
“Papa ini aneh-aneh saja.” sahut Anna.
“Kamu ke mobil duluan saja. Nanti kopermu aku yang bawakan.” ucap Novan.
“Hm. Jangan melapor yang tidak-tidak ke Papa.” balas Anna lalu berjalan ke luar dari rumah.
“Zack ikut pergi ke Milan.” ucap Novan kepada Ed.
“Iyakah? Kamu awasi terus anak itu. Jangan berdiri di dekat Anna. Minimal 2 meter.” balas Ed.
“Baik, Tuan. Dan juga...” ucap Novan yang terhenti.
“Ada apa, Novan?” tanya Ed.
“Anna mengurangkan gaji Zack selama 3 bulan atas sanksi yang berbicara non formal.” ucap Novan.
“Begitu, ya... Kenapa Anna melakukan itu, ya.. Setahuku Anna tidak membalaskan dendamnya pada Zack..” balas Ed.
“Dan itu Anna yang mengurusnya sendiri dengan Bram. Tidak melalui saya, Tuan.” ucap Novan.
“Baiklah. Aku yakin putriku bukan orang yang ceroboh. Pasti ada alasannya. Oh, ya. Sama ini, Anna bersikeras tidak membutuhkan ini tetapi kamu bawa saja untuk berjaga-jaga.” Ed mengeluarkan sekantong obat dari dalam sakunya.
“Baik, Tuan. Kalau begitu, saya pergi dulu.” ucap Novan dan menerima sekantong obat itu.
“Jaga putri saya baik-baik.” balas Ed.
“Baik, Tuan.” Novan keluar dari rumah dan diikuti oleh Ed.
Novan memasukkan koper Anna ke bagasi sementara Ed menghampiri Anna yang sudah duduk di dalam mobil.
“Jangan telat makan dan jangan telat balas pesan Papa.” ucap Ed kepada Anna.
“Iya. Hubungi Novan saja kalau aku tidak membalas.” balas Anna.
“Tuan, kami pergi dulu.” ucap Novan.
“Iya, hati-hati. Kabari kalau sudah sampai.” balas Ed.
Ed melambaikan tangan sampai mobil yang dikemudikan Novan itu meninggalkan kediamannya.
“Kenapa duduk di depan?” tanya Novan.
“Kita tidak sedang bekerja.” jawab Anna.
“Kenapa? Kamu keberatan kalau aku duduk di sampingmu?” tanya Anna kemudian.
“Aku hanya bertanya saja.” jawab Novan dengan pandangan yang lurus ke depan
Sementara Anna terus memandangi wajah Novan.
“Ke-kenapa? Kenapa melihati aku?” tanya Novan.
“Tidak. Aku sedang mengamati apakah benar kamu Novan dari panti asuhan yang sama denganku atau tidak.” jawab Anna.
__ADS_1
“Memangnya ada yang berbeda dariku?” tanya Novan.
“Banyak.” jawab Anna.
“Sebutkan saja.” ucap Novan.
“Kamu lebih tampan.” ucap Anna.
Novan terdiam.
“Juga lebih dingin dan irit bicara. Mungkin sebab itu alasan kamu masih menjomblo sampai sekarang.” tambah Anna.
“Tidak juga.” balas Novan.
“Jadi, maksudmu, kamu sudah memiliki pasangan sekarang?” tanya Anna.
“Bukan. Maksudku, aku tidak dingin dan irit bicara seperti yang kamu bilang. Aku hangat dan banyak bicara ke orang lain.” jawab Novan.
“Jadi, maksudmu, kamu hanya dingin dan irit bicara ke aku seorang saja?” tanya Anna.
“Bu-bukan begitu, An—”
“Baiklah, aku mengerti. Apa yang terjadi pada Zack juga berlaku untukmu. Perhatikan bahasamu mulai sekarang.” ucap Anna.
Ketika telah sampai di parkiran bandara, Novan mengeluarkan kopernya dan koper Anna dari bagasi mobil. Anna dengan sigap segera menarik kopernya.
“Aku bisa membawa koperku sendiri.” ucap Anna lalu berjalan meninggalkan Novan.
Novan mengejar Anna yang sengaja berjalan cepat. “Anna, Ann, Anna, hey??”
“Ok! Ok! Aku akui, aku memang tidak banyak bicara denganmu. Itu karena...” Novan tidak mampu menyelesaikan kalimatnya sendiri.
“Karena apa?” tanya Anna.
“Karena.. karena aku gugup.” jawab Novan.
“Gugup?”
“Iya. Kamu tambah cantik ketika sudah dewasa seperti sekarang ini.” ucap Novan yang menunduk ke bawah karena tidak cukup berani menatap mata Anna.
Sepertinya keinginan Anna untuk merajuk sudah hilang, digantikan dengan senyuman yang merekah lebar. Ternyata ada alasan yang terdengar geli di telinganya mengapa Novan selama ini tidak berbicara banyak dan menjadi laki-laki dingin ketika bersama Anna.
“Jadi, karena itu? Kamu tidak bisa berbicara banyak ketika denganku?” tanya Anna.
Tidak mau menjawab Anna, Novan menarik tangan Anna dan berjalan bersama dengan tangan satunya mendorong koper.
“Yang lain sudah menunggu. Kita harus cepat.” ucap Novan.
“Benarkah? Aku tambah cantik? Seberapa banyak pertambahannya? 2 kali lipat? 3? 5? Atau bahkan 10?” Anna menggodanya.
“Tunggu.” Novan berhenti seketika, Anna pun juga ikut berhenti berjalan.
“Kamu tidak melakukan operasi pada wajahmu saat berada di luar negeri, ’kan?” tanya Novan.
__ADS_1
Anna tersenyum, lalu melipat rambutnya ke belakang telinga.
“Sepertinya aku memang benar tambah cantik sampai kamu mengira aku melakukan operasi plastik.” ucap Anna.
“Lihatlah wajahku, memangnya kecantikanku ini seperti buatan?” Anna mendekatkan wajahnya ke wajah Novan.
Salah besar aku minum kopi sebelum ke sini, jantungku menjadi berdebar-debar. batin Novan.
Novan meraih dagu Anna, lalu diputarlah kepala Anna ke samping.
“Kalau sampai iya, akan aku adukan ke Papamu. Ayo, mereka sudah menunggu.” ucap Novan lalu kembali menarik tangan Anna, lebih tepatnya, menggenggam tangan Anna dan berjalan bersama hingga bertemu di terminal untuk check in keberangkatan.
“Presdir Anna.” sapa para tim dan Zack yang menundukkan kepalanya ketika Anna datang.
“Selamat malam. Sudah siap semuanya?” balas Anna.
“Sudah, Presdir.”
“Baiklah. Ayo.”
Anna dan yang lainnya memasuki pesawat. Sesuai dengan tiket yang telah dipesankan Novan, seharusnya Novan dan Anna duduk bersebelahan, namun...
“Hm, Sekretaris Novan, bisakah kita bertukar kursi? Ada yang ingin saya diskusikan mengenai pekerjaan dengan Presdir Anna.” ucap Zack sebelum Novan duduk di kursi sebelah Anna.
Cih.. kekanak-kanakkan sekali. batin Novan.
“Silahkan.” ucap Novan yang membiarkan Zack duduk di kursinya yang bersebelahan dengan Anna. Sementara Novan pergi ke kursi Zack yang berada di serong kanan.
“Ada apa, Dirut Zack?” tanya Anna.
“Hey, bukankah kita sepakat bahwa aku bisa berbicara santai denganmu? Bahkan aku rela mendapat sanksi karena itu.” jawab Zack.
“Baiklah. Apa?” tanya Anna.
“Kita sudah menandatangani kontrak dengan agensi boyband BT* dan besok mereka akan melakukan photoshoot dan rekaman untuk game baru.” ucap Zack.
“Itu saja?” tanya Anna.
“Tidak. Juga, ini materi presentasi yang akan dipresentasiksn tim kita untuk Samindo Co nanti.” ucap Zack.
“Baiklah. Lalu?” tanya Anna.
“Apa kamu sudah makan?”
“Hah?”
“Apakah kita hanya boleh membicarakan hal yang mengenai pekerjaan saja? Aku sudah sampai mendapat sanksi masa percakapan kita masih sebatas pekerjaan saja?” balas Zack.
Anna menarik napas panjang. “Aku sudah makan.” ucap Anna.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
__ADS_1
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih