
Liang Gong-Bahrose City, 31 Desember 1997.
"Ceritakan pada Ayah apa yang sebenarnya terjadi di sekolah itu," pinta pria bule itu dengan paksa.
Avan yang berumur tujuh tahun kala itu terbaring di ranjang rumah sakit dan baru siuman setelah sebelumnya koma selama sebulan sejak tragedi sekolah terbakar.
Avan menangis.
Dia menggeleng tak ingin bercerita. "Jika aku cerita, Ayah akan mati."
"Hentikan itu, Avan. Tak ada yang akan mati. Ayah harus tahu apa yang dialami oleh ibumu dan semua orang yang mati di sana."
Avan kecil tetap ragu untuk menceritakannya tapi ayahnya terus memaksa hingga akhirnya dia berkata:
"Mereka dibunuh Burqa Lady. Dia menuntut balas dendam. Dia bilang padaku bahwa dia benci semua orang yang tinggal di sana. Sewaktu masih hidup dia dibakar oleh penduduk. Diteriaki penyihir. Diteriaki *** hanya karena dia memakai pakaian hitam timur tengah yang menutupi seluruh tubuhnya itu. Dia akan membunuh semua orang dan keturunannya yang pernah melakukan hal kejam padanya. Dan dia akan membunuh siapa pun yang menceritakan kisahnya pada orang lain. Aku takut. Aku takut dia akan membunuh Ayah."
Avan menangis sesenggukan.
Ayahnya tak menanggapi cerita itu. Dia berdiri dan hendak keluar dari kamar Avan.
"Ayah?"
Ayahnya menoleh. "Nak, sampai kapan kau akan mengarang cerita khayalan itu. Hantu itu tidak ada. Itu cuma khayalan."
Ayahnya berbalik meninggalkan anaknya di kamar itu sembari membawa sebuah berkas di tangannya. Hasil pemeriksaan Dokter yang mengatakan bahwa Avan mengalami gangguan jiwa.
Ayahnya berjalan ke lorong sebelah kiri dan pada saat itulah, sesuatu mengikutinya dari belakang—sang Burqa Lady.
"Jangan! Jangan Ayahku!" rengek Avan melompat dari ranjang dan berlari keluar.
Ayahnya sudah tergeletak di situ.
Tanpa nyawa.
Dunia yang Avan pijak mendadak berubah seketika.
Lorong rumah sakit terdistorsi.
Cat dindingnya mengelupas dan rontok berjatuhan.
Gambaran dinding penuh jamur dan lantai besi carang berkarat memenuhinya.
Ayahnya yang tergeletak lenyap entah ke mana.
Dan Avan kecil, tersesat di dalamnya.
Sang Burqa Lady berlari tunggang langgang setelah mengambil nyawa ayahnya. Ribuan rantai mendadak muncul dari setiap dinding hendak melilit iblis tersebut.
Sang Burqa melemparkan tasbihnya. Mengikat rantai-rantai itu menjadi satu kesatuan tapi tasbih itu putus. Butirannya tercerai berai. Berkelontang di lantai besi dan rantai itu berhasil meliliti raga sang Burqa hingga hancur berkeping-keping.
Ada sesuatu yang menghancurkan sang iblis. Dan sesuatu itu berasal dari belokan di ujung lorong—iblis lainnya.
Seorang pria berotot telanjang dengan tubuh penuh galur-galur darah dan kepala plontos penuh tato serta tindikkan di sekujur bagian tubuhnya merangkak. Sebuah rantai membelenggu lehernya seperti seekor anjing.
Pria itu merangkak kepayahan dengan kedua tangan berototnya, sementara bagian pinggang hingga kaki terkunci oleh sebuah peti mati yang diseret dengan begitu berat.
Di atas peti mati tersebut tertancap sebuah salib berujung runcing seukuran manusia dan sosok lain terikat di salib itu. Sosok remaja botak berpakaian pasien rumah sakit merah.
Sosok itu terikat dengan salib di bagian pinggang. Kakinya tak menyentuh peti—tergantung di udara.
