
...***...
Saat mereka istirahat di sebuah tempat yang cukup aman, saat itu Cakrawala sedang ingat pada ibunya yang mungkin sedang meramu obat?.
"Aku sangat merindukanmu ibu." Dalam hatinya mengingat kedekatannya dengan wanita yang ia panggil dengan sebutan ibu.
Kembali ke masa itu.
Pagi telah menyapa, perlahan-lahan Nini Asmara Tanjung membuka matanya. Namun ia semakin bingung karena ia berada di atas tempat tidur?.
"Kenapa ibu terlihat bingung seperti itu?."
"Oh?. Cakra?. Apa yang sedang kau lakukan?." Nini Asmara Tanjung langsung mendekati anaknya yang sedang terlihat membawa beberapa kendi yang berisi air?. "Kondisi tubuhmu masih belum kuat untuk melakukan pekerjaan yang berat."
"Tidak apa-apa ibu, saya sudah baikan."
"Kalau begitu duduk lah. Lihat?. Keringatmu banyak sekali."
"Sungguh, aku baik-baik saja ibu."
"Baiklah, kalau begitu duduk saja dulu." Nini Asmara Tanjung menarik tangan anaknya agar duduk di sampingnya. "Apakah kau yang telah memindahkan aku cakra?."
"Maaf ibu, jika saya lancang. Hanya saja saya tidak tega melihat ibu tidur di tempat yang hanya beralasan tikar saja." Cakra terlihat malu-malu. Sedangkan Nini Asmara Tanjung hanya tertawa kecil melihat sikap malu-malu anaknya itu.
"Kau sungguh anak yang sangat baik sekali cakra." Hatinya sangat tersentuh dengan apa yang telah dilakukan anak angkatnya itu. "Jika saja kau adalah anak kandungku?. Aku akan semakin bahagia memiliki anak seperti kau cakra. Tapi sayangnya aku tidak bisa memiliki anak, namun aku sangat ragu jika melihat perangai bapaknya seperti kakang hadi gama. Anakku akan seperti kau atau tidak." Dalam hatinya malah cemas akan hal itu.
"Tadi kakang kusna keluar pagi-pagi sekali, ketika saya bertanya mau ke mana?. Katanya mau jalan-jalan sebentar."
"Biarkan saja dia jalan-jalan." Balas Nini Asmara Tanjung dengan sangat cueknya. "Aku yakin dia ingin menemui kakang hadi gama." Dalam hatinya sangat mengetahui alasan kenapa Kusna mengatakan jalan-jalan pada Cakrawala.
"Tapi kapan kakang kusna sampai di sini, ibu?."
"Saat kau sedang tertidur, dan ia ingin membawamu pada mereka. Aku larang dia membawamu."
"Ahaha. Ibu ini galak sekali pada kakang kusna."
"Itu karena dia mau membawamu, jadi aku juga harus galak padanya."
Cakrawala hanya bisa tertawa kecil mendengarkan apa yang dikatakan ibunya.
Kembali ke masa ini.
Kusna menepuk pundak Cakrawala dengan pelan, sehingga membuatnya terperanjat terkejut.
"Kakang?."
__ADS_1
"Memangnya kau sedang melakukan apa adi?. Sehingga raut wajahmu terlihat sangat serius sekali."
"Aku hanya ingat dengan ibu, sebelum kita pergi, ibu terlihat sangat marah padamu ketika kakang mau mengajak aku untuk latihan."
"Oh?. Itu?. Kalau itu sih."
Kusna juga mencoba mengingat apa yang telah terjadi saat itu.
Kembali ke masa itu.
Siapa yang tidak grogi dipelototi oleh empat orang dewasa yang memiliki raut wajah yang sangat gahar seperti mereka?.
"Kenapa kau tidak katakan dari tadi?."
"Kalau begitu segera pergi ke tempat ibumu itu, katakan padanya bahwa kami masih membutuhkan cakrawala untuk mengajari ilmu kanuragan padanya."
Plak!.
Tohpati menepuk kepala belakang Tadakara dengan sangat kesal. "Bujuk saja ibumu untuk mengatakan bahwa yang akan mengajarinya latihan adalah kau, bukan kami."
