Baros

Baros
Liang Gong 7


__ADS_3

Maka, Kristine pun mengikuti suster tersebut.


Suster itu membuka pintu menuju koridor bagian luar yang mengarah tepat ke ruangan di mana Kristine sebelumnya tinggal.


Sang suster terkejut saat mendapati ranjang itu kosong dan sewaktu dia hendak berbalik keluar, Kristine tengah menatapnya dengan penuh dendam.


"Kau ... No-Nona, Anda sudah bangun?" tanyanya gemetaran.


Kristine mendadak sadar apa yang menyebabkan suster gemetaran seperti itu.


"Kau mengikatku. Apa kau yang mengikatku?!" tanya Kristine.


"Sa-saya terpaksa. Anda berteriak-teriak dan mengganggu pasien lainnya."


"Apa kau pikir aku gila?" tanya Kristine bertaut alis.


"Tidak, Nona."


"Kau mengikatku dan meninggalkanku di ruangan terpencil ini sendirian? Di samping kamar mayat?"


"Ti-tidak. Sebaiknya kita menemui Dokter. Anda masih belum sehat."


"Kau menanggapku gila atau menganggapku akan mati?"


Suster itu begitu ketakutan. Dia mundur selangkah saat Kristine maju mendekatinya.


Di dalam hatinya, Kristine tak ingin melakukan ini, tapi jika dia tidak melakukannya, makhluk itu akan membunuhnya atau membunuh David atau Avan. Sebaiknya orang-orang inilah yang mati—yang sebelumnya telah ditandai iblis itu. Lagi pula suster itu telah membuatnya begitu murka.


"Tidak. Aku tidak pernah bilang begitu," elak sang suster melirik ke sana kemari seperti mencari sesuatu. Mungkin benda untuk melindungi diri kalau-kalau Kristine menerkamnya seperti binatang buas.


Kristine memperhatikan gerak tubuhnya lekat-lekat. Mengikuti gerakan matanya yang mencurigakan. Mata mereka berserobok setelah sama-sama melihat ke ujung ruangan dan mendapati pegangan besi ranjang berbentuk pipa yang rusak dan ditaruh di situ.


Sang suster berlari untuk meraih benda itu.


Kristine tahu, dia tak akan bisa mendahuinya, maka dia melakukan sesuatu yang lain. Dia menarik ranjang beroda dan mendorongnya sekuat tenaga ke tubuh si suster saat dia hendak mengangkat pipa besi itu.


Ujung ranjang dari besi itu langsung mengenai punggungnya.


Sang suster menjerit.


Kristine tanpa ampun menghantamkan ranjang besi itu berkali-kali.


Sang suster berbalik dan itu lebih memudahkannya.


Ranjang itu menghantam perutnya.


Sekali.

__ADS_1


Dua kali.


Tiga kali.


Kristine kini tampak seperti pembunuh berdarah dingin.


Suster memuntahkan darah.


"Hentikan! Kumohon hentikan!" pintanya memelas.


"Maafkan aku. Kau harus mati, demi kebaikan kita. Kau harus berkorban. Kuharap, kau tak menghantuiku setelah kau mati," kata Kristine menarik ranjang itu ke belakang dan bersiap menghantamkannya kembali sekuat tenaga.


Suster itu tak sanggup berdiri.


Dia jatuh berlutut.


Sebelum dia tergeletak seutuhnya, ujung ranjang itu membentur wajahnya hingga retak.


Darah mengucur dari hidungnya yang remuk dan sisi belakang kepalanya yang menghantam tembok.


Kristine melepaskan ranjang itu.


Lengannya gemetaran.


Untuk beberapa saat dia merasa menyesal. Dia pembunuh.


Ini bukan apa-apa.


Dia bisa menganggap ini hanya mimpi.


Mimpi buruk—hanya mimpi buruknya yang lain.


Dan menganggap suster itu tidak terbunuh dengan mengenaskan seperti ini.


Mungkin setelah dia keluar dari dunia yang dia kira masih dunia lain ini, kematian si suster hanya disebabkan karena serangan jantung. Seperti wanita dan pria yang dibunuh secara sadis oleh Sexy Benen waktu itu atau Randie yang dibunuh makhluk serupa Kappa itu.


Ya, dia menganggapnya begitu dan dia merasa lebih baik. Hanya saja, dia harus melakukan hal serupa kepada tiga orang lainnya—tiga orang yang terbelenggu sang iblis.


