Balas Dendam Wanita Yang Dianggap Lemah

Balas Dendam Wanita Yang Dianggap Lemah
Zack Murka


__ADS_3

“Namun ternyata ada satu yang belum Kakek miliki.” ucap Zeruel.


“Apa itu, Kek?” tanya Zack.


“Cicit.”


Kakek akan segera memilikinya.. batin Zack.


Selesai melakukan tugasnya, Anna segera pergi meninggalkan meja makan.


Mary tersenyum puas melihat Anna yang mengundurkan diri setelah Kakek Zack mengatakan keinginannya secara terang-terangan.


“Pa.. Sebaiknya kita tidak terlalu menekan Zack dan Callista. Mereka baru saja kembali dari bulan madu.” sahut Mary.


“Entahlah. Semakin tua Kakek merasa semakin serakah. Ingin memiliki segalanya. Kalian harus segera memberikan Kakek cicit. Karena umur seseorang tidak ada yang tahu.” ucap Zeruel.


“Apa yang Kakek katakan? Hasil medical check up Kakek kemarin masih bagus semuanya. Sudah, lebih baik kita makan saja.” balas Zack.


...****************...


Beberapa hari berlalu, setelah pulang kerja, Zack meminta Bram untuk berhenti di supermarket. Tujuannya adalah membeli buah, sayur, dan daging, yang sehat khusus untuk Anna yang sedang mengandung. Ketika sampai di rumah, Zack pun diam-diam menaruhnya di kamar Anna.


Tanpa sepengetahuan siapapun, Zack berhati-hati berjalan ke kamar Anna, mengetuk pelan kamar Anna sebelum membuka pintunya. Namun Anna tidak ada di kamarnya. Kamarnya kosong. Setelah menaruh belanjaannya, Zack kembali ke luar. Mencari Anna ke dapur.


“Tuan Zack butuh sesuatu?” tanya salah satu pelayan.


Zack sempat celingak-celinguk mencari Anna. Namun Anna juga tidak ada di dapur.


“Hm, tidak. Kalian lihat Anna?” balas Zack.


“Dia izin keluar sebentar, Tuan.” jawab salah satu pelayan.


“Oh.. baiklah.” Zack pergi meninggalkan dapur dan bergegas ke ruang tengah. Menyalakan tv, namun Zack fokus membaca koran ekonomi dan bisnis.


Kira-kira jam 12 malam, Anna kembali. Anna terkejut setengah mati saat melihat Zack di ruang tengah.


“Darimana saja kamu, Anna?” Zack menutup korannya dan berbalik.


Mendapati Anna yang memakai dress ketat di atas lutut dan memakai riasan wajah, membuat Zack pangling sekaligus heran.


“Wow.. tidak biasanya kamu berdandan cantik seperti ini. Kamu habis darimana, Anna?” ucap Zack yang menghampiri Anna.


“Hmm.. aku.. aku habis menemui temanku dari panti.” jawab Anna.


“Oh ya? Kamu masih berhubungan dengan mereka?” tanya Zack.


“Iya, Zack. Kamu sudah makan malam?” balas Anna.


“Sudah. Tapi aku tiba-tiba merindukan kopi buatanmu.” ucap Zack.


Anna celingak-celinguk mengawasi keadaan di sekitar.


“Semuanya sudah di kamarnya masing-masing.” ucap Zack.


Keduanya pun tersenyum.

__ADS_1


Zack duduk di kitchen bar sambil memperhatikan Anna yang sedang menyeduh kopi untuk Zack.


“Pesanan kopinya sudah jadi.” ucap Anna.


“Wah.. wanginya... Kamu harus bertanggung jawab kalau aku tidak bisa tidur, Anna.” balas Zack.


“Kenapa aku? Kamu yang meminta aku membuatkan kopi.” ucap Anna.


“Baiklah baiklah. Oh, ya. Aku menaruh sesuatu di kamarmu. Segera habiskan, ya. Dan jangan bagikan itu pada siapapun.” balas Zack.


“Apa itu?” tanya Anna.


“Lihat saja sendiri. Anna, kamu kan sedang hamil. Pergi dan pulang tengah malam itu... bagaimana kalau kamu batasi dulu?” balas Zack.


“Katakan pada temanmu agar mencari jam lain saja.” ucap Zack kemudian.


Anna mengangguk. “Baiklah. Nanti akan aku sampaikan.” balas Anna.


“Kamu tahu aku seperti ini demi dirimu juga, ’kan?” ucap Zack.


“Iya, aku tahu.” balas Anna.


“Anna, kamu tahu? Beberapa hari yang lalu, Kakek menagih cicit dariku. Aku jadi tidak sabar menantikan kelahiran anak kita. Kira-kira dia laki-laki atau perempuan, ya?” ucap Zack.


“Apa Kakekmu akan menerima cicit selain dari istrimu?” tanya Anna.


“Tentu saja Kakek harus menerimanya. Anak ini adalah darah dagingku.” jawab Zack.


“Tidurlah, Zack. Sudah malam, besok kamu harus bangun pagi untuk bekerja.” ucap Anna.


“Kok tidak ke kamar? Malah ke ruang tengah?” tanya Anna.


“Aku tidur di sini.” jawab Zack.


“Kenapa tidak di kamar?” tanya Anna.


“Di kamar ’kan ada Callista. Maksudmu, aku tidur dengannya di kamar, begitu?” balas Zack.


“Tapi ’kan tidak nyaman kalau tidur di sofa.” balas Anna.


Zack berdiri menghampiri Anna. “Kalau begitu, aku boleh tidur di kamarmu?”


“Zack?! Bagaimana kalau ada yang melihat?!” balas Anna.


“Nah. Kembalilah ke kamarmu.” Zack memutar tubuh Anna.


Di pagi hari, seperti biasa, para pelayan menghidangkan sarapan untuk Zack, Mary, dan Callista.


“Pokoknya mama tidak mau tahu, ya, Zack. Kamu harus tidur bersama Callista di kamar!” ucap Mary.


Zack terdiam.


“Suami istri macam apa yang tidurnya terpisah?!” oceh Mary kemudian.


“Mama ’kan tahu kita hanya suami istri di atas kertas.” ucap Zack.

__ADS_1


“Tetap saja kalian suami istri selama 1 tahun ke depan. Kamu saja memakai cincin pernikahan kalian.” balas Mary.


Anna yang sedang menuangkan minuman, spontan melihat cincin yang melingkar di jari manis Zack. Begitu juga dengan Zack. Dia melirik ke arah Anna sebentar.


“Aku juga belum terbiasa tidur dengan seseorang. Bagaimana kalau kita beli ranjang baru?” sahut Callista.


“Ide bagus. Yang penting kalian harus tidur di kamar yang sama.” ucap Mary.


Zack menghembuskan napas panjang. Karena lagi-lagi dia gagal menjaga perasaan Anna. Zack telah menyakiti hati Anna dengan pernikahannya dan lagi-lagi Zack menyakiti hati Anna.


-


Malam ini Zack pulang terlambat karena pekerjaannya yang banyak. Sekitar jam setengah 12 malam Zack tiba di rumah. Dia mendapati Callista sedang mengemil di kitchen bar dan berbincang bersama beberapa pelayan. Namun Zack melihat ketiadaan Anna di sana.


“Dimana A—pelayan yang baru?” tanya Zack.


“Di atap. Aku minta tolong untuk mencucikan pakaianku.” jawab Callista.


Mata Zack membulat tajam. “Kamu gila, ya?!”


Zack menjadi murka.


Zack segera berlari menuju atap, mendapati Anna yang sedang mencuci pakaian Callista dengan tangannya sendiri di tengah malam. Zack menarik tangan Anna, membuat Anna otomatis berdiri, berhenti mencuci pakaian.


“Apa yang kamu lakukan, Anna?!” ucap Zack.


“Zack?” Anna terkejut.


“Mengapa kamu mengerjakan pekerjaan serendah ini, Anna?! Bahkan di rumahmu saja kamu mencuci pakaian dengan mesin?” ucap Zack dengan murka.


Callista, Mary, dan pelayan lainnya juga menuju ke atap.


“Kamu tahu sekarang ini jam berapa, Callista?!”


“Mulai detik ini, Anna menjadi pelayan pribadiku. Tidak ada yang boleh memberi perintah ke Anna selain aku.” ucap Zack.


“Tidak bisa. Mama yang merekrut Anna untuk menjadi pelayan pribadi Callista selama dia tinggal di rumah ini.” sahut Mary.


“Oh. Sepertinya Mama sudah lupa bahwa Kakek memberikan rumah ini untukku, dan rumah ini atas nama aku. Jadi, segala sesuatu yang ada di rumah ini harus sesuai dengan persetujuanku.” balas Zack.


“Anna tidak boleh menerima perintah dan melakukan pekerjaan apapun selain perintah dariku.” ucap Zack kemudian.


Zack lalu menarik tangan Anna dan membawanya turun bersamanya.


“Masuk ke kamarmu dan jangan keluar sebelum aku perintahkan.” ucap Zack lalu membuka pintu kamar Anna.


“Zack, apa kamu sadar apa yang kamu ucapkan di atap tadi?” balas Anna.


“Cukup, Anna. Kamu telah membuatku kesal. Jika tidak bisa memikirkan dirimu sendiri, setidaknya pikirkan anak kita yang sedang berada di dalam perutmu!” ucap Zack kemudian.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2