
Masa pendaftaran sekolah telah dibuka.
David memasukkan beberapa surat dan formulir pendaftaran yang dia dapat kemarin dari Avan.
Dia hanya tinggal memberikan itu pada pihak sekolah beserta sejumlah uang masuk.
David dan Avan memilih masuk ke jurusan Teknik Listrik dari 4 jurusan yang tersedia.
Mereka berdua janjian di halte bus dan berangkat menuju sekolah dengan berjalan kaki agar lebih cepat sampai.
Anak-anak dengan wajah riang memenuhi tiap bus yang lewat. Beberapa siswa SMA lain tampak diantar oleh sopir pribadi maupun berjalan kaki seperti yang dilakukan David dan Avan.
"Van, kenapa rambutmu? Kau mengecatnya? Tampak aneh," kata David yang memperhatikan rambut indie lelaki itu lebih detail kali ini.
Rambut Avan berwarna hitam legam tapi pirang di bagian kulit kepalanya.
Avan langsung mengeluarkan cermin dari saku kemejanya.
"Sial! Sepertinya aku kurang teliti mengecatnya."
Avan merubah gaya rambutnya berusaha menutupi bagian-bagian pirang itu. "Aku blasteran. Rambut asliku berwarna pirang dan mataku berwarna biru. Tapi aku tidak nyaman dengan hal itu makanya aku mengecat rambutku dan mengenakan lensa hitam."
"Kau mengenakan lensa hitam dan mengenakan kacamata pula?" kata David geleng-geleng kepala.
"Hanya waktu keluar dari rumah saja."
"Kenapa? Padahal kulihat tak sedikit orang keturunan bule di kota ini?" heran David terkekeh.
"Hanya tidak suka saja," jawab Avan sambil tersenyum dipaksakan seakan menyembunyikan sesuatu.
Mereka tiba di sekolah.
Calon siswa lainnya mulai berkumpul.
Semua murid di sekolah teknik ini laki-laki.
David dan Avan masuk ke ruang administrasi dan memberikan berkas-berkas yang sudah mereka persiapkan. Setelah itu mereka menunggu di luar hingga dipanggil.
Mereka memutuskan untuk duduk di bangku taman sekolah sementara calon siswa lain tampak bergumul di lapangan. Bermain bola basket bersama.
"Untunglah tak ada MOS. Aku benci masa orientasi itu," kata David tampak senang seraya meregangkan badannya.
"Kenapa?"
"Kau tahu lah. Banyak hal-hal memalukan yang harus dibawa saat MOS berlangsung. Itu sangat tidak menyenangkan."
"Justru kupikir itu hal menyenangkan. Aku tak pernah mengalaminya. Di kota ini sekolah terasa begitu membosankan."
"Sejak kapan kau tinggal di kota ini?" tanya David
"Sudah lama. Sejak usiaku ... tujuh tahun," jawab Avan seraya mengingat-ingat.
"Datang dari mana?"
"Belanda. Ayahku orang Belanda. Ibuku, penduduk asli kota ini. Tapi kami tinggal di Belanda saat aku lahir. Dan pindah ke sini sejak usiaku tujuh tahun."
Dari jauh terdengar suara speaker memanggil satu per satu nama siswa hingga akhirnya memanggil David dan Avan.
Mereka masuk ke ruang administrasi, mengambil seperangkat seragam dan atribut sekolah serta kartu pelajar instan yang langsung mereka dapatkan.
"Ini masih pagi. Waktu berjalan lebih cepat dari yang kukira. Apa kau ada acara hari ini?"
Avan menggeleng.
"Aku bosan jika harus berada di rumah. Apa aku boleh main ke rumahmu?" tanya David.
"Tentu," jawab Avan tersenyum.
Mereka berjalan pulang menuju rumah Avan yang letaknya tak jauh dari perumahan Kie Light.
Rumahnya tampak antik dan tidak terlalu besar. Hanya punya satu lantai dengan dua kamar, garasi, dan taman mungil di belakang yang terhalangi oleh dinding kaca.
David duduk di sofa.
Avan menghidangkan sekaleng minuman soda di meja.
"Di mana orangtuamu?" tanya David.
__ADS_1
Avan menggeleng. "Mereka sudah meninggal."
"Eh, Maaf Van," kata David menegakkan duduknya.
"Tidak apa-apa. Itu sudah lama," jawab Avan tetap tersenyum tenang.
"Sejak kapan?"
"Tak lama setelah kami pindah ke sini."
"Jadi, kau tinggal sendiri di sini setelah itu?" tanya David penasaran dengan nada terburu-buru. "Eh, tak perlu diceritakan jika kau keberatan."
Avan menggeleng tersenyum. Kali ini lebih lepas.
"Aku belum pernah menceritakan keluargaku pada siapa pun. Tapi mungkin aku bisa menceritakannya padamu. Kadang aku juga butuh seorang pendengar yang baik," ujar Avan.
David memandang sesaat. Raut wajah Avan tampak dewasa untuk remaja berusia enam belas tahun.
Benarkah usianya sama dengannya?
Avan mengambil sebuah figura foto di atas meja. Kemudian duduk di samping David.
"Ini adalah orangtuaku. Foto itu diambil saat kami pindah kemari."
