
David masih berpikir ini cuma mimpi dan khayalannya semata seperti yang sebelumnya pernah dia alami.
David memejamkan mata dan perlahan membukanya kembali.
Masih tampak sama.
Tak ada siapa-siapa.
Tak ada apa pun.
Hanya kekosongan.
Hanya keheningan yang menyelimuti segalanya.
Dia sadar ini bukan mimpi.
Ini nyata.
Ada sesuatu yang membuat semuanya jadi begini.
David berjalan kembali melewati gang menuju pintu belakang sekolah.
Hal aneh yang terjadi.
Dia tidak tahu arah jalan untuk kembali.
Semua gang serupa.
Dia berlari menyusuri setiap gang.
Dia merasa dirinya hanya berputar-putar di tempat yang sama.
Kelelahan dan ketakutan semakin mengusik batinnya. Kepanikan melanda dan berkali-kali David mencoba bergelut melawan ketakutannya sendiri agar semua ini tidak menjadi lebih buruk.
Di ujung gang di hadapannya, berdiri sesosok anak kecil berambut hitam berponi yang mengenakan baju oren dan celana pendek biru.
Margin tertawa melihat kepanikan. Dia langsung berlari ketika David memanggilnya.
"Hei, tunggu!" sahut David mengejarnya. "Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu!"
Anak itu tak menghiraukannya. Dia kabur menjauh dari David sambil sesekali terkikik riang.
"Dik, jangan lari!"
Tiba-tiba Margin menghilang sambil melambaikan tangannya dan tersenyum lebar.
Dia menghilang tepat di depan matanya.
Di samping pintu pagar belakang sekolah.
David begitu syok.
Dia ingin sekali berteriak.
Dia ingin pingsan.
Lebih baik pingsan agar tak perlu mengalami keanehan ini. Tapi hal itu tak terjadi juga dan dia harus mengalami ini seorang diri.
Setelah dirinya dikejutkan dengan hilangnya Margin, kini dia dikejutkan kembali dengan pintu pagar yang terkunci.
Dia terpaksa memanjat pagar setinggi satu setengah meter tersebut.
David berjalan ke tengah lapang sekolah.
Duduk di sana.
Menyembunyikan wajah dalam telapak tangan dan lututnya sendiri.
Keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya.
Dirinya teramat takut.
"Kak ... kau di mana?" ucapnya pelan berusaha menahan tangis.
Dia tidak tahu harus berbuat apa. Meskipun dia lari, dia tidak tahu harus ke mana. Tak ada orang yang bisa dimintai tolong ataupun tempat yang aman untuk membuatnya tenang. Menurutnya, mungkin semua kota telah mati seperti ini.
Akhirnya dia pun hanya bisa diam menahan sejuta ketakutan yang dia rasakan seorang diri.
Waktu terasa berjalan begitu lama.
David masih terduduk di sana.
Sekonyong-konyong anak itu muncul lagi di hadapannya dan mengulurkan tangannya.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya David heran.
Dia tidak yakin bahwa anak itu manusia. Tetapi wajah Margin yang 'manusia' berhasil membuat ketakutannya sedikit sirna.
"Namaku Margin."
Margin mengangguk mengulurkan tangan. Menyuruh David memegangnya.
Dengan ragu David menyentuhnya.
Anak itu memegangnya dengan erat.
"Ikuti aku."
Margin menarik lengan David.
David bangkit dan dia merasakan getaran terjadi di tempat yang dia pijak.
__ADS_1
Langit menggelegar.
Gedung-gedung bergetar.
Segalanya kacau.
Segala hal yang David lihat terdistorsi seperti video tua rusak dengan audio yang bergemuruh tanpa henti untuk waktu kurang dari sepuluh detik sebelum akhirnya segalanya hening.
Awan hitam yang menutupi langit terbelah menggulung sirna berganti cahaya matahari yang membanjiri seluruh daratan di bawahnya.
Ada yang beda dengan sekolahan tersebut. Seluruh bangunan berubah warna menjadi putih merah, jumlah bangunannya lebih sedikit dari yang David tahu, dan tak ada bengkel kerja teknik di sana. Yang ada hanya lahan kosong dengan taman yang cukup luas.
Sekolah itu tampak seperti sekolah dasar yang baru saja dibangun.
"Apa kau tahu apa yang terjadi di sini?" tanya David padanya dengan gamang.
Margin mengangguk.
Banyak anak-anak SD berlarian masuk sekolah.
Ada yang masuk ke dalam kelas.
