
Anna tersenyum. “Lalu, jika kamu menganggapku sebagai kekasihmu, apakah mungkin kamu menikahi wanita lain? Bahkan setelah kamu memasangkan cincin di jari manisku dan mengatakan ‘aku mencintaimu’ padaku setiap hari. Apakah mungkin? Untuk pernikahan bisnis, ataupun pernikahan sungguhan.. jika kamu benar menganggapku sebagai kekasihmu, apakah kamu masih bisa menikahi wanita lain?” balas Anna.
“Anna... Anna, itu memang kesalahanku. Tapi pernikahan ini tidak mengurangi rasa cintaku padamu. Kamu tahu itu, ’kan, Anna?” ucap Zack.
“Tetap saja. Sebesar dan sebanyak apapun rasa cintamu itu, akan kalah dengan pernikahan bisnis kalian. Aku yang besar di panti asuhan akan tetap kalah dengan dia yang besar di rumah mewah. Aku tidak menguntungkan untuk kamu nikahi, ya, kan, Zack?” balas Anna.
“Kamu bicara apa, Anna?”
“Dan juga, meski aku sedang mengandung anakmu, anak ini tidak akan diterima di keluargamu. Karena anak hasil perzinahan tidak akan diterima di keluargamu.” ucap Anna.
“Omong kosong. Dia anakku. Kenapa tidak diterima di keluargaku?” balas Zack.
“Pecat aku, Zack. Aku tidak ingin berada di rumah ini lagi.” balas Anna.
“Baiklah. Kamu mau kembali ke rumahmu, ’kan? Sudah sebaiknya seperti itu. Ayo, aku antar.” ucap Zack.
“Lepas, Zack. Seseorang mengatakan kita tidak boleh terlihat dekat jika di luar. Karena sekarang kehidupanmu selalu tersorot oleh media.” balas Anna.
“Siapa yang mengatakan itu, Anna?” tanya Zack.
“Bukankah memang seperti itu kenyataannya? Jika kamu tertangkap kamera sedang bersama wanita lain, itu akan menimbulkan asumsi negatif.” jawab Anna.
“Baiklah. Biarkan Bram yang mengantarmu.” ucap Zack.
“Ma, aku tidak salah dengar, ’kan? Zack dan Anna adalah sepasang kekasih? Dan sekarang Anna sedang hamil anak Zack?” tanya Callista kepada Mary.
“Itu tidak penting, Callista sayang. Kamu sudah menjadi istrinya Zack. Wanita yang Zack nikahi adalah kamu, bukan Anna. Anna tidak berhak atas Zack meskipun sedang hamil anaknya.” jawab Mary.
Anna diantar oleh Bram kembali ke rumahnya. Sedangkan Zack di rumahnya memerintahkan para pelayan untuk mengemasi barang-barang Anna. Setelah keluar dari rumah Zack, Anna menjadi sulit dihubungi. Hal itu membuat Zack khawatir dan terus kepikiran tentang Anna selama rapatnya.
“Sudah carikan yang aku minta?” tanya Zack kepada Bram, si asisten pribadinya.
“Memang benar Anna telah diberhentikan dari kantornya dengan alasan peforma Anna yang kurang baik. Dan Anna bekerja paruh waktu di kafe Sunny Shine.” jawab Bram.
“Kamu sudah tahu hal ini sebelumnya. Kenapa kamu tidak beritahu padaku?” tanya Zack.
“Maaf, Zack. Anna mengancamku untuk menurunkannya di tengah jalan. Bukankah itu lebih berbahaya?” jawab Bram.
“Carikan satu hal lagi untukku. Mengenai teman-teman Anna di panti asuhan. Aku harus tahu temannya seperti apa yang mengajak Anna keluar hingga larut malam.” balas Zack.
“Baik, Zack.”
“Aku akan ke rumah Anna sekarang. Kamu tidak perlu mengantarku.” ucap Zack.
Setelah selesai bekerja, jam 8 malam Zack langsung bertolak ke rumah Anna karena Anna sulit dIhubungi sejak keluar dari rumahnya. Puluhan panggilan tak terjawab, pesan tak terbalas, Zack juga mendapati rumah Anna kosong dan gelap. Pertanda Anna tidak ada di rumah.
Zack.
Anna, aku di rumahmu membawa barang-barangmu. Kamu dimana?
Kenapa kamu tidak ada di rumah?
Anna.
__ADS_1
Taman tempat merayakan hari jadi keenam. Kita bertemu di sana.
Zack langsung menuju ke lokasi yang Anna minta. Sesampainya di sana, Anna sudah menunggunya di bangku taman, dengan mengenakan dress selutut, riasan wajah, dan beberapa perhiasan yang tidak biasanya Anna lakukan.
“Anna.” panggil Zack.
“Kamu habis bertemu dengan temanmu?” tanya Zack.
“Iya.” jawab Anna.
“Ohh..”
“Zack, aku akan kembali ke California dalam beberapa hari.” ucap Anna.
“Apa? Ke California? Kenap—kenapa Anna?” tanya Zack.
“Kota ini bukan kota yang ramah untukku.” jawab Anna.
“Ja—jadi.. maksudmu.. kamu akan kembali menetap di sana?” tanya Zack.
“Iya.”
“Anna. Kamu sudah memikirkan ini matang-matang? Anna, kalau kamu membuat keputusan karena kamu marah denganku, aku minta maaf. Aku minta maaf atas semuanya. Tapi jangan pergi, Anna.” ucap Zack.
“‘Atas semuanya?’. Kamu harus lebih spesifik lagi, Zack.” balas Anna.
“Aku minta maaf atas apapun itu, Anna, kumohon..” ucap Zack.
“Karena telah menikah dengan wanita lain, kamu harus meminta maaf soal itu. Hubungan kita retak karena itu. Dan ketika aku ingin memperbaiki keretakan itu, aku terluka.” balas Anna.
“Tapi, Anna. Kamu sedang mengandung anak kita, setelah aku dan Callista bercerai, kita akan hidup bersama dengan anak kita, Anna.” ucap Zack kemudian.
“Jadi, jangan pergi.” tambah Zack.
“Maaf, Zack.”
Ting... Ponsel Zack berbunyi.
“Sebentar, Anna.” Zack mengeluarkan ponselnya.
Bram.
Tidak ada anak panti asuhan yang masih berhubungan dengan Anna.
Zack kembali memasukkan ponselnya.
“Kamu mau ke California? Apa kamu sudah menyiapkan semuanya? Tiket pesawat? Tempat tinggal? Kamu tidak akan bisa tinggal di asrama kampus lagi. Bagaimana dengan biaya hidupmu selama di sana?” tanya Zack.
“Aku meminjam uang temanku.” jawab Anna.
“Teman? Teman yang mana? Dari panti asuhan?” tanya Zack.
“Iya.”
__ADS_1
“Temanmu ada yang bersedia meminjamkan uang dalam jumlah yang besar?” tanya Zack.
“Iya.”
“Temanmu pasti kaya sekali. Boleh aku bertemu dengannya? Aku ingin berterima kasih.” ucap Zack.
Sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju di tepi taman.
“Aku harus pergi.” ucap Anna lalu berjalan menuju tepi taman.
Zack mengikuti Anna.
“Anna, kita masih belum selesai bicara, Anna.” ucap Zack.
“Kamu mau pergi kemana, Anna?”
“Siapa yang menjemputmu?”
“Anna, jangan buat aku berasumsi negatif. Kamu mau pergi kemana dengan penampilan seperti ini, Anna?”
“Maksudmu?” tanya Anna.
“Nona Gartner.” Seorang sopir mobil sedan itu memanggil Anna dan membukakan pintu mobilnya untuk Anna. Sopirnya mengenakan pakaian berjas yang rapi, membuat Zack curiga bahwa dia bukanlah sekedar sopir saja. Jika sopir, pasti majikannya adalah orang yang berada.
“Kalau kamu tidak memberitahuku siapa teman yang suka kamu temui di malam hari—”
“Apa? Kenapa?” tanya Anna.
“Aku jadi meragukan siapa ayah dari anak yang kamu kandung itu.” jawab Zack.
Plak!
Anna menampar Zack.
Bulir air mata Anna mengalir seketika.
“Jadi menurutmu, aku perempuan yang serendah itu? Aku juga tidak pernah meminta pengakuan darimu, Zack.” ucap Anna.
“Terserah, jika menurutmu ini bukan anakmu, baiklah. Tidak apa-apa. Jadi, tidak masalah jika aku membawa anakku pergi jauh.”
“Hubungan kita berakhir di sini, Zack.”
“Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Aku kecewa denganmu.” ucap Anna lalu masuk ke dalam mobil.
“Anna! Anna!” Zack berniat menghampiri namun sang sopir menghalangi.
“Nona Gartner meminta kopernya kembali.” ucap sopir itu.
“Anna! Ann—” Anna mendengar Zack berteriak dari luar memanggil namanya. Sementara Anna, di dalam mobil, meluapkan kesedihannya dengan menangis. Air matanya cukup deras mengalir, sampai sopir masuk ke dalam mobil.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih