Balas Dendam Wanita Yang Dianggap Lemah

Balas Dendam Wanita Yang Dianggap Lemah
Berlindung


__ADS_3

“Apakah tante sudah membicarakan soal ini dengan Zack?” tanya Anna.


“Karena pada awalnya saya berniat aborsi saat mengetahui saya hamil. Namun Zack melarang saya.” ucap Anna berbohong.


Mary tersenyum. “Kalau berniat aborsi, lakukanlah. Itukan tubuhmu, Zack tidak berhak atas apapun.”


“Tapi anak ini adalah darah daging Zack.” ucap Anna.


“Sampai kapan kamu akan berpura-pura kuat, Anna? Berkuliah sampai S2 di universitas ternama, kok tidak ada tempat yang mau menerima, ya? Dan malahan bekerja di sebuah kafe.” balas Mary.


“Yang terpenting saya tidak hidup dengan uang Zack dan tante sepeser pun. Oh, ya. Ceknya sudah kembali ke tangan tante, ’kan?” ucap Anna.


“Kamu lebih berani dari sebelumnya, Anna. Baiklah. Saya tidak ingin mempersulit kamu lagi. Kamu tahu kan Zack sudah menikah?” balas Mary.


“Saya tahu, tante.” ucap Anna.


“Tidak baik jika kamu terus dekat dengan Zack yang notabene adalah suami orang. Apalagi sekarang kehidupan Zack dan istrinya selalu disorot media.”


“Namun saya mengerti. Seorang wanita yang sedang hamil pasti membutuhkan perhatian dari pasangannya. Kamu pastinya ingin berada di dekat Zack terus, ’kan?” balas Mary.


“Maksud tante? Tinggal di sini?” tanya Anna.


“Kenapa? Kamu tidak mau?” balas Mary.


“Bukankah kata tante tidak baik jika saya terus dekat dengan Zack?” tanya Anna.


“Jika kamu bersedia tinggal di rumah ini, beda lagi ceritanya. Kamu tidak akan disorot media jika dekat dengan Zack.” jawab Mary.


“Maksud tante? Saya masih tidak mengerti. Bagaimana bisa saya tidak akan disorot media?” ucap Anna.


“Kalau kamu bersedia tinggal di sini, kamu akan menjadi pelayan.” balas Mary.


“Media tidak akan menyorot hubungan antara pelayan dengan majikan, ’kan?” sambung Mary.


Wah!


Anna tidak mampu berkata-kata lagi. Mamanya Zack memang tidak pernah kehabisan akal. Justru Anna yang tidak habis pikir, mengapa ada manusia seperti mamanya Zack. Padahal sesama perempuan.


“Saya akan berikan waktu sampai 1 hari sebelum Zack dan istrinya kembali setelah berbulan madu. Bagaimana? Apakah cukup?” ucap Mary kemudian.


...****************...


Anna berjalan keluar dari rumah itu. Otaknya terus bekerja, seolah masih tidak habis pikir dengan mamanya Zack. Ada Bram yang sudah menunggu di depan dan membukakan pintu mobil untuk Anna.


“Bram, kamu bekerja untuk Zack atau mamanya?” tanya Anna.


“Untuk Zack.” jawab Bram dengan cepat.


“Kalau begitu, apakah kamu akan melaporkan tentang kedatanganku ke sini pada Zack?” tanya Anna.


“Tentu saja jika ibu mengizinkan.” jawab Bram.


“Jangan laporkan. Antar saya kembali ke rumah.” ucap Anna lalu masuk ke dalam mobil.


Anna diantar pulang oleh Bram menuju rumahnya. Selama di perjalanan, keduanya sama sekali tidak bicara. Sampai di depan rumah, Anna langsung turun dari mobil begitu saja.


“Bu Adrianna.” panggil Bram yang ikut turun dari mobil.

__ADS_1


“Ya?”


“Zac—Maksudnya Pak Zack menitip pesan untuk ibu agar tidak lupa meminum vitamin dan obat dari dokter.” ucap Bram.


“Saya tidak akan lupa.” balas Anna.


“Baik, bu. Kalau begitu saya akan kembali besok pagi untuk menjemput ibu.” ucap Bram.


...****************...


14 hari kemudian...


“Eh, anak mama sudah pulang! Bagaimana bulan madunya, Zack? Callista?” Mary menyambut kedatangan Zack dan Callista setelah 2 minggu pergi berbulan madu.


Callista hanya tersenyum sedangkan Zack memasang wajah datar, tidak berekspresi sama sekali.


“Aku akan kembali ke kantor.” ucap Zack.


Zack berbohong. Tempat yang ingin dia datangi sebenarnya adalah rumah Anna. Dia ingin bertemu Anna karena rasa rindunya yang telah menggunung.


