
...***...
Di sebuah hutan yang cukup sepi.
Di sanalah Cakrawala dan khususnya sedang melatih kemampuan mereka. Tentu saja mereka harus mengasah kemampuan mereka setelah bertemu langsung dengan Gandara Fusena. Mereka tidak menduga sama sekali jika orang yang diincar ternyata memiliki kemampuan yang sangat luar biasa.
Cukup memainkan beberapa jurus saja, jurus yang paling ampuh yang menurut mereka dapat mengalahkan jurus petir pencabut sukma milik Gandara Fusena. Rasa cukup mereka melatih kemampuan?. Setelah itu mereka beristirahat sejenak untuk mendiskusikan sesuatu.
"Bagaimana menurutmu adi?. Apakah kau bisa melihat bagaimana jurus yang aku mainkan tadi?."
"Jurus itu lumayan kakang. Tapi ingatlah, aliran dari jurus petir pencabut sukma itu pada dasarnya mengikuti aliran petir yang menyambarnya menjalar ke mana-mana." Cakrawala saat itu seperti sedang melihat bagaimana aliran jurus itu. "Jika saja kita berdiri tepat pada aliran petir itu?. Maka bisa dipastikan tidak akan selamat lagi kakang."
"Apakah kau bisa meniru jurus itu?."
Cakrawala terdiam sejenak. "Aku bisa saja meniru jurus itu. Hanya saja aku kurang yakin, apakah tubuhku mampu menerima jurus itu atau tidak. Karena dibutuhkan tenaga dalam yang sangat besar untuk meniru jurus itu." Cakrawala tentunya harus memikirkan bagaimana kondisi tubuhnya jika ia meniru jurus itu. "Orang itu saja membutuhkan waktu dua purnama untuk pulih kembali setelah berhasil meniru jurus itu."
"Apa?. Jadi jurus itu dia curi juga?."
__ADS_1
"Ya, dia bukan lah pemilik jurus itu."
"Ayah dan paman memang pernah mengatakan, jika kita memang harus berhati-hati dengan gandara fusena, karena dia memang bisa meniru jurus siapapun yang dia inginkan." Ia ingat dengan apa yang telah dikatakan oleh Hadi Gama. "Aku tidak menduga jika ada seseorang yang memiliki kemampuan yang sama sepertimu."
"Aku juga tidak menduga jika ada seseorang yang memiliki jurus yang sama denganku."
Pada saat itu keduanya sama-sama bingung dengan seseorang memiliki kemampuan yang dapat meniru jurus orang lain. Sama-sama luar biasa sekali pendekar itu memiliki mata yang hebat, tentunya saja itu adalah musuh yang sangat merepotkan.
...***...
Gandara Fusena baru saja hendak meninggalkan desa itu, akan tetapi pada saat itu ia melihat ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.
"Maaf tuan." Pemuda itu langsung mendekati Gandara Fusena. "Pada saat itu aku tidak sengaja melihat tuan mengalahkan pendekar tua itu." Lanjutnya. "Kekuatan yang tuan miliki sangat dahsyat sekali. Apalagi ketika orang bertopeng itu mengatakan jika tuan memiliki jurus yang sangat berbahaya." Dari sorot matanya terlihat jika ia sangat mengagumi Gandara Fusena. "Apakah saya boleh menjadi murid tuan?."
Gandara Fusena tidak langsung menjawabnya, pada saat itu ia hanya menghela nafasnya saja. "Maaf sekali anak muda. Saat ini aku sedang dalam perjalanan mengembara. Aku sama sekali tidak bisa menerima murid." Dengan berat hati ia berkata seperti itu. "Jika kau ingin mengasah kemampuan ilmu kanuraganmu?. Kau boleh mencari guru yang lebih hebat daripada aku." Gandara Fusena kembali melanjutkan perjalanannya.
Akan tetapi pada saat itu pemuda yang sangat penasaran dengan kemampuan yang dimiliki oleh Gandara Fusena tidak menyerah begitu saja.
__ADS_1
"Saya mohon kepada tuan untuk mengajari saya!. Saya akan mengikuti tuan kemanapun tuan berada. Saya berjanji tidak akan menyusahkan tuan." Pemuda itu terlihat sangat memohon bahkan ia bersujud di hadapan Gandara Fusena. "Saya sangat memohon kepada tuan agar menjadikan saya murid tuan."
"Berdirilah anak muda. Tidak ada gunanya kau mohon kepadaku. Seharusnya kamu mohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala." Gandara Fusena sedikit merasa keberatan jika ada yang berguru padanya untuk saat ini. "Aku hanya ingin fokus mencari keberadaan putraku. Apalagi aku akan berhadapan dengan anak muda yang memiliki topeng penutup hawa sukma itu." Dalam hatinya saat itu benar-benar sangat merasakan kegelisahan yang sangat luar biasa.
...***...
Di bukit kegelapan.
Saat itu Nini Asmara Tanjung baru saja ingin keluar dari pondoknya. Akan tetapi pada saat itu ia melihat ada sosok gagak yang datang padanya dengan sangat rendah. Gagak itu melemparinya sesuatu. Nini Asmara Tanjung pada saat itu sangat terkejut ketika ia melihat gulungan kecil yang dilempari oleh gagak itu.
"Apakah ini dari anakku?." Ia segera masuk kembali ke dalam pondok itu. Tentu saja ia sangat cemas jika ada seseorang yang melihat apa yang telah ia lakukan saat itu. Setelah memastikan semuanya aman?. Nini Asmara Tanjung perlahan-lahan membuka gulungan yang ternyata pesan dari Cakrawala.
"Salam rindu yang saya tumpahkan melalui rangkaian kata melalui surat kecil ini." Nini Asmara Tanjung tersenyum kecil membacakan pembukaan surat itu. "Rasanya aku sedang dikirimkan surat cinta oleh kekasihku yang telah lama tidak bertemu." Setidaknya itulah yang ia rasakan saat itu. Lalu setelah itu ia kembali membacakan surat itu. "Semoga saja ibu dalam keadaan sehat, saya saat ini berada di desa tanjung jarah. Mungkin saya tidak bisa mengirim ibu surat, karena saat ini saya harus fokus untuk berlatih beberapa ilmu kanuragan lagi. Karena saya telah bertemu dengan pendekar yang bernama gandara fusena. Saya tidak menduga jika dia memiliki kemampuan yang sangat luar biasa."
Entah kenapa perasaannya sangat gemas setelah membacakan kalimat itu?. Ia sangat ingat dengan apa yang telah dikatakan oleh suaminya di masa lalu. Jika kelumpuhan yang mereka alami pada saat itu karena perbuatan pendekar yang bernama Gandara Fusena yang ternyata adalah seorang Adipati yang sangat berpengaruh di sebuah kerajaan.
"Aku harap kau bisa mengatasi masalah itu dengan baik cakra. Aku sangat takut terjadi sesuatu kepadamu jika kau benar-benar berhadapan dengan pendekar itu." Dalam hatinya sangat cemas dengan apa yang akan dihadapi oleh anaknya. "Kakang hadi gama kurang ajar. Kenapa dia malah menyuruh cakra untuk berhadapan dengan bapaknya yang ternyata adalah seorang pendekar yang sangat sakti mandraguna?. Apakah dia memang sengaja menginginkan kematian cakrawala di tangan bapaknya?. Karena dia mengetahui jika cakrawala tidak akan mungkin mengalahkan bapaknya. Tapi setidaknya bapaknya akan kehilangan anak yang sama sekali tidak mengetahui dirinya siapa. Entah kenapa rasanya aku sangat sesak membayangkan bagaimana bapak dan anak bertarung sampai mati." Dalam hatinya tidak bisa membayangkan bagaimana pertarungan mereka yang berujung kematian nantinya. Hatinya merasa iba dengan apa yang akan terjadi kepada anak dan bapak itu?. Apakah takdir akan berubah jika mereka bertemu kemudian harinya?. Apakah pertarungan itu benar-benar akan terjadi?. Next.
__ADS_1
...***...