
Kristine bangkit dari duduknya. Kemunculan Margin membuatnya sedikit kalut.
Dia butuh hiburan.
Kali ini dia akan benar-benar mengabaikan anak itu meski dia menangis merengek-rengek.
Dia cuma hantu.
Hantu tidak bisa menyakiti manusia.
Kristine pikir jika dia terus mengabaikannya, hantu anak itu pasti bakalan pergi sendiri nanti.
Di sudut lain, spg berkarung goni itu tengah berdiri sembari membungkuk-bungkuk tidak jelas.
"Kak," anak itu menarik-narik roknya sembari cekikikkan.
Kristine menoleh dengan terkejut..
"Astaga!"
Mata anak itu hitam semua.
"Hati-hati dengan wanita karung itu. Dia berbahaya. Hihihi!"
"Pergi! Jangan sentuh aku!" sergah Kristine.
Orang-orang memandanginya.
Mereka saling berbisik saat Kristine menoleh ke sana-sini.
Anak itu lenyap lagi.
Kristine pergi mendekati David dan Avan yang tengah bertarung dalam game arcade.
"Dari mana, Kak?" tanya David.
Kristine tak menjawab. Dia kemudian mengusap dahinya yang berkeringat dengan sapu tangan.
"Berkeliling," jawabnya mencoba tersenyum.
Avan tahu ada satu hal yang disembunyikan Kristine. Baginya, Kristine kelihatan seperti habis melihat hantu. Begitu pucat.
"Kak, mau coba main?" tawar Avan.
__ADS_1
Kristine mengangguk.
Avan menyingkir dari tempat duduknya dan duduk di samping David. Memainkan game pertarungan itu sebisanya.
Kristine kalah dan David senang bukan kepalang.
"Kau senang karena baru pertama kali menang. Kak, coba kalahkan David. Ayo, Kak," kata Avan menyemangati.
Suaranya yang kalem begitu menenangkan.
Kristine mulai bisa rileks saat melihat wajah David yang ceria. Akhirnya dia berusaha mengenyahkan gambaran anak itu. Dia mengembuskan napas dan mulai bermain dengan serius.
Avan duduk di sebelah mereka. Melepas kacamatanya yang kotor. Membersihkannya dengan ujung bajunya.
Di belakang mereka, sosok anak kecil tengah berdiri memperhatikan mereka main. Tapi Avan tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Kak. Kakak."
Baik Kristine maupun David mendadak bergeming. Membiarkan karakter yang mereka mainkan berdiam diri.
Hentikan! Hentikan! Kenapa anak itu tak hentinya menggangguku, kata Kristine dalam hati.
Siapa? Siapa itu? Sepertinya aku pernah mendengar suara itu, timpal David dalam hati.
Kristine tak ingin membuat adiknya ketakutan.
Dan David tak ingin membuat kakaknya khawatir padanya sejak tragedi sekolah yang dia alami.
"Ya, ada apa, Dik?" tanya Avan saat mengenakan kacamata kembali.
"Kapan kalian beresnya? Aku mau main!" gerutu anak itu.
David dan Kristine menoleh ke belakang. Ternyata bukan Margin. Membuat mereka mengembus napas lega.
"Nak, mereka lagi main. Kau main yang lain dulu, ya," kata ibunya mendekat.
"Enggak mau. Aku ingin main ini, Ma!"
Kristine bangkit dari kursinya.
"Dik, bagaimana kalau main sama-sama? Mau tidak melawan adikku?"
Anak itu mengangguk. Membiarkannya duduk di samping.
__ADS_1
"Kau bisa mengalahkanku? Aku ini jago mainnya," kata anak itu pongah.
Ibunya berkali-kali menyuruhnya untuk bersikap sopan.
"Tentu saja. Aku juga jago," jawab David dengan nada bicara kekanakan.
"Kalau aku menang, kau harus belikan aku sepuluh koin."
"Tentu, siapa takut."
David dan anak itu bermain bersama-sama. Sementara Kristine dan Avan duduk berdua di bangku kosong.
Kristine hanya diam menatap kejauhan. Menatap spg seksi berbungkus karung goni yang bertuliskan diskon 50% itu dengan pikiran heran dan bertanya-tanya apakah itu manusia atau hantu seperti Margin. Tapi hantu tak akan berwujud seaneh itu. Tadi Margin bilang spg itu berbahaya. Apanya yang berbahaya?
"Sexy Benen," kata Avan waktu mengikuti pandangan matanya.
"Hah?"
"Julukannya. Aku pernah dengar bahwa spg yang mengenakan kostum seperti itu selama setahun sekali di hari tertentu, akan mendapatkan pelanggan yang lebih banyak. Dan usahanya tidak akan pernah bangkrut. Hampir setiap toko di Renofill pernah memakai teknik promosi begitu di hari yang mereka anggap bagus. Biasanya dikenakan waktu hari jadi toko mereka."
"Tapi, kenapa harus mengenakan karung goni? Ada cerita di baliknya?"
"Sebenarnya, ceritanya sendiri cukup sadis."
"Benarkah? Aku ingin dengar."
"Dulu—aku tidak tahu pasti waktunya—ada seorang wanita, dia bekerja di sebuah toko kecantikan sebagai Sales Promotion Girl. Wanita itu begitu cantik dan seksi seperti model iklan. Dia menawarkan produk-produk kecantikan pada setiap wanita di depan tokonya yang sepi. Mengatakan ke setiap pengunjung bahwa krim wajah yang dijualnya bisa membuat cantik, secantik wajahnya sendiri. Si pemilik toko pun kerap menyuruh spg itu memakai juga agar para calon pembeli percaya. Tapi, satu waktu, krim wajah itu membuat wajahnya rusak—cacat melepuh. Wanita itu hendak menuntut si pemilik toko. Tapi si pemilik toko berdalih bahwa itu terjadi karena kulit wajahnya yang memiliki kelainan. Bukan karena krim yang dijualnya. Si pemilik toko berkata bahwa para pembeli krim-krimnya sebelumnya tidak pernah ada satu pun wajahnya yang rusak.
"Si wanita yang tidak terima kemudian melaporkan si pemilik toko beserta krim berbahaya racikannya sendiri ke pihak yang berwenang. Toko itu pun akhirnya ditutup. Si pemilik toko ditahan. Si wanita mendapat ganti rugi. Tapi, meski dia mencoba berobat ke rumah sakit, wajahnya tetap sulit untuk diperbaiki. Meninggalkan bekas luka permanen di wajahnya yang benar-benar menggangu.
"Selama berbulan-bulan, dia mencari pekerjaan baru di mana-mana dan tak ada yang mau menerimanya, hingga suatu ketika, seorang pemilik toko pakaian wanita merekrutnya karena tubuhnya yang seksi. Pemilik toko itu menyuruhnya memakai topeng dan menjadi manekin hidup.
"Wanita itu berkeliling sekitar toko dengan mengenakan pakaian seksi yang elegan sembari membawa poster bertuliskan: 'cantik itu bukan cuma dilihat dari soal wajah tapi juga pada apa yang anda kenakan.'
"Teknik marketing itu nyatanya berhasil membuat barang-barang si pemilik toko laris. Wanita-wanita berdatangan untuk membeli dan pria-pria juga ikut membeli hanya karena terpesona keseksian wanita itu.
"Suatu hari, saat wanita itu hendak pulang, dua orang pria menculiknya. Membungkus setengah tubuhnya dengan karung goni dan membawanya ke sebuah gang dekat toko yang telah tutup. Mereka memperkosa wanita itu di sana secara bergantian dan memukulinya dengan tongkat bisbol hingga diam.
"Saat mereka membuka karung goninya dan melihat wajahnya, mereka terkejut karena mengetahui wajahnya yang buruk rupa. Dengan brutal mereka kemudian membunuhnya dan menusuk wajahnya dengan pisau berkali kali hingga wajahnya hancur. Setelah dia mati, mereka mengikat tubuhnya dengan kawat berduri, memasukkannya kembali dalam karung goni, dan menaruh jasadnya begitu saja di emperan toko.
"Banyak orang berempati atas kejadian tersebut. Mereka memakai karung goni dan berdiri di depan toko-toko sembari menenteng poster bertuliskan: 'di manakah keadilan?' Tiap toko memanfaatkan momen tersebut. Mereka menaruh pengumuman bahwa sebagian keuntungan yang didapat di hari itu akan disumbangkan. Membuat toko-toko tersebut dipadati pembeli. Seminggu setelah itu, pelakunya berhasil ditemukan tewas di sebuah tempat sampah dengan kondisi serupa wanita itu. Sejak itu, hal ini dijadikan tradisi tahunan untuk mengenangnya. Menjadikannya jimat keberuntungan," jelas Avan.
Kristine kembali memperhatikan spg itu tengah membungkuk-bungkuk seperti orang Jepang dan orang-orang berdatangan ke tokonya.
__ADS_1