Baros

Baros
Renofill 5


__ADS_3

David fokus menyimak film dan tak sekalipun terpikir bahwa kakaknya belum juga kembali sejak tadi.


Avan menyadarinya. Ada kegelisahan dalam hatinya apalagi hantu penunggu bioskop yang seumur masanya hanya diam di pojok studio, kali ini malah turun dan berdiri di bawah layar.


Avan melihatnya dengan jelas. Mata yang begitu putih cemerlang dalam tubuh segelap malam.


Orangitam menatap setiap orang yang tengah duduk. Seperti mencari. Mencari manusia yang bisa melihat dirinya. Itulah yang selalu diinginkan setiap arwah penasaran. Mencari manusia spesial untuk dimintai pertolongan. Jelas bahwa Avan tak mau tahu mengenai hal itu. Dia sama sekali tak ingin lagi berurusan dengan hal gaib. Maka dia mengabaikannya dan ekspresi wajahnya dia atur untuk tetap tenang dan tak mencurigakan hantu itu hingga beranggapan bahwa dia bisa melihatnya.


Seorang ibu yang duduk di kursi paling depan mendadak resah. Dia lalu keluar studio dengan tergesa.


Orangitam mengikutinya dan berdiri di ambang pintu sembari bersungut-sungut tapi Avan tak dapat mendengarnya di tengah studio yang bergemuruh ini.


Film itu akhirnya tamat.


Lampu dinyalakan.


Orang-orang mulai meninggalkan studio.


"Ke mana Kakak? Kenapa dia belum juga kembali?" heran David.


"Ayo, mungkin dia menunggu di luar," kata Avan.


Mereka mengantre menuju pintu keluar.


Orang-orang saling berbincang mengenai film yang baru mereka tonton. Tapi dalam keriuhan itu, sang hantu terus mengucapkan sesuatu di ambang pintu, dan tak ada seorang pun yang menyadarinya atau bisa melihatnya kecuali seorang ibu yang berlari tadi dan Avan kira David pun tidak bisa melihatnya karena dia memakai kalung berlian.


Saat jarak mereka semakin dekat dengan sang hantu, Avan bisa mendengar apa yang hantu itu ucapkan.


"Jangan keluar! Siapa pun yang bisa melihatku jangan keluar! Ada iblis di luar sana! Anak itu telah membangunkan iblis tempat ini! Jangan keluar! Jangan keluar! Kau akan mati! Jangan keluar! Jangan keluar!"


Avan tak mengacuhkannya. Dia tetap berjalan di samping David. Saat Avan melewatinya, mendadak hantu itu berdiri tepat di depannya. Menghalangi pintu masuk. Tentu saja hal itu sontak membuatnya terdiam.


"Jangan keluar! Percayalah padaku! Jangan keluar! Tunggu sebentar lagi! Iblis itu berbahaya! Anak itu lebih berbahaya! Kau bakalan tersesat! Jangan keluar!"


"Siapa maksudmu?" tanya Avan dengan wajah datar.


Dia sama sekali tidak takut akan hantu. Hantu bukan iblis dan hantu tidak bisa menyakiti.


"Avan?" heran David di sisinya.


Dia bingung melihat Avan terdiam di sana. Memandang pintu hitam setengah terbuka tanpa ada apa pun yang menghalangi dan berbicara sendiri.


"Wanita karung," kata Orangitam.


"Sexy Benen tidak berbahaya. Dia manusia sepertimu—dulunya," bantah Avan.


"Dia berbahaya. Dia iblis. Kau tidak mengetahuinya. Selama ini dia sudah ditidurkan dan anak itu berhasil membangunkannya."


Avan tahu bahwa hantu di hadapannya ini berkata sungguh-sungguh. Dia dapat merasakan ketakutan di balik nada suaranya yang datar.


Sesosok hantu dapat merasakan takut. Meski terdengar lucu tapi itulah kenyataannya. Dan Avan mengetahuinya sejak dulu.


Avan tak ingin berbincang-bincang dengannya terlalu lama meski dia ingin menanyakan siapa anak kecil yang dimaksudnya. Dia tidak tahu sama sekali.


"Sampai kapan aku harus menunggu?" tanya Avan.


"Hingga ritual pengikatan selesai dan dia bebas seutuhnya. Kau harus pergi secepatnya setelah itu."


