Baros

Baros
Liang Gong 8


__ADS_3

Kristine keluar dari kamar. Mengikuti suster-suster yang tergesa. Dia mendengar mereka membicarakan soal dokter dan pasien yang hendak dioperasi. Dengan tenang, dia berjalan menuju ruang operasi yang terbuka.


Dia heran dengan rumah sakit tersebut. Ligong Hospital adalah satu-satunya rumah sakit yang terdapat di Bahrose City. Itu rumah sakit yang cukup luas meski hanya memiliki satu lantai. Dia tak mengerti, di koridor lain, banyak pengunjung yang berjalan dan terasa begitu hidup, tapi di koridor lainnya terasa seperti di dunia lain. Karat dan jamur memenuhi tiap lapisan koridor. Seakan dunia lain dan dunia nyata telah tergabung menjadi satu di sana—di sekeliling orang-orang yang telah dibelenggu sang iblis.


Kristine mendapati dokter itu masuk ke ruang operasi sementara suster dan perawat lainnya mendadak lenyap di belokan koridor lain seakan Kristine memang digiring untuk masuk dan dimudahkan dalam usaha pencabutan nyawa ini.


Kristine masuk.


Sebilah pisau bedah dan instrumen kedokteran tergeletak di meja stainles.


Dia mendekati sang dokter yang berdiri memeriksa pasien dan tak menyadari kedatangannya.


Kristine ambil salah satu pisau bedah itu dan berusaha menyabetkannya ke urat leher sang dokter yang tampak berdenyut-denyut.


Kristine gagal.


Pisau itu malah menyabet tulang selangka dan tangan sang dokter yang reflek melindungi diri.


"Apa yang kau lakukan?!" kejutnya.


"Aku harus membunuhmu."


"Jangan lakukan itu."


"Aku harus. Jika tidak adikku akan mati."


Dokter tua itu seperti tak terkejut mendengarnya. Dia membiarkan darah menetes dari luka di tulang selangka-nya dan menatap Kristine dalam-dalam.


"Kau salah. Itu tidak benar. Kau telah ditipu oleh apa pun yang memengaruhimu."


"Aku tidak ditipu oleh apa pun. Ini kenyataan. Biarkan aku mempermudah ini. Aku hanya ingin keluar dari dunia lain ini dan tak dikejar-kejar iblis itu sepanjang hidupku. Sudah cukup satu iblis saja yang mengikutiku. Aku lelah," kata Kristine pelan.


"Iblis itu telah menipumu. Percayalah padaku," katanya.


Kristine sama sekali tidak percaya.


"Iblis itu menginginkan kematianmu."


"Dan kau tak perlu melakukan apa pun yang diperintahkannya. Itu hanya tipuan. Kau tak akan mengalami apa pun meski tak membunuhku."


"Kau hanya ketakutan," tuding Kristine.


Dokter membuka ujung bajunya dan memperlihatkan perutnya. Terdapat bekas luka segaris di perutnya.


"Empat belas tahun lalu, seorang anak kecil mencoba membunuhku. Membunuh dengan alasan yang sama seperti yang kau bilang."


"Dia gagal dan dia mati!" timpal Kristine.


"Tidak. Dia masih hidup. Aku memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Dua tahun dia tinggal di sana sebelum masuk ke panti asuhan dan hidup normal."


"Aku tidak gila!" bentak Kristine. "Ini kenyataan. Lihatlah kertas ini! Randie,suamiku mati oleh salah satu iblis dan aku tidak ingin adikku mengalami hal yang sama!"


"Tak akan terjadi apa-apa dengan adikmu atau denganmu. Percayalah padaku."


"Lalu apa ini?!"


"Iblis itu menipumu!"


"Mungkin. Tapi kertas ini bukan diberikan iblis itu! Aku mendapat petunjuk dari orang yang selama ini membantuku."


"Itu hanya tipuan. Iblis itu tak bisa melakukan apa pun. Anak yang mengalami hal itu juga baik-baik saja."