Ada yang bermain di lapangan.
Ada juga yang sedang jajan di kantin sekolah.
Jika memang yang diperkirakan David itu benar, saat ini, dia sedang dibawa ke masa lalu. Entah oleh anak itu atau oleh sesuatu yang lain.
Bel sekolah berbunyi, anak-anak dengan tergesa masuk ke dalam kelas masing-masing dan memulai pelajaran.
Ada pula para orangtua kelas satu menunggui anak-anak mereka di luar ruangan.
Mendadak muncul asap tipis dari lantai.
Dinding.
Kayu.
Atap.
Semua barang yang berada di sekolahan tersebut.
David mengalami dengan jelas peristiwa itu.
Bahaya yang menjalar.
Bau sangit yang menguar.
Hawa panas yang merayap, meskipun tak ada api.
Semua orangtua dan anak-anak di sana tak ada yang merasakan hawa panas tersebut. Mereka duduk dengan manisnya hingga perlahan semuanya mulai menghitam.
David ingin pergi.
Margin menahannya. Tangannya mencengkeram erat lengan David.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
David menarik-narik lengannya agar terlepas dari genggaman anak itu.
"Kak, aku mohon, bantu aku ...," kata Margin menatap mata David.
David terlonjak kaget mendapati mata anak itu berubah semerah darah.
Margin tersenyum padanya menunjukkan deretan gigi seruncing piranha.
"Tidak! Kau! Kau!"
David terkejut bukan main.
Dia tarik lengannya sekencang-kencangnya hingga terlepas dari genggaman dan segera kabur menjauh dari anak terkutuk itu.
Bagaikan tinta yang tumpah di atas sehelai tisu. Kegelapan merangkak mendekati David dengan cepat dan menghanguskan apa pun yang dilewatinya dalam sekejap.
David berlari menyusuri koridor dengan terhuyung.
Segalanya terasa bergelombang.
Apa yang dia lihat dan dia pijak terasa begitu tak rata. Seperti tetesan air hujan yang jatuh di atas genangan air. Membuat kepalanya begitu pening. Tapi dia terus mencoba berlari karena kegelapan itu tak melambat melainkan menyerap mengejarnya.
Dia terjebak.
Tak ada jalan keluar.
Daratan menghitam.
Semua orang gosong.
Bahkan anak yang tengah berjalan di koridor itu hangus seketika seperti kayu yang tetap tegak tapi mati.
Dia berada di taman sekolah, tersungkur memeluk tugu di tengah taman.
David menangis memanggil nama kakaknya ratusan kali.
"Masuklah kemari. Buka pintunya!" sebuah suara terdengar dari balik pintu di belakangnya. Dalam bangunan yang tak terpakai itu.
"Siapa?! Kak? Kaukah itu?!"
"Buka pintu, cepat! Masuklah kemari!"
Itu suara wanita tapi dia tidak yakin itu adalah suara kakaknya. Aksennya seperti wanita timur tengah yang berusaha berbicara Indo.
__ADS_1
David bangkit memperhatikan kegelapan meraihnya, tapi seketika terhenti di hadapan tugu Belanda itu.
David berada tepat di tengah-tengah antara tugu dan pintu ruangan di belakangnya.
Dari kegelapan yang menghanguskan, muncul sosok-sosok hitam berbentuk anak kecil yang tengah berdiri mengepungnya.
"Kakak! Kakak! Kakak!" seru sosok-sosok hitam itu tanpa wajah.
Suara mereka bergemuruh meretakkan langit.
"Aku akan menolongmu, buka pintunya!" sahut suara wanita dari dalam ruangan.
Itu bukan suara kakaknya.
David dapat mendengarnya dengan jelas. Suara itu seperti suara wanita pelantun lagu-lagu rohani. Tapi siapa pun itu, dia pasti orang baik.
Sosok-sosok hitam di belakangnya menjerit-jerit memekakan telinga.
David mendekati pintu.
Kedua lengannya menarik pintu di hadapannya.
Selembar kertas berkeriut sobek.
Logam engsel pintu mendecit.
Apa yang telah dilakukannya sekonyong-konyong mengheningkan indera pendengarannya.
Dan ruangan itu gelap.
"Kak, Kakak?" panggil anak itu dari belakang seraya terkekeh. "Kakak tahu enggak kalau Kakak itu tolol!" timpalnya terkikik kembali.
David menoleh.
