
PROLOG 1
Gadis itu berlari di tengah hujan.
Sebilah pedang biru berukir dia genggam erat dengan sebelah tangan. Pedang berlumur darah yang terus menetes di sepanjang jalan. Rasa takut menyelimuti, bersama isak tangis yang tak kunjung reda.
Peluh keringat membasuh darah yang sebelumnya mengering.
Jalanan mendadak gelap dilahap pekat yang merayap.
Dan hujan darah berjatuhan tiada henti.
Setetes demi setetes.
Membanjiri pedestrian.
Membanjiri jalan raya.
Bagai sekaleng cat yang ditumpahkan.
Di belakangnya, makhluk berkepala gagak mengikuti. Menggaok ganas meminta tumbal. Makhluk aneh—berwujud wanita bergaun anggun dengan kepala burung gagak raksasa—itu mengejar.
Gaunnya berkibar-kibar.
Meloncat-loncat begitu lincah bak penari balet.
"Tidak!" pekik si gadis saat makhluk itu berada satu meter di belakang.
Sang makhluk memagut punggungnya.
Si gadis berbalik.
Paruh gagak terbuka menampilkan kengerian di dalamnya.
Si gadis menjerit.
Si gadis, menebaskan pedangnya ke leher makhluk tersebut sebelum dilumatnya bulat-bulat.
Kepala burung gagak itu berguling-guling ke tengah jalan. Sementara sisa tubuhnya beringsut mundur. Kedua tangan manusianya meraba-raba leher yang buntung seakan keheranan, ke manakah kepalanya berpindah?
Gadis itu merangkak.
Gadis itu bangkit.
Gadis itu berlari kembali.
Kesialan dia alami bertubi-tubi.
Dia terpeleset.
Tubuhnya terhuyung ke depan.
Dagunya mencium trotoar kasar.
Darahnya turun.
Darahnya menyatu dengan kegelapan.
Dari segala sudut muncul ratusan pasang mata. Mengintip saling berkedip di balik pagar tanaman dan penanda jalan. Mata kuning menyala dengan pupil merah seakan menunggu si gadis jatuh dan mati dengan sendirinya sebelum mereka akhirnya menyerbu dan mengoyak tubuhnya.
"Tolong! Tolong aku!"
Dia melolong di bawah hujan.
Dalam pekat malam yang mengancam.
Tak ada siapa pun di situ.
Hanya dia sendiri yang berdiri.
Dan keberanian yang makin terkikis jengkal demi jengkal dalam pencariannya yang tak menentu ini.
Gadis itu masuk ke salah satu rumah. Menuju ke tengah ruangan yang tampak habis dilanda tornado. Semuanya berserakan tak keruan. Barang pecah belah menyelimuti lantai yang dipenuhi jejak kaki mungil.
Dia bangkit menatap dinding.
Air mata mengalir tanpa diundang.
Dia menggigit bibirnya kuat-kuat.
Anak itu berada di sana.
Mereka saling bertatapan lekat-lekat.
Keduanya tampak gamang.
Keringat bercucuran.
__ADS_1
Darah merembes turun di kening si gadis.
Sedangkan anak itu tampak begitu lelah dan menderita. Kantung matanya makin menghitam. Ratusan benang meliliti lengan kirinya dengan kencang.
"Kakak, tolong aku. Temukan jasadku. Damaikan aku. Aku takut. Aku sakit," ucapnya parau.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Aku lelah. Biarkan aku pergi. Jangan ganggu aku lagi, kumohon!" gadis itu menangis getir.
"Sisi batas hitam," kata anak itu mengingatkan.
"Aku tidak tahu apa maksudmu! Aku sudah mencarinya dan aku tidak menemukan apa-apa!"
"Kalau begitu ... tak ada cara lain lagi. Kau harus mati," kata anak itu menundukkan kepala. "Kau harus mati, jalang!"
Anak itu menyeringai.
Sederet gigi seruncing piranha memenuhi mulutnya.
Dia cekikikkan dalam mata yang berubah merah.
Dan perlahan, dia melayang mundur ke belakang.
Lenyap di dalam kegelapan.
Tetesan hujan kembali membasahi tubuh gadis itu. Hujan turun dari atap ruangan. Dari titik-titik cahaya yang muncul di langit-langit ruangan merah. Ruangan yang berdenyut dari urat-urat yang menjalar mirip akar.
Air hujan membasuh luka yang dia terima. Menghapus lelah yang tiada habisnya dia lalui untuk sampai di tempat ini.
Sesosok iblis melenggang dari kegelapan. Dengan tombak trisula di tangan kanannya, dia datang sebagai ratu kematian. Dan kini, iblis itu hendak membunuhnya dan melahap jiwanya.
Iblis itu mengangkat tombaknya ke udara. Membuat puluhan pedang berkarat, tombak, dan pecahan kaca yang tergeletak di tiap sisi ruangan saling berderak. Benda-benda tajam itu kemudian melayang di udara, mengepung dengan ujung mata tajam yang saling terarah ke si gadis.
Gadis itu hanya tinggal menunggu waktu sebelum semua benda itu menimpa tubuhnya.
Meremukkan tulangnya.
Membuatnya hancur lebur.
Dan mati tanpa sisa.
"Inilah akhirnya. Aku akan mati," gadis itu berucap.
Dia jatuhkan pedangnya.
Dia rentangkan tangannya lebar-lebar.
Dalam air mata yang terus mengalir deras.
Dia pasrah.
Dia lelah dengan apa yang telah terjadi saat ini. Mungkin ini memang yang terbaik. Jika kematian bisa membuatnya tenang, itu adalah hadiah terindah untuknya. Tapi, jika tidak, lalu hal apa yang lebih buruk daripada kematian?
Simbol segitiga mendadak tercipta di lantai yang dia pijak.
Cahaya merah berbentuk sama muncul dari bawahnya seperti sinar laser.
Menyebar ke segala penjuru ruangan.
Silau.
Dia tak bisa melihat.
Dia menutup kedua matanya dengan lengannya yang berlumur darah.
"Diam. Diamlah di sini. Jangan pernah keluar dari tempat ini!" kata sebuah suara.
"Siapa? Siapa itu?"
Gadis itu tak bisa melihat. Silaunya cahaya hingga menusuk ke dalam kelopak mata.
"Aku tidak bisa membebaskanmu. Aku ... hanya bisa melindungimu. Diamlah di ruangan ini dan jadilah pemandu bagi mereka yang tersesat di kota ini ...."
"Siapa kau?" tanya gadis itu sekali lagi.
Mencoba memicingkan mata.
Yang dia lihat hanya bayangan seorang di ambang pintu. Di hadapan cahaya menyilaukan yang entah berasal dari mana.
"Aku ...," suara itu terhenti. "Aku ...."
Dia tak melanjutkan ucapannya.
Suara itu pergi bersama cahaya. Meninggalkan si gadis sendirian dalam ruangan yang tersegel selamanya.
***
PROLOG 2
__ADS_1
Sesosok pemuda terpatung kaku di ruangan itu. Nyaris semenit matanya melotot tanpa berkedip.
Merah.
Api.
Darah.
Lendir.
Putih.
Basah.
Erangan.
Desahan.
Seringai.
Memenuhi ruangan.
"Di mana aku?" akhirnya dia berucap.
Ludah ditelan.
Keringat dingin mengucur dari kening.
Matanya menatap ke depan.
Pupilnya membesar dan mengecil sebelum akhirnya bergeming.
Dia terkurung dalam ketelanjangan.
Dia terjerat dalam keabsurdan.
Dia terperangkap dalam keabnormalan.
Dia terperdaya dalam lautan hasrat jiwa-jiwa yang tersesat.
Dia terjebak di tengah-tengah pergumulan terkutuk.
Di antara gesekan kulit dengan kulit.
Di antara tekanan nafsu yang menderu-deru.
Di antara sentuhan kesakitan dan kenikmatan.
Dia berada dalam nerakanya sendiri.
"Siapa kalian?" dia bertanya pada semua pemuda yang berada di sekelilingnya yang bergumul, menyatu, dalam kelompok-kelompok kecil.
Tak ada kata yang terucap dari mulut mereka, kecuali desahan dan jeritan kesenangan.
Dia baru sadar, bahwa semua pemuda ini mirip satu sama lain.
Kembar.
Seratus?
Dua ratus orang?
Dia tak bisa menebaknya.
Semua memiliki wajah sama. Sama seperti wajahnya sendiri.
"Neraka terkutuk macam apa ini?"
Di ruangan itu. Di sekelilingnya, ratusan kembarannya tengah bersanggama.
Beradu pedang dengan pedang.
Beradu pedang dengan lubang.
Saling mencecar satu sama lain.
Dalam gelap dan api.
Dalam cipratan darah dan mani.
Satu sosok mendekatinya dari depan. Seorang pemuda dengan rambut disisir ke belakang. Menyisakan beberapa helai yang tergantung di dahinya. Alis tajamnya bertaut dalam mata keemasan yang tampak menyala, seringai tersungging, dan dia sama-sama telanjang.
"Siapa kau?" tanyanya.
"Aku adalah kesedihanmu. Aku adalah keberanianmu. Aku adalah negatif. Aku sisi gelapmu. Aku adalah kau."
"Tidak. Kau adalah iblis," tukasnya. "Iblis yang selama ini bersemayam dalam tubuhku."
__ADS_1