Baros

Baros
Kali Angke 1


__ADS_3

Cirelat-Bahrose City, Juli 2011.


Kristine bergelung di kasur.


Randie berbaring di sebelahnya. Memeluknya dengan erat dari belakang.


Sedangkan malam itu, Avan menginap dan tidur bersama David yang merengek minta ditemani.


Tentu saja, tak ada yang berani tidur sendiri setelah mengalami kengerian yang baru saja terjadi.


"Aku takut," kata Kristine.


"Aku ada di sini. Aku siap mendengarkan. Jangan simpan ketakutanmu sendiri," bisik Randie mencium rambut coklat keemasan Kristine yang acak-acakan.


"Aku takut pula akan hal itu. Jika aku menceritakannya padamu atau pada David, apa semua akan baik-baik saja? Lagi pula aku yakin, kau tak mungkin bisa percaya perkataanku."


"Apa maksudmu? Aku suamimu. Jika aku tidak percaya, siapa lagi yang akan percaya? Aku percaya padamu. Seaneh apa pun kejadiannya," kata Randie menenangkan.


"Terima kasih. Tapi—"


"Sstt ... sekarang lebih baik kita tidur. Kau kelihatan begitu lelah. Kita bahas ini besok pagi. Aku tak akan masuk kerja. Aku akan menemanimu."


Kristine hanya mengangguk pelan lalu memejamkan matanya. Berharap mata itu tak terpejam selamanya atau keesokan harinya dia berada di dunia antah berantah yang tak dikenal.


***


Kristine mengambil ketiga surat misterius itu dan menaruhnya di meja ruang tv. Satu surat telah menghitam dan tak ada apa pun yang bisa dibaca.


Randie dan Avan duduk menyimak.


Sementara David masih terlelap dalam tidurnya.


"Dua surat pertama aku temukan dalam boneka. Dan satu yang terakhir aku temukan di toilet mall. Di sebuah tempat sampah dengan sepasang pakaian kotor yang sepertinya milik perempuan."


Randie meraih surat itu. Menelitinya dengan saksama.


"Tak ada tulisan apa pun di sini," kata Randie.


"Apa? Tidak mungkin? Aku melihatnya. Lihat!"


Kristine duduk di sampingnya. Menunjuk tulisan itu dengan jarinya.


"Maaf, sayang. Aku tidak bisa melihatnya."


"Van, kau bisa melihatnya, kan?" heran Kristine.


Avan menggeleng. "Aku tak melihat apa pun."


Kristine tak memercayainya.


Bagaimana bisa Randie dan Avan tidak melihat?


Tapi wajah mereka tak menunjukkan kebohongan.


"Kak, boleh aku minta minum?"


"Ambil saja sendiri di dapur, Van."


Avan melengos pergi.


"Benarkah kau tidak bisa melihatnya?" tanya Kristine pada suaminya.


Randie menggeleng. "Memangnya apa isinya?"


Kristine melihat surat yang pertama dan mulai membacakannya.


"Tinggal—"


"Kak! Kristine?" sahut Avan dari dapur.


"Ya. Ada apa, Van?"


"Gelasnya di taruh di mana, ya?"


Kristine menaruh kertas itu di meja dan menghampiri Avan. "Gelasnya ada di—"


Avan tengah berdiri di sana sembari meminum segelas air.


"Kau menemukannya."

__ADS_1


Avan menaruh gelas itu setelah meminum seteguk.


Mata mereka saling berserobok.


"Apa apa? Apa kau sengaja?" tanya Kristine pelan nyaris berbisik.


"Randie tidak bisa melihatnya."


"Lalu apa masalahnya? Bukannya kau juga tidak? Makanya aku ingin memberitahukannya pada kalian agar kalian percaya."


"Sebaiknya orang yang tidak bisa melihat tidak usah mengetahuinya."


"Kenapa?"


"Mungkin hanya firasatku. Tapi, jika dia mengetahui isinya mungkin dia akan mengalami hal yang sama denganmu."


"Apa maksudmu?"


"Hal-hal mistis ini terjadi pada kita yang memiliki kekuatan. Jika orang biasa terlibat, aku rasa—meski tak yakin—akan berbahaya bagi mereka."


"Kau bisa melihatnya?"


Avan mengangguk. "Aku juga menemukan surat itu. Aku hanya akan membahas hal ini denganmu. Tidak dengan Randie—atau dengan David. Aku khawatir ... jika sesuatu yang buruk terjadi menimpa mereka," kata Avan sungguh-sungguh. "Aku akan pulang sekarang. Datanglah ke rumahku seorang diri jika kau ingin mengetahui sesuatu. Aku akan menunggumu di halte."


