Baros

Baros
Liang Gong 2


__ADS_3

Potongan-potongan tragedi itu silih berganti di pikirannya secara acak. Seperti film yang dipercepat.


Jerit tangis saling bergaung.


Orang-orang terjungkal.


Orang-orang mengambang di air.


Orang-orang mati.


Darah di mana-mana, menguarkan bau busuk yang menusuk.


Kegelapan mendekat dari berbagai arah, jengkal demi jengkal menelan segal hal.


Seringai tawa sang iblis bersahutan dari setiap sudut, menggema di setiap dinding kepalanya.


Membuatnya pening.


Membuatnya seakan hendak meledak.


Suara dirinya, Randie, David, dan Avan meramaikan kekacauan yang terjadi.


"Randie ..."


"Sayang ..."


"Kak ... aku takut!"


"David!"


"Avan, tolong!"


"Tenang, semua akan baik-baik saja!"


"Hahaha!"


"Kak, bantu aku ...."


"Tidak! Pergi! Pergi!"


"Aku sakit. Aku lelah."


"Jangan ganggu aku! Jangan ganggu keluargaku!"


"Temukan ja ... sadku!"


"Hentikan!"


"Haha!"


"Hahaha!"


"Hahahaha!"


...


...


...


"Mati kau perempuan jalang!"


Gambaran anak itu memenuhi kepalanya.


Anak itu berada di setiap sudut. Dengan mata hitam semua yang kemudian berubah semerah darah. Memaki-maki dirinya.


Lalu citra itu berganti menampilkan figur Randie yang berselimut darah. Mereka berada dalam kolam darah. Dan di sekelilingnya, ratusan manusia mati bertumpuk-tumpuk termasuk David dan Avan.


"Tidaktidaktidak!"

__ADS_1


Kristine meronta-ronta di atas ranjang.


Menjerit-jerit histeris.


Ranjangnya berdecit hendak roboh.


Pasien di ruang sebelah begitu ketakutan dan segera memanggil suster.


Seorang suster datang.


"Randie! Jangan Randie! Jangan David! Tidak! Jangan bunuh keluargaku!"


Kristine mengigau dengan mata terpejam.


"Nona Kristine, bangunlah! Anda tidak apa-apa?" kata suster itu.


Mata Kristine mendadak terbelalak selama dua detik sebelum mendelik tajam ke arah sang suster.


"Tidak apa-apa. Anda hanya mimpi buruk," kata suster itu tersenyum ramah menenangkannya.


Kristine melotot ke arahnya. Tanpa diduga-duga mencekik suster itu dengan kuat.


"Jangan bunuh keluargaku! Jangan ganggu keluargaku! Pergi kau iblis! Pergi ke neraka!"


"Dokter! Dokter! Tolong!"


Dokter datang menyuntikan obat penenang.


Kristine lemas dan terbaring kembali.


Suster itu terbatuk.


"Ini yang ketiga kalinya. Apakah jiwanya benar-benar tidak mengalami gangguan? Sebaiknya dia dipindahkan ke rumah sakit jiwa," saran suster memegangi lehernya yang memerah. Tampak gusar dan takut secara bersamaan.


"Dari hasil pemeriksaan, dia hanya mengalami trauma. Nanti akan aku bicarakan dengan keluarganya agar berkonsultasi dengan dokter spesialis kejiwaan. Sebaiknya kita pindahkan dia ke ruangan lain yang lebih pribadi. Apa ada ruangan VIP yang kosong?"


"Tidak ada. Semua ruang VIP telah penuh. Tapi ada ruangan kosong di sayap timur. Dekat kamar mayat," kata suster.


Dua orang suster lalu memindahkannya ke ruangan tersebut.


"Dia begitu menyusahkan. Seharusnya keluarganya memindahkannya ke rumah sakit jiwa saja," kata suster yang satu.


"Sebaiknya ikat saja tangannya. Daripada dia bangun dan melukai seseorang."


"Kau benar."


Suster itu kemudian masuk ke ruangan yang berada tak jauh dari kamar tersebut. Mengambil beberapa sabuk yang terdapat di salah satu loker. Sabuk-sabuk itu dia ikatkan ke kedua lengan dan sisi ranjang besinya. Dan mereka bergegas meninggalkan Kristine di ruangan tersebut. Sendirian. Di samping kamar mayat tempat Randie pernah bermalam di sana.


***


Avan baru saja beres mandi pagi saat David bangun dan duduk di sofa.


"Aku tidak ingin pergi sekolah," kata David.


"Hari ini adalah ulangan akhir semester," balas Avan masih berbalut handuk.


"Aku tak bisa. Aku tak akan bisa fokus!"


"Ayolah, jangan begitu. Ingat kakakmu, apa menurutmu dia akan senang mendengar adiknya mengabaikan pendidikannya?" kata Avan. "Ulangan hanya berlangsung seminggu. Setelah itu ada liburan akhir tahun."