Kristine bertekad melakukan pembunuhan selanjutnya dengan lebih halus. Dia kemudian membawa sabuk yang mengikatnya di ranjang dan meninggalkan ruangan tersebut. Mungkin dia sudah gila. Dia pun menganggap dirinya gila. Tapi itulah jalan keluar untuk pergi dari dunia yang penuh kegilaan ini.


Dia harus menjadi gila. Meski di sini, dia sadar akan kegilaan yang dia lakukan.


Suster lain yang hendak dibunuhnya sedang menemani seorang nenek tua berkursi roda untuk menikmati udara pagi hari di taman belakang rumah sakit. Hanya ada mereka berdua di situ.


Kristine mengamati gerak-gerik suster tersebut. Dia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tapi suster itu kemudian meninggalkan sang nenek sendirian dan pergi menuju koridor di ujung yang sepertinya mengarah ke toilet.


Kristine membuntutinya ke toilet wanita.

__ADS_1


Tidak ada siapa-siapa di dalamnya kecuali mereka berdua.


Suster itu tengah mencuci tangannya di wastafel saat Kristine dengan sekonyong-konyong membelitkan sabuk itu di lehernya. Membuatnya tercekik.


Sang suster meronta-ronta dengan ganas tapi Kristine mendadak seolah mendapat kekuatan besar yang entah berasal dari mana. Dia tetap bergeming saat suster tersebut berusaha membebaskan diri.


Kristine tetap mencekiknya dengan sabuk itu. Dan di depan cermin, sang suster melotot memperhatikan wajah yang sebentar lagi membunuhnya.


Suster itu lalu terdiam.


Napasnya lenyap.


Matanya melotot hendak melompat dari tempatnya.


Kristine segera memasukkan raganya ke dalam salah satu bilik toilet. Mengotak-atik slot pintunya sedemikian rupa hingga pintu itu terkunci saat dia menutupnya. Dan dia beranjak dari toilet itu secepat hantu.


Target ketiga adalah dokter itu.


Dia tidak tahu di mana sang dokter berada.


Kristine berencana untuk masuk ke salah satu ruangan klinik yang berada di bagian tengah rumah sakit.


Dia masuk dan mengamati cairan obat-obatan dalam rak kaca.


Dia ambil botol-botol obat itu. Mengambil beberapa jarum suntik dalam laci. Menyedot cairan itu secara acak. Dan ada satu botol yang dia rasa itu bisa membunuh manusia jika dicampur dengan obat lain. Kemudian, dia masukkan beberapa suntikan yang berisi cairan-cairan itu ke dalam kotak.


Ada jas putih yang tergantung di sudut ruangan dan masker dalam laci yang lain. Dia memakainya sebelum keluar dengan gerakan yang tak memancing kecurigaan.


Sang dokter sepertinya belum tiba di rumah sakit. Dia putuskan untuk mencari pasien rumah sakit bertubuh gendut.


Dia tidak tahu di mana pasien itu ditempatkan. Tapi dia rasa, pasien itu di tempatkan di area dekat sini—dekat dengan sang iblis. Ketika seorang pasien memanggilnya dari ruangan yang terbuka, dia mendapati pasien gendut itu berada tepat di sebelah kamar yang sebelumnya dihuni oleh dirinya sebelum dipindahkan.


Kristine pun mendekatinya.


"Dokter, beri aku obat penghilang rasa sakit lagi. Aku tidak kuat. Tangan dan kakiku terasa begitu sakit," pinta pria itu dengan tangan dan kaki diperban.


Kristine mengangguk di balik masker.


Keberuntungan memihak pada dirinya, pikirnya.


Dia pun membuka kotak yang dibawanya. Tapi dia tidak mengerti di mana dia harus menyuntikkan benda itu. Maka, langsung saja dia tusukkan di tangan gemuknya. Mendorong suntikan itu dengan cepat.


Pria itu menggerutu bersungut-sungut. Hanya sekejap, sebab, sekejap kemudian pria gendut itu terbaring dengan kaku. Pasien itu tidak bisa menggerakkan badannya. Lumpuh. Hanya bola mata yang bergerak-gerak dengan cepat dan mulut yang berusaha berbicara.


Kristine memasukkan cairan kedua ke dalam darahnya. Bola matanya masih bergerak-gerak ke kanan kiri dengan panik tapi mulutnya terbuka tanpa bisa dia tutup.


Satu cairan lagi dia tusukkan langsung ke lehernya hingga tandas.

__ADS_1


Kristine membuka masker. Membiarkan pria itu melihat wajahnya sebelum sedetik kemudian jantung pria itu berhenti berdetak selamanya.


__ADS_2