
Hari demi hari mereka lalui di tempat tinggal barunya.
Anak bernama Margin itu masih kerap menampakkan diri di salah satu beranda rumah di ujung jalan.
Kristine kali ini tak menghiraukannya lagi. Dia lebih sering diam di dalam. Menonton televisi bersama David atau bermain kartu bersama Avan yang kadang berkunjung tiap beberapa hari sekali. Dia pun belum menemukan keganjilan lain paska memutilasi boneka terkutuk yang meninggalkan dua lembar surat misterius itu.
Surat yang kini dia simpan di lemarinya.
David dan Avan sudah masuk sekolah sejak tiga hari lalu. Mereka memiliki teman-teman baru tapi David lebih sering bersama dengan Avan ke mana pun dia pergi. David menganggap Avan adalah sahabat terbaiknya. Dia begitu dewasa dan bijak. Menjadi teman curhat yang pas untuknya.
David selalu terbuka dengan masalah dan kepribadiannya. Dan Avan selalu menyemangatinya saat David berkata tengah mencoba mengatasi phobia akutnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Dav?" tanya Avan yang duduk di sampingnya.
"Tidak. Aku tidak sedang memikirkan apa-apa," jawabnya.
Sebenarnya David kepikiran ucapan anak kecil yang dia temui di komplek perumahan tadi saat dia berangkat sekolah. Anak itu berkata bahwa mereka akan bertemu lagi di sekolah.
Avan mendekatinya dan menepuk pundak David. "Ayo keluar! Kita jalan-jalan! Mumpung jam istirahat belum habis!"
Mereka berdua keluar dari kelas. Meninggalkan ruangan yang memang sudah kosong sedari tadi.
Mereka mengelilingi sekolah. Berjalan-jalan melewati ruangan demi ruangan yang masih tampak asing.
Mereka berjalan di koridor, memperhatikan mesin-mesin yang masih terlihat baru berjajar di ruang bengkel teknik mesin. Komputer maupun peralatan teknik lainnya pun masih tampak baru seolah jarang dipakai.
"Van, apa kau tahu kenapa biaya sekolah ini begitu murah?" tanya David yang mendadak penasaran.
"Mungkin karena peristiwa empat belas tahun lalu yang terjadi di sini."
"Peristiwa apa?"
Avan mendadak terdiam seakan teringat dengan sebuah tragedi yang terjadi. Dia mematung sejenak seraya melayangkan pandangan pada sebuah bangku yang berada dekat pintu ruang administrasi.
Bangku yang mengingatkannya pada sebuah kenangan mengerikan.
"Van," kata David menyenggol sikunya.
"Ceritanya menakutkan," jawab Avan teringat soal phobia David.
"Ayolah, cerita saja. Aku harus bisa mengatasi ketakutanku, bukan?" kata David. "Tapi, saat aku menyuruhmu berhenti, kau harus berhenti, ya," tambahnya sembari nyengir.
Avan mengangguk meski dia sangsi. Berusaha memilah kata dan bagian-bagian dari kisah yang sanggup dia ceritakan padanya.
"Awalnya bangunan ini adalah sekolah dasar. Dan pernah terjadi kebakaran hebat di sini yang menewaskan seluruh murid beserta gurunya."
"Lalu, bagaimana ceritanya SMK ini dibangun?"
"Pemerintah menutup kasus tersebut lebih cepat dari seharusnya. Saat mereka selesai membangun SMK ini, mereka mengenakan biaya masuk yang sangat murah. Tapi itu tak bisa membuat orang-orang lupa akan apa yang pernah terjadi di sini. Barulah setahun kemudian orang-orang mulai berani masuk dan belajar di sekolah ini. Itu pun orang-orang yang datang dari luar kota dan menetap di kota ini. Mereka tidak tahu banyak soal insiden itu, tapi semua orang-orang tua yang tinggal di distrik ini masih ingat betul dengan peristiwa itu," ujar Avan.
"Apa yang menyebabkan sekolah ini terbakar?"
"Dari semua orang yang tewas hanya kepala sekolah saja yang selamat—dan seorang anak. Tapi orang-orang percaya, dan sebuah artikel yang diterbitkan di hari itu mengatakan bahwa kepala sekolah mendadak gila. Menjadi psikopat dan membunuh semua murid beserta guru yang tengah mengajar di dalamnya secara sadis dengan menaruh jarum-jarum beracun di semua bangku. Semua tewas dalam posisi duduk yang sama kemudian kepala sekolah membakar seluruh gedung."
"Lalu bagaimana keadaan kepala sekolah itu sekarang?"
"Dari info yang kudengar, dia tinggal di rumah sakit jiwa meski mereka mengatakan dia tidak gila, kepala sekolah itu kerap histeris dan menyangkal tragedi tersebut dilakukan olehnya. Dia bilang bahwa dirinya tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Semua mati. Semua hangus begitu saja. Dan sebenarnya tak pernah ada api yang terlihat dalam peristiwa tersebut." Avan lihat wajah David mendadak pucat. "Dan aku tahu karena—"
"Sudah cukup. Hentikan," potong David merasa dirinya mulai takut.
Avan tersenyum. "Oke oke."
Mereka berdua kemudian duduk di bangku taman. Memandangi pohon setinggi dua meter dan tanaman-tanaman hias di sekitar lokasi tersebut.
David meregangkan badannya.
"Dav, aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu."
"Apa itu?" tanyanya waktu melihat sebuah kristal sebesar setengah jari kelingking yang diikat dengan tali kalung.
Benda itu berkilauan di tangan Avan.
"Berlian."
"Asli? Dari mana kau mendapatkannya?"
Avans mengangguk. "Dari distrik Vandanch. Seorang wanita memberikannya padaku saat umurku enam belas."
David melihat lebih jelas batu berlian tersebut. Dia arahkan ke matahari dan kilauannya tampak sangat jelas. Ada pelangi di sekitarnya.
"Kenapa dia memberikan ini?"
"Dia bilang berlian itu adalah jimat."
"Jimat? Untuk apa?" heran David.
__ADS_1
"Katanya untuk melindungiku dari roh jahat yang mengganggu," jawab Avan.
"Kau percaya?"
Avan mengangkat bahunya. "Tapi itu bagus untuk dijadikan aksesoris."
Dia mengalungkan kembali berlian itu di lehernya.
Dari speaker di atas atap, suara bel masuk terdengar.
Mereka berdua masuk ke dalam kelas tanpa pernah menyadari bahwa di hadapan taman tadi, adalah bangunan terbengkalai yang pernah mereka intip sebelumnya.
Dan kini sesuatu tengah mengintip mereka dari dalam.
Pelajaran instalasi listrik dimulai. Para siswa memasuki bengkel teknik listrik dan mulai merangkai instalasi listrik sederhana.
David, Avan, dan teman mereka—Septyan—berada dalam kelompok yang sama.
Alat-alat mulai dari obeng, baut, palu, kabel dan alat-alat listrik lainnya sudah tersedia di meja.
Mereka harus merangkainya di atas multiplek yang terpatri di dinding.
David mengambil kotak PHB yang berada di meja. Dia menyambung kabel fasa pada baut di dalamnya dan kabel nol dibiarkan hanya melewatinya. Kemudian dia pasang PHB di multiplek itu dengan sekrup. Tapi sepertinya David merasa kesulitan.
"Sini Dav, biar aku saja yang pasang. Kau kasih tahu saja aku harus pasang apa," kata Avan mengambil alih.
Tubuhnya yang lebih tinggi dari David mampu menjangkau bagian atas multiplek tanpa perlu menaiki kursi.
David mengeluarkan secarik kertas dan menggambar instalasi itu dengan cepat.
"Rangkailah kabelnya seperti ini," perintah David. "Sept, kau yang potong kabelnya."
Septyan mengukur kabel dan mengguntingnya dengan pas. Sementara Avan memasang potongan-potongan kabel itu sesuai gambar. Dia memasangkan klem agar kabel-kabel itu diam di posisinya.
"Pertama pasang sakelar tunggal, fitting, sakelar ganda kemudian dua fitting dan yang terakhir stop kontak," kata David.
Dia menyuruh Avan menyambungkan kabel-kabel pada alat-alat itu.
Sebuah kabel fasa dia sambungkan ke sakelar kemudian dari sakelar dia sambungkan ke fitting. Sebuah kabel nol dia ambil dari atas dan menyambungkannya ke fitting tersebut. Hal yang sama dia lakukan ke sakelar dan dua fitting lainnya.
Mereka sudah hampir selesai.
Avan memalu sekrup itu ke multiplek. Mengencangkannya dengan obeng sehingga alat-alat itu terkunci dengan kuat dan memasang steker pada kabel PHB.
Tugas Septyan yang terakhir membuat kabel-kabel itu tampak rapi dan memasukkan tiga bola lampu ke dalam fitting tersebut pun sudah selesai.
"Kau yakin ini sudah benar?" tanya Septyian.
"Harusnya memang benar."
Septyan mencolokkan steker itu pada stop kontak di sampingnya.
Dengan perasaan ragu, David menekan sakelar yang pertama.
Mendadak saja semuanya gelap.
Lampu ruangan padam seketika.
Gelap gulita.
Apalagi bengkel listrik terletak paling ujung dari ruangan lainnya. Cahaya matahari tak sedikit pun dapat masuk menembus koridor yang menghubungkannya dengan koridor utama.
"Dav, sepertinya ada yang salah?"
Siswa lain saling bergumam.
"Sept, cabut stekernya!" kata David.
Septyan tak menyahut.
Suara dari siswa lain pun perlahan memelan sebelum akhirnya lenyap.
"Van?" panggil David.
Suaranya menggema dalam ruangan.
Tak ada yang menyahut.
"Teman-teman?"
Hening.
Seperti tak ada siapa pun.
"Jangan bercanda, ini tidak lucu!"
__ADS_1
Suaranya menggema.
Mendadak dirinya paranoid.
Hal yang menakutkan adalah dia berada di tempat gelap dan tak ada seorang pun selain dirinya.
"Ayolah! Ini tidak lucu! Apa kalian ingin melihatku menangis seperti bayi?!"
Tak ada yang menyahut.
Gema suaranya bersahutan seakan ruangan itu begitu kosong dan luas.
"Van?" David mulai terserang panik.
Bahkan Avan pun tak menyahut.
Dia sendirian di ruang gelap ini.
Dia segera berlari ke arah yang dikiranya pintu keluar.
Kakinya tersandung kursi.
Tubuhnya membentur meja.
Peralatan berjatuhan.
Gemerincing.
Menimbulkan gema bertubi-tubi.
Suara yang hanya membuat setiap detak jantungnya berdegup semakin kencang.
David merasa sesak.
Udara dalam ruangan gelap ini terasa berat.
Dia tahu bahwa itu hanyalah sugesti. Tapi dia tidak bisa mengenyahkannya.
Dia kembali bergerak.
Meraba-raba dalam kegelapan.
Mencari pintu keluar.
Dia menemukannya.
Dari sana, dia berlari menuju cahaya di ujung koridor.
Menuju jalan terang.
David terengah-engah. Dia duduk di depan bangku yang ada di ruang kelas lain. Mencoba mengatur napas dan ketakutan.
"Sialan kalian!" cercanya.
Dia masih mengira mereka mempermainkannya. Tapi ketika dia melihat ke sekeliling, dia sadar bahwa ada sesuatu yang salah di sini.
Segalanya hening.
Tak ada siapa pun di sekolah ini.
Semua ruang kelas kosong.
Dia mengecek ruang guru dan tak ada siapa pun di dalam sana. Bahkan penjaga yang sering berdiri di samping gerbang pun tak ada.
Dan pintu gerbangnya tertutup dengan dililiti rantai bergembok.
"Ini mimpi! Pasti mimpi!" katanya pada diri sendiri. Mencoba membuat hatinya tenang.
Awan hitam mulai menghiasi langit.
David berjalan melewati lorong-lorong kelas dan gang-gang kecil yang menghubungkan lingkungan sekolah dengan perumahan warga di belakangnya.
David melihat pintu pagar belakang tak terkunci. Tak biasanya pihak sekolah membiarkannya terbuka.
Dia pun berjalan ke rumah-rumah warga untuk mencari tahu bahwa masih ada kehidupan di sini.
Di dunia ini.
Tapi tak ada sama sekali.
Tak ada orang lalu lalang.
Tak ada suara anak kecil berlarian.
Tak ada suara pembawa acara di televisi yang telihat menyala di salah satu toko kecil yang buka di sana.
__ADS_1
Membuatnya heran.
Seakan-akan kota ini telah mati dan dia sendirilah yang tersisa.