Baros

Baros
Kali Angke 2


__ADS_3

Cirelat-Bahrose City, 30 November 1997.


Hari ini, cuaca sungguh tampak bersahabat. Begitu cerah dengan langit lazuardi bersih tanpa adanya awan yang memayungi. Tentu ini adalah hal langka mengingat Cirelat dan Liang Gong sudah hampir lima tahun tidak menerima sinar matahari secara langsung.


Suasananya begitu mendukung untuk melangsungkan berbagai acara. Anak-anak sekolah dasar tampak ceria meyambut hari yang tak biasa ini. Murid-murid sekolah dasar Bahrose mulai memasuki sekolah dengan riang. Anak-anak kelas satu didampingi oleh orangtua mereka memasuki sekolah dan menunggu anak-anak mereka mengikuti pelajaran.


Anak-anak belajar dengan semangat. Mendengarkan guru-guru yang tengah menerangkan di kelas masing-masing sementara orangtua menunggu mereka di teras depan maupun di kantin sambil mengobrol satu sama lain.


Alunan musik terdengar dari anak kelas 5 yang sedang berlatih bernyanyi dan menari untuk mengikuti perlombaan yang akan diselenggarakan bulan depan.


Segalanya tampak begitu normal dan tak ada kejanggalan sedikit pun yang terjadi di sekolah tersebut.


Bahkan penduduk Cirelat menyambut hari yang begitu cerah ini dengan menikmati pesta barbeku di halaman belakang maupun berjemur diri mencoklatkan kulit mereka yang pucat.


Pagi itu, seorang ibu yang tengah hamil menuntun seorang anak kecil berwajah bule dengan rambut pirang memasuki sekolah.


Mereka baru saja pindah dari Belanda ke Indo dan menetap di Bahrose City.


Ibu itu hendak mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut. Dia memang warga Indo yang menikah dengan pria Belanda. Mereka memutuskan untuk tinggal karena suaminya adalah pemilik dari beberapa hotel di kota ini.


Mereka berjalan melewati koridor menuju ruang guru.


Anak kecil itu kelihatan aneh. Sedari tadi matanya melirik ke sana kemari dengan waspada. Memperhatikan setiap sudut seperti ada sesuatu yang bersembunyi mengawasi gerak-geriknya.


"Mom, aku tidak mau sekolah di sini?" kata anak kecil itu. Menarik lengan ibunya yang terus berjalan.


Mata abu-abu anak itu terus meneliti ke setiap sudut. Ke arah anak-anak yang sedang berolahraga di lapangan, yang sedang belajar di dalam kelas, dan para ibu yang menunggu anak mereka di luar kelas.


"Ada apa, Avan? Lihatlah sekolah ini. Bagus, bukan? Tidak jauh beda dengan sekolah yang ada di Belanda? Lagi pula kau tak usah malu? Kau sudah pintar berbahasa Indo, kau pasti tak akan kesepian tinggal di sini," balas ibunya menyadari anaknya yang gugup.


Avan yang berumur 7 tahun itu merasa janggal berada di situ. Dia memiliki indera keenam tapi ibunya selama ini tidak memercayainya. Dia hanya bisa menyimpan rahasia itu dalam hati.


Dia kerap mencoba memberanikan diri saat melihat penampakan-penampakan yang ada di sekolahan tersebut.


Ibunya memasuki ruang administrasi. Menyampaikan maksud kedatangannya.


Sedangkan Avan duduk di bangku luar ruangan memperhatikan keadaan sekitar.


Dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Membuat hatinya sungguh tidak tenang.

__ADS_1


Bayangan-bayangan gelap tampak saling memeluk orang-orang yang berada di sekolahan.


Air matanya menetes tapi waktu membelenggunya dalam diam. Anak itu tak bisa bergerak saat sesosok berpakaian burqa melintas di hadapannya sembari menempelkan jari telunjuk di bibir yang terbungkus cadar, seakan mengancam. Menyuruhnya diam jika mau selamat. Sosok itu berbisik pada Avan bahwa dia adalah Burqa Lady.


Dan dia berada di sana untuk balas dendam.


"Mom ...," ucapnya pelan dengan air yang mengalir di pipinya.


Avan tak bisa bergerak dan berteriak. Hanya bisa melihat sang Burqa Lady menyentuh ibunya dan noda sehitam tinta menyebar. Sama seperti semua orang yang dia lihat di tiap penjuru sekolah.


Waktu membeku, sang Burqa Lady menyentuh setiap orang yang ada. Bayangan-bayangan kegelapan yang lain menyatu dengan dinding, lantai, meja kursi, dan segala hal. Kemudian sedikit demi sedikit, mereka semua mulai menghitam. Awalnya dari satu titik yang disentuh sang Burqa sebelum akhirnya menjalar ke seluruh tubuh. Bayang hitam itu pula mulai membuat setiap objek berubah sepekat arang.


Tak ada yang menyadari kecuali anak itu yang sekuat tenaga berusaha untuk menjerit tapi tak bisa. Dia hanya melihat kegelapan itu menyelimuti setiap orang tanpa mereka sadari.


Perlahan, asap muncul dari warna hitam itu dan menyebar ke segala hal. Mencemari udara.


Kepala sekolah keluar dari ruang guru dan mendapati Avan mematung di bangku sembari menangis menatapnya balik.


"Nak, kenapa kau menangis? Mana ibumu?" tanya kepala sekolah.


Avan menjerit-jerit saat pria itu menyentuhnya dan melepaskan waktu yang membelenggunya.


Sekolah tak terbakar sedikit pun.


Semuanya baik-baik saja.


Para guru sedang mengajar murid-murid di kelas dengan tenang.


Para orangtua sedang menunggu anak-anak mereka dengan santai di luar kelas.


"Apa-apaan ini?" heran kepala sekolah. "Apa yang kalian lakukan?! Hentikan! Tak ada kebakaran di sini!"


Orang-orang itu seakan tak mendengar bahkan menyemprotkan air ke tubuh kepala sekolah.


Kepala sekolah tampak geram dengan puluhan mobil pemadam yang meraung-raung dan menyemprotkan air tanpa henti.


Kepala sekolah akhirnya membuka gerbang. Tapi, lengannya tiba-tiba terasa panas. Lengannya terkena luka bakar saat menyentuh gerbang tersebut.


Orang-orang yang melihat kepala sekolah buru-buru menghampirinya, membopongnya menjauhi gerbang.

__ADS_1


"Bapak tidak apa-apa?" seorang petugas medis menuntunnya sembari bertanya-tanya hal yang tak dia mengerti.


"Apa yang kalian lakukan? Tak ada kebakaran di sini!" racau pria itu kebingungan.


Tak ada seorang pun yang mendengarkan.


Kepala sekolah memperhatikan seluruh tubuhnya yang kotor oleh arang.


Bajunya compang-camping setengah hangus.


Sekujur tubuhnya penuh luka bakar.


Dari jarak satu kilo meter, asap terlihat membubung tinggi ke angkasa, tapi anehnya tak ada api yang berkobar di bangunan sekolah itu.


Dia keheranan dengan apa yang sedang terjadi.


Orang-orang saling mengajukan pertanyaan yang tidak dia pahami. Tentang kebakaran dan orang-orang yang tewas di dalamnya.


Kepala sekolah itu baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat dirinya menoleh ke belakang.


Ke bangunan sekolah itu.


Semuanya hitam.


Dinding.


Kayu.


Pagar.


Semuanya terbakar.


Sebelum kepala sekolah pingsan, dia melihat Avan masih menangis dan menjerit seorang diri di bangku yang menghitam sebelum akhirnya diselamatkan oleh orang asing yang entah muncul dari mana.


Kejadian itu adalah insiden paling mengenaskan kedua sepanjang sejarah berdirinya Bahrose City.


Ratusan murid, belasan guru dan orangtua tewas terpanggang begitu saja.


Hal yang membuat semua orang bertanya-tanya adalah mengenai kematian mereka. Posisi orang-orang tewas itu sama seperti ketika mereka semua sedang belajar—guru berdiri di depan kelas dan anak-anak duduk rapi di bangku masing-masing serta ibu-ibu mereka duduk di luar kelas dengan posisi sedang bercakap-cakap—seakan ada sesuatu yang membuat mereka terbakar hangus sebelum sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


***


__ADS_2