
Siapa yang tidak grogi dipelototi oleh empat orang dewasa yang memiliki raut wajah yang sangat gahar seperti mereka?.
"Kenapa kau tidak katakan dari tadi?."
"Kalau begitu segera pergi ke tempat ibumu itu, katakan padanya bahwa kami masih membutuhkan cakrawala untuk mengajari ilmu kanuragan padanya."
Plak!.
Tohpati menepuk kepala belakang Tadakara dengan sangat kesal. "Bujuk saja ibumu untuk mengatakan bahwa yang akan mengajarinya latihan adalah kau, bukan kami."
"Ya, benar yang dikatakan tohpati, jangan kau dengarkan ajaran dari tadakara. Apakah kau mengerti kusna?."
"Baik paman." Kusna sangat bingung mau mendengarkan ucapan siapa pada saat itu, ia takut mereka semua akan marah padanya. Namun setelah itu ia memutuskan untuk segera pergi dari sana.
Sementara itu di dalam gubuk milik nini Asmara Tanjung.
"Tidurlah, kau masih harus istirahat." Tentu saja ia menyuruh anaknya untuk tidur, karena sudah malam. Jadi ia tidak akan membiarkan anaknya itu melakukan aktifitas lainnya.
Perlahan-lahan kesadarannya mulai menipis, ia sangat kantuk. Cakrawala tidak dapat menahan kantuk itu, hingga ia jatuh dalam tidurnya. Nini Asmara Tanjung merapikan selimut anaknya, setelah itu ia melangkah ke luar karena ia merasakan ada langkah seseorang yang mendekati gubuknya.
"Sampurasun."
"Rampes."
"Ibu."
"Masuklah kusna."
"Terima kasih ibu."
Kusna sangat senang karena telah dipersilahkan masuk oleh wanita yang ia panggil ibu.
"Sudah sangat lama kau tidak datang ke sini. Apakah kau tidak keberatan dijemput oleh mereka?." Ia sajikan anaknya itu dengan minuman hangat dan beberapa lauk.
"Terima kasih ibu." Ia teguk minuman hangat itu, dan ia lihat wajah cantik ibunya yang sangat bersahabat dengannya.
"Adi mu sedang tidur, ibu yang menyuruhnya tidur setelah seharian ini ibu ajari dia ilmu pengobatan luka dalam."
"Kali ini luka apa lagi yang di terima adi cakra?. Apakah sangat parah?."
__ADS_1
"Kau tentunya mengetahui, jika berlatih dengan pendekar golongan hitam akan menerima luka yang seperti apa."
"Jadi begitu?."
"Makanlah, aku yakin kau belum makan apapun setelah seharian melakukan perjalanan."
"Memang lapar sih ibu."
"Kalau begitu makan lah, jangan pikirkan cara membujuk ibu agar membiarkan kau membawa adi mu itu untuk latihan bersamamu."
"Ibu curang, ibu selalu saja mengetahui apa yang saya pikirkan."
"Itu karena kau anakku. Kalau anak singa?. Lain lagi ceritanya."
Kusna tidak dapat menahan tawanya mendengarkan candaan dari mulut wanita ahli obat dan racun, sungguh. Setelah dua tahun ini mereka tidak bertemu?. Akan tetapi kasih sayang dari wanita itu tidak luntur begitu saja. Bahkan wanita yang bernama Nini Asmara Tanjung itu dapat menebak dengan mudahnya apa yang telah ia pikirkan saat itu.
...***...
Di sisi lainnya, Gandara Fusena saat itu telah sampai di desa lainnya.
"Hari memang telah malam, sebaiknya aku mencari tempat untuk menginap di desa ini, sekaligus mengerjakan sholat isya." Gandara Fusena memutuskan untuk bertanya pada pemilik warung yang kebetulan tak jauh dari ia berdiri saat itu. "Sampurasun."
"Apakah di sekitar sini ada tempat penginapan nini?."
"Kebetulan di sini ada satu kamar yang kosong tuan. Jika tuan mau akan saya tunjukkan."
"Terima kasih nini. Saya mau menginap malam ini saja."
"Kalau begitu ikuti saya tuan."