"Ya, benar yang dikatakan tohpati, jangan kau dengarkan ajaran dari tadakara. Apakah kau mengerti kusna?."
"Baik paman." Kusna sangat bingung mau mendengarkan ucapan siapa pada saat itu, ia takut mereka semua akan marah padanya. Namun setelah itu ia memutuskan untuk segera pergi dari sana.
"Tidurlah, kau masih harus istirahat." Tentu saja ia menyuruh anaknya untuk tidur, karena sudah malam. Jadi ia tidak akan membiarkan anaknya itu melakukan aktifitas lainnya.
Perlahan-lahan kesadarannya mulai menipis, ia sangat kantuk. Cakrawala tidak dapat menahan kantuk itu, hingga ia jatuh dalam tidurnya. Nini Asmara Tanjung merapikan selimut anaknya, setelah itu ia melangkah ke luar karena ia merasakan ada langkah seseorang yang mendekati gubuknya.
"Sampurasun."
"Rampes."
"Ibu."
"Masuklah kusna."
"Terima kasih ibu."
Kusna sangat senang karena telah dipersilahkan masuk oleh wanita yang ia panggil ibu.
"Sudah sangat lama kau tidak datang ke sini. Apakah kau tidak keberatan dijemput oleh mereka?." Ia sajikan anaknya itu dengan minuman hangat dan beberapa lauk.
"Terima kasih ibu." Ia teguk minuman hangat itu, dan ia lihat wajah cantik ibunya yang sangat bersahabat dengannya.
"Adi mu sedang tidur, ibu yang menyuruhnya tidur setelah seharian ini ibu ajari dia ilmu pengobatan luka dalam."
__ADS_1
"Kali ini luka apa lagi yang di terima adi cakra?. Apakah sangat parah?."
"Kau tentunya mengetahui, jika berlatih dengan pendekar golongan hitam akan menerima luka yang seperti apa."
"Jadi begitu?."
"Makanlah, aku yakin kau belum makan apapun setelah seharian melakukan perjalanan."
"Memang lapar sih ibu."
"Kalau begitu makan lah, jangan pikirkan cara membujuk ibu agar membiarkan kau membawa adi mu itu untuk latihan bersamamu."
"Ibu curang, ibu selalu saja mengetahui apa yang saya pikirkan."
"Itu karena kau anakku. Kalau anak singa?. Lain lagi ceritanya."
Kembali ke masa ini.
"Jadi kakang mendapatkan ancaman dari ibu?."
"Ya, aku diancam ibu."
Kusna menghela nafasnya dengan sangat pelan. Namun saat itu ada satu hal yang menganggu pikirannya. "Sudah dua hari ini aku tidak melihat paman itu. Apakah terjadi sesuatu padanya?." Dalam hatinya sangat binging dengan apa yang telah terjadi pada paman asing itu.
Cakrawala saat itu merasa dituntun oleh seseorang, ia melihat ada seorang laki-laki dengan wajah yang sangat bersahabat. Senyumannya sangat ramah, dan saat itu ia merasa tenang ketika melihat laki-laki gagah perkasa itu.
"Siapakah tuan?. Apakah tuan kenal dengan saya?."
"Saya belum kenal denganmu anak muda. Tapi wajahmu sangat tidak asing sama sekali bagi saya."
"Apakah saya boleh mengetahui siapa tuan?."
Tidak ada jawaban dari laki-laki itu, apalagi suaranya seakan-akan tercekat sesuatu.
Deg!.
Kedua insan itu seakan-akan terbangun karena dikejutkan sesuatu, sehingga keduanya terduduk?.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apa itu tadi?." Gandara Fusena sangat terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Demi dewata yang agung, apa itu tadi?. Siapa laki-laki itu?. Kenapa aku bisa bertemu dengan orang asing seperti itu?." Dalam hati Cakrawala sangat bingung dengan mimpinya itu?. "Ibu?." Saat itu matanya melihat ibunya yang tertidur hanya beralaskan tikar pandan tanpa selimut. Hatinya sangat tidak tega melihat ibunya yang dalam keadaan seperti itu. "Kenapa ibu tidur di sini?." Entah kekuatan dari mana, ia memindahkan ibunya ke tempat tidurnya yang lumayan empuk.
Bagaimana kelanjutannya?. Next.
...***...
__ADS_1