
Dalam pertarungan memang harus ada yang kalah dengan cara mengalah maupun babak belur, tapi itu bukan aku orangnya. batin Anna.
Dan yang membuat Anna ingin bertahan adalah, karena Anna tahu betapa Zack mencintainya. Dan Anna juga tahu, pernikahan itu sangat tidak diinginkan oleh Zack.
Anna akhirnya telah memutuskan. Dia akan “bertarung” melawan mamanya Zack. Dan bukan Anna yang memulainya.
Anna keluar dari kamar mandi. Mendapati kamarnya kosong, tidak ada Zack. Melainkan secarik kertas di samping noda darah di atas ranjang. Anna mengambil kertas itu.
Kabari aku jika kamu sudah merasa lebih baik.
Anna menghembuskan napas panjang. Lelah sekali.
Hubungan Anna dan Zack kian membaik. Meski mereka disibukkan dengan aktivitasnya masing-masing, Zack yang sedang sibuk menyiapkan pernikahannya, dan Anna yang sibuk dengan pekerjaan paruh waktunya. Beberapa kali Anna mencoba melamar pekerjaan di perusahaan, namun hasilnya selalu sama.
Anna ditolak. Koneksi mamanya Zack sangat luas dan Anna tidak bisa melawannya. Anna bersyukur masih dapat bekerja di sebuah kafe.
Anna menjalani hari-hari seperti biasanya, namun pagi itu cukup berbeda. Anna merasa tidak enak badan. Ketika dia mencoba bangkit dari ranjangnya, dunia terasa bergoyang, kepalanya begitu pusing, dan perutnya terasa mual. Anna pun melihat kalender yang terletak di atas meja kamarnya.
Jari dan mulutnya menghitung berapa hari dia terlambat haid.
Hingga akhirnya Anna memutuskan untuk membeli test pack sebagai penguji di awal kehamilan.
Anna duduk di atas closet sambil menatap wadah yang berisi air mani serta test pack di wastafel yang berjarak kejauhan 3 meter di depannya. Kedua tangannya menutup rapat mulutnya. Rasa gugup melanda dirinya. Kakinya pun tidak bisa berhenti bergoyang saking gugupnya.
10 menit berlalu. Anna pun menarik napas panjang dan bangkit berdiri, berjalan ke wastafel untuk melihat hasilnya. Matanya bergetar melihat hasil test pack. Dua garis berwarna tebal. Tangannya pun bergetar saat memegang test pack.
Apa yang harus aku lakukan? Memberi tahu Zack? Tetapi dia akan melangsungkan pernikahannya minggu depan. Bagaimana ini?!
Saat itu, dengan paniknya Anna menyembunyikan test pack itu di dalam lemari dan bergegas menuju kafe. Memaksakan dirinya yang terasa lemah itu untuk bekerja. Dia membutuhkan uang untuk menyambung hidup.
“Anna, kamu sakit? Wajahmu pucat sekali!” ucap Sunny, atasan Anna.
“Tidak apa-apa kok, bu. Aku masih bisa.” balas Anna.
“Tapi nanti kalau sudah tidak kuat kamu bilang saja, ya. Jangan memaksakan diri.” ucap Sunny.
“Iya, bu.”
Anna bekerja giat hingga akhir seperti biasanya dengan menahan rasa sakitnya. Setelah kafe ditutup, barulah Anna pulang dengan transportasi umum. Anna pun berjalan kaki secara perlahan untuk sampai ke rumahnya. Dan dari depan gangnya, Anna bisa melihat Zack yang berdiri menunggunya di depan rumah.
“Pulang malam lagi? Huh.. eh, Anna? Wajahmu pucat sekali. Kamu sakit?”
Anna melihat wajah Zack yang ada dua sebelum dirinya ambruk di tangan Zack.
__ADS_1
“Eeeeehh.. Anna? Anna?”
Zack segera membawa Anna ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
“Selamat, ya, pak. Istri bapak hamil. Trimester pertama memang banyak keluhannya, jadi istri bapak tidak boleh capek dan harus banyak istirahat supaya tidak pingsan lagi.” ucap dokter.
A-Anna hamil?
Zack duduk di samping Anna yang terbaring lemah di atas kasur. Tangannya terus menggenggam tangan Anna yang dingin. Sampai Anna membuka matanya.
“Zack?”
