Balas Dendam Wanita Yang Dianggap Lemah

Balas Dendam Wanita Yang Dianggap Lemah
Saling Mencintai Bukan Berarti Harus Saling Memiliki


__ADS_3

Ketika mendengar ketukan pintu, Anna langsung terkesiap, berdiri mencari sepatu heelsnya yang masuk ke kolong sofa, segera menyembunyikan botol dan gelas wine-nya, membereskan kertas-kertas yang berserakan, dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena tiduran tadi.


“Kenapa harus jam 8 pas, sih?!” gumam Anna sambil kelabakan membereskan meja dan sofanya.


“Presdir Anna?” Merasa tidak ada jawaban, Novan memanggilnya dari luar.


“I-iya, masuk.” ucap Anna. Lagi-lagi Anna merapikan rambutnya sebelum Zack masuk ke dalam.


Novan pun membukakan pintu dan mempersilahkan Zack untuk masuk.


“Presdir Anna, saya membawa daftar perusahaan yang menerima untuk bekerjasama dengan GR8 Holdings.” ucap Zack.


Zack menyerahkan clipboard pada Anna dan Anna mengeceknya.


Keduanya kini duduk di sofa dengan saling berhadapan. Sekilas mata Zack menatap botol dan gelas yang digunakan Anna untuk meminum wine di atas mejanya. Zack mengerutkan dahinya. Bingung, sekaligus terkejut mengapa Anna meminum wine. Karena yang Zack tahu, Anna sedang mengandung.


“Anna, kamu meminum wine?” tanya Zack.


Anna melirik ke arah botol wine yang ada di atas mejanya. Niat Anna menaruh botol wine di komputer agar tidak kelihatan.


Ah, aku kurang menggesernya. Ternyata masih kelihatan oleh Zack. batin Anna.


“Kamu ’kan sedang hamil, Anna?” tanya Zack kemudian.


“Aku sudah keguguran.” jawab Anna.


“Apa?! Kamu keguguran?!” Zack terkejut.


“Ba—bagaimana bisa, Anna?” tanya Zack kemudian. Zack berdiri hendak mendekati Anna.


“Jangan mendekat, Zack. Tetap di tempatmu.” ucap Anna.


“Anna.”


“Jangan juga mencoba mencari tahu kenapa aku bisa keguguran.” ucap Anna.


“Kenapa, Anna?” tanya Zack.


“Karena itu sangat menyakitkan untukku.” jawab Anna.


Dan juga menyakitkan untukmu. Jika kamu tahu penyebabnya adalah ibumu sendiri. batin Anna.


“Aku akan menjawab semua pertanyaan di benakmu selama ini. Tapi berjanjilah, setelah ini kamu tidak mencecarku lagi, dan kita lupakan semua perihal kita pernah bersama.” ucap Anna kemudian.


“Aku, Adrianna Gartner adalah putri dari Eddison Gartner, yang kamu ketahui sebagai pendiri OneTech Group, dan.. dia adalah sponsorku selama ini. Aku bisa masuk ke sini berkat dia, aku bisa menjadi diriku yang sekarang juga berkat dia. Dan selama ini, aku bukan menghilang. Aku tinggal bersama Papaku.”


“Ada yang ingin kamu ketahui lagi?” tanya Anna.


“Kenapa kita harus lupakan semua tentang kita? Kenapa kita tidak bisa kembali bersama lagi, Anna?” tanya Zack.


“Tidak bisa, Zack.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Aku ingin fokus pada karirku.”


“Anna..”


“Jadi, Dirut Zack. Untuk perusahaan yang bersedia bekerja sama dengan GR8 Holdings, lanjutkan saja. Mengenai dana tidak perlu khawatir. OneTech Group sebagai perusahaan induk akan membiayai.” ucap Anna.


“Aku mencintaimu. Aku juga tahu kamu masih mencintaiku, Anna.” balas Zack.


“Saling mencintai bukan berarti harus saling memiliki.” ucap Anna.


Zack mengangguk. “Jadi, kamu mengakui kalau kamu juga masih mencintaiku, Anna? Baiklah. Cukup. Itu sudah cukup bagiku. Terima kasih, Presdir Anna. Saya akan sering melaporkan perkembangan mengenai kerja samanya.” ucap Zack lalu keluar dari ruangan Anna.


‘Sering melaporkan’? Itu hanya kedokmu saja, Zack. Aku tahu. Aku harap juga kamu menepati kalimatmu itu. batin Anna.


Tok.. tok..


“Presdir Anna, sudah mau pulang?” tanya Novan.


“Aku rasa aku harus lembur. Sampaikan pada Papa.” jawab Anna.


“Apa ada pekerjaan yang harus diselesaikan?” tanya Novan.


“Kamu juga pulanglah, Novan. Jangan menungguku. Ini perintah.” ucap Anna.


“Baiklah. Saya permisi dulu.” balas Novan lalu keluar dari ruangan Anna.


Jam 11 malam.


Anna keluar dari ruangannya setelah mematikan lampu dan meninggalkan botol wine di atas meja kerjanya. Anna berjalan menuju parkiran untuk pulang dan mencari kunci mobil di dalam tasnya.


“Yah! Novan lupa memberikan kunci mobilnya padaku.” gumam Anna.


Tin.. tiinn... Bunyi klakson mobil.


“Novan?” Anna menghampiri Novan.


“Aku sudah memerintahkan kamu untuk pulang.” ucap Anna.


“Tuan Ed memerintahkanku untuk menunggu. Aku hanya bekerja untuk Tuan Ed.” balas Novan dan membukakan pintu mobil belakang untuk Anna.


“Apa Tuan Ed juga memerintahkan kamu untuk berbahasa santai denganku? Barusan kamu menggunakan kata ‘aku’.” tanya Anna.


“Tidak. Tuan Ed memerintahkanku untuk berteman baik denganmu seperti saat masih di panti.” jawab Novan.


“Kamu benar-benar melayani tuanmu dengan baik.” ucap Anna lalu masuk ke dalam mobil.


“Apa aku boleh tau apa yang dibicarakan Zack mengenai pekerjaan denganmu tadi?” tanya Novan seraya menyetir.


“Beberapa perusahaan yang bersedia bekerja sama dengan GR8 Holdings. Aku pikir tidak ada lagi yang mau bekerja sama dengan perusahaan ini.” jawab Anna.

__ADS_1


“Hanya itu?” tanya Novan.


“Hanya itu. Eh jangan-jangan... kamu mau laporan ke Papa, ya?” balas Anna.


“Tidak, kok. Ini pertanyaanku sendiri. Bukan pertanyaan Tuan Ed.” ucap Novan.


“Kamu sudah melayani Papa cukup lama. Berapa, ya? 10 tahun ada kan, ya?” balas Anna.


“Iya. Sudah 10 tahun.” jawab Novan.


“Pasti kamu juga tahu kemana istri dan anak sahnya Papa.” balas Anna.


“Iya. Tapi sekarang hanya kamu anaknya. Kamu putri tunggal, Anna.” ucap Novan.


“Ah, Novan. Kamu berbicara seolah mereka sudah meninggal saja.” balas Anna.


Novan terdiam.


“Apakah...? Ti-tidak mungkin mereka sudah meninggal, ’kan?” tanya Anna kemudian.


“Aku tidak berkapasitas untuk menjawab pertanyaanmu, Anna.” ucap Novan.


“Itu sebabnya Papa menjadikan aku anaknya..” gumam Anna.


“Tuan Ed merasa kesepian selama beberapa tahun terakhir. Hanya kamu yang dimilikinya sekarang, Anna.” balas Novan.


Novan telah sampai mengantar Anna ke kediamannya bersama Ed. Anna pun turun sendiri dari mobil.


“Sampai bertemu besok pagi. Jangan sampai kesiangan!” ucap Novan dari dalam mobil.


“Iyaaa. Pergilah.” balas Anna lalu masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di dalam, Anna mendapati seluruh ruangan yang sudah gelap gulita. Lampu sudah dimatikan.


Papa pasti sudah tidur. Baguslah. batin Anna.


Anna merasa lega dan berjalan menuju tangga. Hingga di tangga ketiga, seketika lampu seluruh ruangan menyala, mendadak kediaman itu menjadi terang benderang. Anna terkejut. Lebih terkejutnya lagi, dia bertemu Ed di depannya dengan mengenakan jubah tidur.


“Astaga, Papa! Aku pikir hantu, tahu!” ucap Anna sambil memegangi dadanya.


“Ikut Papa ke ruang tengah.” balas Ed dengan dingin dan berjalan melewati Anna.


Bulu kuduk Anna beramai-ramai menjadi berdiri. Dia pun mengikuti Papanya ke ruang tengah.


“Darimana saja kamu jam segini baru pulang?” tanya Ed.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2