__ADS_1


"Kau bohong!"


"Percayalah padaku. Aku tahu iblis yang kau maksud. Dia menipumu. Dia akan menipumu terus-menerus jika kau menuruti keinginannya."


Kristine mengucurkan air mata.


"Itu sudah tidak ada gunanya lagi. Aku sudah membunuh tiga orang di rumah sakit ini. Hanya kau yang terakhir."


"Astaga!"


"Maka dari itu, percuma. Kau sudah melihatku dan mengetahui apa yang kulakukan. Yang kuinginkan hanya hidup tenang bersama keluargaku."


"Aku tak akan melaporkanmu. Kau boleh pergi dan meninggalkan kota ini dan aku tak akan membahasnya. Itu juga yang aku lakukan terhadap anak itu sebelum dia hendak membunuhku. Dia sudah membunuh seorang suster. Aku memasukannya ke rumah sakit jiwa karena dia begitu labil. Tapi jika kau merasa tidak gila dan sadar akan apa yang kau lakukan adalah sebuah keterpaksaan, silakan pergi. Aku tak akan menceritakan tindakanmu pada siapa pun. Percayalah padaku. Aku pernah mengalami hal ini," ujar sang dokter meyakinkan.


Kristine kembali sesenggukan.


Hatinya mendadak goyah.


Tangannya yang teracung dengan pisau bedah dia turunkan.


"Kau berjanji?" pinta Kristine.


"Aku berjanji. Percayalah padaku."


Dari sudut ruang operasi, anak itu muncul tiba-tiba. Berwujud anak manusia.


"Kau tak bisa pergi tanpa menuntaskan apa yang telah kau mulai," kata Margin berjalan mendekati mereka dengan kedua lengannya di taruh di belakang punggung.


"Kau!" sergah Kristine.


Sang dokter pun dapat melihat dengan mata terbelalak.


"Siapa kau?"


"Mau apa kau datang? Kau ingin aku mencari jasadmu? Baik, akan aku cari tapi tolong jangan ganggu aku maupun keluargaku lagi. Bisakah kau penuhi itu?"


Anak itu menggeleng. "Semakin kau berlama-lama, semakin banyak manusia yang mati untuk menggantikan kalian."


"Apa maksudmu?"


"Aku datang saat ini, kemari, untuk membunuh dokter karena sepertinya tak akan kau bunuh," mata Margin melirik mereka secara bergantian.


Sang dokter terkesiap. Mulutnya membuka hendak berbicara tapi Margin mengarahkan lengannya yang dipenuhi benang hitam ke dokter tersebut. Satu benang hitam menembus tubuh sang dokter dan mengikatnya.


Sang dokter mendadak terpatung kaku. Margin mendekatinya dengan mata semerah api neraka.


Sang dokter lunglai dan tergeletak begitu saja di lantai.


Margin mengangkat tangannya ke atas dengan wajah berseri dan senyum lega. Benang hitam yang membelit lengannya lenyap untuk sesaat.


"Kau membunuhnya?" tanya Kristine.


Margin menoleh dan mengangguk. Anggukan anak kecil yang lugu. "Kau bisa membunuh manusia?!"


"Hmmm ... tidak juga," jawabnya mondar-mandir.


"Itukah yang kau lakukan pada Randie?"


"Randie jahat. Dia membuatku sakit. Maka, dia pantas mati."


"Dia tidak punya salah terhadapmu. Kami tidak punya salah terhadapmu. Kenapa kau melakukan ini?!" tanya Kristine.

__ADS_1


Dia akan meladeni pembicaraan ini. Ini kesempatan baginya. Anak itu tak bertingkah aneh kali ini. "Kenapa kau tak membunuhku saja?!"


"Aku tak akan membunuhmu. Aku butuh bantuanmu secepatnya. Sebelum—" Margin mengerang kembali.


"Ya, Tuhan. Jangan lagi! Apa yang terjadi padamu, setan?!"


Anak itu tertawa terkikik.


