
Beberapa menit kemudian bus tiba.
Mereka berdua menaikinya.
Hanya ada lima penumpang.
Mereka berdua duduk di kursi paling belakang.
"Kelihatan sepi. Apakah setiap hari begini?" tanya David memperhatikan bangku bus yang kosong, jalanan lengang, dan rumah-rumah hening bak kuburan padahal mentari bersinar cerah pagi ini.
"Apa kau tidak tahu bahwa kota ini memiliki berbagai julukan?" tanya Avan.
David hanya menggeleng.
"Ada yang menyebut kota ini sebagai kota damai, karena tak ada kejahatan yang terjadi sejak sepuluh tahun terakhir. Ada yang menyebutnya kota kabut, karena saat musim hujan tiba kota ini diselubungi kabut—meski tidak setiap hari hujan—di kota ini kau tak akan bisa melihat matahari selama beberapa bulan. Ada pula yang menyebutnya kota mati atau kota tidur karena kau lihat sendiri, kan? Di sini selalu kelihatan sepi mirip kota mati terutama saat hari libur. Orang-orang lebih suka tidur di rumah ketimbang jalan-jalan. Tapi jika hari biasa, bus ini selalu penuh anak-anak sekolah. Mungkin kau akan kesulitan menemukan bus kosong pada saat berangkat dan pulang sekolah."
"Aku lihat dari brosur bahwa SMKN Bahrose 2 memiliki fasilitas lengkap tetapi kenapa biayanya murah?"
"Itu karena lokasinya tidak strategis. Tadi aku bilang, bahwa untuk mencapai sekolah itu dengan naik bus jaraknya lebih jauh karena memutar melewati lima sekolah lain terlebih dulu. Itu pun, kita masih harus berjalan sejauh seratus meter dari halte menuju sekolah. Makanya anak-anak yang bersekolah di sana lebih memilih berjalan kaki atau naik kendaraan pribadi."
David hanya manggut-manggut. Dia memutuskan untuk tetap bersekolah di sana meski harus berjalan kaki. David tak ingin lagi membebani kakaknya dengan biaya terlalu besar hanya untuk kebutuhan sekolahnya. Sebab biaya sekolah lain bisa tiga kali lipat dari sekolah tersebut.
"Ada satu lagi julukan bagi kota ini. Orang luar kota menganggap ini adalah kota seribu misteri."
David menoleh menatap wajah Avan yang tersenyum. Tapi tatapannya kemudian teralihkan pada sepasang kakek-nenek yang mendadak meliriknya dengan waspada saat Avan mengatakan hal itu.
"Mungkin tak akan kuceritakan soal misterinya padamu," kata Avan cepat-cepat mengalihkan pandangan pada layar ponsel yang sedang digenggamnya.
David penasaran.
Terdengar misterius.
Tapi dia pun tak ingin mengungkitnya lebih jauh.
Fakta memalukan bahwa David mengakui dirinya seorang penakut pengidap beragam phobia untuk seseorang yang mengaku bahwa dirinya adalah Atheis.
Bus itu melewati sekolah-sekolah di bagian utara Cirelat hingga Chandelier sebelum akhirnya berputar kembali menuju selatan.
Mereka akhirnya turun di halte yang terdekat dengan sekolah.
David melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul dua belas siang.
"Sekarang kau ingin ke mana? Apa kau mau langsung melihat sekolahnya?" tanya Avan.
"Ya."
Mereka berjalan kaki di trotoar yang sepi.
Di sepanjang perjalanan, David tak mendapati toko-toko yang terbuka sempurna. Setiap toko hanya tampak terbuka setengah dengan tulisan Open menempel di pintu kacanya.
Avan memperhatikan gerak gerik matanya. "Toko-toko di kota ini hanya buka hingga jam tiga sore. Jika hari libur, mereka hanya buka hingga jam satu dan hanya membuka bagian pintunya saja."
"Aneh sekali."
__ADS_1
"Ya, aku tahu. Misterius?" kata Avan sedikit tertawa. "Tapi nanti kau juga akan terbiasa."
"Apa di sekitar sini tidak ada mall? Atau toko yang buka dua puluh empat jam?" tanya David.
"Hanya Bahrose Market yang buka selama dua puluh empat jam tapi super market itu letaknya di jalan tol. Dan mall satu-satunya di kota ini hanya Renosquare Mall. Kau tahu?"
David mengangguk. "Kakakku mengelola salah satu toko buku di mall itu. Jadi, hanya itu?"
Avan mengiyakan.
Akhirnya mereka tiba di sekolah teknik tersebut. Mereka mendekati gerbangnya tapi terkunci dan mereka tak bisa masuk untuk sekadar melihat-lihat.
"Bagaimana pendapatmu?" tanya Avan.
David mengintip dari sela-sela gerbang dan menilai sekilas bentuk sekolah. Tampak deretan ruangan kelas di samping kiri dan kanan jalan utama. Tapi ada belokan di depan yang mengarah ke suatu tempat.
"Cukup bagus."
"Ayo kita masuk ke dalam!" ajak Avan.
"Bagaimana caranya?" David mendongak ke bagian atas gerbang dan tak ada celah untuk dilewati.
"Lewat jalan belakang."
Avan mulai melangkah ke sebelah kiri dan memasuki sebuah gang yang terdapat di situ.
Dengan tergesa, David mengikutinya.
Gang itu berkelak-kelok. Di sepanjang gang, rumah-rumah terlihat kosong meski samar-samar para penghuninya tampak dari jendela yang terbuka.
"Sepertinya kau kenal baik dengan sekolah ini?" tanya David saat mereka memanjat gerbang.
Avan hanya tersenyum dan menyuruh David mengikutinya.
Mereka menyusuri jalanan berrumput liar yang memenuhi lahan bagian belakang sekolah tak terawat.
Di depannya, terdapat lapangan basket yang cukup luas. Sepertinya cukup untuk menampung lima ratus siswa. Dan lapangan itu dikelilingi tembok pembatas setinggi dua meter.
Di bagian depan tampak beberapa ruangan.
Mereka mengintip salah satu ruangan dari sisi jendela.
"Ini bengkel kerja teknik mesin," kata Avan bergaya bak pemandu.
Di sampingnya tampak bengkel kerja untuk siswa teknik komputer.
Mereka melewati koridor yang menghubungkan lapangan itu dengan bagian dalamnya.
Suasananya tak jauh berbeda dengan sekolah-sekolah lain kecuali salah satu sudut di ujung koridor sebelah kanan.
Di belakang bengkel kerja teknik listrik itu ada sebuah taman kecil. Dihiasi beragam bunga dalam pot-pot cantik. Di tengah-tengah taman, berdiri sebuah tugu. Tugu yang sama yang dia lihat di sepanjang jalan kota. Dua buah bangku taman antik berjajar di pinggiran tembok menghadap sebuah bangunan berlantai dua yang terbengkalai. Tanaman merambat menyelimuti dinding bata merah yang pucat dan memagari pintu masuk yang tampak lapuk.
Mereka mendekati bangunan tersebut.
__ADS_1
"Aku lupa mengenai gedung ini. Hmm ... tampak menyeramkan, ya?"
"Mereka tak merobohkannya? Apa gedung ini bagian dari sejarah?" tanya David.
"Aku tidak tahu. Sudah lama sekali rasanya aku tak pernah kemari. Sejak ... tragedi itu." Avan mendadak terdiam. Seperti memikirkan sesuatu. "Ah, tidak. Lupakan saja."
Dia kembali tersenyum saat David menatapnya curiga.
David tahu bahwa ada sesuatu yang ingin diceritakan pemuda itu padanya tapi entah kenapa Avan tampak ragu-ragu seakan diancam oleh sesuatu.
Avan mendekati pintu gedung yang terbengkalai itu. Mengintip ke dalam dari potongan kaca hitam retak di bagian atas pintu yang diliiti tanaman merambat.
"Apa yang kau lihat?" tanya David.
"Gelap. Sulit untuk dilihat tapi sepertinya cuma berisi barang-barang bekas." Matanya mengedar ke sekeliling ruangan seakan mencari sesuatu. "Aku melihat sesuatu yang berkilauan. Sepertinya kotak musik."
"Coba kulihat," pinta David menyuruh Avan untuk minggir. "Gelap? Kelihatannya ruangannya terang. Salah satu lampunya menyala. Ruangan apa ini? Kenapa banyak kain hitam yang digantung?" heran David. "Dan kenapa banyak bekas lilin di lantainya. Ada gambar bintang dalam matahari di lantainya."
Wajah Avan sekonyong-konyong mengeras dan menarik David sedikit kuat agar dia bisa melihat ke dalam sekali lagi.
"Tak ada apa-apa. Sama seperti yang aku lihat sebelumnya. Gelap."
"Apa maksudmu?" heran David menyenggol Avan minggir dan hendak mengintip kembali.
Mata David menerawang mengedar ke setiap sudut.
Gelap.
Hanya tampak samar barang-barang bekas yang menumpuk dan meja kursi lapuk. Di atas mejanya tampak kotak musik yang dibilang Avan tadi.
David masih terdiam dalam keheningan. Matanya memicing mengamati ruangan gelap itu lekat-lekat.
Dan dia melihat ....
"Shit!" sergah David kaget dan terjatuh ke belakang.
Avan terkejut.
Entah kenapa dia merasa tidak tenang.
Apa David melihat sesuatu yang mengerikan di dalam sana? Pikir Avan. "Kau kenapa?"
David mencoba bangkit. "Tanganku. Duri tanaman itu melukaiku. Sialan!"
"Kau tidak apa-apa?" tanya Avan merasa lega.
David hanya mengangguk dan membersihkan celananya yang kotor.
"Dav, sebaiknya kita pergi," saran Avan.
"Ya, kau benar. Saat ini, aku merasa tak nyaman berada di sekitar sini."
David sadar apa yang dilihatnya tadi di ruangan itu tapi dia mencoba untuk melupakannya dan menganggapnya hanya halusinasi saja.
__ADS_1
Sembari mengobrol, mereka kembali ke halte dan Avan mengajaknya berkeliling kota.
***