Dia terpejam dengan kedua tangan menyatu seperti tengah berdoa. Di mulutnya terpasang selang oksigen, selang itu melilit bagian salib dan menggantung di tangan salib sebelah kanan—tergantung tabung oksigen yang besar. Di sekujur tubuhnya, dipenuhi jarum-jarum dengan selang-selang kecil saling melilit hingga ke bagian tangan salib sebelah kiri—tergantung berkantong-kantong darah, infusan, peralatan bedah, dan sebongkah jantung merah yang berdenyut-denyut.
Rantai yang membelenggu leher pria berotot terhubung dengan perut remaja itu.
Sedangkan di belakang peti mati itu, beberapa rantai terjulur. Menyeret dua Dokter dan tiga suster yang melolong meminta tolong.
Avan ketakutan setengah mati. Berlari sewaktu makhluk itu mendekat.
Suara langkahnya terdengar nyaring.
Makhluk itu terus bergerak di koridor rumah sakit dunia lain yang dipenuhi karat.
Di tiap ambang pintu kamar pasien, makhluk itu mendadak diam. Satu rantai melesat dan membelenggu seorang pasien kakek tua. Sementara dia mengabaikan kamar berisi pasien anak kecil. Seperti sengaja memilih siapa yang harus mati dan siapa yang dibiarkan tetap hidup.
Avan berlari dan tak henti-hentinya menangis tapi entah kenapa larinya begitu lambat. Makhluk itu bisa mengejarnya dengan cepat.
"Jangan lari, Nak, ke sini!" panggil makhluk itu—entah berasal dari mulut yang mana.
Avan terpojokkan.
Makhluk itu menyeret orang-orang ke dalam ajal mereka sendiri.
Dan Avan menjerit saat sosok yang tersalib itu membuka matanya.
***
Avan kecil terbangun sambil menjerit.
Jantungnya bergemuruh.
Dia mereguk udara seakan habis tenggelam. Tersengal kemudian bernapas kembali.
Kamar redup.
Cahaya remang.
Avan duduk di sebuah ruangan yang tak dikenal.
__ADS_1
Matanya mengedar ke setiap sudut ruangan yang baginya terasa lebih buruk dari bangsal rumah sakit.
Ingatan tumpang indih dalam benaknya. Berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya padanya. Tapi dia sama sekali tak ingat seakan dia telah tidur selama seabad dan baru saja terbangun. Atau, ini hanya mimpi buruknya yang lain?
Avan bangkit dari ranjang besi berkarat. Dia baru sadar bahwa dirinya telanjang, kotor, dan penuh luka memar.
Dia berjalan ke arah yang dianggapnya jendela, menyibakan tirai dan mendapati jendela itu tersegel oleh jeruji besi.
Avan panik.
Dia berlari ke arah pintu. Pintu besi yang juga dipenuhi gumpalan karat.
Dia menggedornya dengan kencang.
"Halo!" teriak Avan. "Keluarkan aku!"
Tangannya tergores karat besi yang mencuat.
"Keluarkan aku! Di mana aku! Tolong!"
Tak ada yang menyahut.
Avan terus berteriak hingga seorang wanita berpakaian biarawati terlihat mendekati pintu.
Avan dapat melihatnya dari lubang tempat menyodorkan makanan di bagian bawah pintu.
"Tolong keluarkan aku!"
"Ada apa?! Kenapa kau berisik sekali?!" sembur wanita itu.
"Di mana aku? Kenapa aku ada di sini. Keluarkan aku!"
"Bla bla bla. Hari ini khayalan apalagi yang kau alami!" cetus biarawati yang membawa nampan makanan. "Ini makananmu! Cepat habiskan! Aku tak ingin menunggumu seumur hidupku. Aku punya urusan penting dari sekadar mendengarkan dongeng dari anak tak waras sepertimu!"
Makanan disodorkan di lubang. Sepotong roti keras, semangkuk sup kental yang warnanya begitu keruh, dan segelas air berbau kaporit.
Avan tak menyentuhnya. Dia malah bingung. "Kenapa aku ada di sini?! Di mana aku?"