Gandara Fusena mengikuti wanita itu, ia dapat beristirahat di tempat baik malam ini. "Alhamdulillah ya Allah." Dalam hatinya sangat bersyukur karena telah mendapatkan tempat penginapan malam ini.
Sementara itu di sebuah hutan yang masih di desa yang sama. Ada dua orang pemuda yang datang menemui seorang laki-laki yang tampak sangar.
"Lapor kakang."
"Katakan!."
"Tadi kami melihat ada seorang laki-laki yang masuk ke desa ini kakang."
__ADS_1
"Apakah dia seorang saudagar?. Atau Seorang pangeran?.'
"Jika dilihat dari pakaiannya ia seorang pengembara kakang."
"Pengembara?."
Dursa, itulah nama pemuda berwajah sangar itu. Ia sangat tidak suka jika ada orang asing yang masuk ke desanya. Ia merasa berhak untuk mengusir siapa saja yang berani masuk ke desa itu.
"Kalau begitu tengah malam ini kita hajar dia."
"Baik kakang."
Sepertinya mereka berniat mengusik Gandara Fusena malam ini. Sedangkan target mereka baru saja selesai melaksanakan sholat isya. Dalam doanya yang meminta petunjuk, hatinya yang saat itu sedang dipenuhi oleh kegelisahan yang sangat luar biasa.
"Ya Allah uang maha pengasih lagi maha penyayang. Ampunilah dosa hamba, ampunilah dosa kedua orang tua hamba, ampunilah dosa anak daaaan istri hamba, ampunilah dosa keluarga ayah dan ibu hamba, serta orang-orang muslim." Itu adalah doa utamanya yang tidak pernah ia lupakan. "Ya Allah, hati hamba sampai saat ini sangat gelisah, karena hamba belum bisa menemukan keberadaan anak hamba sampai sekarang ya Allah. Hamba mohon pada-Mu ya Allah agar memberikan petunjuk, di mana keberadaan anak hamba. HAmba mohon ya Allah, tunjukkan di mana ia berada. Karena hamba sangat percaya jika anak hamba masih hidup, dan saat ini masih berada dalam lindungan-Mu ya Rabb. Kabulkan do'a hamba ya Allah. Aamiin, ya Rabbal Alamiin." Dalam sujudnya ia menangis agar diberikan petunjuk mengenai keberadaan anaknya. 15 tahun bukanlah waktu yang sangat singkat, dan itu sangat menakutkan baginya.
"Semoga saja mereka tidak memberikan ajaran yang sangat sesat pada anak hamba ya Allah." Saat itu ari matanya jatuh begitu saja, ketika ia merasa takut dengan apa yang ada di dalam pikirannya saat itu.
Sementara itu di bukit Kegelapan.
Cakrawala saat itu merasa dituntun oleh seseorang, ia melihat ada seorang laki-laki dengan wajah yang sangat bersahabat. Senyumannya sangat ramah, dan saat itu ia merasa tenang ketika melihat laki-laki gagah perkasa itu.
"Siapakah tuan?. Apakah tuan kenal dengan saya?."
"Saya belum kenal denganmu anak muda. Tapi wajahmu sangat tidak asing sama sekali bagi saya."
"Apakah saya boleh mengetahui siapa tuan?."
Tidak ada jawaban dari laki-laki itu, apalagi suaranya seakan-akan tercekat sesuatu.
Deg!.
Kedua insan itu seakan-akan terbangun karena dikejutkan sesuatu, sehingga keduanya terduduk?.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apa itu tadi?." Gandara Fusena sangat terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Demi dewata yang agung, apa itu tadi?. Siapa laki-laki itu?. Kenapa aku bisa bertemu dengan orang asing seperti itu?." Dalam hati Cakrawala sangat bingung dengan mimpinya itu?. "Ibu?." Saat itu matanya melihat ibunya yang tertidur hanya beralaskan tikar pandan tanpa selimut. Hatinya sangat tidak tega melihat ibunya yang dalam keadaan seperti itu. "Kenapa ibu tidur di sini?." Entah kekuatan dari mana, ia memindahkan ibunya ke tempat tidurnya yang lumayan empuk.
...*** ...
__ADS_1