
Renofill-Bahrose City, Juli 2011.
Renosquare Mall menjadi satu-satunya mall di kota ini. Tak heran jika hanya tempat itu saja yang paling ramai di seantero kota.
Kebanyakan orang-orang yang berbelanja bukanlah penduduk asli Bahrose City, melainkan warga pindahan dari kota lain yang tak mengetahui sejarah asli mengenai kota tersebut, yang mendiami lebih banyak hunian di distrik Renofill. Tapi, meskipun begitu, orang-orang yang lahir dari tiga puluh tahun yang lalu pun tidak mengetahui pula sejarah lengkap kota ini.
Bahkan dalam buku-buku pelajaran sekolah, tak dijelaskan secara detail mengenai sejarah kota selain penjajahan Belanda dan Jepang yang terjadi di masa lalu.
Kota ini di anggap kota seribu misteri. Tak ada yang mau bercerita meskipun nyaris semua orang lanjut usia mengetahui sejarah kelam mengenai misteri di abad silam seakan mereka diancam. Dan media massa beserta walikota sekalipun tak ada yang pernah berani mengungkit hal tersebut.
Tragedi sekolah terbakar adalah berita kriminal terakhir yang dapat dilihat di media massa. Setelah itu, setiap media lebih menitikberatkan informasi pada tempat-tempat wisata alam yang tersebar di seluruh bagian kota. Mempromosikannya ke dunia luar dengan semboyan: Bahrose City, kota terbaik untuk mengistirahatkan diri. Ketenangannya begitu mendamaikan.
Distrik Renofill adalah satu-satunya yang terasa begitu hidup. Dari jam tujuh pagi, seluruh pertokoan dan mall telah dibuka. Dan orang-orang lebih memilih berbelanja di pagi hari.
Hiruk pikuk kendaran mulai terlihat di jalanan. Memadati keramaian.
Toko buku yang dikelola Randie terletak di lantai 4 Renosquare Mall. Letaknya di samping satu-satunya bioskop yang terdapat di Bahrose City dan sebuah restoran tradisional yang menyajikan menu khas setempat.
Toko buku itu tak begitu luas. Randie hanya punya lima karyawan dan tentu saja dia sering kali ikut terjun bersama para karyawannya melayani pembeli secara langsung.
Pagi itu, Randie baru saja tiba. Dia pergi bekerja dengan tetap menaiki transportasi umum. Membiarkan mobil antik milik Kristine terparkir rapi di garasi.
Karyawannya pun baru saja datang dan mereka membuka toko buku tersebut.
Suasana Mall mulai ramai meski ini masih pagi.
Tentu saja.
Adalah kebiasaan masyarakat Bahrose City, membuka usaha niaga sepagi mungkin, dan tutup serentak saat senja kala tiba.
Suara musik yang bertalu, orang-orang yang bercakap-cakap, sales-sales toko pakaian yang meneriakkan diskon tak hentinya menggema. Hal ini membuat Randie merasa berada di Vanjava.
***
Cirelat-Bahrose City, Juli 2011.
Kristine tengah duduk di sofa bersama David yang membaringkan kepala di pangkuannya sembari menonton televisi.
Avan duduk pula di situ. Di sofa lain. Memperhatikan David seperti anak kecil, berguling ke kanan kiri, menggeliat-geliut mencoba mencari tempat yang nyaman untuk memejamkan mata dan tidur siang sejenak.
Kristine mengelus rambut David yang acak-acakan. Mengelusnya seperti mengelus adik kecil berumur lima tahun.
Saat David akhirnya terlelap, Kristine mulai mengobrol.
"Sepertinya kau menyukai adikku," tuding Kristine tiba-tiba.
"Hah? Aku? Hmm ... tidak. Aku hanya ...."
Avan mendadak salah tingkah.
Kristine malah tertawa kecil mendengar suaranya yang gugup.
"Kalian makin sering bersama. Sepertinya David nyaman berada di dekatmu. Begitu juga denganmu. Itu yang kulihat. Kau tampak peduli dengan adikku. Hal yang tak pernah dia dapat dari kawan-kawannya di sekolah dulu," kata Kristine mengembuskan napas kecewa. "Teman-teman sekolahnya dulu selalu mengejek David dengan sebutan pengecut, penakut, bocah cengeng. Mereka tak pernah tahan bermain dengan David sebab dia selalu dianggap menyusahkan mereka. Dulu, David begitu berbeda. Dia hanya mempunyaiku seorang dan menganggapku ibu, kakak, dan kawan sekaligus.
__ADS_1
"Aku tahu bahwa David selama ini selalu berjuang untuk mengatasi phobianya. Berusaha untuk tak menyusahkanku. Aku tahu itu. Dan aku tak pernah menganggap adikku menyusahkan. Aku menyayanginya apa pun yang terjadi, bukankah itulah tugas seorang kakak?"
Avan mengangguk mengiyakan.
Matanya menatap mata David yang tengah terpejam. Menatap wajah David yang tampak begitu polos di titik ini. Dan semakin menegaskan apa yang kakaknya bilang. Meski sudah berusia enam belas, dia tetaplah adik kecil yang masih butuh perlindungan kakaknya.
Avan pun merasakan hal itu.
Rasa untuk berada di sisi David.
Menghiburnya.
Menyemangatinya.
Melindunginya dari segala ancaman yang telah dan mungkin akan terjadi.
"Aku tahu beberapa hari yang lalu, David mengalami sesuatu di sekolah, bukan?" tanya Kristine.
Raut wajah Avan sedikit tegang.
"Aku tidak tahu apa yang telah dia alami. Dia tak ingin menceritakannya padaku. Itu sangatlah tidak biasa. David tak pernah menyimpan masalah dalam hatinya sendiri sebelumnya. Dia hanya bilang untuk berusaha mengatasi ketakutannya. Menyuruhku untuk tak mengkhawatirkan apa pun. Aku tahu, itu karena kau. Karena sekarang dia memiliki orang lain untuk berbagi. Aku senang mendengarnya. Aku mendukung adikku sepenuhnya. Mendukung apa yang dia sukai dan dia inginkan. Mendukung orang yang mencintai dan menyayangi adikku sebagaimana aku menyayanginya," ujar Kristine. "Bahkan jika kau benar-benar menyukai adikku, aku takkan melarangnya. Karena aku yakin kehadiranmu akan membuatnya lebih baik dan membuatku tak perlu memikirkan kondisi adikku setiap saat."
Kristine mengedipkan matanya.
Avan tampak canggung.
Menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Membenarkan kembali posisi kacamatanya yang longgar.
Dia menyukai David.
Dia tertarik terhadap David.
Ada perasaan lain yang muncul sejak pertama kali mereka bertemu.
Ada daya tarik yang membuatnya ingin melindungi David setiap saat.
Seperti kakak yang menjaga adiknya.
Seperti ayah yang melindungi anaknya.
Seperti kekasih yang berdiri di sampingnya dan menghiburnya dari segala ketakutan yang telah dia alami.
Membawa David ke dalam sinar kebahagiaan.
Dan menyingkirkan kegelapan yang sempat membuntutinya.
Suatu hal semacam itu.
Avan hanya bisa tersenyum dan mengangguk pada Kristine.
"Kudengar kau tinggal sendiri?" tanya Kristine. "David pernah menceritakan tentangmu padaku. Aku kagum terhadapmu. Kau begitu kuat."
__ADS_1
"Itu hanya masa lalu. Hanya kekuatan kecil yang muncul akibat dari rasa takut," kata Avan. "Tapi, David belum cerita padaku mengenai kalian. Apa kalian masih memiliki orangtua?"
"Masih. Tapi kami tidak tahu di mana keberadaan mereka. Mereka meninggalkan kami begitu saja," kata Kristine mengembuskan napas. "Mungkin aku tidak setegar dirimu atau David. Waktu Ayah meninggalkan kami lima tahun lalu, David hanya menangis selama sebulan. Setelah itu, dia melupakannya dan menganggapku bagian dari orangtuanya yang hilang. Mungkin karena aku mengatakan bahwa ayah ibu kami adalah orang jahat yang meninggalkan anak-anaknya begitu saja. David lebih bisa menerima kebohongan itu ketimbang aku. Lagi pula David tidak pernah mengenal ibunya seumur hidupnya."
"Kenapa mereka meninggalkan kalian?" Avan bertanya dengan santai tanpa merasa bahwa pertanyaan itu hanya membuka kenangan tak menyenangkan di masa lalu keluarga Sandiea yang coba Kristine kunci rapat-rapat.
"Kira-kira lima belas tahun yang lalu—umurku hampir lima tahun saat itu—aku hanya ingat bahwa orangtuaku bercerai waktu David baru enam bulan. Aku tidak tahu apa penyebab perceraian mereka. Ayahku sendiri tak mengatakan apa pun selain fakta bahwa mereka tidak cocok satu sama lain dan itu demi kebaikan anak-anaknya.
"Hari itu Ibu pergi dengan membawa saudara kembarku dan saudara kembar David yang tak pernah dia ketahui. Ibu kami tak pernah sekalipun mengunjungi kami setelah mereka berpisah hingga waktu berjalan lima tahun setelahnya. Aku tak sengaja bertemu dengan Ibu saat aku, Ayah, dan David tengah jalan-jalan di sebuah mall di Vanjava. Dia tidak mengatakan apa-apa saat kami bertemu. Hanya menyuruhku untuk ikut bersamanya ke dalam keluarga barunya, tapi aku tidak mau. Aku memilih tetap bersama Ayah dan David—"
David bergerak-gerak dalam posisi tidurnya.
"—setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi. Itu sudah sepuluh tahun lamanya."
"Apa ayahmu tidak mengatakan apa pun mengenai kepergiannya? Aku heran bagaimana pula seorang ibu bisa meninggalkan anaknya selama itu?"
"Ya. Itulah yang tak aku pahami. Hal yang terus menghantuiku hingga saat ini. Aku tak tahu di mana keberadaan mereka saat ini. Apakah masih hidup atau tidak. Tak ada satu pun yang peduli pada kami berdua."
Mereka kembali terdiam.
Mereka menatap layar televisi yang menayangkan tempat wisata alam yang baru saja dibuka di Kali Angke. Tempat wisata itu sungguh unik karena terdapat pasir pantai meskipun letaknya di pegunungan.
Ada pula perkebunan beragam buah tropis, air terjun asin, dan agrowisata ternak hewan, menanam padi, serta wisata outbond yang cukup seru di dekat Grand Cliff.
"Van, kau kelihatan lebih dewasa dari anak SMA yang pernah kulihat. Berapa umurmu yang sebenarnya?" tanya Kristine.
Avan sedikit malu untuk menjawabnya tapi akhirnya dia bilang juga. "Dua satu"
"Kau bahkan lebih tua dariku. Bagaimana bisa?"
"Aku pernah sakit parah selama lima tahun waktu orangtuaku meninggal. Membuatku tertinggal menjalani pendidikan."
Kristine ingin sekali bertanya lebih jauh tapi dia mengurungkan niat. Dia tahu betul rasanya bagaimana membicarakan keluarga yang dia sayangi pergi dari kehidupannya. Dan dia tak ingin membuka luka lama Avan lebih dalam yang mungkin terlalu menyakitkan untuk diingat.
"Besok, aku dan David berencana untuk pergi ke Renofill. Kami mau nonton bioskop sekaligus melihat toko buku yang dikelola Randie. Kau tidak ada acara? Mau mengantar kami? Aku kurang tahu mengenai jalur transportasi di sini. Mungkin bakalan tersesat tanpa bantuanmu."
"Tentu saja, Kak."
"Tak perlu memanggil kakak jika kau yang lebih tua dariku," timpal Kristine nyengir.
"Tidak apa-apa. Aku terbiasa memanggil itu. Membuatku kelihatan lebih muda."
Tawa mereka tergelak. Membangunkan David yang tertidur.
"Lima menit lagi, Kak," kata David melantur sembari menguap dan kembali melanjutkan tidur siangnya.
Kalung berlian itu masih tergantung di leher David. Avan membiarkannya memakainya jika itu bisa membuatnya nyaman dan aman. Tapi semenjak Avan melepas kalung itu, dia pun mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa. Kadang dia merasa kalau ada orang yang tengah mengawasinya di mana-mana, meski sebatas perasaan.
Dulu, sejak kecil, Avan memiliki indera keenam. Dia bisa melihat hantu—arwah gentayangan. Setelah mengenakan kalung itu dia tak pernah lagi melihat apa pun. Tapi saat ini, dia tak mengenakannya dan dia dapat melihat mereka yang tak kasatmata. Tak ada cara lain baginya selain menggunakan teknik 'abai' seperti dulu yang kerap berhasil. Tiap kali melihat kejanggalan, dia hanya perlu berpura-pura tak melihatnya.
Hantu itu baginya mudah ditebak. Mereka biasanya mendiami satu titik di satu tempat. Tak pernah beranjak dari sana dan ekspresi mereka selalu sama: dipenuhi awan mendung tak berkesudahan.
Ada hal yang membuatnya ragu saat dia pulang dari rumah David tadi. Dia sekilas melihat anak kecil tengah duduk di teras rumah sebelah rumah mereka dan dia tak bisa menebak anak kecil itu hantu atau manusia.
__ADS_1
Avan memilih untuk tak penasaran atau menatapnya. Jika itu memang hantu, dia tak ingin hantu itu mengikutinya hingga ke rumah. Karena itu baginya sangatlah menyebalkan.
***