BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM

BALAS DENDAM PENDEKAR HITAM
CHAPTER 7


__ADS_3

...**...


Adipati Gandara Fusena datang menghadap  Prabu Adiwangsa Dirja, tentunya ia ingin memberikan tugas yang sangat penting padanya.


"Kabar yang aku dapatkan, ada seorang pendekar yang memiliki ilmu kanuragan yang sangat tidak baik, merusak dan juga bengis. Aku ingin kau yang menumpas pendekar itu adi."


"Akan hamba laksanakan gusti prabu."


"Terima kasih adi. Kau selalu mengambil tugas yang aku berikan padamu."


"Hamba akan melakukan perintah gusti prabu sebagai pemimpin hamba, dengan iringan perintah Allah SWT."


Ucapan itulah yang membuat Prabu Adiwangsa Dirja merasa terharu, dan bangga memiliki adipati seperti Adipati Gandara Fusena.


"Lalu bagaimana dengan kabar anakmu yang telah menghilang lima belas tahun yang lalu adi?. Rasanya aku sangat berdosa kepadamu adi."


"Gusti prabu jangan berkata seperti itu, hamba telah ikhlas, dan berdo'a semoga anak hamba suatu hari nanti akan kembali dalam keadaan hidup."


"Aku juga mendo'akannya adi. Sebab keluargamu adalah keluargaku juga. Bagaimana pun juga kau adalah putra dari paman patih senjana mahadi, kakak kandung dari ayahanda prabu rajasa wangsaatmaja. Jadi kau adalah keluarga yang harus aku lindungi adi."


"Terima kasih atas perhatian gusti prabu. Karena itulah, dalam tugas ini izinkan hamba untuk mengembara. Menumpas kejahatan yang berada di sekitaran desa-desa sambil berdakwah, serta jika diperkenankan hamba ingin mencari putra hamba. Mohon diberikan izin gusti prabu."


Prabu Adiwangsa Dirja sedang memikirkan apa yang diinginkan oleh Adipati Gandara Fusena. "Lantas bagaimana dengan kadipaten yang kau pimpin saat ini adi?. Jika kau melakukan itu?."


"Saya ingin menunjuk kakang gentala aji yang menggantikan saya. Kakang gentala aji adalah guru agama yang sangat baik yang berada di kadipaten pakualam gusti."


"Baiklah, jika memang seperti itu yang kau inginkan. maka aku akan menurutinya."


"Terima kasih gusti prabu."


"Aku harap kau segera menemukan anakmu adi."


"Aamiin. Semoga saja gusti prabu."


Hanya itulah harapannya, walaupun 5 tahun telah berlalu, akan tetapi bukan berarti ia menyerah begitu saja untuk tidak mencari keberadaan anaknya. 


...***...

__ADS_1


Taraka telah berhasil bertemu dengan Kusna, akan tetapi pada saat itu anak muda itu sedang bertarung berhadapan dengan seorang pendekar tua yang memiliki ilmu kanuragan yang cukup mempuni.


"Hm. Tidak buruk juga dia." Dalam hati Taraka sangat kagum dengan beberapa jurus yang telah dimainkan oleh Kusna.


"Keparat!. Ternyata kau memiliki jurus gagak pematik tali raga. Pantas saja kau terlihat sangat sombong dengan apa yang kau miliki anak muda!."


"Tidak usah banyak bicara orang tua. Jika kau masih penasaran dengan jurus itu, dengan senang hati akan aku tunjukkan padamu, supaya kau mati dengan tenang setelah melihat jurusku ini."


"Bedebah!. Kau pikir kau takut dengan jurusmu itu?. Akan aku hadapi kau dengan jurus pemukul batu karang."


Setelah itu keduanya saling menyerang satu sama lain, pendekar pemukul karang dengan pukulannya yang bertenaga mencoba menyerang Kusna yang dengan sangat mudah menghindari serangannya. Selain itu ia sesekali membalas pukulan itu dengan jurusnya jurus gagak pematik tali raga. Tentunya hawa yang dibawa dari pukulan yang dimilki oleh Kusna membuat pendekar itu kewalahan, dan sesekali meringis karena hawa hitam itu seperti cakar burung gagak yang sangat ganas.


"Hei!. Kusna!. Cepat kalahkan dia!. Aku memiliki tugas penting dari ayahmu hadi gama!."


Keduanya saling menghindari satu sama lain ketika mendengarkan suara seseorang yang memanggil Kusna.


"Paman taraka?. Apakah paman ke sini untuk menjemput aku?."


"Kalau kau sudah tahu?. Maka cepat kalahkan dia."


"Baiklah paman. Tunggu sebentar." Setelah itu ia keluarkan dua belati kembar yang ia simpan di dalam tubuhnya.


"Bagus, kalau kau mengetahuinya kakek tua."


"Sial!. Aku tidak akan sanggup menghadapi belati kembar itu." Setelah berkata seperti itu ia langsung pergi dari sana, ia masih sayang dengan nyawanya.


"Benar-benar kurang ajar. Malah kabur dia."


Taraka mendekati Kusna yang terlihat sangat kesal dengan pendekar pemukul karang.


"Ahaha!. Sudahlah." Ia tepuk pelan pundak Kusna.


"Dia yang duluan menantang aku paman. Tapi dia yang malah kabur setelah melihat belati kembar ini."


"Ahaha!. Belati kembar ini bukanlah senjata sembarangan. Semua pendekar golongan hitam telah mengetahui bagaimana dahsyat luka akibat sayatan dari belati kembar ini."


Kusna langsung menyimpan kedua belati hitam itu ke dalam tubuhnya, tentunya ia tidak memerlukan belati itu karena musuhnya telah melarikan diri sebelum ia gunakan senjata itu.

__ADS_1


"Memangnya ada keperluan apa paman datang ke sini?."


"Ayahmu menyuruhmu untuk datang ke bukit kegelapan. Kau akan membimbing adikmu untuk menggunakan jurus yang kau miliki."


"Baiklah paman, aku akan ikut dengan paman. Aku juga ingin bertemu dengan ayah."


"Bagus, kalau begitu ayo ikuti aku."


Setelah itu mereka segera pergi dari sana menuju bukit kegelapan. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.


...***...


Bukit Kegelapan.


Nini Asmara Tanjung dengan penuh kesabaran sat ini sedang mengajari Cakrawala untuk belajar ilmu pengobatan. Mulai dari menyembuhkan tenaga dalam, sampai menyembuhkan diri dari racun, serta meramu racun. satu hari ini ia memang memberikan itu semua pada Cakrawala melalui teori terlebih dahulu, sebelum ia memulai praktek langsung.


"Dalam satu purnama ini aku akan mengajarimu praktek dan penjelasan semua sebab akibat dari ilmu pengobatan ini. Apakah kau merasa tertarik untuk belajar ini cakra?."


"Tentu saja aku sangat tertarik untuk mempelajarinya ibu. Tapi-."


"Kau tenang saja cakra. Jika mereka marah padamu karena kau belajar ilmu pengobatan denganku?. Maka aku sendiri yang balik memarahi mereka."


"Terima kasih ibu. Saya sangat suka belajar ilmu pengetahuan tentang obat."


"Itu karena kau adalah anak yang pintar. Kau belajar dengan sangat cepat cakra. Kau adalah anak ibu yang hebat."


Cakrawala terlihat tersipu malu dengan pujian yang dilontarkan ibunya, tampak rona merah muda di pipinya yang putih itu. Sehingga Nini Asmara Tanjung yang melihat itu tertawa puas.


"Kenapa ibu malah tertawa?."


"Ahaha!. Tidak apa-apa, hanya saja kau sangat lucu saja."


"Jangan tertawa seperti itu ibu."


Cakrawala semakin tersipu malu, ia tidak mengerti kenapa ibunya tertawa puas seperti itu?.


"Aku yakin dia adalah keturunan orang-orang yang memiliki kepintaran yang sangat luar biasa, sehingga anak ini dengan sangat mudah belajar apa saja yang ia lihat." Dalam hati Nini Asmara Tanjung sangat yakin dengan apa yang ia rasakan saat itu. Sebab tidak mungkin seorang anak yang lahir tidak membawa kepandaian orang tuanya, sebab ada ujar-ujar  yang mengatakan bahwa buah jatuh tidak akan auh dari pohonnya, begitulah gambaran Cakrawala.

__ADS_1


Next.


...***...


__ADS_2