"Avan? Kau bicara dengan siapa?"


David mulai merinding. Dia menepuk bahu Avan beberapa kali sembari melirik ke sana sini.


"Kenapa kau berusaha membantu?"


"Aku bukan iblis ... dan anak itu—"


Cairan hitam muncrat mengotori Avan.


Baunya mirip oli.


Ada kawat berduri menembus tubuh hitamnya. "—diam di sini. Jangan sampai mereka tahu. Apalagi tentang masa lalumu ...."


Kawat berduri itu menyeret tubuh hitam sang hantu keluar dari studio entah dibawa ke mana.


Avan terpaku. Menatap tangannya yang berlumuran cairan hitam berbau oli dan minyak.


Dia tahu ini tidaklah nyata.


Hanyalah sebuah ilusi.


Permainan jahil sang makhluk gaib.

__ADS_1


Maka dia pejamkan mata selama sedetik dan saat dia melihat tangannya kembali, cairan itu telah lenyap seutuhnya. Tapi, untuk urusan dengan sang iblis, itu jelas berbeda. Avan pernah mengalaminya. Mengalami bagaimana rasanya neraka.


"Van! Van! Kau membuatku takut!" sergah David.


Avan menoleh padanya. "Maafkan aku."


"Kau baik-baik saja?"


"Ya. Tapi, sebaiknya kita tunggu dulu di sini. Ayo, kita duduk sebentar," kata Avan sembari tersenyum. Dan dia duduk di salah satu kursi paling depan.


"Van? Ada apa?"


"Percayalah padaku," katanya dengan ekspresi datar. "Tunggu sebentar saja. Hingga penonton selanjutnya masuk."


David menuruti perkataannya. Meski dia yakin ada yang salah, dia tak ingin menanyakan hal tersebut.


***


"Kakak, bantu aku ...."


"Pergi! Pergi dariku! Pergi!" jerit Kristine histeris.


Margin menghalangi jalan keluar.


Kristine melemparinya dengan buku-buku yang ada di situ. Satu buku tebal menghantam matanya. Darah hitam mengalir dan anak itu tetap berusaha untuk berbicara.


"Bantu aku ... bantu aku ...," ucapnya mengerang sakit.


Anak itu kejang-kejang seperti bola basket yang memantul-mantul dengan cepat.


Kristine mundur selangkah. Terjungkal pada tumpukan buku di belakangnya.


Kenapa? Kenapa dengan anak itu?


Dia sama sekali tak mengerti.


"Bantu aku! Bantu aku! Bantu aku!" ucapnya berulang kali seperti kaset rusak.


Lalu bergeming.


Dia menatap Kristine dengan mata sehitam batu neraka.


Ratusan benang hitam melilitinya.


Membentuk tangannya hingga tak keruan.


Bergumpal-gumpal dengan daging yang saling tercekik benang tersebut.


Benang-benang itu menjuntai ke lantai. Jumlahnya begitu banyak seperti rambut menembus lantai dengan ujung yang entah berakhir di mana.


"Aku lelah. Aku sakit. Kenapa kau tak ingin membantuku?"


"Apa? Apa yang kau inginkan?!"


"Temukan jasadku."


Satu anak panah menembus tubuh anak itu.


Satu.


Dua.


Tiga.


Berkali-kali anak panah menembus tubuhnya.


Sexy Benen berada tepat di belakangnya.


Anak itu terangkat di udara. Meronta-ronta. Menjerit-jerit meretakkan dinding kaca.


Kawat berduri menggulung mencekik lehernya.


"Tidak! Hentikan semua ini!" satu benang hitam terjulur dari dalam rok mini merah si wanita karung dan melilit tangan anak itu dengan kencang. Setelah selesai, anak itu dibanting ke lantai dan lenyap seketika.


Kini, makhluk itu—monster berkaki seksi itu—berdiri dalam jarak sepuluh meter.


Satu kawat duri menyeret sosok hitam yang meninggalkan galur memanjang di lantai.


Satu kawat lain menyeret pemuda yang tadi berbicara pada makhluk itu. Si pemuda tergolek dengan tangan buntung dan mulut yang robek.


Satu kawat lagi, menyeret leher seorang wanita.

