
Begitu juga dengan Anna. Setelah menutup dan mengunci pintu rumahnya, tubuh Anna pun merosot ke lantai sembari menahan mulutnya agar tangisannya tidak terdengar.
Tidak pernah dia bayangkan hubungannya dengan Zack akan berakhir seperti ini. Mereka telah melalui banyak momen bersama yang membahagiakan sampai merasa dunia ini adalah milik mereka. Mereka merasa merekalah manusia yang paling bahagia di dunia ini. Sebelum ujian datang menghantam mereka.
Mereka berusaha mempertahankan hubungan semampu mereka dengan berlandaskan cinta, namun cinta yang mereka miliki ternyata tidak cukup untuk mempertahankan hubungan mereka. Anna yang tidak kuasa menutupi rasa sakitnya melihat Zack telah menjadi suami dari wanita lain, dan Zack yang telah meragukan Anna.
Meski begitu, rasa cinta yang mereka miliki terhadap satu sama lain sebenarnya sangatlah kuat. Tidak pernah mereka bayangkan mereka akan berpisah dengan satu sama lain. Ditambah lagi dengan memori kebersamaan mereka yang begitu indah.
“Anna, aku mencintaimu.” ucap Zack.
Anna mendengarnya. Tangisannya semakin menjadi-jadi, dan tangannya semakin kuat menahan mulutnya itu.
Zack mengatakannya begitu jelas dan Anna mendengarnya begitu jelas.
“Aku menyesal, Anna. Aku menyesal telah menikahi Callista.” ucap Zack kemudian.
“Jaga dirimu dan anak kita baik-baik. Aku akan sering mengunjungimu di California. Aku mencintaimu, Anna.” ucap Zack yang terakhir, sebelum dia pergi dari rumah Anna.
Anna akhirnya bisa melepas mulutnya dan mengeluarkan suara tangisnya. Sedaritadi air matanya turun mengalir bersama rasa perih di hatinya seperti teriris benda tajam.
...****************...
“Jadi Anna berencana ke California dan melanjutkan hidupnya di sana?” Mary membuat kesimpulan.
“Benar, bu. Seperti itu yang saya dengar dari Zack.” ucap Bram.
“Baiklah. Kamu boleh pergi.” balas Mary.
Anna tidak boleh melahirkan anak Zack. batin Mary.
Mary meraih ponsel yang berada di dekatnya. “Halo, saya memiliki perintah untukmu.” ucap Mary di telepon.
...****************...
“Bram, carikan seseorang untukku. Plat mobilnya B 9898 AG.” ucap Zack kepada Bram.
“Baiklah. Selesai rapat akan aku bawakan hasilnya.” ucap Bram.
...****************...
Zack mengikuti rapat bulanan sebagai CEO di perusahaannya. Meskipun pikirannya terpecah, fokusnya selalu tertuju pada Anna. Hubungannya dengan Anna sekarang berada pada fase yang terburuk. Namun Zack sendiri juga tidak dapat melepaskan Anna, berpisah, dan jauh dari Anna. Apapun kenyataan yang sedang dia hadapi sekarang, dan siapa sebenarnya ayah dari anak yang sedang dikandung Anna, Zack sangat mencintai Anna.
Zack merasa jika itu sebuah kesalahan, dia sudah pasti akan membukakan pintu maaf dan memberi kesempatan untuk Anna. Karena lagi-lagi alasannya sama, Zack sangat mencintai Anna dan tidak dapat berpisah dengan Anna. Hingga saat pemaparan materi dari bawahnnya Zack kepikiran sesuatu.
B 9898 AG
AG apakah artinya Adrianna Gartner? Dan 9898.. Anna lahir tahun 1998, tanggal 9 dan bulan 8. Jadi.. mobil itu... Apa benar dia memiliki hubungan yang dekat dengan Anna? Sampai dia membuat plat mobilnya yang berkaitan dengan Anna? batin Zack.
Zack memijit pelipisnya. Membuat semua yang hadir mengikuti rapat menjadi gemetaran, takut bahwa gagasan idenya tidak diterima oleh Zack.
__ADS_1
Semakin berusaha keras aku mencari tahu, semua yang dikatakan Anna terasa semakin jelas. Sedangkan aku takut bahwa semua yang dikatakan Anna itu benar. Tidak—bukan takut, aku tidak siap dan tidak mau percaya atas kebenaran itu. batin Zack.
“Bentuk tim baru untuk mengerjakan projek ini. Dan laporkan perkembangannya setiap 7 hari sekali.” ucap Zack mengakhiri rapatnya.
Zack keluar meninggalkan ruang rapat dan kembali ke ruangannya. Disusul oleh Bram.
“Aku sudah mendapatkan hasil yang kamu inginkan.” ucap Bram.
“Mobil tersebut telah berganti nama kepemilikan—”
“Stop. Kamu tidak perlu melaporkan itu padaku.” ucap Zack.
“Aku sudah tidak ingin tahu tentang pemilik mobil itu lagi.” tambah Zack.
Bram menjadi bingung atas sikap Zack.
Sepulang kerja, Zack pergi ke rumah Anna dan membawa buah-buahan untuk Anna yang sedang hamil. Namun setelah puluhan menit mengetuk pintu, tidak ada jawaban dari Anna dari dalam apalagi membukakan pintu untuk Zack.
“Anna, aku gantung buahnya di depan. Jangan lupa diambil. Aku pulang dulu.” ucap Zack.
Zack pun meninggalkan rumah Anna. Meski sejuta kekecewaan menyelimuti hatinya karena Anna menolak bertemu dengannya.
Zack kembali ke rumahnya dalam kondisi mabuk. Dia bahkan sudah tidak dapat berdiri sempurna. Bram memapah tubuh Zack untuk masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam ada Mary dan Callista yang telah menunggu Zack pulang.
“Astaga! Kenapa Zack bisa mabuk seperti ini?” ucap Mary.
“Benarkah? Aku sudah minum banyak? Aku tidak boleh minum banyak! Nanti Anna tambah marah padaku!” oceh Zack.
“Bram, bawa dia ke kamarnya. Callista, arahkan Bram ke kamar kalian.” ucap Mary.
“Baik, ma.”
Bram memapah tubuh Zack menuju ke kamarnya.
“Bram, jangan beritahu Anna kalau aku minum banyak, ya? Nanti Anna tambah marah dan tidak mau bertemu denganku lagi.” ucap Zack dalam keadaan mabuk.
“Iya. Tidurlah, Zack.” balas Bram.
“Aku mencintai Anna. Aku membutuhkan Anna sekarang. Aku ingin memeluknya sekarang.” ucap Zack.
Bram langsung melirik ke arah Callista.
“Bram, tolong telpon Anna. Katakan padanya aku telah menyesal menikah. Katakan padanya, Bram! Kumohon!” ucap Zack yang terus mengoceh.
“Kamu boleh keluar.” ucap Callista pada Bram.
“Baik. Saya permisi.” Bram keluar dari kamar Zack.
Keesokan harinya, di pagi hari Zack bangun tidur dan memegangi kepalanya yang terasa pusing dan nyeri. Zack perlahan berjalan menuju kulkas untuk mencari air. Tidak lama kemudian, para pelayan berjalan menuju ke kamarnya. Zack merasa bingung dan berjalan ke kamarnya sendiri.
__ADS_1
“Sedang apa kalian?” tanya Zack.
“Maaf, Tuan. Kami mendapat perintah untuk mengganti sprei nyonya Callista.” jawab salah satu pelayan.
Zack kemudian mendapati ada noda darah di sprei Callista.
“Tidak mungkin. Ini tidak mungkin.” Zack segera berjalan keluar. Dan berpapasan dengan Mary beserta Callista.
“Semalam tidak terjadi sesuatu, ’kan?!” tanya Zack.
“Kamu tidak ingat?” balas Mary.
“Ap maksud Mama?” tanya Zack.
“Semalam kamu pulang dengan keadaan mabuk. Sampai Bram harus memapahmu ke kamar.” jawab Mary.
“Setelah itu. Setelah itu tidak ada yang terjadi, ’kan? Callista?” tanya Zack.
Callista terdiam.
“Kenapa kamu diam? Jawab aku!” ucap Zack dengan meninggikan suaranya.
“Tidak ada yang terjadi bagaimana? Noda darah di sprei itu sudah menjawab semuanya.” ucap Mary.
“Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Hahaha... Kalian jangan menipuku.” balas Zack.
“Kenapa kamu bicara seperti itu, Zack? Callista ini istrimu, lho.” ucap Mary.
“Aku selalu tertidur kalau mabuk. Mana punya tenaga untuk melakukannya. Kalian tidak usah menipuku.” balas Zack.
“Zack?!”
“Aku tidak akan menyentuh wanita lain selain Anna. Kalian dengar itu, ya!” ucap Zack lalu bergegas bersiap ke kantor.
Sebelum menuju kantor, Zack menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Anna lagi. Pagi itu pikirannya sudah dibuat kacau.
“Bodoh! Bodoh kamu, Zack! Bodoh!” Zack menonjok setir mobilnya saking kesalnya.
“Arghhh..!!”
“Apa yang harus kamu katakan pada Anna, Zack?!”
Sesampainya di rumah Anna, Zack menemukan buah yang dia bawakan semalam masih tergantung di luar. Zack bingung sekaligus khawatir. Zack mengetuk pintu rumah Anna beberapa kali sebelum membuka paksa pintu yang terkunci itu.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih
__ADS_1