Biarawati itu sedang duduk di kursi dekat pintu. Bersilang kaki sembari mengikir kuku jarinya.
"Sudah tak waras dan kau pelupa, lagi?! Bisa-bisa aku ikutan sinting menghadapi anak-anak gila seperti kalian!"
"Aku tidak gila!" tukas Avan.
"Kau gila! Kalau kau tidak gila, tidak mungkin kau ada di sini!"
"Kenapa aku ada di sini?!"
"Ya Tuhan, apa aku harus menjelaskannya tiap hari padamu!"
"Keluarkan aku! Aku mau pulang! Aku ingin ketemu Mommy dan Daddy!"
"Baiklah, dengar baik-baik, ya bocah! Ini yang terakhir aku mengingatkanmu!" ucapnya membuka pintu kecil di daun pintu dan menatap mata anak itu dari sana. "Kau sudah berada di rumah sakit jiwa ini selama dua tahun!"
"Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak gila!"
"Tentu saja. Kau tidak gila, kau hanya tidak waras. Jika kau lebih suka dengan kata yang itu."
Avan menggeleng panik. Menolak ucapannya. Tapi ketika dia mengamati tubuhnya lebih jauh, dia merasa lebih tinggi dari yang dia ingat.
"Aku ingatkan sekali lagi. Kau berada di sini, karena kau telah membunuh ayahmu sendiri dan seorang suster di rumah sakit. Dan juga melukai seorang dokter. Beruntung dia selamat."
"Tidak! Tidak! Bukan aku yang membunuh ayahku! Iblis itu! Iblis itu yang membunuhnya!"
Wanita itu tergelak kembali. "Sungguh lucu sekali kau! Khayalanmu begitu tinggi! Apa itu versi lain hari ini? Bagaimana dengan kemarin kau bilang ayahmu dibawa malaikat atau peri atau kurcaci?"
"Itu bukan aku. Aku tidak gila! Aku tidak gila!" elak Avan menahan air mata yang hendak tumpah.
Sang biarawati—setidaknya dia memang mengenakan pakaian biarawati meski hanya dijadikan kedok untuk menutupi iblis di dalamnya—mengembuskan napas.
"Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan ocehanmu. Cepat makan makananmu!" gertaknya. "Siang ini aku dan pacarku ada acara. Kami, mau makan **** panggang yang lezat."
Dia mengeluarkan segepok uang yang dia sembunyikan di belahan payudaranya.
"Kau lihat ini! Uang ini diberikan oleh utusan dokter yang coba kau bunuh! Kau tahu tidak, kau itu anak gila paling beruntung sedunia. Biasanya anak-anak yang gila dan yatim piatu langsung kami kirim ke surga atau ... neraka. Karena, membesarkan anak gila yang tak akan mungkin sembuh hanyalah membuang-buang waktu. Membuang-buang uang dan tenaga. Kau divonis gila dan divonis tak akan pernah sembuh," dia tertawa jahat. "Tentu saja, itu menurut versi dokter kami di sini yang juga setengah gila. Ups!" tawanya tergelak lebih keras.
Dia bahkan kelihatan lebih gila dari semua orang gila yang di kurung di tempat itu.
Avan ngeri.
Dia ketakutan.
Tapi, tinggal di ruangan itu lebih menakutkan.
"Cepat makan atau kau takkan kuberi makan nanti malam!"
Avan menatap nampan makanan itu.
Mengangkatnya.
Mengerikan.
Makanan itu mengerikan.
Dia melihat ada jari manusia dalam supnya.
Dia melemparkannya ke dinding.
__ADS_1
Semua berantakan.
Nampan alumunium berkelontang di lantai.
"Keluarkan aku! Keluarkan aku! Aku tidak gila! Aku mau pulang!" pekik Avan histeris kembali menggedor pintu dengan keras.
"Anak gila kurang ajar!"
Dia mengeluarkan kunci dari dalam sakunya. Memilih kunci yang pas. Mendorong pintu dengan keras hingga menjemblak terbuka. Dari dalam roknya, dia mengeluarkan cemeti kecil yang dia sembunyikan. Dan menatap anak itu dengan raut wajah murka.