“Eh! Antar Callista dulu ke kamar kalian. Biar pelayan yang bantu membawa koper kalian. Anna? Anna?” Mary memanggil Anna.


Anna pun datang menghampiri mereka. Dengan mengenakan seragam khusus pelayan di rumah itu. Ya, Anna menerima tawaran mamanya Zack itu. Bukan tanpa alasan, melainkan Anna berpikir bahwa mamanya Zack pasti tidak akan macam-macam kepadanya jika Anna berada di dekat Zack. Dan bekerja sebagai pelayan di rumah Zack juga membuat Anna dekat dengan Zack.


Mata Zack pun membesar. Saat melihat Anna datang dengan mengenakan seragam pelayan. Anna, kekasihnya itu menjadi pelayan di rumahnya sendiri. Padahal kekasihnya juga sedang berbadan dua.


“An—”


“Bawakan semua koper ke kamar mereka.” ucap Mary.


“Baik.” jawab Anna.


Maru pun tersenyum. “Duduk dulu, Callista. Kamu pasti kelelahan sekali.”


“Apa yang sedang kamu lakukan, Anna?!” tanya Zack.


“Ssstt...”


“Anna, kamu pasti sudah gila, ya? Menjadi pelayan? Di rumahku? Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu, Anna?” tanya Zack.


“Ssstt... Jangan kencang-kencang! Bagaimana kalau istrimu dengar?” balas Anna.


“Kamu benar-benar sudah gila, Anna. Lepaskan pakaian itu segera dan ikut denganku.” ucap Zack.


Anna menarik tangan Zack yang ingin keluar dari kamar.


“Bukankah dengan aku bekerja di sini kita bisa menjadi dekat? Kamu lupa kalau aku sedang hamil? Aku tidak bisa jauh darimu, Zack.” ucap Anna.


“Ya—tapi— masa menjadi pelayan?! Pelayan itu pekerjaan yang melelahkan. Sedangkan Kamu tidak boleh kelelahan, Anna.” balas Zack.


“Kan ada pelayan lain juga. Aku tidak mengerjakan semuanya sendiri.” ucap Anna.


“Tetap saja, Anna. Aku tidak mau pokoknya!” balas Zack.


“Aku juga tidak mau jauh darimu pokoknya. Titik.” ucap Anna.


“Anna, please..”

__ADS_1


“Kamu tidak merindukanku? Anakmu?” tanya Anna.


Zack segera memeluk Anna. Anna pun juga memeluk Zack. Mereka saling melampiaskan kerinduannya setelah tidak saling melihat selama 2 minggu lamanya.


“Berjanjilah kamu jangan sampai kelelahan.” ucap Zack.


Anna mengangguk.


“Dan cukup 3 bulan saja. Setelah itu, aku tidak mengizinkan kamu bekerja.” ucap Zack.


“Zack, training saja 4 bulan, masa aku 3 bulan doang, sih?” protes Anna.


“Menurutlah, Anna.” ucap Zack.


“Baiklah, baiklah.”


“Anna? Anna?” Mary memanggil Anna.


“Aku dipanggil, Zack.” ucap Anna.


“Tapi aku masih ingin memelukmu.” balas Zack.


“Nanti, Zack.”


Zack terpaksa melepaskan pelukannya terhadap Anna. Anna langsung pergi menyelonong dari kamar Zack.


“Buatkan minuman untuk kita.” ucap Mary.


“Baik, Nyonya.”


...****************...


Para pelayan sedang sibuk di dapur untuk mempersiapkan makan malam. Termasuk Anna. Karena malam ini kakeknya Zack (Zeruel Smith) akan datang dan makan malam di rumah ini.


Kakeknya Zack telah tiba. Zack dan mamanya, bersama istrinya telah berkumpul di meja makan. Para pelayan satu persatu menghidangkan makanan. Giliran Anna yang menuangkan minuman untuk semua yang berada di meja makan.


Pandangan Zack seolah tidak dapat berpaling dari Anna. Dia terus memandangi Anna yang menuangkan minuman satu persatu untuk mereka. Kakeknya Zack yang duduk di tengah pun mendapati pemandangan di depannya.


“Zack.” Kakeknya memanggil Zack.


“Ya, Kek.?”


“Kakek terlihat seperti sudah memiliki segalanya di dunia ini, bukan?” tanya Zeruel.


“Tentu saja.” jawab Zack.


“Namun ternyata ada satu yang belum Kakek miliki.” ucap Zeruel.


“Apa itu, Kek?” tanya Zack.


“Cicit.”


Kakek akan segera memilikinya.. batin Zack.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.

__ADS_1


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2