
David gemetaran di pelukan Kristine.
Kristine dengan waspada mengedarkan pandangan pada orang-orang yang panik. Dia tidak bisa melihat makhluk itu pergi ke mana meskipun airnya dangkal. Tak ada riak air di sekitar mereka berdua.
Tiba-tiba satu per satu orang-orang berjatuhan tanpa sebab. Mereka terjungkal dan langsung mengambang di air tanpa bergerak lagi.
"Apa yang terjadi dengan mereka?" tanya David.
"Aku tidak tahu. Kita harus keluar dari air."
Kristine syok. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada orang-orang.
Dia pula heran makhluk apa itu?
Apakah itu Margin?
Kenapa orang-orang berjatuhan?
Apa mereka semua mati?
Dia bingung tapi dia tahu satu hal, bahwa mereka kini berada dalam bahaya. Dan bahaya itu sedang mengincar semua orang yang berada di dalam kolam.
"David, cepat kita keluar!" teriak Kristine menarik lengan adiknya.
David pun bertanya-tanya dengan apa yang terjadi di sini. Dia berusaha membaca situasi.
Mereka berdua berlari seperti yang lainnya.
Orang-orang berjatuhan.
Jumlah mereka semakin berkurang.
Belum ada satu orang pun yang berhasil keluar dari kolam.
Mereka hampir tiba di tepian.
Randie berlari ke arah mereka.
"Kenapa kalian di kolam?! Ada apa ini?"
"Ada sesuatu yang berbahaya di sini! Tarik kami keluar!"
Randie mengulurkan lengan.
Kristine mencoba meraihnya.
Kappa muncul di belakang mereka. Sepotong lengan berselaput itik itu terulur ke udara dan terempas ke wajah Kristine.
Kristine tak sempat mengelak. Sebuah cakar menggores keningnya hingga berdarah.
Kemudian makhluk itu mencengkeram David dan menariknya kembali ke dalam air. Membawanya kembali ke tengah kolam.
"David!"
***
Avan menyentuh tanah hitam itu. Warnanya membekas di tangan. Mendadak dia teringat sesuatu. Seseorang pernah mengatakan tentang hal itu di masa lalu.
Itu jalan Baros.
Jalan kematian.
Jalan yang terkutuk.
Dan siapa pun yang melewatinya akan terkena kutukan.
Tatapannya kemudian beralih pada belakang kandang. Tampaklah sesuatu di dalam situ. Selembar kertas yang terlipat.
Terlambat! Maafkan aku, tapi kalian takkan bisa lari lagi. Dua dunia telah menyatu. Kalian sudah dikutuk. Dia akan terus mengikuti kalian! Dia akan mencoba membunuh kalian dan orang-orang yang kalian temui ke mana pun kalian pergi! Dia bukan adikku. Dia iblis! Dia iblis! Temukan jasad adikku! Hanya itu satu-satunya cara mengakhiri ini sebelum orang-orang mati!
Michel.
Surat itu ditulis dengan tinta merah disertai logo dan aksara Kiligh yang sama, tapi kali ini, logo dan aksara Kiligh itu ditulis menggunakan darah.
__ADS_1
Avan meremas kertas itu dan menjatuhkannya ke tanah.
Tangannya meraih berlian dari sakunya.
Jeritan demi jeritan bersahutan dari arah kolam.
Avan keluar dari sesemakan. Berlari menuju kolam. Raut wajahnya menegang bukan kepalang.
***
Randie dan Kristine kejar-kejaran dalam kolam sembari meneriakkan David.
David melolong diseret sang monster di antara tubuh-tubuh manusia yang bergelimpangan. Kepalanya timbul tenggelam di dalam air.
"Kak! Tolong!"
"David!" cemas Avan. Tanpa pikir panjang dia ikut terjun ke dalam kolam.
Orang-orang terus berjatuhan tanpa sebab.
Randie menyusul Kristine yang berhasil menangkap David.
Kristine menarik lengan David dan berusaha melepaskan sesuatu yang menarik kaki adiknya itu.
"Lepaskan adikku, keparat!" gusar Kristine melotot.
Makhluk bermata legam itu menggeram dan mencakar tangan kanan Kristine hingga berdarah-darah.
"Sayang!"
Randie murka. Dia meninju kepala makhluk itu sekuat tenaga hingga lengannya melepaskan David
Sang Kappa menyeringai ke arahnya. Mata hitamnya berubah merah.
Tiba-tiba Randie terkesiap dan jatuh terjungkal ke belakang tanpa alasan.
"Tidak! Tidak! Jangan! Jangan ganggu mereka!" teriak Avan di belakang seraya menghunjamkan bogem mentah ke wajah makhluk itu beberapa kali.
Sang Kappa melakukan hal yang sama—menatap ke dalam mata Avan di balik kacamatanya yang terciprati lumpur. Tapi tak ada apa pun yang terjadi. Kemudian dia membuka mulutnya dan menerkam pundak Avan. Menjatuhkannya ke dalam air. Bergulat dalam air yang keruh.
David histeris.
Dia menangis menjadi-jadi.
Gemetaran.
Sesak napas.
Bergeming.
Tak mampu menggerakkan badan saking takutnya melihat pemandangan mengerikan ini.
"Van ...," kata David terisak, sesak, seolah ingin pingsan saja.
"Randie, bangun! Randie, sayang!"
Kristine mengelus pipi suaminya. Menyibakan lumpur di wajahnya yang terpejam.
Avan terus bergulat sekuat tenaga di dalam air. Menghajar makhluk itu berkali-kali. Kacamatanya terlepas dan dia tak bisa melihat dengan jelas. Meski begitu, sebelah lengannya mencekik makhluk itu kuat-kuat agar tak bisa lari dan melukai David serta kakak-kakaknya. Tangannya yang lain terus menerus meninju makhluk itu dengan ujung berlian yang tajam.
Berlian itu bersinar. Berkilauan di air keruh.
Makhluk itu melengking tiap kali berlian itu merobek kulitnya.
Sang Kappa mencakar-cakar jasnya saat dia bangkit dari air.
Kedua lengan Avan mencekik makhluk sebesar anak kecil itu. Mencekiknya sekuat tenaga sebelum akhirnya dia berusaha mengalungkan berlian itu di lehernya.
Makhluk terkutuk itu meronta-ronta. Kejang-kejang saat berlian berhasil di kalungkan.
Avan tak melepaskannya sekalipun. Dia tetap mengalungkan cengkeraman tangan.
Makhluk itu mendadak berubah menjadi sosok anak kecil. Margin.
__ADS_1
"Kak ... to-long. Te-mu-kan jasadku ...," ucapnya terbata-bata.
Avan tak melepaskan cekikannya. Dia tetap menenggelamkan anak itu hingga ke dasar.
"Aku akan mencarinya. Tapi, bertahanlah, aku tahu kau menderita. Lawan iblis itu. Jangan lukai orang yang tak bersalah," kata Avan.
Lengan anak itu menggapai-gapai permukaan air. Lengan kirinya yang kini semakin mengerikan—karena dililiti gumpalan puluhan benang hitam—menarik-narik lengan Avan.
Avan bisa melihat benang itu terjulur ke semua orang. Mengikat mereka semua yang telah mengambang—termasuk tubuh Randie.
Avan tahu hal itu. Dia tahu apa maksudnya itu.
Sejenak dia memejamkan mata. Membiarkan anak itu 'mati' di tangan Avan sendiri sebelum akhirnya lenyap ditelan lumpur di dasar kolam.
"Randie, bangun! Randie kau kenapa?!"
Kristine terus menerus menggoyangkan tubuhnya.
"Kak ..."
David berada di sisinya melakukan hal yang sama.
Isak tangis pecah menjadi-jadi.
Avan mengalungkan berlian itu di lehernya.
Dia begitu terkejut.
Ini tidak biasanya!
Orang-orang itu tetap ada di situ.
Mengambang.
Puluhan.
Orang-orang nyata.
Semuanya benar-benar manusia.
Avan beringsut mendekati keluarga Sandiea itu.
"Avan, apa yang terjadi dengan Randie? Apa dia tersesat? Apa dia tengah masuk ke dunia lain? Mana kalung berliannya? Dia pasti sedang dikejar-kejar makhluk itu di dimensi lain," kata Kristine.
Avan mendekati mereka. Menyentuh dada Randie. Jantungnya telah berhenti berdetak. Sama dengan puluhan orang yang mengambang dalam kolam air keruh itu.
"Maafkan aku. Tapi, dia sudah pergi."
"Tidak! Tidak mungkin! Randie, sadarlah!"
Kristine kembali berusaha membangunkannya.
Randie tetap diam.
"Mana kalungnya? Berikan padaku!" gusarnya dengan tangis yang menderu.
Avan memberikannya.
Kristine cepat-cepat merebutnya dan mengalungkan benda itu ke leher Randie.
Tapi Randie tetap bergeming.
Pergi untuk selamanya.
"Ini mustahil! Ini mimpi! Ini khayalan! Aku tidak percaya! Avan, bantu aku, bangunkan aku!"
Avan tak mampu lagi berkata-kata.
"Kak. Kakak ..."
David merengek di sisinya.
Tangisan mereka membahana di tengah kolam air keruh.
__ADS_1
Di antara gelimpangan orang yang mengambang dalam kematian yang sama.