergoda akan kecantikan saya?."
"Mungkin Tuan hanya belum terbiasa saja bersama wanita cantik seperti saya."
"Astaghfirullah hal'azim nini. Jangan sampai nini memberi kesan yang sangat buruk kepada seorang laki-laki, dengan apa yang telah nini katakan tadi."
"Kau tidak usah munafik seperti itu!. Kau sama saja dengan lelaki bajingan di dunia ini!."
"Astaghfirullah hal'azim nini. Jangan nini sama ratakan kami dengan pikiran nini. Apakah nini tidka akan tersinggung?. Jika saya mengatakan hal yang sama pada nini?."
"Kau tidak usah membandingkan kami para wanita. Dan lupakan saja, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu tuan."
"Kalau begitu nini jangan memancing keinginan buruk orang lain padamu nini."
Saat itu Gandara Fusena sedang menutupi tubuh wanita asing itu dengan kain yang ia bawa di buntalan miliknya.
"Apa yang tuan lakukan padaku?. Apa tujuan tuan menutupiku dengan itu kain ini?."
"Jika saya tidak menutupi bagian itu, mata saya akan berdosa. Karena merasa tertarik untuk melihatnya. Nanti nini menilai saya sama seperti lelaki yang nini temui?."
"Jadi hanya karena itu saja?."
"Saya juga tidak mau amal ibadah yang saya kerjakan tadi terkuras habis, hanya karena saya melihat bagian yang tidak seharusnya saya lihat. Sholat yang saya kerjakan akan sia-sia, dan saya akan sial."
"Ternyata kau banyak bicara juga tuan." Entah kenapa ia terlihat sangat kesal saat itu.
...***...
__ADS_1
Sementara itu di Bukit Kegelapan.
Pada saat itu mereka semua sedang fokus menyalurkan tenaga dalam pada sebuah topeng yang hampir saja selesai. Mereka telah bekerjasama untuk menyelesaikan topeng itu dengan kekuatan yang mereka miliki. Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama bagi mereka untuk membuatnya.
"Topeng hitam kegelapan ini akan menutupi hawa cakrawala. Dan aku sangat yakin, jika dia tidak akan menyadari ada lambaran ajian pengikat jiwa di dalam topeng ini. Jadi dia tidak akan bisa membuka topeng ini sembarangan."
"Lalu kapan kakang akan memberikannya pada cakra?."
"Mungkin setelah nini asmara tanjung benar-benar menyerahkan cakra pada kita."
"Kalau begitu kita benar-benar harus bersabar, jika kita menginginkan hal itu segera terwujud."
"Ya. Kita harus berhasil mewujudkannya. Jangan sampai gagal lagi."
"Aku yakin akan berhasil."
Hanya itu hadapan mereka saat itu, namun apakah memang akan segera tercapai keinginan mereka setelah bertahun-tahun?. Apakah bisa dijamin berhasil dengan rencana mereka itu?.
...***...
Gandara Fusena sangat heran dengan wanita yang kini ikut dengannya. Ia tidak mengerti apa yang diinginkan oleh wanita itu ikut dengannya.
"Ini sudah hampir malam. Apakah nini tidak memiliki tempat tujuan untuk pulang?."
"Tidak baik, nini berkata seperti. Kasihan calon bayi yang akan lahir itu."
Gandara Fusena telah menyadari, jika wanita yang ikut bersama dengannya saat itu seorang wanita yang sedang mengandung.
"Untuk apa kau kasihan pada anak yang tidak akan memiliki bapak?. Apakah kau mau menjadi bapaknya?."
Deg!.
"Kenapa kau diam saja?. Apakah kau takut?. Kau memang takut, kan tuan?."
"Sebagai seorang manusia, saya takut sekali nini. Namun yang lebih saya takutkan adalah, ketika saya tidak bisa menerima nini. Tapi Allah SWT akan selalu memberikan tempat perlindungan bagi hamba-Nya."
"Kau tidak usah memberikan aku harapan tuan. Jika tuan keberatan ingin menjadi bapak dari anak ini?. Maka segera tinggalkan saja aku."
"Tenanglah. Sebentar lagi kita akan sampai di pondok persilatan bukit harapan. Nanti akan saya kenalkan nini dengan nyai embun asih. Semoga saja beliau bisa membantu nini."
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari wanita itu, karena ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Gandara Fusena. Bisa jadi lelaki yang ia temui itu mencoba untuk menipu dirinya.
...***...
Malam hari di Bukit Kegelapan.
Saat itu Cakrawala sedang membantu Nini Asmara Tanjung untuk menyiapkan makan malam yang telah mereka buat.
"Selain hebat meramu obat dan racun, ibu memang pandai sekali memasak."
"Sebagai seorang wanita, tentunya ibu harus pandai memasak."
"Tapi sayang sekali ibu. Kenapa ayah, paman taraka dan yang lainnya tidak mau memakan masakan ibu?."
"Mungkin mereka takut aku racuni."
Cakrawala tertawa geli mendengarkan ucapan ibunya. Ia tidak menduga jika ayah dan pamannya akan berpikiran seperti itu terhadap ibunya?.
"Mungkin kena racun yang membuat mereka tidak bisa berhenti untuk memakan masakan ibu yang sangat enak ini."
"Kau memang pandai sekali dalam menghibur aku cakra."
"Tapi saya bukan pemain sandiwara tukang lucu ibu."
"Ya. Anggap saja seperti itu. Karena kau selalu menghibur aku."
"Ibu bisa saja."
Malam itu, malam yang selalu dimimpikan oleh Nini Asmara Tanjung, karena sebenarnya ia ingin dekat dengan Cakrawala. "Tinggal tiga hari lagi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini." Dalam hatinya sebenarnya sangat gelisah. "Aku harus menikmati malam ini denganmu cakra. Karena aku sangat yakin, cepat atau lambat kau akan segera membalaskan dendam kakang hadi gama pada semua pendekar yang telah membuat ia menderita di masa lalu." Dalam hatinya sangat sedih mengingat apa yang telah dialami oleh suaminya itu?. "Tapi kenapa kau yang harus membalaskan semuanya cakra?." Dalam hatinya sangat tidak terima. Namun ia sangat mengerti dengan sifat suaminya yang sangat kasar itu.
"Ibu. Besok ilmu pengobatan apa lagi yang akan ibu ajarkan pada saya?."
"Besok ibu akan mengajarimu ilmu kanuragan penenang sukma."
"Kenapa ibu mengajari saya ilmu itu?."
"Sebab. Di dalam ilmu kanuragan membuka mata batin pencuri jurus kegelapan lawan, kau telah menyelimuti tubuhmu dengan hawa jahat. Jadi ketika kau tidak bisa mengendalikan dirimu, maka gunakan jurus itu."
"Baik ibu."
__ADS_1
Bagaimana kelanjutannya?. Bisakah ia melakukannya?. Temukan jawabannya. Next.
...***...