
“Apa kamu sudah makan?”
“Hah?”
“Apakah kita hanya boleh membicarakan mengenai pekerjaan saja? Aku sudah sampai mendapat sanksi masa percakapan kita masih sebatas pekerjaan saja?” balas Zack.
Anna menarik napas panjang. “Aku sudah makan.” ucap Anna.
Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan Emirat Airlines dengan tujuan Milan. Penerbangan ke Milan akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih 20 jam dan 25 menit, dengan ketinggian jelajah 36.000 kaki di atas permukaan air laut. Perlu kami sampaikan bahwa penerbangan ini adalah tanpa asap rokok, sebelum lepas landas kami persilahkan kepada Anda untuk menegakan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka dihadapan Anda, mengencangkan sabuk pengaman, dan membuka penutup jendela. Atas nama Rania, kapten Edwar dan seluruh awak pesawat yang bertugas mengucapkan selamat menikmati penerbangan ini, dan terima kasih atas pilihan anda untuk terbang bersama kami.
Zack memakaikan sabuk pengaman Anna tepat setelah pengumuman dari pramugari.
Anna mengerutkan dahinya.
“Pesawat sudah mau take off, kamu tidak dengar?” tanya Zack.
“Aku bisa pakai sendiri, kali.” jawab Anna.
“Kita ’kan teman. Santai saja, kali.” ucap Zack.
Pesawat pun perlahan lepas landas dan terbang di udara. Zack memegangi tangan Anna ketika pesawat lepas landas. Anna pun masih tidak lupa dengan Zack yang selalu takut hingga berkeringat dan jantungnya berdebar ketika pesawat sedang take off atau landing.
Anna memanggil pramugari dan meminta dibawakan segelas air hangat. Setelah segelas air hangat itu datang, segera Anna berikan kepada Zack. Diam-diam, ada sepasang mata yang memperhatikan Anna dan Zack dari belakang.
Tepat setelah memberikan gelas itu kepada Zack yang di sampingnya, Anna mengambil majalah yang ada di depannya.
“Terima kasih. Aku tahu kamu belum melupakan semu tentangku.” ucap Zack menggodai Anna.
“Jika sudah tidak ada yang ingin dibahas lagi, pergi ke tempatmu yang seharusnya.” ucap Anna seraya membalik halaman majalah.
Meskipun sedih karena Anna sudah “mengusir”nya di saat Zack berharap bisa duduk di samping Anna selama perjalanan, namun Zack tetap pindah dan bertukar kursi dengan Novan.
“Kamu tidak mengantuk?” tanya Novan begitu duduk di samping Anna.
“Kenapa? Kamu mau membacakan dongeng untukku?” balas Anna.
“Aku tidak membawa buku dongeng. Bagaimana, ya?” tanya Novan.
“Ya aku hanya bercanda, lah. Kamu pikir aku anak kecil yang harus dibacakan dongeng sebelum tidur?” balas Anna lalu menutup majalah yang ada di tangannya.
“Oh, ya. Aku belum mengabari Papa, kamu sudah mengabari Tuanmu?” tanya Anna.
“Sebelum mengabari dia sudah mengirim pesan bertubi-tubi ke ponselku.” jawab Novan.
__ADS_1
Anna menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku baru tahu dia seposesif itu.”
“Tidurlah.” ucap Novan lalu mengatur kursi Anna hingga mendatar agar Anna bisa berbaring dengan nyaman.
Novan juga membantu melebarkan selimut untuk Anna. Bergantian, kini mata Zack yang diam-diam mengawasi kedekatan Novan dengan Anna.
Aku yakin sekali hubungan mereka lebih dari sebatas Sekretaris dan Presdir. Tidak mungkin sekali jika hanya sebatas itu. Dan perhatian yang dia berikan, aku yakin bukan perhatian sebagai seorang sekretaris. Hm, tidak bisa dibiarkan. batin Zack.
Sekitar 30 menit memejamkan mata, mengubah posisi tidur kesana kemari, rupanya Anna masih tidak bisa tidur. Anna bangkit duduk.
“Tidak bisa tidur?” tanya Novan.
Anna mengangguk. Kemudian dia menyalakan layar LCD di depannya untuk menonton. Sementara Novan berdiri dan berjalan ke belakang.
Niat hati ingin menghemat pengeluaran perusahaan dengan memesan tiket kelas bisnis daripada first class tapi ternyata aku kesulitan tidur di kursi kelas bisnis... batin Anna. Anna menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tidak lama Novan datang dengan secangkir teh yang dia buatkan khusus untuk Anna.
