Baros

Baros
Renofill 2


__ADS_3

Kristine mengenakan rok panjang akordion yang menutupi hingga mata kaki. Memakai baju hangat dan tatanan rambut dikepang ekor ikan dengan poni membentuk hati. Itu memang pakaian kegemarannya meski pakaian itu membuatnya tampak sedikit tua atau ibu-ibu muda beranak satu.


Mereka mulai pergi ke Renofill menaiki bus hingga tiba di samping Renosquare Mall.


Orang-orang memadati setiap jalan.


Stan makanan dipenuhi anak-anak yang berkerumun membeli permen kapas.


Kristine tersenyum melihat kakak adik itu berebut es krim dan ibu mereka melerainya. Membuatnya kepikiran ingin segera memiliki anak sendiri meski dia dan Randie telah berdiskusi untuk menunda hal itu hingga David lulus sekolah.


Kristine berjalan menuju stan penjual sosis panggang.


"Hmmm ... sepertinya enak," kata Kristine saat mencium wangi sosis yang dipanggang diolesi mentega dan saus lada hitam.


Dia membelinya tiga buah. Memberikan salah satunya pada David dan Avan.


Mall itu berbentuk kotak dengan hiasan kubus dominan yang memenuhi setiap bagiannya.


Tanpa berkeliling ke setiap penjuru toko, mereka langsung naik ke lantai 4 menuju toko buku Cross Lines Books yang dikelola Randie.


Randie tengah bertugas menjadi kasir cadangan. Toko buku itu dipadati pembeli.


Kristine melambaikan tangannya saat Randie menoleh dan mereka langsung masuk ke bagian dalam sembari membawa keranjang tanpa menganggu suaminya yang tengah sibuk.


David memilih pergi ke bagian komik, pemuda itu menyukai komik dan bersemangat melihat-lihat komik-komik yang dipajang, yang kini tengah dikerumuni anak-anak.


Sedangkan Kristine lebih tertarik pada novel. Sama halnya dengan Avan.


"Kau menyukai novel juga?" tanya Kristine. "Novel apa yang kau suka?"


"Apa pun asal jangan horor," jawabnya.


Avan melihat sebuah novel yang begitu menarik perhatiannya. Buku itu begitu tebal dengan sampul keemasan dan gambar kompas di tengah. Dia pernah membaca kisahnya di internet dan ternyata tak menyangka buku itu dijual di toko buku ini. Judulnya: Vimana karya: EL Castro.


"Wah, buku apa itu? Sepertinya menarik?" tanya Kristine penasaran.


"Ehmm ... ini buku fantasi berat. Kau pasti tak bakalan suka," jawab Avan salah tingkah sembari terkekeh dengan canggung.


"Oh .... Eh, Van, lihat buku ini! Nama penulisnya mirip dengan namamu," kata Kristine menunjukkan buku bersampul merah marun berjudul GANG karya Avans Cross Lines. "Randie bilang pemilik toko buku ini alias bosnya yang memiliki beberapa cabang toko buku adalah seorang penulis juga dan ini salah satu karyanya."


"Novel apa itu? Sepertinya horor."


"Iya," Kristine membaca blurb di belakangnya. "Ceritanya tentang seorang ibu muda yang terjebak di sebuah Gang di kota mati Lurid City. Apa kau tahu mengenai kota itu?"


"Kudengar itu kota yang menyeramkan."

__ADS_1


"Ya. Tapi katanya kota itu kini mulai dipenuhi penduduk. Orang-orang mulai berani untuk tinggal di sana."


"Kak, aku ingin beli komik ini. Boleh, 'kan?" pinta David menunjukkan beberapa komik One Piece.


Kristine mengangguk. "Sini, masukkan dalam keranjang. Van, apa kau juga ingin beli novel itu? Sekalian saja masukkan. Hari ini aku yang traktir. Hitung-hitung hadiah karena kau mau mengantar kami kemari dan menemani David."


Mereka memasukkan semua buku itu ke dalam keranjang.


"Tunggulah di luar, aku akan memberikan buku-buku ini pada Randie."


Saat Kristine sedang berjalan di antara pembeli yang mengantre di kasir, dia mendapati sosok aneh yang tengah berdiri di samping pintu masuk toko buku.


Dilihat dari kakinya, dia seorang wanita yang memakai rok mini merah. Kakinya begitu jenjang dan halus dengan mengenakan sepatu bertumit tinggi yang juga berwarna sama. Tapi anehnya, separuh tubuh wanita itu dibungkus dengan karung goni. Hanya menyisakan sebuah lubang di bagian depan untuk melihat. Di depan tubuhnya, tergantung papan karton bertuliskan diskon 50%.


Sembari berjalan, dia membungkuk-bungkuk pada orang yang lewat meski semua orang mengabaikannya.


Kristine pikir itu hanyalah seorang sales toko pakaian di sebelah yang sedang berpromosi karena dia melihat Avan juga tengah memperhatikan wanita itu lekat-lekat.


Kristine menaruh keranjang di kasir Randie.


"Kami mau jalan-jalan dulu. Nanti kita pulang sama-sama."


Randie mengiyakan.


Sebenarnya dia ingin ikut jalan-jalan bersama mereka tapi toko hari ini sedang penuh. Tentu saja dia tak bisa meninggalkannya pada bawahannya.


Mereka keluar dari toko buku. Seperti dugaannya, spg berkostum ngawur itu baru saja masuk ke toko pakaian yang kini diserbu pembeli.


"Jadi, sekarang, mau ke mana kita? Bagaimana kalau langsung nonton saja? Ada film apa yang diputar hari ini?" kata David.


Kristine menatap jam tangannya baru menunjukkan pukul sembilan. "Ini masih pagi. Sebaiknya kita makan dulu."


Mereka masuk area food court yang terdapat di tengah-tengah lantai 4 tersebut. Memesan beberapa hidangan khas Bahrose City yang baru kali pertama mereka cicipi.


Setelah itu, mereka masuk ke Game Zone dan mencoba beberapa permainan.


Kristine berjalan-jalan memperhatikan anak-anak kecil sedang naik kereta api mini. Anak-anak itu tertawa gembira. Ada juga yang menangis karena dipukul saudaranya. Tanpa sadar, dia tersenyum sendiri melihat tingkah-tingkah lucu mereka.


Satu anak yang Kristine kenal ada di antara anak-anak itu. Membuat senyumnya yang terkembang mendadak surut. Dan Kristine melengos pergi mengabaikannya.


Dia memandang anak-anak yang tengah naik Carousel. Anak itu pula ada di sana, di atas kuda, melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum ceria, tapi Kristine tetap mengabaikannya dan memilih duduk di kursi depan Game Zone, memijat kakinya yang terasa lelah sebab tak biasa memakai sepatu bertumit tinggi itu.


"Kak?" panggil anak itu di sampingnya.


Kristine diam tak menggubrisnya.

__ADS_1


"Apa kau takut padaku?" tanyanya. A


khirnya Kristine berani menoleh dan menatap mata anak itu tanpa ekspresi.


Dia tak takut.


Untuk apa takut di tengah mall yang dipadati pengunjung seperti ini?


Dia hanya merasa risih dan terganggu.


"Apa kau mengikutiku? Sebenarnya, siapa kau?" tanya Kristine.


"Aku Margin."


"Aku tahu namamu. Tapi, siapa kau? Apa kau hantu? Apa kau penghuni rumah yang kami tempati?"


"Aku menyukai Kakak. Aku butuh bantuan ... arghh!"


Anak itu mengerang kesakitan.


Dia menggerakan lehernya hingga berkertak.


Kristine bersumpah bahwa untuk sedetik, dia melihat mata anak itu jadi hitam semua.


"Jangan ganggu aku. Aku tidak bisa membantumu. Pergilah," pinta Kristine seakan mengusir.


Anak itu menangis. Membuat Kristine mendadak iba.


Apa anak itu hantu atau bukan?


Itulah yang membuat Kristine bimbang untuk bersikap.


"Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?"


Anak itu mengangguk.


Kali ini Kristine menyebut anak itu 'kau' dan tidak berani menyentuhnya lagi.


"Katakanlah tapi jika aku tidak bisa membantumu, sebaiknya kau pergi."


"Aku tidak bisa. Ini menyakitkan. Aku kesakitan."


"Kalau begitu, pergilah. Jangan menganggu kehidupanku!" kata Kristine tak sadar suaranya terlalu keras hingga membuat orang-orang yang tengah berjalan di hadapannya menoleh.


Anak itu menghilang.

__ADS_1


Kristine sedikit terkejut tapi dia tak takut.


Anak itu selalu dia lihat di komplek perumahannya. Sekarang dia yakin anak itu hantu dan meski begitu, dia tak takut karena wajahnya tidaklah mengerikan dan dia tak pernah melihat penampakan lain meski kali ini dia baru pertama kali bisa melihat bagaimana rupa dari sesosok hantu.


__ADS_2