"Percuma. Aku tidak belajar sejak seminggu lalu. Ulanganku akan jelek."


"Aku, akan memberimu contekkan. Bagaimana? Atau kau ingin menungguku di rumah ini sendirian?"


David mengembuskan napas dan seperti biasa, egonya menguap saat kata-kata Avan yang menenangkan meluncur dari mulutnya.


"Baiklah."


"Ya sudah, sekarang kau mandi dulu, sana!"

__ADS_1


"Avan, apa itu di perutmu?" tanya David saat matanya tertuju di situ.


"Hah?"


"Apa itu tato? Ada benang merah di pusarmu."


Dan seketika, Avan bergeming.


"Kau bisa melihatnya?"


"Ya ... kenapa? Apa itu?"


Avan mendekati David. "Apa kau bisa memegangnya?"


David mencoba menarik benang itu tapi benang itu menembus tangannya.


Benang itu begitu kecil seperti helaian rambut. Muncul dari pusar Avan yang dikelilingi sebuah tato? Berbentuk bintang hitam dalam matahari merah yang berkobar. Benang itu meluncur ke kakinya dan menghilang menembus lantai.


"Aku benar-benar tidak mengerti. Ini semua tidak masuk akal," kata Avan.


David hanya diam. Satu lagi hal gaib yang dia lihat dan satu lagi rahasia yang disimpan Avan darinya menunggu untuk dijelaskan.


"David, apa kau benar-benar tidak melihat sepasang hantu yang menumpang di mobil kita semalam? Apa kau tidak bisa melihat hantu-hantu di kuburan yang memperhatikan kita?"


"Apa maksudmu?! Aku tidak melihat apa pun! Jangan bercanda!"


"Ada hantu di mobil kita. Mereka menumpang dari kuburan hingga ke perbatasan Cirelat dan kau benar-benar tidak melihat?"


"Kau hanya bercanda! Aku tidak melihat apa pun!"


"Justru aku kira kau yang bercanda! Aku kira kau sudah berani dan berbohong padaku!"


David menggeleng. Kebingungan tampak jelas di matanya.


Avan berdiri di ujung sofa sembari memikirkan hal itu.


"Kau dan kakakmu tidak punya indera keenam. Dan kurasa bahwa kalian tak bisa melihat hantu jika hantu itu tak ada hubungannya dengan anak itu—jika hantu itu tak berada dalam dunia anak itu atau berada di dekatnya atau dekat dengan iblis yang dibangunkannya atau semacamnya."


"Lalu, apa maksudnya?"


"Kalian ... seperti dipilih olehnya secara khusus. David, apa ayahmu seorang paranormal atau sejenisnya?"


"Aku ... aku tidak tahu," David menggeleng. "Lalu benang apa itu? Benang apa di tubuhmu itu? Gambar apa yang ada di perutmu?"


Avan ragu.


Apa ini waktu yang tepat untuk membuka rahasia?


Apa dia berani untuk menceritakannya dan mengabaikan ancaman yang pernah dia terima?


Memori itu menyeruak. Membuka masa lalu yang sejak dulu selalu dia kunci rapat-rapat dari siapa pun.


"Aku telah dikutuk," kata Avan. "Dan kurasa ... kau dan Kristine telah mengalami hal yang sama."


"Apa itu buruk?"


"Takdirmu. Kau akan mengalami dua takdir. Kau akan mati atau kau akan mengalami hal yang lebih buruk dari kematian."


"Dan apa yang lebih buruk dari kematian itu?"


"Aku tidak tahu. Tak ada yang tahu sebelum masanya tiba. Aku mendengarnya dari sesuatu yang telah mengutukku. Sesuatu yang mengikatku dengan benang merah ini," ujar Avan. "Dan kau dikutuk oleh hal lain. Aku tahu itu. Hanya orang yang dikutuklah yang bisa melihat benang ini. Sekarang kita sama-sama telah dikutuk. Tapi, apa kau telah siap mendengarnya? Karena, jika orang biasa yang tak pernah mengalami kejadian gaib apa pun mendengarnya, dia bakalan mati."


Mereka berdua sama-sama mematung di tempat masing-masing untuk sekian detik.


"Aku akui aku cukup takut untuk menceritakannya. Tapi keputusan ada di tanganmu. Apa kau ingin mendengarnya, atau melupakan tentang kisahku dan kita segera berangkat ke sekolah secepatnya?" tanya Avan sekali lagi.


"Aku ..."


David sedikit ragu. Dia mengepalkan kedua lengannya. Keringat dingin tampak meluncur di pipinya. "Demi setan, ceritakan saja segala hal tentangmu saat ini juga!"

__ADS_1


Dan memori itu akhirnya tumpah. Membawa mereka berdua ke sebuah tempat suram bernama masa lalu.


***


__ADS_2