
Kristine mencoba bergerak tapi tak bisa. Tangannya—kedua tangannya terikat di pinggir ranjang.
Dia sekuat tenaga melepaskannya tapi percuma.
"Kenapa ini?! Aku terikat! Sialan! Sialan! Sialan!"
Margin turun dan duduk di perut Kristine.
Wajah mereka berhadapan dalam jarak lima senti.
Mata hitam itu menatapnya dalam-dalam.
Sebuah kalung berlian kemudian mencekik leher anak itu dengan tiba-tiba.
Anak itu meledak berkeping-keping.
"Kak, kau tidak apa-apa?" tanya Avan.
"Avan?" heran Kristine tak percaya.
"Kak, aku mengkhawatirkanmu," kata David di sisi ranjang sebelah kiri seraya melepas sabuk yang membelit tangan kirinya.
"Sayang, maafkan aku. Aku meninggalkanmu sendirian di sini," timpal Randie di samping kanan melepaskan sabuknya juga.
"Randie? Aku bermimpi. Pasti bermimpi," kata Kristine melotot tak percaya.
"Apa maksudmu, Sayang?"
Randie tersenyum. Menyunggingkan senyuman tulus yang indah. Wajahnya tampak bercahaya.
Kristine bangkit dari tidur saat sabuk itu terlepas. Tapi dia masih bergeming.
"Ini mimpi," kata Kristine menahan air mata itu agar tak tumpah.
"Kristine, Sayang. Apa yang terjadi padamu? Apakah kejadian menyeramkan yang kita alami membuatmu hilang ingatan?" tanya Randie.
"Benarkah kau Randie? Selamat? Apa yang terjadi? David, Avan, apa yang terjadi?"
Matanya memandang mereka satu-satu.
"Semua baik-baik saja, Kak," kata Avan meyakinkan.
"Jangan takut, Kak. Kita semua selamat," timpal David.
Mereka semua menyunggingkan senyuman kelegaan.
Mata Kristine kemudian terarah kembali pada Randie.
"Apa kau tidak percaya ini aku? Apa aku terlihat seperti orang lain bagimu? Apa kau pikir aku ini hantu, Sayang? Ini aku, Randie. Suamimu. Aku manusia dan aku baik-baik saja," kata Randie. "Sentuhlah tanganku," pintanya menyentuh jemari Kristine. Lalu membelai rambutnya yang kusut. "Lihat, kan? Aku nyata."
Dan tangis Kristine pun pecah saat itu juga.
"Peluklah aku. Apa kau tidak merindukan suamimu ini?"
Kristine memelukmya dengan erat. Mendekap setiap lekuk tubuhnya lebih erat dan lebih erat dari sebelumnya seakan tak ingin dilepaskan lagi.
"Aku merindukanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu," kata Kristine.
Tangisannya membanjiri bahu Randie.
"Aku juga merindukanmu."
"Jangan pernah tinggalkan aku. Aku tak akan lagi membiarkan hal-hal buruk menimpa keluargaku."
"Tenang, Sayang. Semua ini sudah berakhir," kata Randie melepaskan pelukannya.
Dia menatap wajahnya dan mengusap air mata itu dari wajah Kristine. "Sekarang kita pulang. Kita rayakan kebersamaan kita lagi."
Kristine mengangguk.
Kristine turun dari ranjang dan memeluk pinggang Randie begitu erat.
Randie memeluknya balik.
Mereka berjalan menuju pintu keluar yang tampak bercahaya oleh siraman mentari pagi yang menyilaukan.
Dor!
Satu tembakan tercetus seperti kilat di kepalanya. Mendadak, Kristine memikirkan suara tersebut, seperti serangan kejut.
Mereka bergerak selangkah.
Dor!
Tembakan kedua terdengar. Suaranya seperti Shotgun. Dia tahu suara itu hanya ada di kepalanya karena begitulah dia merasakannya.
Mereka bergerak selangkah lagi.
Dor!
Satu lagi terdengar dan dia yakin itu sebuah kesengajaan. Mendadak kepalanya teringat akan benda logam biru yang berkilauan dengan ukiran indah. Benda mirip senjata.
Dia mendapat gambaran mengenai tangan pria sedang memegang senjata. Senjata yang dirangkai dari bagian logam-logam replika senjata ayahnya.
__ADS_1
Mereka tetap melangkah menuju pintu.
Dor!
Satu lagi suara tembakan itu tercetus dan menghentikan gerak langkah Kristine seutuhnya dari ambang pintu yang berjarak satu meter.
"Ada apa, Sayang?" tanya Randie lembut.
Kristine mematung.
Temukan jasad anak itu. Hanya itu satu-satunya cara untuk mengakhiri segalanya!
Kalimat itu menusuk batinnya.
Kristine memejamkan matanya selama sedetik dan mengembuskan napas berat.
Dia menoleh ke belakang. Seutas benang hitam terjulur dari kegelapan dan ujungnya membelit kaki Randie.
"Menyenangkan bisa melihatmu lagi. Tapi sayang, kau bukan suamiku," kata Kristine melepaskan pelukannya dan berdiri sedikit lebih jauh.
"Apa maksudmu, Sayang?"
"Kak? Ayo kita pulang!" ajak David.
"Kau bisa gila jika tetap berada di rumah sakit ini," kata Avan tersenyum.
Jauhi mereka! Jauhi pintu itu! Kalau kau tak ingin mati!
Suara perempuan terngiang-ngiang di kepalanya.
Kristine mundur memandangi mereka.
"Kalian tidak nyata," kata Kristine yakin.
David dan Avan kemudian lenyap bagai angin dari hadapannya tapi tidak dengan Randie. Dia tetap ada di hadapan sembari membuka kedua lengan dan tersenyum manis.
"Sayang, peluk aku. Kita pulang. Aku merindukanmu."
Air mata kembali mengalir dari sudut matanya.
Semua ini terlalu nyata.
Randie terlalu nyata baginya.
Kenapa iblis itu menipunya dengan cara seperti ini?
Apa karena Kristine tidak bisa merelakan kepergian suaminya?
"Maafkan aku. Maafkan aku. Aku akan merelakan kepergianmu sekarang."
Dengan kedua tangannya, dia mendorong tubuh Randie hingga wujud suaminya itu terjatuh ke belakang, mendorong daun pintu, dan hilang ditelan cahaya putih yang menyilaukan.
Kristine perlahan membuka matanya.
Dia masih terbaring di ranjang.
Dengan kedua tangan yang masih terikat di ranjang.
"Aku masih bermimpi," kata Kristine pelan.
Dia merasa begitu. Dia pikir, mana mungkin dia terikat seperti orang gila di ranjang rumah sakit ini. Tapi, bentuk ruangannya begitu berbeda dari yang dia ingat. Segalanya tampak berkarat. Dinding-dinding berwarna kecoklatan. Suara rantai dan kotak kayu terseret, terdengar dari sudut ruangan yang gelap bersama suara pria tercekik.
Kristine menoleh dan melihat sosok yang muncul dari dalam kegelapan itu. Kepala botak berdarah-darah. Dipenuhi tindik, merangkak menyeret peti mati yang ditancapi salib raksasa dan sosok mirip pasien terikat di salib tersebut.
"Ini mimpi. Masih mimpi."
Kristine memejamkan mata kembali.
Bangun sialan! Ini bukan mimpi! Itu iblisnya! Apa kau tidak lihat! Pergi sebelum dia berhasil menipu—
Suara itu melengking di telinganya dan kemudian terputus secara tiba-tiba.
Kristine terkesiap membuka matanya.
Makhluk itu semakin mendekat.
"Tidak mungkin! Sial! Sialan!"
Kristine meronta-ronta di atas ranjangnya sebelum iblis itu mendekat.
Lengannya dia tarik dan berharap ikatannya melonggar.
Hampir berhasil!
"To-long! To-long!"
Suara serak terdengar dari sosok yang terbelit rantai di belakang makhluk itu. Seorang dokter, dua orang suster, dan seorang pria gemuk terjerat rantai tersebut.
"Tidak! Tidak!"
Kristine berhasil menarik salah satu tangannya. Dia bangkit dan berusaha membuka ikatan tangan satunya.
Dengan cepat dia bisa melepaskan tangannya.
__ADS_1
Makhluk itu berada lima meter darinya.
Kristine terguling dari ranjang.
Tubuhnya mendarat di lantai besi berkarat yang begitu keras.