"Aku tak apa-apa. Untuk sementara, aku bisa tenang. Tapi, ini tak akan bertahan lama. Kau harus menemukan jasadku sebelum aku kesakitan lagi. Aku begitu menderita terjebak di sini!"


"Aku tidak bisa membantumu jika kau tak mengatakan apa-apa tentangmu, sialan!" racau Kristine.


Dia masih sakit hati atas kematian suaminya. Meski kini, sakit itu sedikit berkurang. Dan dia tak ingin hal yang sama terjadi pada adik tersayangnya.


"Ada iblis yang mengendalikanku setiap saat. Aku tidak bisa memberitahumu apa pun. Lagi pula aku juga tak tahu apa pun. Aku tidak tahu di mana dan bagaimana cara aku mati. Yang kuingat hanya satu hal: sisi batas hitam."


"Bagaimana mungkin aku bisa membantumu jika kau sendiri pun tak tahu apa-apa!"


"Jangan tanya apa pun lagi! Kepalaku begitu sakit tiap kali aku harus mengingat semua itu! Cari tubuhku! Hanya itu yang bisa kukatakan! Jika tidak! Jika tidak! Aku ... aku ... aku akan membunuh semua orang yang pernah kau temui!"


Margin melotot dengan seringai mengancam untuk sedetik. Sedetik kemudian ekspresinya berubah kembali layaknya anak kecil yang polos.


"Kau ... apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Kristine pelan.


Dia benar-benar tak paham.


"Iblis-iblis itu menyiksaku. Dan aku sakit. Untuk meredakan mereka, aku butuh tumbal. Aku butuh nyawa manusia. Untuk ketenanganku dan ketenangan iblis-iblis yang mengikatku sementara waktu. Aku tidak bisa membunuh manusia jika mereka tak bisa melihatku. Maka dari itulah aku butuh kau. Kau adalah perantara antara para iblis dan manusia. Jika jasadku ditemukan, semua akan selesai. Jika tidak, aku akan membunuh orang-orang yang berbicara denganmu. Sebab kini, mereka bisa melihatku. Kau takkan bisa lari ke mana pun. Aku mengikutimu setiap waktu. Bahkan saat kau tak merencanakan untuk berbicara dengan orang lain, mungkin aku harus membunuhmu dan adikmu. Lalu menunggu kedatangan orang terpilih lainnya untuk membantuku. Itulah yang aku lakukan selama ini," ujar anak itu.


Dia tertawa tapi matanya menangis. "Ini sungguh menyakitkan. Kau lihat benang yang mengikatku?"


Anak itu menunjukkan tangannya dan benang itu muncul melilitinya.


"Benang ini menunjukkan orang-orang yang telah mati olehku dan para iblis. Dan benang yang menjuntai ini menunjukkan iblis-iblis yang telah terbangun dan mengikatku. Mereka menungguku untuk memberi mereka makan berupa jiwa-jiwa manusia."


"Jangan bunuh aku dan adikku!"


"Itu tergantung."


"Aku akan membantumu!"


"Kalau begitu cepatlah karena waktuku tidak banyak, Jalang!" sergah anak itu.


Matanya hitam, merah, kemudian normal silih berganti.


"Dan aku punya sesuatu untukmu," katanya melemparkan kertas yang dia bentuk menyerupai pesawat.


Dia terbangkan pesawat kertas itu dari jarak dua meter ke arah Kristine.


Kristine menangkapnya dan anak itu menghilang di kegelapan dengan cara berjalan yang tampak riang.


Kristine membuka lipatan kertas itu.


Tangisannya turun kembali.


Dia langsung meremas kertas itu dan keluar dari ruang operasi. Mengendap-endap berusaha keluar dari area rumah sakit.


Begitu sampai di trotoar, dia berlari.


Berlari sekencang yang dia bisa.


Mengabaikan rasa lelah dan tangisannya yang pecah menuju ke arah tempat yang dia sebut rumah.

__ADS_1


__ADS_2