
“Wah, sarapan di pesawat kelas bisnis, aku harus menghabiskannya, nih. Kalau kamu nanti tidak habis berikan saja padaku, ya. Aku siap menampungnya.” Novan mengalihkan pembicaraan.
“Enak saja!”
Zack kembali menyaksikan keakraban Anna dan Novan itu. Meski pada akhirnya dia memalingkan wajahnya.
...****************...
15.00 (Jam di Milan)
Milan, Italy
“Pertemuan dengan Samindo Co sudah dijadwalkan besok jam 9 pagi.” ucap Novan setibanya di hotel.
“Baiklah. Suruh tim yang lain untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk presentasi besok. Oh, ya, mana kartu akses kamarku?” balas Anna.
“Ini. Satu-satunya yang di lantai 21 dan kamar presidential suite.” ucap Novan seraya memberikan kartu akses kamar Anna.
“Ok! Sampai ketemu besok pagi.” Anna mengambil kartu aksesnya dan pergi membawa kopernya sendiri.
“Perlu aku temani tidak?” tanya Novan.
Anna melambaikan tangan dari kejauhan sebagai tanda penolakan.
...****************...
09.00 (Jam di Milan)
Anna beserta tim yang diboyongnya dari Jakarta, juga dengan Zack dan Novan, tengah berkumpul di ruang rapat bersama CEO dan tim dari Samindo Co. Tim Anna mempresentasikan game yang rencananya akan dirilis sebelum akhir bulan. Dan mereka berhasil mempresentasikannya dengan baik sehingga pihak dari Samindo Co pun merasa tertarik untuk berinvestasi.
“The game application is very interesting for me. I can see the success of this game in the future. I also believe that you are as great as your father, who can think long about the future of the company.” ucap CEO Samindo Co.
(*Terjemahan: Aplikasi gamenya sangat menarik bagi saya. Saya dapat melihat keberhasilan dari game ini di kemudian hari. Saya juga percaya bahwa anda sama hebatnya seperti ayah anda yang dapat berpikir panjang mengenai masa depan perusahaan.)
“I’m glad you think that way.” balas Anna.
(*Terjemahan: Saya senang kamu merasa begitu.)
“So, let’s just sign the investment agreement.” ucap CEO Samindo Co.
(*Terjemahan: Jadi, kita langsung saja tandatangani perjanjian investasinya.)
Anna dan CEO Samindo Co pun menandatangani perjanjian investasi, berjabat tangan, dan berfoto bersama. Hari itu pun sukses dilalui Anna dan timnya. Mereka pun kembali ke hotel untuk beristirahat.
...****************...
__ADS_1
20.00 (Jam di Milan)
Di ruangan Presidential Suite yang mewah, yang dipesankan khusus untuk Anna seorang, Anna tengah duduk di sofa dengan meja yang penuh akan kertas-kertas dokumen pekerjaan yang dia bawa dari Jakarta. Ditemani dengan anggur merah yang dia pesan dari layanan kamar membuat Anna betah bekerja meski sudah mengenakan gaun tidur dan siap untuk tidur.
Tririring... Ponsel Anna berdering.
“Halo? Ada apa menelepon malam-malam, Pa?” tanya Anna yang menjepit ponselnya di telinga.
“Malam? Di sini masih siang.” jawab Ed.
“Oh, ya. Aku lupa.” balas Anna.
“Sudah malam kenapa kamu belum tidur?” tanya Ed.
“Iya, sebentar lagi.” jawab Anna.
“Papa dengar kamu telah berhasil membuat Samindo Co menginvestasikan uangnya ke GR8 Holdings.” ucap Ed.
“Iya dong, hehehe..”
“Berkat itu juga, Samindo Co menaikkan jumlah investasinya di OneTech Group. Anak Papa hebat sekali, ya.” ucap Ed.
“Benarkah? Asyik, uang jajanku nambah, dong, Pa?” balas Anna.
“Dalam 2 hari lagi diadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa di OneTech Group. Dan salah satu agendanya adalah penunjukkan komisaris utama yang baru. Papa ingin menjadikan kamu komisaris utama di OneTech Group.” ucap Ed.
“Papa sudah memikirkannya sejak lama. Apalagi jika game yang akan dirilis nanti berhasil, para pemegang saham di OneTech Group pasti melihat kemampuan kamu.” ucap Ed.
“Tapi orang-orang pasti akan menilaiku adalah orang yang serakah. Aku ’kan belum lama menjadi CEO.” balas Anna.
Ting.. tong... Seseorang membunyikan bel di kamar hotel yang Anna tempati. Anna berjalan ke arah pintu dan membukakan pintunya dengan satu tangan yang masih mengenggam telepon. Melihat Zack yang datang ke kamarnya dengan sebotol anggur dan gelas di tangannya.
“Sekaligus ini kesempatan untuk kamu membuktikan ke Zack, beserta ibunya yang seperti jelmaan iblis itu kalau dia tidak bisa merendahkan kamu lagi.” ucap Ed di telepon.
Anna mendengarnya, sementara matanya menatap Zack yang berdiri di hadapannya.
“Mereka sama sekali tidak pantas untukmu.” tambah Ed.
“Anna? Kamu masih mendengar Papa?” tanya Ed.
“I—iya, Pa. Kita lanjut lagi nanti, ya.” ucap Anna lalu mengakhiri panggilannya dengan Ed.
“Sedang apa kamu kesini?” tanya Anna kepada Zack.
“Aku membutuhkan temanku untuk membantu menghabiskan ini.” jawab Zack seraya mengangkat botol di tangannya.
__ADS_1
“Tidak bisa. Kembalilah.” ucap Anna lalu hendak menutup kembali pintunya.
Namun Zack segera menahannya. Anna pun kalah dalam hal tenaga, hingga Zack berhasil masuk ke dalam kamar Presidential Suite Anna yang begitu luas. Zack mendapat kertas yang berserakan di meja dan sofa.
“Wow.”
Zack tidak bisa berkata-kata lagi melihat pemandangan yang sangat berantakan itu. Jika sudah bekerja, Anna memang tidak memikirkan lagi soal kerapian.
Salah fokus, Zack menemukan ada sebotol dan segelas anggur di atas meja.
“Kenapa minum sendiri? Ajak aku, lah.” ucap Zack.
“Kamu tidak lihat? Bahkan di sofa sudah tidak ada tempat untukmu. Keluarlah.” balas Anna.
“Tidak perlu sungkan. Aku tidak mau merepotkan tuan rumah. Aku bisa duduk di lantai.” ucap Zack lalu mengambil posisi duduk di lantai.
Anna menghembuskan napas panjang. Lambat laun, Anna menjadi menyesal telah menerima ajakan dari Zack untuk berteman. Dia hanya terpancing saja hari itu. Dan Zack benar-benar menggunakan “status teman”nya itu dengan baik.
Anna akhirnya menutup kembali pintunya dan mendekat ke meja, merapikan kertas-kertas yang berantakan akibat ulahnya.
Sementara Zack membuka botol anggurnya dan menuangnya ke gelas. “Cheers! Kerja bagus hari ini.”
Dan jadilah Anna minum bersama Zack malam itu.
“Rasanya tidak jauh berbeda dengan anggur merah di Jakarta.” ucap Zack.
“Rasa anggur merah tidak ditentukan oleh tempat.” balas Anna.
“Lantas?”
“Ditentukan dengan perasaan yang sedang kamu rasakan ketika kamu meminumnya.” ucap Anna.
“Apa rasanya kalau perasaanku sedang cemas, takut, dan sedih?” tanya Zack.
“Apa yang kamu rasakan saat meminumnya tadi?” balas Anna.
“Pahit.”
Anna terdiam sejenak. Zack pun juga.
“Jika kamu mencemaskan GR8 Holdings dan sedih karena aku ambil alih, kamu tidak perlu—” ucap Anna yang terpotong.
“Aku mencemaskan orang yang telah mengambil alih.” Zack menyela kalimat Anna.
Bersambung...
__ADS_1
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih