Balas Dendam Wanita Yang Dianggap Lemah

Balas Dendam Wanita Yang Dianggap Lemah
Uang Jajan


__ADS_3

Warren dan Zack keluar dari ruangan Anna. Setelah itu giliran Novan yang masuk ke dalam ruangan Anna.


“Presdir Anna, saya ingin melaporkan siapa yang telah menyebarkan skandal Warren tadi pagi.” ucap Novan seraya memberikan sebuah clipboard.


“Siapa yang menyebarkan?” tanya Anna.


“Setelah menyelidiki penulis yang membuat artikel ini pertama kali, penulis ini memiliki hubungan yang akrab dengan Mary Jo. Jadi, bisa dipastikan—” ucap Novan terpotong.


“Mary Jo yang memberi bahan?” tanya Anna.


“Iya, Presdir Anna. Oh, ya, selain Presdir Anna, ada seseorang yang juga menyelidiki penulis ini.” jawab Novan.


“Siapa yang ingin tahu juga orang yang telah menyebarkan skandal?” tanya Anna.


“Zeruel Smith, Presdir. Sekretarisnya juga mencari tahu tentang penulis ini.” jawab Novan.


Anna tersenyum. “Ini hal yang bagus untuk didengar. Baiklah, kita bantu saja secara diam-diam untuk mereka mendapatkan informasi. Aku penasaran apa yang dia lakukan terhadap menantunya jika tahu menantunya sendiri yang menyebarkan aib dia sendiri.” ucap Anna.


“Baik, Presdir Anna.”


Kira-kira hampir jam 12 malam, Anna baru sampai di rumah. Namun rumahnya masih terang. Anna sudah mempersiapkan dirinya jika akan dimarahi papanya lagi. Setelah berjalan menginjakkan kaki ke dalam rumah, beberapa pelayan langsung menghampiri Anna.


“Nona, apakah Nona ingin dipijat?” tanya satu pelayan.


“Air panas telah disiapkan di bath tube untuk Nona.” ucap pelayan yang lain.


“Kami juga telah membuatkan teh yang dapat menghilangkan pegal di seluruh tubuh Nona.” ucap pelayan yang lain.


“Hm, saya tidak perlu dipijat. Teh saja cukup. Tuan Ed dimana?” balas Anna.


“Tuan Ed sudah di kamarnya, Nona.” jawab salah satu pelayan.


“Baiklah. Saya akan mandi sekarang. Tehnya nanti di antar ke kamar saya saja.” ucap Anna.


“Baik, Nona.”



Anna segera naik ke kamarnya lalu mendapati di kamarnya telah dipersiapkan handuk baru dan pakaian tidur di atas ranjangnya. Berjalan ke kamar mandi, Anna juga mendapati bath tube yang telah diisi dengan air. Setelah membuka seluruh pakaiannya, Anna memasukkan kakinya satu persatu ke dalam air hangat yang telah dipersiapkan di bath tube dan mulai berendam


"Aahh.. tidak ada yang lebih nikmat dari berendam air hangat.." Anna memejamkan matanya dan menengadahkan kepalanya ke atas, menikmati hangatnya air yang dirasakan di seluruh tubuhnya.


Jadi, seperti inikah rasanya menjadi putri konglomerat nan kaya raya? Segala sesuatunya telah dipersiapkan, bahkan sampai mandi pun aku hanya perlu melepas pakaian saja.


Anna merenung seraya berendam, merasakan kehangatan di seluruh tubuhnya.


Jika aku dilahirkan dari istri sah Papa, apakah aku bisa merasakan segala kemewahan ini lebih awal?


Jika aku dilahirkan dari istri sah Papa, dan dibesarkan di rumah ini, apakah aku akan mendapat penolakan dari Mamanya Zack yang berujung pembalasan dendam?


Setelah selesai mandi, Anna keluar dengan pakaian tidurnya. Beberapa pelayan masuk ke kamar Anna untuk melakukan tugasnya masing-masing, mengantarkan teh, mengeringkan rambut Anna, dan memijat bahu, kaki Anna.


Yang perlu Anna lakukan hanyalah duduk diam dengan meluruskan kaki dan menikmati teh dan pijatan di tubuhnya.

__ADS_1


“Sudah cukup. Saya mau tidur sekarang. Kalian boleh pergi.” ucap Anna.


“Baik, Nona.”


Semua pelayan akhirnya keluar dari kamar Anna. Akhirnya Anna dapat tidur dengan tenang. Tubuhnya memang jauh lebih rileks setelah dipijat, capek dan pegal seketika hilang, membuat tidur Anna jauh lebih nyenyak malam itu.


Di pagi hari, Anna bangun lebih awal sebelum Papanya dan meminta pelayan menyiapkan roti dengan selai saja. Sembari menunggu Papanya turun, Anna mengoleskan selai pada roti untuk Papanya.


“Tumben jam segini sudah siap..” ucap Ed seraya berjalan turun menuju meja makan.


“Selamat pagi, Papa!” sapa Anna.


“Selamat pagi, Anna.” balas Ed. Ed bergabung dengan Anna di meja makan.


“Ini untuk Papa.” ucap Anna seraya menaruh roti yang sudah dia olesi selai.


“Untuk Papa? Tumben.” balas Ed.


“Novan sudah datang belum, ya?” tanya Ed.


“Belum.” jawab Anna.


“Apa kamu ada rapat pagi ini?” tanya Ed.


“Tidak ada.” jawab Anna.


“Lantas kenapa kamu bangun pagi?” tanya Ed.


“Aku ingin sarapan lebih lama dengan Papa. Memangnya tidak boleh?” balas Anna.


“Oh, ya. Ini. Aku kembalikan.” Anna mengeluarkan black card yang pernah diberikan Ed padanya.


“Kenapa dikembalikan? Kamu belum memakainya sekalipun.” tanya Ed.


“Aku ingin uang jajan dalam bentuk yang lain.” jawab Anna.


“Dalam bentuk apa tuh?” tanya Ed.


“Saldo rekening.” jawab Anna.


“Hm. Sudah Papa duga. Tidak mungkin kamu bangun pagi dan menyiapkan sarapan. Pasti ada maunya. Baiklah nanti Papa transfer.” ucap Ed.


“15 Miliar.” ucap Anna.


“Banyak sekali?!”


“Dibandingkan kartu kredit yang tidak terbatas itu, 15 Miliar tidak ada apa-apanya. Kalau tidak boleh, akhir bulan nanti aku ganti. Anggap saja aku meminjam uang dengan Papa.” ucap Anna.


“Memangnya untuk apa, Anna?” tanya Ed.


“Untuk peluncuran game baru. Masih kurang 15 Miliar...” jawab Anna.


“Oh, ya?”

__ADS_1


“Iya, Pa. Akhir bulan nanti game nya akan dirilis, aku pasti akan langsung mengembalikannya ke Papa.” ucap Anna.


“Baiklah. Nanti Papa suruh Novan memindahkan 15 Miliar ke rekeningmu. Tidak perlu ganti, itu uang jajanmu.” balas Ed.


“Benar, Pa? Terima kasih, Papa!” ucap Anna lalu mengecup pipi Ed.


“Kalau begitu, aku pergi bekerja dulu, ya, Pa! Jangan lupa transfer uang jajanku. Sampai jumpa!” ucap Anna kemudian sambil berjalan ke luar.


Ed menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang sudah menjadi karakteristik seorang anak yang hanya akan berbaik hati ketika meminta uang jajan.


Anna berjalan keluar rumah dengan wajah yang ceria dan senyum yang lebar.


“Selamat pagi, Novan!” sapa Anna.


“Selamat pagi, Anna. Apa yang membuatmu begitu semangat pagi ini?” balas Novan.


“Kita harus cepat ke perusahaan.” ucap Anna dengan wajah yang sumringah.


“Novan, Papa menyuruhmu memindahkan 15 Miliar ke rekeningku. Sudahkah?” ucap Anna.


“Oh, benarkah? Aku belum menerima perintah seperti itu.” balas Novan.


“Ih, komunikasi kalian kurang sekali! Sudah, pindahkan saja. Aku tidak mungkin berbohong. Lagi pula, perintah Papa juga perintahku.” ucap Anna.


“Baiklah.” balas Novan.


Setibanya di perusahaan, Anna begitu bersemangat berjalan menuju lift. Dan bertemu dengan Zack.


“Presdir Anna, tim dari Hi-Mobile telah tiba di hotel yang telah kami persiapkan. Jam 11 nanti mereka akan datang ke perusahaan dan makan siang bersama dengan kami.” ucap Zack.


“Baiklah. Siapkan tim kita untuk menyambut kedatangan Hi-Mobile.” balas Anna.


“Baik, Presdir Anna. Dan untuk Samindo Co—” ucap Zack terpotong.


“Kita bahas di ruanganku saja.” balas Anna.


Ting... Ponsel Anna berbunyi.


Dana Masuk Rp. 16.000.000.000


“Eh, kok 16?” tanya Anna ke Novan.


“Aku hanya menjalankan perintah.” jawab Novan.


Senyum di bibir Anna semakin lebar saja dibuatnya.


“Baiklah. Panggil Direktur Warren ke ruanganku.” ucap Anna.


Apa yang baru saja aku dengar? Sekretaris berbicara bahasa santai dengan Presdir? Apa hubungan mereka sudah lebih dari Sekretaris dan Presdir? batin Zack.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.

__ADS_1


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2