Avan mundur ke sudut ruangan.
Wanita itu mendekatinya dengan cemeti di tangan.
"Kemari kau! Aku akan menghukummu anak keparat tak tahu diri!"
"Aku tidak gila! Kau yang gila!"
Avan melirik pintu itu. Mencari celah untuk dia berlari dan kabur dari situ.
"Kemari, Nak. Ini tidak sakit! Rasanya seperti digigit semut!" seringai jahatnya tersungging.
Dia memecutkan cemeti itu ke udara. Suaranya yang nyaring, menciutkan nyali Avan hingga lututnya gemetaran.
"Tidak!"
Avan lari melewati ketiak wanita itu saat hendak meraih lengannya. Berlari berusaha menggapai pintu.
Sang biarawati gila memecut punggungnya.
Avan tersungkur. Darah menguar dari bekas pecutannya yang kasar.
Avan menjerit.
Wanita itu mencengkeram pergelangan tangannya dengan keras dan siap memecutnya untuk yang kedua kali.
Avan berontak. Menggigit lengannya hingga cemeti itu jatuh dan cengkeraman tangannya yang lain terlepas.
"Anak setan kurang ajar!" pekik wanita itu.
Sumpah serapah berhamburan dari mulutnya, mengotori kesucian pakaian dan salib yang dia kenakan.
Avan bergerak ke ambang pintu. Menarik pintu besi. Berusaha untuk menutupnya.
Tangan si wanita menahannya. Membuat tangan itu terjepit di pintu besi. Si wanita meraung-raung. Orang-orang gila yang terkurung dalam sel lain menimpali raungan itu dengan menirukan beragam suara hewan. Raungan demi raungan bersahutan memecah keheningan.
Avan berlari ke ujung koridor. Koridor itu bercabang. Dia tak tahu harus berlari ke mana. Tak ada pintu keluar yang terlihat.
Seorang pria tampan yang dikurung di sel—yang berbeda dari yang lain. Sel itu lebih terbuka, bersih, dan rapi—menjerit histeris. Pria tampan itu bersembunyi di balik selimut bergambar Mickey Mouse. Dia terus menjerit saat Avan kecil memandangnya dari luar sel.
Avan memutuskan untuk berlari ke koridor sebelah kiri.
Dia mengerang sakit.
Menangis dan ketakutan.
Baginya ini bukan rumah sakit jiwa.
Tak ada perawat.
Tak ada dokter.
Tak ada peralatan higinis.
Yang ada hanya sel.
Dan sel.
Dan sel.
Dan karat.
Dengan orang-orang gila terkurung tak terawat.
Ini bukan rumah sakit jiwa.
Ini penjara!
Si biarawati berdiri. Satu jarinya patah saat terjepit pintu.
"Papi! Papi!" teriaknya.
Seorang pria berotot berlari dari koridor lain.
"Anak sialan itu kabur! Cepat kejar dan bawa saja dia ke bawah!"
"Kau yakin? Bukankah masih ada yang mengunjunginya di luar sana?" tanya pria berotot yang tak lain salah satu penjaga Ligong Mental Hospital tersebut—penjaga khusus.
"Aku yang akan tanggung jawab! Akan kukatakan dia kabur setelah membunuh pasien lain!"
Pria yang dipanggil Papi itu tersenyum lebar. Menyeringai. "Baiklah."
Dia berlari mengejar Avan. Sementara sang biarawati mendekati sel bagus berisi pria tampan itu. Membuka selnya yang hanya diselot saja dari luar. Mendekati pria tampan gila yang histeris di balik selimut.
"Sayang, sayang, cup, cup, cup. Jangan takut, ada aku di sini. Anak tadi nakal. Papi bakalan kasih dia hukuman. Kamu tenang, ya." Dia mengelus kepalanya. "Sekarang kita mandi, terus kita makan **** panggang, kau suka, kan?"
Pria tampan gila itu terkekeh senang mendengarnya.
__ADS_1
***