Balas Dendam Wanita Yang Dianggap Lemah

Balas Dendam Wanita Yang Dianggap Lemah
Tercium Bau


__ADS_3

Anna tidak bergeming. Dia tetap fokus memeriksa dokumen yang membutuhkan tanda tangannya. Dia sama sekali tidak memerdulikan Zack.


“Mari, Dirut Zack. Jangan mengganggu Presdir Anna.” ucap Novan.


Zack pun mau tidak mau keluar dari ruangan Anna setelah diabaikan begitu saja oleh si pemilik ruangan.


Maaf, Zack. Aku takut aku akan goyah jika bersamamu lagi. Aku harus fokus mencapai tujuanku terlebih dahulu. batin Anna setelah Zack dan Novan pergi dari ruangannya.


...****************...


Di ruangan Bram, direktur Personalia.


“Anna benar-benar sudah gila, Bram. Apa dia sudah tahu mengenai kedekatan kita? Jadi, ini alasannya dia menjadikan kamu direktur Personalia? Supaya kamu yang mengurus demosiku? Lebih baik aku di PHK saja, Bram. Daripada harus bekerja sebagai karyawan biasa di tempat ini.” oceh Mary.


“Lebih baik ibu berterimakasih pada Anna karena masih diterima di GR8 Holdings.” balas Bram.


“Berterimakasih? Saya tidak sudi. Lebih baik saya dikeluarkan daripada masih harus bekerja di tempat ini!” ucap Mary.


“Bagaimana dengan minta maaf? Setidaknya atas semua hal buruk yang terjadi pada Anna, itu adalah ulah ibu.” balas Bram.


“Yakin hanya ulah saya seorang? Saya mungkin tidak akan tahu pergerakan Anna, dimana, sedang apa, dan apa yang akan dia lakukan jika bukan karena kamu, Bram.” ucap Mary.


“Saya rasa ibu sudah sangat keterlaluan terhadap Anna. Saya merasa bersalah pada Anna, andai saya tahu jika ibu memanfaatkan saya untuk mencelakai Anna, saya tidak mungkin membantu ibu dari awal.” balas Bram.


“Memanfaatkan? Bukankah kamu juga diuntungkan dengan amplop tebal yang saya berikan?” tanya Mary.


“Ini surat perjanjian kerja Bu Mary yang baru. Silahkan ditandatangani. Saya harus melapor kepada Presdir Anna segera.” ucap Bram mengalihkan.


“Dan lebih baik ibu meminta pengampunan dari Anna dan berdoa saja kalau Anna tidak berniat membalas perbuatan ibu padanya.” ucap Bram kemudian.


“Apa katamu, Bram? Namun saya tidak heran lagi. Kamu memang seperti itu, selalu berpihak kepada orang-orang yang memiliki uang lebih.” balas Mary.


“Silahkan ditandatangani.” ucap Bram tanpa memedulikan kalimat Mary sebelumnya.


...****************...


Ruangan Anna


Bram datang ke ruangan Anna untuk memberikan surat perjanjian kerja Mary Jo yang baru dan membutuhkan tanda tangan Anna.

__ADS_1


“Yang saya minta sudah dimasukkan?” tanya Anna.


“Sudah, Bu Presdir. Ada di halaman ketiga.” jawab Bram.


Anna membalik kertas hingga halaman ketiga.


Pihak B (Mary Jo) tidak diperkenankan untuk meninggalkan perusahaan dalam kurun waktu 18 bulan dengan alasan apapun terkecuali meninggal dunia sebagai bentuk pertanggungjawaban atas perbuatannya yang merugikan perusahaan.


Anna segera membalik kertas hingga ke halaman terakhir untuk menandatangani surat perjanjian kerja yang sudah ditandatangani Mary Jo sebelumnya.


Anna mengembalikan surat perjanjian kerja itu kepada Bram setelah menandatanganinya.


“Terima kasih, Bu Presdir. Saya permisi.” ucap Bram.


...****************...


20.00


Tok.. tok..


“Masuk.” ucap Anna.


“Mary Jo?” Anna melirik ke arah jam tangannya.


“Tuan Ed sudah menunggu untuk makan malam bersama anda di rumah.” ucap Novan kemudian.


“Baiklah. Saya tidak akan lama. Persilahkan dia untuk masuk.” balas Anna.


“Baik.” Novan mempersilahkan Mary Jo masuk ke dalam ruangan Anna.


“Ini laporan keuangan GR8 Holdings selama 4 tahun terakhir yang anda butuhkan.” ucap Mary Jo seraya menyerahkan dokumen.


Anna menerima dokumen tersebut. Sementara Mary Jo masih berdiri di depan meja kerja Anna.


“Kenapa? Tante pasti bingung sekali mengapa gadis miskin yang dibesarkan di panti asuhan bisa duduk di ruangan ini, ya, ’kan?” ucap Anna.


Anna bangkit berdiri. Mensejajarkan wajahnya dengan wajah Mary.


“Dalam semalam tante dapat berubah menjadi seorang narapidana, koruptor, atau pembunuh. Dan dalam semalam juga tante berubah lagi menjadi karyawan biasa tanpa jabatan di tempat ini. Aku jadi penasaran, malam berikutnya tante berubah menjadi apalagi, ya?” ucap Anna.

__ADS_1


Mary Jo mengendus-endus. “Bau apa ya ini? Kamu mencium sesuatu?”


“Tante mencium bau kesombongan. Baru beberapa hari menjadi CEO saja kamu sudah pamer di depan tante?” balas Mary.


“Memangnya tante pernah menjadi CEO? Yang pernah itu anak tante, bukan tante. Oh, ya. Bagaimana kabar anak tante? Dia sudah menjadi duda, ya, sekarang? Dipaksa mundur dari jabatan CEO, diceraikan, malang sekali nasib anak tante yang harus menanggung beban atas perbuatan rendahan ibunya sendiri.” ucap Anna.


“Apa katamu? Beraninya kamu bilang seperti itu?!” balas Mary.


Anna bergantian mengendus-endus. “Apa tante mencium sesuatu?”


“Aku mencium bau tanah. Berbaik hatilah pada Zack. Kalau tidak, nanti tante akan ditelantarkan di panti jompo, loh. Ah, kebetulan yayasan yang menaungi panti asuhan tempat aku dibesarkan sedang membangun panti jompo. Mau aku daftarkan dulu? Eh tapi butuh dana yang besar untuk bis menitipkan seseorang di sana. Zack ’kan bukan lagi CEO, kepemilikan saham pun hanya 3% saja.” ucap Anna kemudian keluar dari ruangannya.


“Sudah?” tanya Novan.


Anna mengangguk. Keduanya pun berjalan menuju lift dan turun ke lobi.


Mary yang dari belakang merasa iri dan dengki bercampur kesal, melihat Anna yang mendapat banyak “bungkukkan badan” ketika Anna berjalan. Sedangkan dia? Kini sudah tidak lagi mendapat hormat dari seorang pun. Bahkan kehadirannya saja seperti tidak terlihat.


Mary mengambil ponsel dari dalam tasnya, hendak menghubungi Zack untuk pulang bersama. Namun saat jarinya ingin menelepon Zack, Mary melihat di depan mata kepalanya sendiri, Zack menghampiri Anna yang hendak masuk ke dalam mobil. Zack dicegat oleh Novan dan beberapa security di sana sampai Anna masuk ke dalam mobil dan Novan menutup pintu mobil.


Zack terus mengetuk kaca jendela Anna sampai terjatuh karena Novan mengendarai mobilnya pergi dari sana.


“Zack! Apa yang sedang kamu lakukan?!” Mary menghampiri putranya dan membentaknya.


“Ada yang ingin aku bicarakan dengan Anna. Mama sedang apa disini?” balas Zack.


“Apa lagi yang ingin kamu bicarakan dengan wanita sombong itu?” tanya Mary.


“Jaga ucapan Mama. Aku sudah pernah ke Mama agar jangan merendahkan Anna. Sekarang Mama lihat, ’kan? Anna menjadi bos kita sekarang.” balas Zack.


“Lalu, mentang-mentang sudah jadi bos, dia jadi bisa bertindak seenaknya denganmu seperti tadi?!” ucap Mary.


“Sudah lah, Ma. Itu urusanku. Mama tidak perlu ikut campur.” balas Zack.


“Zack?!”


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.

__ADS_1


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


__ADS_2