David memperhatikan seorang ibu yang tengah hamil menggenggam lengan anak kecil berwajah bule dengan rambut pirang, kulit seputih salju, dan mata yang abu-abu—bukan biru seperti yang dikatakannya. Di sampingnya, seorang pria tinggi yang jelas berperawakan barat dengan mata abu-abu yang sama. Ayahnya sendiri.
"Apa yang terjadi pada mereka?"
"Mereka meninggal saat terjadi kebakaran hebat. Aku berhasil selamat."
"Apa yang kau lakukan setelah itu?" tanya David lagi.
"Aku tinggal beberapa tahun di panti asuhan sebelum akhirnya tinggal di rumah sendiri. Tapi tetangga sekitar sering memperhatikan dan membantuku. Aku sudah terbiasa hidup mandiri di sini."
Mereka mulai menggobrol satu sama lain. Pembicaraan mereka yang serius terganti dengan obrolan ringan. Mereka bercanda, bersenda gurau bersama, lalu bermain video game hingga tak terasa waktu beranjak petang.
"Van, aku pulang, ya. Takut kakakku khawatir. Lain kali aku main lagi kemari. Rumahmu menyenangkan."
"Mau aku antar?"
"Haha. Ah, kau ini. Memangnya aku anak kecil!" gelak tawanya lepas.
"Tenang saja, Van. Pasti kakakku cerita macam-macam padamu, ya?"
"Hmm ... tidak juga," balasnya mengangkat bahu.
David pergi meninggalkan rumah Avan. Pergi menyeberangi jalan dan masuk ke komplek perumahan Kie Light yang sepi.
Seorang anak sedang menatapnya di beranda rumah saat dia lewat.
"Hai, Kak!" sapa anak itu.
David hanya tersenyum tapi tak berhenti untuk sekadar membalas sapaannya. Dia berlalu pergi menuju rumahnya.
Langit semakin gelap.
Apa hari ini akan hujan?
Rasanya sore ini lebih gelap dari kemarin. Terdengar petir saling menyambar dan angin bergemuruh kencang.
"Kak, aku pulang!" sahut David di ambang pintu.
Kristine tak menyahut.
David masuk ke dalam. Menuju ruang belakang tapi tak ada Kristine di sana.
"Kak!" teriak David lebih kencang.
Mendadak dia terserang panik.
Dia langsung berlari keluar rumah.
Terkejut, saat anak itu menghalangi jalan dan hampir ditabraknya.
"Dik, apa kau lihat kakakku yang tinggal di sini?"
Anak itu mengangguk dan hanya menunjuk ke ujung jalan.
__ADS_1
"Ke mana Kristine, pergi tanpa mengunci pintu. Apa dia mencariku? Tapi aku kan tidak pulang telat," gerutu David.
Angin masih bergemuruh dan langit sesekali menyala. Petir terdengar menggelegar tapi hujan tidak turun sama sekali.
"Dik, temani aku, ya? Aku butuh kakakku. Mau, kan?" pinta David.
Anak bernama Margin itu hanya mengangguk dan tak berucap barang sepatah kata pun.
David kemudian menuntun lengannya dan mereka berdua menyusuri trotoar ke ujung jalan komplek perumahan.
Kabut mendadak muncul di sekitar mereka.
Tidak.
Bukan kabut tapi asap.
Asap itu menghalangi pandangan.
David terbatuk dan terus bergerak bersama anak itu ke ujung jalan yang tak terlihat.
Di depannya, dia mendapati sebuah pemandangan ganjil.
Bangunan terbakar.
Rumah-rumah terlalap api.
Kebakaran hebat melanda seantero kota.
Api dan asap membubung tinggi menjilat-jilat langit senja.
"Apa yang terjadi?"
"David!" teriak seseorang entah dari mana.
David menoleh ke belakang.
Anak yang sedang dituntunnya mendadak menangis dan menjerit kesakitan sembari memegangi kepalanya.
"Dik, kau kenapa?"
Anak itu tak mejawab.
"David!" teriak orang dari suatu tempat.
Terasa dekat tapi saat dia menoleh ke segala arah, tak ada siapa-siapa di sana.
"Dik," panggil David.
Anak itu menoleh.
Dua bola mata merah menatap tajam ke arahnya sebelum segalanya mendadak silau.
"David!" panggil orang itu lagi.
Setengah linglung David mulai bisa melihat dengan jelas.
"David, kau kenapa?" tanya Randie di depannya dengan raut wajah keheranan.
Dia baru saja pulang kerja. Turun dari bus yang membawa penumpang terakhir.
Dengan wajah yang sama-sama bingung, David melirik ke sana kemari. "Apa yang terjadi?"
"Justru aku yang harusnya bertanya. Sedang apa kau sendirian duduk di halte?"
"Aku ... aku ..."
Dia bahkan tak tahu.
Segalanya seperti mimpi.
Apa yang terjadi?
Dia tiba-tiba berada di situ. Seingatnya, dia baru saja pulang dari rumah Avan.
"Ayo, pulang! Sudah hampir gelap. Kristine pasti khawatir," kata Randie.
Anak itu mengintip dari sudut bangunan. Alisnya bertaut. Menunjukkan sinyal kebencian yang teramat kental pada lelaki itu.
__ADS_1
***