__ADS_1


Mereka berontak mencoba melepaskan jeratannya masing-masing.


Apa semua itu hantu?


Atau manusia?


Kristine tak bisa lagi membedakan apa pun. Yang jelas, yang mana pun itu, makhluk itulah yang lebih berbahaya karena kini kawat duri yang terakhir mengarah kepadanya.


Peluru memberondong.


Anak panah berhamburan.


Jarum-jarum meledak dalam ruangan.


Menghancurkan buku-buku.


Beruntung dia berhasil menghindar dan mengendap-endap di antara rak.


Sexy Benen masuk ke dalam toko.


Kristine sudah mengambil ancang-ancang untuk lari keluar. Darah di tangannya sudah mulai membeku.


Saat sang monster masuk, Kristine mengendap dari satu rak buku ke rak lainnya. Suara jeritan yang ditimbulkan si pemuda membuatnya tak ketahuan.


Dia berada di satu rak terakhir dekat pintu. Wanita yang tengah di cekik kawat dan terseret di lantai itu melotot melihat Kristine.


"To-long ... to-long aku ...."


Kristine membekap mulutnya. Menyibak air mata yang kembali turun.


"Maaf. Maafkan aku," bisik Kristine pelan sebelum berlari keluar melewati pintu kaca.


Sexy Benen menyadarinya. Berondongan senjata tajam menyerbunya tanpa ampun.


Kristine berguling ke samping. Menarik rok panjang yang sedikit mengganggu pergerakannya. Menuju elevator di depan.


Kristine tak punya waktu untuk berleha-leha. Dia langsung saja loncat lima anak tangga sekaligus dan itu membuatnya terpeleset hingga terguling ke lantai bawah. Membentur gerobak aksesoris yang berdiri di samping elevator.


Kepalanya pening.


Luka di tangannya kembali terbuka.


Darah mengotori setiap lantai.


Di hadapannya, bermacam-macam kalung perak bersimbol agama berserakan.


"Ya Tuhan, tolong aku ... bantu aku ... selamatkan aku ...."


Kristine hendak meraih kalung-kalung itu.


Tak berhasil.


Sang iblis melilit kakinya dengan kawat berduri. Menariknya kembali ke lantai atas.


"Hentikan! Hentikan semua ini ...."


Iblis itu menaruh Kristine di atas birai depan void yang menembus langsung ke lantai satu. Wanita tadi berada di sampingnya, dan pemuda bertangan buntung ditaruh di samping wanita tersebut, dan yang terakhir, si hantu hitam.


Mereka berempat berdiri di atas pagar pembatas. Saling tercengkeram kawat berduri masing-masing.


Sexy Benen menatap mereka satu per satu. Seperti seorang algojo yang hendak mengeksekusi tawanan.


"Mati! Kita semua akan mati!"


Yang pertama adalah sang hantu. Kawat berduri itu melilitinya seperti mumi. Menghancurkan wujudnya hingga meledak mencipratkan cairan hitam.


Segumpal energi tampak mengalir seperti sinar kemerahan menjalar pada kawat berdurinya hingga masuk ke tubuh sang iblis.


Mereka bertiga menjerit histeris.


Yang kedua adalah pemuda itu. Dengan kawat berduri yang tadi digunakan untuk menghancurkan si hantu hitam, dia gunakan untuk menusuk perut si pemuda. Tidak. Bukan perutnya tapi kelaminnya. Kawat berduri itu terus mengorek-ngorek di dalam sana hingga cairan darah merembes turun ke bawah celananya beserta serpihan daging. Membanjiri pagar pembatas.


Si pemuda melolong hingga jeritannya akhirnya terhenti saat kawat itu masuk menembus perutnya dan keluar dari mulutnya.


Makhluk itu membelah perutnya jadi dua bagian dan melemparkan kedua potongan itu ke atap kaca di atas void hingga kaca itu pecah dan potongan tubuhnya terlempar entah ke mana.


Aliran sinar merah kembali menjalar di kawat berdurinya. Masuk ke dalam karung goninya.


Wanita di samping Kristine berontak dengan jeritan yang tertahan dan tak bisa dia lepaskan. Kawat berduri itu mencekiknya tapi belum membunuhnya. Kini, dua kawat lain menatapnya seperti ular kobra.


***

__ADS_1


__ADS_2