Margin berada di sana dengan mata sepekat jelaga—tidak merah dan tidak bergigi runcing. Di antara sosok-sosok hitam yang meraung-raung dengan tubuh yang retak bergalur-galur. Mata dan mulut hitam mereka meneteskan lava. Tapi David tak bisa mendengar jerit tangis mereka. Justru suara lain yang dia dengar. Suara itu berbisik dari balik pundaknya.
"Terima kasih," bisik wanita yang mengenakan burqa di belakangnya.
Sosok wanita di balik burqa hitam itu melenggang keluar dari ruangan. Melewati David, berjalan ke hadapan sosok-sosok hitam dengan lengan kirinya yang menenteng sebuah tasbih, dia mengempaskan tasbih itu ke sosok-sosok hitam tersebut. Kemudian mereka terjerat tasbih yang muncul mendadak di leher mereka.
Margin yang berdiri di hadapannya pun dicekik tangan sang burqa. Dan dari balik pakaiannya, muncul seutas benang hitam yang meliliti lengan kiri Margin dengan kencang. Benang-benang lain juga ada di lengan kirinya sebelumnya. Melilitinya hingga daging lengannya bengkak bergumpal-gumpal.
Mata hitamnya berdenyut-denyut timbul tenggelam dalam mata normalnya saat sang wanita burqa itu mencekiknya tanpa ampun.
"Kak ... bantu aku ... temukan jasadku!" lengking anak itu. Bersamaan dengan indera pendengaran David yang kembali dan ribuan lengkingan anak-anak berwujud hitam mengerumuninya, membuat gendang telinganya nyaris meledak.
"David, sadarlah. Kau tidak apa-apa?" tanya Avan khawatir.
"Van ...."
Air mata David turun tak terbendung.
Dia merengek seperti anak kecil.
Dia begitu takut.
Sangat takut.
Dia memeluk Avan dengan erat.
"Tenanglah. Semua baik-baik saja," kata Avan mengelus punggung David.
"Kau takkan percaya apa yang baru saja aku alami," balas David melepas pelukannya dan mengusap air matanya. Menahan rengekannya agar tak mengundang perhatian siswa lain.
"Aku tahu. Aku percaya padamu. Tenanglah. Jangan panik. Jangan takut. Tidak apa-apa. Tak perlu ada yang ditakutkan lagi."
Mata Avan tertuju pada leher David. Saat David mengikuti arah matanya, berlian itu tergantung di sana. Di lehernya.
"Tadi aku heran, saat listrik padam, kau berjalan keluar dan berdiri di sini tanpa bergerak sama sekali. Aku sudah berusaha menyadarkanmu. Tapi sepertinya kau tengah berada di 'tempat lain,'" ujar Avan mengutip kata terakhir itu dengan keempat jari tangannya. "Kupikir, berlian itu bisa membantumu sadar. Meski butuh waktu lama bagiku untuk mengingat soal benda itu."
"Terima kasih," balas David. "Kau menolongku. Tadi, aku mengalami hal buruk. Sangat buruk. Aku—"
"Dav, sst .... Sebaiknya kau tak boleh menceritakannya. Jangan tanya alasannya. Aku percaya padamu dan percayalah padaku, oke, " pinta Avan serius meski menyunggingkan senyuman.
David hanya mengangguk dan menurutinya.
Avan menggandeng pundak David, bersama pergi dari tempat itu menuju kelas.
"Tapi ...," kata Avan sedikit ragu, "Aku ingin bertanya satu hal padamu. Jawab saja ya atau tidak, mengerti?"
David mengangguk.
"Apa saat kau berada di 'tempat lain,' kau membuka pintu ruangan itu?"
"Ya, memangnya kenapa?" tanya David waswas.
"Tidak. Tidak apa-apa. Jangan khawatir," balas Avan buru-buru.
Senyuman Avan dan suara kalemnya berhasil membuat David tenang meski dia sendiri pun tahu ada kebohongan di balik kata-katanya itu.
Avan memasukkan kertas itu lebih dalam di saku belakang celananya.
Kertas yang dia temukan di dekat tugu itu, di bawah kaki David sebelum dia sadar.
Kertas sama yang pernah Kristine temukan di rumahnya.
Kertas dengan logo segitiga merah dan aksara aneh di tepiannya tapi Avan tahu itu adalah aksara Kiligh. Aksara sama yang terdapat di setiap tugu batu seantero kota.
Dan di tengah kertas tersebut terdapat sepenggal kalimat.
Jangan buka pintu itu atau kau akan membebaskan iblis yang terkurung di dalamnya!
__ADS_1