Dan Avan pun pergi.


"Kak, aku pamit dulu. Aku harus pulang sekarang. Aku lupa ada hal penting yang harus aku kerjakan," katanya pada Randie.


Tanpa menunggu balasan jawaban, dia membuka pintu dan beranjak dengan tergesa.


Sedangkan Kristine kembali ke ruang depan. Duduk di samping Randie.


"Ada hal penting apa dengan Avan?"


Kristine menggeleng. Mengambil tiga kertas itu dan melipatnya.


"Jadi, apa yang tertulis di situ?"


"Lupakan saja. Ini tidak penting lagi. Aku tidak ingin membahasnya. Mumpung kau libur aku ingin memasak makanan spesial hari ini."


"Kau baik-baik saja?" tanya Randie.


"Baiklah. Aku tak akan memaksa jika kau memang tak ingin cerita. Selama kau baik-baik saja itu tak masalah."


"Ya. Sekarang aku mau lihat dulu apa yang kupunya di dapur."


Kristine bergegas ke kamarnya. Menaruh kertas itu dalam kotak hitam milik ayahnya dan keluar sembari membawa tasnya.


"Sayang, aku mau ke toko dulu membeli beberapa bahan makanan."


"Mau aku antar?"


"Jangan. Jika David bangun sendirian, dia pasti panik."


"Ya, kau benar. Tapi jangan lama-lama. Jangan buat aku khawatir."


"Tokonya dekat halte. Aku segera kembali."


Dia melengos keluar.


Sesaat, dia merasa waswas. Mungkin anak itu telah menunggunya di ujung jalan. Tapi tak ada apa-apa di sana.


Ke mana pun dia mengedarkan pandangan, anak itu tidak muncul.


Avan tengah duduk di halte bersama beberapa orang yang tengah menunggu kedatangan bus saat Kristine tiba.


"Kupikir kau tak akan datang."


"Aku butuh jawaban."


"Aku tidak bisa memberikan jawaban. Aku hanya akan mengatakan apa yang kutahu. Kita ke rumahku."


Kristine duduk di sofa.


Avan mengambil kertas yang dia temukan saat David terjebak di sekolah dan menunjukkannya pada Kristine.


Jangan buka pintu itu atau kau akan membebaskan iblis yang terkurung di dalamnya!


"Apa maksudnya?"

__ADS_1


"David membuka pintunya?"


"Pintu?"


"Minggu lalu, dia terjebak di dunia lain. Sama sepertimu."


Kristine berkerut dahi. "David tak cerita padaku."


"Dia tak ingin membuat kakaknya khawatir."


Kristine terkesiap. "Benarkah? David? Itu mengerikan. Dia pasti sangat ketakutan saat itu terjadi."


"Dia berusaha mengatasi ketakutannya. Kau tenang saja. Aku di sana waktu David terjebak. Dan dunia yang David alami berbeda dengan yang kau alami."


"Bagaimana dengan iblis itu? Dia pasti berbahaya. Apa yang telah dilakukannya pada David?"


"Dia tak akan mengganggu David. David telah menolong membebaskan iblis itu. Dia tak akan mengganggunya. Aku jamin itu. Karena aku mengenal iblis itu. Tapi, yang kutakutkan sekarang adalah orang lain. Iblis-iblis mengincar orang-orang tertentu. Secara acak atau orang yang menurut mereka menarik. Terutama yang memiliki indera keenam."


"Dan kau memilikinya. Kau bisa melihat hantu. Melihat hal-hal gaib. Kau tahu banyak hal. Aku yakin itu. Ceritakan padaku segala yang kau tahu. Aku butuh penjelasan."


Avan melepas bajunya. Bertelanjang dada di hadapan Kristine.


"Apa yang kau lakukan?"


"Apa kau melihat sesuatu di tubuhku?"


"Apa maksudmu? Aku tidak melihat apa-apa yang aneh."


Lalu Avan kembali mengenakan bajunya. "Sudah kuduga. Belum saatnya," gumamnya.


"Apa, Van? Aku tidak paham?!"


"Jangan menceritakan apa yang tidak bisa orang lain lihat. Begitulah aturannya. Aturan tak tertulis itu diketahui penduduk lama kota ini. Kita hanya akan membahas apa yang kau dan David lihat saja."


"Baiklah. Aku mengerti," katanya tak menanyakan kenapa Avan begitu.


Kristine tahu, terlalu banyak tanya hanya akan membuat segalanya terasa buruk. Randie bahkan tak memaksannya saat dia tak mau bercerita dan dirinya pun tak mungkin memaksa Avan.


"Apa kau mengenal anak itu?"


"Dari mana kau tahu?"


"Orangitam. Hantu hitam yang diseret Sexy Benen memberitahuku tentang anak itu."


"Aku tidak tahu siapa anak itu. Aku tidak mengenalnya. Aku melihatnya pertama kali saat kami pindah. Dia selalu ada di sekitar rumah dan beberapa kali meminta bantuanku. Bantuan untuk menemukan jasadnya. Terakhir itu yang kuingat."


"Dia arwah penasaran. Jasadnya pasti hilang saat dia meninggal. Dia mencari seseorang yang bisa membantunya menemukan jasadnya."


"Tapi anak itu begitu janggal. Aku tidak mengerti dengannya. Berkali-kali aku melihat wujudnya dan dia terlihat seperti anak kecil pada umumnya. Anak kecil yang baik selama ini. Hanya saja, kemarin, dia berubah menjadi sosok yang tidak dikenal. Sosok jahat. Apakah arwah manusia bisa melukai manusia?"


"Manusia yang mati dan menjadi hantu tak akan bisa melukai manusia. Hanya iblis yang bisa. Hantu dan iblis adalah dua hal yang berbeda. Dan menurut pendapatku ... sepertinya hantu anak itu dikendalikan oleh iblis yang lebih kuat."


"Oleh makhluk itu? Sexy Benen?"


Avan menggeleng. "Apa Sexy Benen mengikat anak itu dengan benang? Benang hitam?"


"Ya ya. Aku melihatnya. Dia mengikat lengan anak itu dengan benang hitam. Banyak benang hitam meliliti lengannya. Dan yang kulihat adalah Sexy Benen menyiksa anak itu. Apa maksudnya?"


"Aku tidak mengerti soal itu. Aku juga tidak mengerti mengenai Sexy Benen. Entah bagaimana dia bisa menjadi iblis. Orang yang mati dibunuh tidak bisa menjadi iblis begitu saja."


"Anak itu. Apa anak itu pelakunya?"


"Mungkin sisi gelap anak itu," Avan berasumsi. "Tapi aku juga tidak mengerti dengan hal-hal gaib ini. Aku bukan paranormal. Aku hanya laki-laki yang bisa melihat hantu sejak aku kecil dan mengalami tragedi buruk."


"Tapi, aku maupun David tidak pernah melihat hantu sebelumnya—sebelum pindah kemari. Dan sekarang kenapa bisa begitu?"


"Ini kota seribu misteri. Tak ada yang tahu dan tak ada yang mau memberi tahu meski ada yang tahu. Tapi aku sendiri pun tidak tahu. Aku tidak tahu mengenai sejarah kota ini. Kenapa kota ini kadang mengalami hal-hal aneh? Hanya saja aku diberitahu oleh seseorang waktu itu. Lebih baik diam, katanya. Meski kau tahu sesuatu. Meski kau mengalami sesuatu. Lebih baik diam dan tak menceritakannya ke pada siapa pun kecuali pada orang yang sama-sama pernah mengalaminya."


Avan melangkah ke meja di sudut ruangan, mengambil sebuah dokumen dari dalam lacinya, dan memperlihatkannya pada Kristine.


"Empat belas tahun yang lalu, terjadi insiden misterius di sini. Lebih tepatnya di bekas sekolahku sekarang. Orang-orang mati hangus. Kebakaran tanpa ada api. Dan kepala sekolah yang diduga psikopat."


Kristine membalikkan lembar demi lembar kliping koran itu. 404 orang termasuk murid, guru, dan orang tua tewas mengenaskan di sekolah dasar tersebut.


"Seluruh media mengabarkan bahwa tak ada yang selamat dalam tragedi itu. Polisi mengirim sang kepala sekolah ke rumah sakit jiwa. Dia tidak gila. Dan dia bukan psikopat yang membunuh mereka. Aku tahu karena aku ada di sana saat tragedi itu terjadi. Menjadi saksi atas apa yang terjadi sebenarnya."


Avan memejamkan matanya. Mendadak dia teringat dengan peristiwa mengerikan itu. Peristiwa yang harus dialami oleh seorang anak kecil berusia tujuh tahun.


***

__ADS_1


__ADS_2