Di bawah lantai tersebut, dia menemukan sebuah kertas terlipat. Dia menarik kertas itu dan berlari ke luar ruangan sebelum makhluk yang merangkak dengan begitu lambat itu membunuhnya di tempat.
Dia tak terkejut saat keluar dari pintu itu.
Dunia yang dia pijak kini penuh dengan karat.
Bau garam bercampur darah menguar mencemari udara.
Lantai keramik berubah menjadi lantai besi bercarang.
Di bawah kakinya sendiri dia mendapati orang-orang terikat di ranjang dengan tubuh penuh darah.
Mereka menjerit meminta tolong.
Kristine berlari dari koridor tersebut dan masuk ke dalam sebuah pintu berkarat di depannya.
Dia menutup pintu, menghalangi pegangannya dengan pipa besi yang dia temukan di sisinya.
Lampu koridor redup redam.
Di bawah lantai bercarang yang dia pijak—jauh di bawahnya—adalah lubang hitam dengan sisi dipenuhi ruangan penjara dan orang-orang terkurung di dalam sana.
Di hadapannya—jauh di ujung koridor—dia mendapati satu pintu yang berbeda. Pintu kayu berpelitur dengan lampu neon bertengger di daun pintunya.
Kristine berlari menuju pintu tersebut.
Dia membukanya.
Itu ruangan klinik. Dengan satu ranjang, satu meja dan kursi dokter serta obat-obatan terpajang di etalase dan rak-rak.
Napasnya tersengal.
Dia memutuskan untuk duduk sejenak dan membaca surat tersebut.
Iblis itu akan membunuhmu dan adikmu jika kau tak melakukan apa yang diinginkannya. Iblis itu menginginkan nyawa manusia. Bunuh orang-orang yang dibelenggu olehnya sebelum segalanya menjadi buruk. Bunuh! Bunuh! Bunuh! Dia akan membunuh orang-orang terdekatmu jika kau tak melakukannya. Bunuh mereka! Bunuh orang-orang itu! Korbankan mereka demi keselamatanmu dan adikmu!
Kali ini tak ada simbol segitiga dan aksara aneh di tepiannya.
Dia tak mengerti apa maksudnya.
Terasa getaran di kakinya seperti gempa.
Kristine keluar dari ruangan tersebut dan mendadak segalanya terasa begitu normal.
Seluruh bagian rumah sakit kembali seperti sedia kala. Suster, pasien, dan pengunjung hilir mudik di koridor dan hal itu tak membuatnya tenang sama sekali.
Semua ini hanya membuatnya diselubungi kabut kecemasan.
Apa ini mimpi atau khayalan atau kenyataan dan dia masih terjebak dalam dimensi jungkir balik yang dikendalikan iblis-iblis itu?
Dia tak tahu.
Tapi surat itu tak bisa dia abaikan begitu saja—tidak kali ini!
Seseorang yang mengirim surat itu selama ini mencoba memberi petunjuk.
Selama ini—dia—mencoba menolongnya.
Jika Kristine mengabaikannya lagi, hal yang lebih buruk akan menimpa dirinya dan adiknya.
Lalu apa yang harus dia lakukan?
Surat itu menyuruhnya membunuh. Membunuh siapa?
Tiba-tiba seorang suster melintas di depannya.
Kristine menatapnya tapi suster itu tak menoleh ke arahnya. Wajah suster itu sama dengan salah satu orang yang dia lihat terbelenggu oleh iblis peti bersalib—De Zonde.
Mungkinkah?
Kristine membaca surat itu kembali.
Bunuh orang-orang yang dibelenggu olehnya.
Dibelenggu oleh makhluk itu. Jadi orang-orang yang dibelenggu rantai makhluk itu tadi hanyalah gambaran kematian? Makhluk itu menginginkan kematian mereka? Jika aku membunuh mereka, makhluk itu tak akan menggangguku dan adikku—setidaknya iblis yang satu itu.
Terlalu banyak iblis yang mengganggu mereka dan jika dia hanya bisa lari ke sana kemari dan mengharapkan bantuan dari berlian Avan, semua ini takkan ada habisnya.
Dia harus memulai langkahnya sendiri dan mencari jalan keluar sendiri dari kegelapan ini.
Dan dia akan melakukannya.
Melakukan apa pun demi keselamatan David.
Keselamatan keluarganya yang tersisa.
***
__ADS_1