
Aleogama-Vanjava City, 11 Juni 2011.
Kristine membuka kotak itu sekali lagi. Kotak hitam peninggalan ayahnya. Di dalamnya terdapat:
Scarf merah.
Sepucuk surat.
Empat buah benda logam.
Dan satu botol kaca sebesar peluru yang di dalamnya terdapat gulungan kertas bertuliskan kalimat-kalimat kecil dalam aksara yang tak dia pahami.
Benda logam itu adalah bagian dari senjata. Saat keempat benda itu digabungkan, bentuknya mirip Shotgun dengan ukiran artistik yang mengelilingi tiap bagiannya. Dan tentunya Kristine yakin bahwa itu hanyalah sebuah replika.
Dia membaca surat itu sekali lagi.
Kristine & David. Anak-anakku.
Aku minta maaf, hari ini, aku akan meninggalkan kalian. Aku harus pergi ke suatu tempat. Ada hal penting yang harus aku lakukan dan aku tidak bisa memberitahukannya pada kalian. Percayalah padaku, aku akan pulang tahun depan. Setelah itu, kita bisa bersama-sama lagi. Selama aku pergi, aku harap pada kalian, jangan pernah mencariku. Tetaplah di kota ini. Tinggal di rumah ini. Gunakan tabunganku untuk keperluan sehari-hari kalian.
Aku menyayangi kalian.
Nicholas Sandiea
Surat itu Kristine dapatkan lima tahun lalu bersama kotak hitam yang ditinggalkan ayahnya di samping tempat tidurnya. Dan sejak saat itu, ayahnya tidak pernah kembali maupun memberi kabar.
Kristine sudah berkali-kali mencari informasi mengenai keberadaan ayahnya, tapi nihil. Dia tidak pernah menemukan kabar mengenai ayahnya sedikit pun. Seolah lenyap begitu saja.
Dia bahkan sempat merelakan kepergiannya.
Dia selalu berpikir mungkin ayahnya telah meninggal di suatu tempat. Tapi, sebulan lalu, seorang kurir mengirimkan surat padanya. Tanpa adanya perangko atau alamat pengirim di amplopnya. Saat dia menanyakan asal surat tersebut, kurir itu memberitahunya bahwa itu berasal dari Bahrose City. Sebuah surat yang isinya hanya kartu ucapan selamat atas pernikahannya dan kalung perak berbentuk hati yang ketika dibuka terdapat foto wajah Nicholas beserta dua anaknya.
Hal itu membuat Kristine teramat gelisah.
Dia merasa bimbang.
Haruskah dia mencari ayahnya kembali?
Atau melupakannya?
Selalu saja ada hal yang menyuruh batinnya untuk diam di tempat dan tak melakukan apa-apa saat dia hendak berusaha mencari tahu.
Kristine bahkan belum memberitahukan hal itu pada David—adiknya. Dia pikir mungkin David tidak perlu mengetahui hal tersebut.
Dua remaja hidup di tengah kota besar tentu adalah hal yang sulit. Tapi Kristine dan David lebih memilih tinggal di rumahnya sendiri daripada tinggal di rumah asuh remaja yang terletak di selatan kota.
Rumah ini adalah rumah terakhir yang dimiliki keluarganya. Rumah peningalan Nicholas setelah dia dan istrinya resmi bercerai.
__ADS_1
Tabungan Nicholas yang ditinggalkan untuk mereka hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama dua tahun. Setelah itu, Kristine memutuskan tidak melanjutkan sekolah dan bekerja sebagai asisten rumah tangga untuk menghidupi dan menyekolahkan David.
"Bagaimana sayang? Apa sudah beres semua? Tidak ada yang tertinggal?" tanya Randie—suaminya.
Kristine segera menyelipkan surat itu ke dalam kotak dan memasukannya ke dalam tas.
Dia menggeleng seraya tersenyum, "Sudah semua, kita berangkat sekarang!"
"Kau yakin dengan keputusan ini? Bahrose City sama sekali berbeda dengan kota ini. Di sana, orang-orangnya lebih tertutup. Dan mungkin, kita belum akan mempunyai tetangga dalam waktu dekat," kata Randie mengingatkan.
"Hmm ... apa maksudmu? Bukankah aku sudah berkali-kali bilang itu tidak apa-apa? Lagi pula David juga setuju. Biaya hidup di sana lebih murah, bukan. Kita bisa lebih berhemat dan tetap bisa bersama-sama setiap hari," kata Kristine sembari mengalungkan lengannya di leher suaminya.
"Ya. Aku ingin kau banyak istirahat di rumah itu agar cepat sembuh. Akhir-akhir ini kau sering sakit kepala, bukan? Mungkin memang benar ketenangan di kota itu bisa membuatmu lebih baik," balas Randie tersenyum tipis.
Mereka saling bertatapan selama beberapa detik.
"Jadi, kapan kita berangkat? Aku sudah menunggu kalian di mobil sedari tadi. Atau aku memang harus melihat kalian bermesraan dulu?" celetuk David di ambang pintu.
Mereka berdua tersenyum malu.
"Baiklah. Kita berangkat sekarang. Hari sudah mulai siang. Kita pasti bakalan sampai di sana malam hari," kata Randie menarik koper terakhir dari kamar mereka. "Adik kecil, bisa tolong kau masukkan koper ini ke dalam mobil?"
David memutar bola matanya, "Umurku hanya empat tahun lebih muda darimu. Ingat itu!"
David memasukkan koper ke dalam Volkswagen tua yang sangat terawat. Mobil milik Nicholas yang tetap dibiarkan di garasi saat dia pergi meninggalkan mereka.
Kristine mengenakan baju hangatnya.
Mengunci pintu depan rumahnya rapat-rapat.
Untuk sesaat dia merasa ragu.
Apakah ini tindakan tepat?
Dia memegang kalung pemberian Nicholas erat-erat di lehernya.
Dia menggeleng.
Ini memang tindakan yang tepat.
Mereka pindah ke Bahrose City bukan dengan niat untuk mencari keberadaan Nicholas meski keinginan itu memang ada. Tapi itu bukanlah prioritas utama.
Mereka pindah karena tiga hal: Randie dipercaya untuk mengelola toko buku yang baru dibuka di sebuah mall di kota itu setelah sebelumnya dia hanya seorang karyawan di Vanjava City. Tentunya itu adalah kesempatan emas yang tidak bisa disia-siakan.
Randie bahkan diberi sebuah tempat tinggal meski memang tak lebih besar dari rumah milik Kristine saat ini. Tapi, di kota itu, Kristine tak harus bekerja sampingan.
Randie mampu membiayai mereka dan menyekolahkan David di sekolah yang tentunya lebih murah dari di sini.
__ADS_1
Ada banyak waktu yang bisa dia lakukan di rumah selain menemani David yang masih menderita Eremophobia meski umurnya sudah enam belas dan tahun ini masuk sekolah menengah atas.
Kristine dan Randie sendiri masih berumur dua puluh saat mereka menikah sebulan lalu. Randie yang sudah yatim piatu sejak kecil memang lebih dewasa dari usianya. Dan pernikahan mereka tentu sangat direstui oleh David yang kerap merasa kasihan pada kakaknya karena harus terus bekerja untuk menyekolahkannya.
Klakson mobilnya berbunyi.
Kristine tersadar dari lamunannya, "Iya. Iya tunggu."
Dia segera mengunci pintu rumah rapat-rapat.
Mendekati Volkswagen yang terparkir depan.
"Biarkan aku yang menyetir," kata Kristine. "Sudah lama aku tidak mengendarai mobil ini. Aku ingin mencobanya lagi."
"Oke ... baiklah."
Randie menggeser tempat duduknya ke sebelah kiri. Membiarkan istrinya menyetir dalam perjalanan yang cukup jauh ini.
"Hati-hati, Kak. Jangan sampai nabrak. Ini mobil antik," kata David.
"Iya. Iya. Jangan bawel!"
Volkswagen Type 2 itu melaju ke barat. Melewati kota bagian dari Vanjava City (Den Lag—Albian—Vereyon) sebelum akhirnya tiba memasuki kawasan Bahrose City bagian Renofill saat hari sudah beranjak petang.
Entah kenapa saat dia menyetir melewati jalan tol di kedua perbatasan kota Vanjava dan Bahrose City, dia merasakan sesuatu.
Hawa dingin yang menggigit kulit.
Seperti melewati pintu masuk super market dengan AC yang bertengger di bagian atas.
Dingin yang begitu mendadak dan sejenak.
"Apa kau lelah? Biar aku saja yang menyetir?" kata Randie.
Kristine mengangguk.
Mereka bertukar posisi.
David tengah terlelap di kursi belakang dengan tumpukan brosur memenuhi perutnya.
Kristine merapatkan baju hangatnya. Memandang jalanan kota dari balik kaca mobilnya yang gelap.
"Itu mall tempatku bekerja," kata Randie saat mereka melewati Renosquare Mall.
Kristine melirik jam tangannya. Baru menunjukkan pukul tujuh tapi kawasan mall sudah mulai sepi. Bahkan toko-toko di sepanjang jalan sudah tutup. Karena lelah, Kristine bahkan enggan untuk sekadar menanyakan hal itu. Memilih untuk memejamkan matanya sejenak. Membiarkan mobil itu melaju ke selatan kota.
Menuju perbatasan antara kota bagian Cirelat dan Liang Gong—letak kediaman barunya berada.
__ADS_1
***