Baros

Baros
Renofill 6


__ADS_3

Avan gelisah. Tapi dia tidak tahu apa yang dia gelisahkan.


Waktu berjalan sepuluh menit dan tak ada petugas kebersihan yang masuk untuk membersihkan sampah. Ini aneh.


"Van, sebaiknya kita keluar. Apalagi yang kita tunggu? Apa yang kau pikirkan? Ada apa?" tanya David memberondong.


"David, apa sebelum pindah ke sini kau bisa melihat hantu?"


David langsung menggeleng. "Tidak pernah. Aku baru melihatnya di seko—"


"Bagaimana dengan Kristine? Apa dia bisa melihat hantu? Apa kau pernah melihatnya gelisah?"


"Aku ... tidak tahu. Tapi, dia pernah melihat anak kecil yang sama denganku. Anak itu sering berada di sekitar kompleks perumahan. Anak itu ... anak itu hantu ...."


Avan teringat perbincangan dengan Kristine di Game Zone tadi mengenai Sexy Benen. Mereka berdua bisa melihatnya dan kini kegelisahannya semakin menjadi saja.


Avan langsung bangkit dari kursi.


"David, berikan berliannya padaku dan tunggulah di sini."


"Apa? Apa maksudmu? Ada apa sebenarnya? Apa yang kau sembunyikan?"


David tahu ada sesuatu yang tidak diketahuinya dan dia menuntut jawaban.


"Aku tidak yakin tapi mungkin kakakmu terjebak dalam bahaya."


"Apa maksudmu?"


"Seperti yang pernah kau alami."


"Diamlah di sini. Aku akan mencarinya. Apa kau bisa? Aku tak ingin kau terluka jika ikut bersamaku."


"Tidak!" sergah David. "Aku ikut! Apa yang terjadi pada kakakku?!"


"Di luar sana mungkin ada hal mengerikan. Aku butuh berlian itu. Dan jika kau melepasnya mungkin kau bakalan melihat hal yang mengerikan juga."


David gemetaran. Bingung. Ketakutannya kembali menyeruak, tapi kekhawatiran akan kakaknya lebih dominan.


Apa dia sanggup melihat sesuatu yang menakutkan lagi seperti yang dia alami di sekolah?


David melepas kalungnya. "Aku ikut."


Avan mengambil kalung berliannya. "Pegang tanganku. Jangan sampai kita tersesat."


Mereka keluar dari studio.


Ada banyak sekali orang di situ.


David belum bisa memercayai bahwa orang-orang itu hantu. Tubuh mereka yang transparan saling berkerumun di ujung lorong.


"Mereka bukan hantu. Mereka manusia. Kitalah yang sekarang tengah menjadi hantu," kata Avan.


Mereka mendekati kerumunan itu dan mendapati wanita yang keluar dari bioskop tadi tergeletak di ujung lorong.


Orang-orang tengah berusaha membangunkannya.


"Apa yang terjadi?" tanya demi tanya David ajukan dan Avan tetap diam agar segalanya tak terasa lebih buruk.


Avan tahu bahwa saat ini dia tengah berada di dua dimensi.


Di antara alam lain dan dunia nyata.


Harusnya dia lega karena di titik ini mereka tak akan pernah tersesat—tak akan pernah terjebak dalam dimensi aneh yang diciptakan sesosok iblis. Dan seperti yang Orangitam bilang bahwa ritual itu telah selesai tapi bukan berarti bahaya telah usai.


Mereka bergegas menuju area tengah lantai di mana food court berada. Beberapa orang juga tengah berkerumun di tengah seorang pemuda yang tergeletak begitu saja.


"Cepat telepon ambulan!" orang-orang berseru.


Pemuda itu yang dibunuh secara keji oleh Sexy Benen.


Dalam dunia nyata, jasadnya tidak terbelah. Pemuda itu hanya terbaring saja di lantai. Di tempat pertama dia berkenalan dengan sang iblis.


David mengedarkan pandangan dan tak mendapati apa-apa kecuali orang-orang yang transparan.


David dan Avan berjalan menembus orang-orang. Melangkah menuju arah elevator dan mendapati Kristine berada di sana bersama wujud wanita itu—wanita yang jasadnya terbaring di lorong tadi.


Dan di hadapan mereka berdiri si wanita karung dengan kawat berduri yang masih mengikat mereka berdua.


"Kak!" teriak David.


"Diam, David! Tenang! Dengarkan aku!" kata Avan.


Dia meraba-raba tali kalung berlian.


Dia tau apa yang harus di lakukannya. "Aku akan menyerang makhluk itu. Setelah ikatannya putus kau berlari menyelamatkan Kristine. Jangan sampai dia jatuh, atau, dia akan mati."


David menegang. Kepanikan melanda dirinya.


"Tenanglah. Jangan panik. Semua akan baik-baik saja."


"Jika semua baik-baik saja, kau tak akan menyembunyikan apa yang kau ketahui selama ini."


"David, jangan takut! Aku berjanji, akan menceritakannya padamu nanti. Sekarang, ikuti perintahku."


Avan memberi penjelasan.


Di tengah kebisingan, mereka merencanakan usaha penyelamatan.


Iblis itu tak menyadarinya.

__ADS_1


Belum.


***


Wanita di sebelah Kristine makin histeris. Dua kawat berduri itu berada tepat di hadapan matanya.


Di sudut jauh, Kristine mendapati samar-samar wujud David dan Avan timbul tenggelam bak fatamorgana.


Kristine sudah kehilangan kekuatan untuk menjerit dan menangis.


Dirinya lelah.


Teramat lelah.


Dua kawat berduri telah membunuh wanita di sampingnya.


Kedua matanya bolong.


Sexy Benen melepaskan ikatannya. Membiarkan wanita itu jatuh ke bawah dan hancur di lantai dasar mall.


Kini, tiga kawat menatap Kristine.


Satu kawat melilit kedua kakinya.


Satu kawat melilit lehernya.


Satu kawat lain melilit lengan kanannya.


Satu lagi melilit lengan kirinya.


Melilitnya semakin kencang. Membuatnya tercekik bukan main.


Bagi dunia yang dilihat Kristine, segalanya begitu sunyi.


Di sini tak ada apa pun selain dia dan si wanita karung.


Bagi dunia yang dilihat David dan Avan adalah keramaian yang fana.


Mall itu dipenuhi orang-orang transparan.


Bagi dunia nyata, tak ada tragedi dan keanehan apa pun yang terjadi selain dua orang manusia yang tergeletak di lantai begitu saja.


Di saat Kristine merasa dirinya akan mati, dia melihat Avan muncul di belakang makhluk itu dan mengalungkan kalung berlian ke atas karung goninya.


Tak muat.


Sexy Benen mengeluarkan belasan pedang.


Pedang itu melukai Avan.


Avan terbanting ke belakang tapi kalung itu tak lepas.


"Kak!" teriak David.


Kristine nyaris jatuh ke belakang tapi berhasil ditarik David.


"David ...," ucapnya pelan dan terbatuk menyemburkan darah.


David memeluknya sembari tak hentinya merengek seperti anak kecil.


Si wanita karung menggeliat-geliut, meraung bak monster. Kawat berdurinya bergerak tak tentu arah.


Berlian itu bersinar, awalnya putih lalu keemasan.


Sexy Benen menggila.


Beragam senjata tajam bermunculan dari dalam karungnya silih berganti.


Peluru dan panah memberondong.


Kali ini benda-benda tajam itu tak melukai. Benda-benda itu menembus tubuh mereka seperti angin.


Sedetik kemudian, Sexy Benen lenyap di udara dan kalung berlian itu tergeletak di lantai.


Dunia lain—dunia hening—yang mereka pijak mulai runtuh.


Terdistorsi.


Manusia saling timbul tenggelam di udara berkali-kali hingga pada akhirnya wujud dari setiap orang bermunculan.


Aura negatif dan dunia lain lenyap.


David dan Avan pun muncul di tengah kerumunan orang-orang. Tapi Kristine tak berada di antaranya.


"Kak! Kak, di mana kau?!" teriak David.


Avan bangkit meraih berlian itu dan memasukkannya ke dalam saku. Mendekati David yang panik.


Semua orang menatapnya dengan keheranan.


"David, tenanglah! Dia aman. Semua sudah berakhir. Dia ada di sekitar sini. Di tempat pertama kali dia terjebak. Kita semua sudah kembali ke dunia kita. Ayo kita cari, mungkin dia berada di dalam toko Randie," ujar Avan.


David mengangguk dan melesat ke toko.


Avan tak mengikutinya. Dia kira dia tahu di mana Kristine berada.


***


Ganjil.

__ADS_1


Itu yang kini dirasakan Kristine.


Dia duduk di kloset toilet pria. Tanpa segores pun luka di tubuhnya.


Apa ini mimpi?


Atau nyata?


Dia mungkin ketiduran di sana.


Dia tak tahu. Tak bisa membedakan segalanya. Tapi kertas itu masih ada dalam tasnya.


Beberapa pria masuk ke dalam toilet.


Kristine bangkit dan keluar dari bilik.


"Ini toilet pria, Nona!" celetuk mereka.


Kristine tak mengacuhkannya.


Dia langsung keluar sembari mengusap wajahnya. Air matanya tak tumpah. Hanya turun di sela-sela. Di hadapannya, Avan sudah berdiri menunggu.


"Ehm ... Van. Apa filmnya sudah beres? Aku mungkin ketiduran di toilet dan bermimpi aneh. Mimpi yang sungguh gila."


"Itu bukan mimpi."


Kristine tak terkejut jika itu yang dia dengar. "Padahal kukira semua itu tak nyata."


"Semua sudah selesai. Jangan khawatir."


"Aku tahu. Dan aku harap begitu. Tapi, mungkin sepertinya belum berakhir," Kristine teringat dengan surat itu.


"Ayo, Kak. Adik kecilmu kelihatannya sangat khawatir."


Kristine tersenyum tipis.


Mereka memasuki kerumunan.


Paramedis datang membawa dua jasad yang tergeletak.


Kristine mendengar bisik-bisik semua orang yang berkata bahwa mereka berdua terkena serangan jantung.


Di dunia nyata, tak ada hal yang sebelumnya terjadi di dunia lain. Kaca yang pecah dan barang-barang yang hancur hanyalah ilusi. Tak ada barang-barang yang berantakan sama sekali. Apa pun itu.


Hal yang membuat Kristine bertahan dan tak histeris lagi adalah karena dia tak menerima luka apa pun. Apalagi suara kalem Avan nyatanya berhasil membuatnya tenang meski jauh di lubuk dalam, dia masih menjerit. Segalanya rumit seperti benang hitam kusut yang mengikat kepalanya.


Apa ini telah berakhir?


Apa anak itu tak akan menganggunya lagi?


Apa lebih baik dia meninggalkan kota ini?


Dia tak tahu.


Dia tidak mengerti dengan masalah yang tengah dihadapinya.


Kristine menaruh lengannya di pundak Avan. "Ada begitu banyak pertanyaan. Aku sangat butuh jawaban."


"Percayalah, untuk saat ini, simpan semua pertanyaanmu. Sering kali, orang yang tidak tahu, orang yang tidak mencari tahu apa pun, dan orang yang berani, adalah orang-orang yang tak akan mengalami hal buruk. Semua penduduk asli merahasiakan masa lalu, agar tak menjadi masalah bagi para pendatang baru."


"Ada masalah yang tidak kau tahu."


"Aku tahu. Aku mengerti. Aku akan berada di sisi kalian dan membantu kalian. Sekarang, lupakan sejenak hal ini. Mimpi buruk tak akan datang bertubi-tubi dalam waktu dekat."


Mereka memasuki toko buku.


Randie dan David bergegas menghampiri.


"Apa yang terjadi? Aku tak mengerti apa yang dibicarakan David? Apa kau tidak apa-apa?" tanya Randie memeluk Kristine.


"Lihatlah. Aku baik-baik saja. Aku hanya lelah."


"Kak, kau yakin baik-baik saja? Aku melihatmu—"


"David, kemarilah."


Kristine memeluk David sekali. "Percayalah. Benar, kan, Van?"


Avan hanya mengangguk dan tersenyum seolah-olah tak terjadi apa pun.


Randie tampak lega tapi David terlalu sulit untuk mengabaikannya. Dia malah teringat dengan tragedi sekolah yang dialaminya. Dia pikir tragedi itu berhubungan dengan ini.


David tahu bahwa mereka menyembunyikannya hanya agar dirinya tidak ketakutan. Tapi tetap saja, dia butuh penjelasan—mereka butuh penjelasan—tapi siapakah yang bisa memberi jawaban jika tak ada yang mulai menjelaskan segala hal?


Waktu menunjukkan pukul empat sore.


Randie menutup tokonya lebih awal.


Mereka berempat mulai beranjak pulang.


Di saat mereka menuruni elevator, Kristine melirik ke gerobak penjual aksesoris yang terguling. Barang-barangnya berserakan.


Di tumpukan kalung-kalung bersimbol agama itu, tercecer cairan darah merah.


Darahnya.


Bekas darahnya ada di sana.


Di dunia nyata.

__ADS_1


__ADS_2