“Minum ini.” ucap Novan seraya memberikan cangkirnya kepada Anna.
Anna menerima cangkir pemberian Novan. Alih-alih berterima kasih, Anna malah bergurau. “Kamu tidak menaruh obat tidur ke dalam teh ini, ’kan?”
“Aku menaruhnya, sekitar 3 atau 4 pil.” balas Novan dengan candaannya.
“Hush! Aku mungkin sisa tulang saja sampai Jakarta nanti.” balas Novan.
Anna menonton film dan ditemani oleh secangkir teh hangat yang dibuatkan Novan. Layar di depannya terus menyala, sementara Anna sudah tertidur setelah 1 jam pertama menonton. Anna ketiduran, dengan kepalanya yang terhuyung dan hampir tersentak jika Novan tidak sigap langsung menangkapnya.
Bahkan Anna masih menggenggam cangkir teh yang masih tersisa. Novan pun segera mengangkat cangkir teh dari tangan Anna dan menaruhnya di tempat lain, sementara kepala Anna dia sandarkan di lengannya agar tidak terhuyung-huyung. Dan lagi-lagi, Zack mengawasinya dengan penuh keirian.
Bohong jika Zack tidak cemburu atau iri hati, dialah yang merasakan kecemburuan paling dalam saat melihat Novan dan Anna. Dia merasa seharusnya dia yang berada di samping Anna dan menjadi sandaran, menemani Anna dalam tidurnya.
Namun sialnya, Zack tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya dapat memendam kecemburuannya. Dan kecemburuan itu yang membuatnya menjadi terjaga di sepanjang malam. Matanya tidak dapat berpaling mengawasi Anna dan Novan. Beruntungnya Novan bukan lelaki hidung belang, mes*m, yang memanfaatkan keadaannya.
Faktanya Anna hanya tertidur dengan bersandar di lengan Novan, sedangkan Novan juga hanya memejamkan mata dan melipatkan kedus tangannya di depan dada lalu tertidur. Para tim yang ikut terbang ke Milan juga sudah tertidur di kursi bisnis yang Anna setarakan dengannya.
...****************...
Anna perlahan membuka matanya saat dirasa tidurnya sudah cukup, tubuhnya menggeliat, dan mendapati Novan melakukan peregangan pada sebelah lengannya. Anna membulatkan matanya. Bisa-bisanya dia tidak tersadar kalau dia tertidur di lengan Novan.
“Sakit, ya? Tahan saja, ya. Yang meminjam kamu semalaman itu CEO cantik dan kaya raya, loh.” ucap Novan kepada lengannya dengan maksud menyindir Anna.
“Hey, kamu bisa memindahkan kepalaku ke sisi lain.” ucap Anna.
__ADS_1
“Nanti kamu terbangun. Aku lagi yang repot.” balas Novan.
“Sekarang aku jadi percaya kalau teh yang kamu berikan semalam benar ada obat tidurnya.” ucap Anna.
“Kamu harus berterima kasih padaku kalau begitu.” balas Novan.
“Berterima kasih?”
“Iya. Coba kalau tidak ada aku, kamu akan kesulitan tidur.” ucap Novan.
Anna menghembuskan napasnya dengan kasar. “Sepertinya kamu sudah tidak gugup saat bicara denganku lagi ya, Novan?”
“Permisi Bapak, Ibu. Ini sarapan untuk anda. Selamat menikmati.” Beberapa pramugari datang menyajikan makanan untuk Anna dan Novan.
“Terima kasih. Antarkan untuk yang lainnya juga, ya.” ucap Anna.
“Yang lain? Yang lainnya sudah sarapan sejak 1 jam yang lalu, bu.” balas pramugari.
“Hah?”
“Iya. Tim kita semuanya sudah sarapan, tinggal kamu saja.” sahut Novan.
“Hah? Memangnya sekarang jam berapa?” tanya Anna.
“Jam 10 menurut Waktu Indonesia bagian Barat.” jawab Novan.
“Mungkin lenganku terlalu nyaman sampai kamu bangunnya siang.” sambung Novan.
Pramugari tersenyum sebelum meninggalkan mereka.
“Aku perhatikan kamu sudah tidak gugup lagi, ya, Novan.” ucap Anna.
“Wah, sarapan di pesawat kelas bisnis, aku harus menghabiskannya, nih. Kalau kamu nanti tidak habis berikan saja padaku, ya. Aku siap menampungnya.” Novan mengalihkan pembicaraan.
“Enak saja!”
Zack kembali menyaksikan keakraban Anna dan Novan itu. Meski pada akhirnya dia memalingkan wajahnya.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih
__ADS_1