“Anna, akhirnya kamu sudah sadar.” ucap Zack.
“Apa yang terjadi?” tanya Anna.
“Kamu hamil, Anna.” jawab Zack.
Anna terdiam.
“Apa ini? Rupanya kamu sudah tahu?” tanya Zack.
“Aku ingin pulang.” jawab Anna lalu berjalan keluar dari rumah sakit.
“Anna? Kamu sudah tahu tapi kenapa tidak memberitahuku?”
“Memberi tahumu? Yang akan menikah dengan orang lain dalam hitungan hari?” balas Anna.
“Memangnya kenapa? Kamu tetap harus memberitahuku karena itu anakku.” ucap Zack.
“Ok, ok. Sekarang kamu sudah tahu. Lalu apa? Kalau kamu sudah tahu, lalu kamu mau apa?” balas Anna.
“Tinggalkan pekerjaanmu.” ucap Zack.
“Tidak akan.” balas Anna.
“Dokter bilang kamu harus banyak istirahat dan tidak boleh capek, Anna. Kamu sampai pingsan tadi itu karena kamu kelelahan dan memaksakan diri.” ucap Zack.
“Mendapatkan pekerjaan itu sulit. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku yang sekarang.” balas Anna.
“Pekerjaanmu sekarang? Pekerjaan macam apa yang membuatmu sampai pulang tengah malam setiap hari? Bahkan kamu lebih capek darinl seoramg kuli, Anna. Anna, please! Ada aku, Anna, ada aku! Aku bisa memberikanmu pekerjaan, atau bahkan menghidupimu tanpa kamu harus bekerja. Kenapa tidak kamu manfaatkan saja kekasihmu yang kaya ini?” balas Zack meninggi.
“Aku tidak mau, Zack.” ucap Anna.
__ADS_1
Tidak memanfaatkanmu saja, mamamu berusaha keras untul memisahkan kita, Zack.. batin Anna.
“Ya Tuhan... Anna, kamu tahu ’kan kamu sedang hamil?” balas Zack.
“Aku akan banyak beristirahat.” ucap Anna.
Zack membuang napas kasar. “Lakukan semaumu, Anna. Tidak ada yang bisa menghentikanmu. Bahkan kekasih yang sudah 6 tahun bersamamu.” balas Zack.
Zack mengantar Anna sampai di rumahnya. Anna pun turun dari mobil, begitu juga dengan Zack.
“Tidak perlu masuk. Ini sudah malam.” ucap Anna.
“Em. Masuklah.” balas Zack.
“Zack..”
“Ya?”
“Semoga lancar sampai hari H.” ucap Anna. Diakhiri dengan sebuah senyuman kecil di bibirnya. Dengan berat hati Anna mengatakan hal itu.
Anna pun masuk ke dalam rumahnya. Sementara Zack terdiam memandangi Anna dari belakang sampai masuk ke dalam rumah. Beribu penyesalan menghujam diri Zack yang bisa-bisanya dia mengiyakan permintaan mamanya untuk menikah dengan wanita lain.
Dan wanitanya sendiri malah mendukungnya, bahkan mendoakannya agar pernikahannya berjalan lancar.
Zack mengacak-acak rambutnya dan masuk ke dalam mobil.
Flashback ON.
“Ada 6 kandidat. Mau kamu yang memilihnya sendiri atau Mama yang memilihkan untukmu?” tanya Mary, mamanya Zack.
“Ma, GR8 Buildings itu sudah menjadi perusahaan besar, Ma. Untuk apalagi pernikahan bisnis?” jawab Zack.
“Untuk menjaga hubungan baik, Zack. Di balik kesuksesan GR8 Buildings, ada perusahaan lain yang juga membantu. Apa salahnya kalau kita membantu kembali?” balas Mary.
“Ma, aku telah berkuliah 6 tahun sampai S2, di universitas ternama di dunia, tapi tidak ada tuh yang namanya membantu perusahaan dengan pernikahan. Kita bisa saja membantu dengan memberikan dana, investasi, atau apa kek.” bantah Zack.
“Ok, tidak mau pilih, biar Mama yang memilih.” balas Mary.
“Ma! Zack sudah punya pacar, Ma. Hubungan kita sudah memasuki tahun keenam. Jika Mama ingin Zack menikah, satu-satunya wanita yang Zack akan nikahi adalah dia, Ma.” ucap Zack.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih