Baros

Baros
Liang Gong 5


__ADS_3

"Aku tidak tahu siapa pria itu. Aku tidak pernah mengenalnya. Setelah dirawat di rumah sakit beberapa waktu, aku dikirim ke panti asuhan di Vandanch. Banyak anak seusiaku yang berusaha baik padaku. Tapi aku tidak bisa bersosialisasi dengan mereka. Aku diam dan gelisah sepanjang waktu. Aku takut tiap saat. Aku takut tragedi mengerikan akan terulang di sana. Aku takut melihat semua mati. Aku takut mereka menyakitiku. Aku takut iblis-iblis datang. Aku takut dengan apa yang ada di perutku ini—dengan apa yang mengikatku. Aku telah dikutuk sejak dia mengubah mataku menjadi biru. Jiwaku diikat dan suatu saat dia akan mengambilnya. Takdirku ada dalam genggamannya. Entah itu kematian atau yang lebih buruk dari kematian. Yang jelas kehidupanku tidak pernah tenang. Butuh waktu lama bagiku untuk bisa menjadi normal. Butuh banyak terapi yang kujalani agar aku yakin bahwa tragedi buruk tak akan terulang kembali," ujar Avan memandang satu titik kosong.


Butuh waktu tiga tahun baginya untuk bisa hidup normal. Untuk bisa kembali ceria, tertawa, dan berani bermain dengan anak seusianya serta melanjutkan sekolahnya sebagai anak normal dan membuatnya yakin bahwa semua hal mengerikan itu telah berakhir.


"Tragedi Ligong Mental Hospital lenyap dari pemberitaan. Tak ada yang tahu apa yang terjadi di sana dan tak ada yang peduli sama sekali. Seakan tempat itu disembunyikan dari dunia luar, ditutupi kubah, dan dihapus dari ingatan setiap orang seolah tempat itu tak pernah ada. Rumah sakit jiwa lain bahkan di bangun dan walikota meresmikannya sebagai rumah sakit jiwa pertama yang dibangun di Bahrose City. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Aku tidak tahu bagaimana nasib manusia-manusia yang dibantai itu. Apakah mayat mereka masih ada di sana dan membusuk ditelan waktu atau semuanya lenyap secara gaib. Aku tidak tahu juga apakah semua penduduk memang tidak tahu atau mereka memilih bungkam. Tak ada yang tahu dan aku juga tidak ingin mencari tahu. Aku berusaha menghapus tragedi itu dalam ingatanku seutuhnya," ujar Avan panjang lebar. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya mendapati David tak berkedip dengan mulut yang menganga secara tak sadar.


David terpaku.


Bergeming seperti manusia yang tengah dicabut nyawanya dalam sekejap.


"David!"


"Itu mengerikan. Sungguh mengerikan. Bagaimana bisa kau mengalami hal tragis seperti itu?"


Avan menyeka matanya meski tak ada air mata yang turun dan kembali tersenyum.


"Ya. Aku tahu," jawabnya. Dia berpikir, "dan mungkin saja takdir yang lebih mengerikan dari kematian adalah melihat semua orang mati di hadapanmu dan kau tak bisa berbuat apa-apa. Jika itu adalah takdirku, aku tidak mau. Aku lebih baik mati ketimbang melihat orang yang kusayangi mati di hadapanku."


"Kau pasti menderita sekali ... kau pasti—"


"David, jangan merasa kasihan padaku. Tidak apa-apa. Kau beruntung karena hal itu tidak terjadi padamu. Dan kurahap tak akan pernah terjadi," sela Avan. "Dan apa kau tidak merasakan perasaan apa pun setelah mendengar kisah ini?"


"Aku hanya takut dan sedih. Hanya itu."


"Baguslah, sekarang kau segera mandi. Kita berangkat sekolah sebelum terlambat."


***


Liang Gong-Bahrose City, Agustus 2011.


Kenangan demi kenangan merasuki pikiran perempuan yang terbaring itu.


Kenangan yang berasal dari suatu tempat di masa lalu saat ayahnya masih bersama mereka.


Kenangan yang membuka satu kejadian yang selama ini entah kenapa terlupakan olehnya.


Kristine kecil mengintip mereka dari ambang pintu. Mendengarkan percakapan orangtuanya di dapur. Meski saat itu, dia tak mengerti pada apa yang mereka bicarakan dan terlupakan selama bertahun-tahun.


"Kita harus berpisah demi kebaikan semua," kata Nicholas.


"Aku setuju akan hal itu, tapi aku akan membawa anak-anakku bersamaku," jawab istrinya—Amy.


"Apa kau tidak mengerti dengan situasi yang kita hadapi ini?"


"Ini semua gara-gara kau! Gara-gara kau anak-anak kita dalam bahaya!" tukas Amy bercucuran air mata. Tangannya menunjuk-nunjuk wajah Nicholas meski bukan dengan amarah.

__ADS_1


Hanya kesedihan yang tampak di wajah mereka.


"Harusnya kau tahu bahwa ini semua bukan keinginanku. Kau tahu itu. Jangan bersikap seakan semua adalah kesalahanku. Aku juga tidak menginginkan ini."


"Aku akan tetap membawa anak-anakku. Mungkin dengan tidak bersamamu, segalanya akan baik-baik saja."


"Jangan membohongi diri sendiri. Sampai kapan kau akan pura-pura dengan takdir kita? Takdir anak-anak kita?"


Amy sesenggukan lagi. "Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus membuang salah satu anakku selamanya?"


"Jaga ucapanmu! Apa kau tidak percaya padaku?! Kau kira aku tega menyingkirkan salah satu anak kita demi keselamatan anak kita yang lain?!"


Amy berat untuk mengambil keputusan tersebut. Dia tak ingin memisahkan anak-anaknya.


"Kau urus David. Dan aku akan membesarkan yang lain."


"Kau tidak bisa mengambil keputusan sepihak begitu."


"Lalu apa maumu?!" sentak Amy dengan deraian air mata yang tak bisa dia bendung.


"Semua ini tentang kelahiran David dan Dante. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan Rossie dan Kristine. Aku akan mengurus David. Tapi, biarkan kakak-kakaknya memilih di antara kita."


"Ya, ampun Nicholas, mereka masih kecil. Mereka membutuhkan ibunya."


"Aku ayahnya. Salah satu dari mereka pasti ingin bersama ayahnya."


Dan keesokan harinya, Amy pergi dari rumah itu, dengan Dante dalam gendongan, dan Rossie dalam tuntunan tangannya, dia pergi meninggalkan rumah itu untuk selamanya.


Kristine memilih tinggal bersama ayahnya. Dia dekat dengan sang ayah.


Sedangkan saudara kembar laki-lakinya itu—Rossie—lebih dekat dengan sang ibu.


Lagi pula Kristine begitu menyayangi David. Sebab David selalu menangis setiap saat dan hanya dia yang kerap berhasil membuatnya diam.


Keluarga itu akhirnya terpecah selama bertahun-tahun.


Memori berpindah ke satu waktu di mana Nicholas duduk dan Kristine berada di pangkuannya. Nicholas memintanya untuk tidak memberitahu David tentang ibu dan saudara-saudaranya.


Saat Kristine bertanya, dia bilang itu untuk kebaikan David, dan Kristine hanya menurut percaya.


Maka, sejak David bisa berbicara hingga detik ini—selama nyaris enam belas tahun—Kristine dan ayahnya selalu berkata bahwa ibunya orang jahat karena pergi meninggalkannya. Dan Nicholas maupun Kristine tak pernah membicarakan tentang Rossie dan Dante—kakak-kakaknya tersebut. Itu lebih bisa diterima David dan Kristine.


Meski kini, ketika ayahnya pergi meninggalkan mereka, Kristine kembali memikirkan segalanya.


Apa alasan mereka berpisah?

__ADS_1


Apa akar permasalahan keluarganya?


Apa yang terjadi saat itu?


Dan jelas alasan kenapa ayahnya pergi lima tahun lalu masih ada kaitannya dengan itu semua.


Kenangan yang selama ini bersembunyi di sudut terjauh kepalanya mendadak buyar. Seperti puzzle yang berserakkan di lantai.


Di saat Kristine berharap bisa menyatukannya dan mendapat jawaban, hal itu tak terjadi dengan semestinya.


Semua kenangan menguap.


Kenyataan menariknya kembali ke sudut yang kelam dan sendirian dalam sebuah ruangan. Ruangan di sebuah rumah sakit yang kini dia tempati.


Anak kecil berlarian di sekelilingnya.


Terkikik, menyeringai, bertingkah nakal dengan melemparkan barang-barang.


"Pergi! Pergi! Atau aku akan membunuhmu!" pekik Kristine.


"Membunuhku? Aku sudah mati," jawab Margin.


"Kenapa kau tidak bisa mati dengan tenang?"


"Temukan jasadku. Apa kau tidak mengerti!"


"Aku tidak bisa melakukannya jika kau tidak memberitahuku di mana kau mati!"


"Aku ... aku mati di ...."


Margin mengerang dan menjambak rambutnya dengan keras.


Dia meringis dan menjerit histeris.


"Oh, tidak! Jangan lagi. Hentikan!"


Kristine tahu apa yang terjadi dengan anak itu.


Dia berubah.


Matanya menghitam.


Lilitan benang semakin menumpuk di lengan kirinya.


Satu benang hitam terjulur dari makhluk jauh di ujung ruangan gelap dan semakin menambah tumpukan benang itu seperti perban.

__ADS_1


"Hentikan, sialan!"


Margin meloncat ke langit-langit. Merayap di atas sana seperti laba-laba. Kepalanya terbalik menatap Kristine dengan seringai mengerikan yang tak mungkin bisa dilupakan.


__ADS_2