
Musik dansa pertama mulai berakhir.
"Aku menyerah. Gerakanku begitu buruk," kata Randie setelah beberapa kali dia menginjak kaki Kristine.
Kristine tertawa.
Mereka menepi.
"Di mana anak-anak?" tanya Kristine.
"Di sana!" tunjuk Randie dengan dagunya.
Yang lain kembali melanjutkan dansa dan menikmati hidangan tapi mereka berdua memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar tempat acara.
Randie dan Kristine mengikuti David dan Avan.
Mereka berempat kemudian menyusuri jalan setapak tersebut.
Di perbatasan kebun buah, ada seonggok kandang tapi tidak ada apa pun di dalamnya.
"Kandang apa itu?" tanya David.
Kandang kayu dengan atap genteng yang berlumut.
"Sepertinya bekas hewan ternak."
Kandang itu dibangun di atas tanah berpasir putih. Di belakangnya, terdapat belukar yang mengarah ke bagian hutan.
"Apa ini pasir pantai?" heran Kristine saat merabanya.
Mereka berkali-kali keheranan dengan tempat wisata ini. Tempat wisata alam ini terletak di daerah pegunungan tapi suasananya seperti di dataran rendah, pantai, atau hutan mangrove. Jalan setapak yang mereka pijak bahkan adalah pasir putih pantai.
Mereka mengikuti jalan pasir itu terus ke arah depan.
David dan kakak-kakaknya tidak menyadarinya tapi Avan mendapati area tanah hitam yang melintang membelah jalan setapak yang sedang mereka lewati di hadapan mereka. Tanah hitam itu membentuk semacam jalan—yang entah menuju ke mana—karena dia melihat jalan hitam itu berada di bawah semak-semak yang berada di sisi kandang yang lain. Dan dia yakin bahwa itu bukanlah jalan yang dibuat untuk pengunjung tempat wisata ini.
Ada empat kolam di sisi kiri dan kanan mereka. Warna air kolam itu berbeda satu sama lain. Ada yang berwarna hitam, putih, jernih, dan coklat keruh. Tak ada tanda penjelasan mengenai kolam-kolam air itu. Tapi sepertinya itu buatan manusia. Banyak masyarakat di kolam yang paling luas. Kolam lumpur keruh yang dalamnya hanya sebatas lutut itu dipenuhi anak-anak dan remaja seumuran David yang sedang bermain bola. Ada juga yang sedang perang bantal di atas sebilah bambu yang direntangkan di tengah kolam yang mirip petakan sawah itu. Sementara orang-orang yang lebih tua berjalan mondar-mandir di tepiannya dan tampak seperti tengah menangkap sesuatu semacam belut dan ikan-ikan gabus.
"Sepertinya atasanku memang tidak menyewa seluruh kawasan wisata ini," ujar Randie.
David tertarik melihat permainan mereka lebih dekat.
"David, awas bajumu kotor?" Sahut Kristine.
"Sepertinya itu menyenangkan. Andai saja tadi aku bawa baju ganti."
David berdiri di tepi kolam memperhatikan anak-anak bermain bola. Sedangkan para ibu berkotor-kotor saling perang lumpur dengan riangnya.
"Sayang, ayo kita ke sana! Kita duduk," ajak Randie pada istrinya menunjuk sebuah gubuk kecil di pinggir jalan berpasir itu. Sepuluh meter dari kolam.
Avan tidak mengikuti mereka. Dirinya lebih tertarik pada kandang tersebut. Dia merasa ada sesuatu yang janggal di situ.
Dia menyentuh kayu kandang tersebut. Bergerak ke pinggirannya, menyibakkan belukar itu hanya sekadar ingin tahu kenapa tanah di situ terlihat begitu hitam—tertutupi pasir pantai.
David memperhatikan kolam dan baginya itu tampak seperti kubangan air raksasa. Airnya begitu keruh. Cukup dalam. Apakah di dalamnya tidak ada hewan-hewan menakutkan misalnya ular? Ya, itu baru terpikir olehnya. Jika tadi dia ingat hal itu dia tak mungkin terpikir untuk terjun.
__ADS_1
Dia berjongkok di pinggiran. Meraba air keruh itu dengan tangannya. Lumpur itu baunya begitu menusuk—bau dari tanaman padi yang membusuk dan tanah sawah. Sepertinya kolam itu memang awalnya adalah sawah.
David melihat sesuatu sama-samar berenang di air keruh itu. Ada ikan kecil timbul tenggelam dan dia berusaha menangkapnya.
Kristine mendadak merasa begitu tak nyaman berada di sana.
"Sayang, kau tidak apa-apa? Kau kelihatan sakit?" kata Randie.
"Aku tidak apa-apa. Aku ingin makan makanan penutup yang kulihat di meja tadi. Maukah kau mengambilkannya?" pinta Kristine.
"Tentu."
Randie pun beranjak dari tempat duduknya.
Kristine memandang ke depan tapi David sudah tidak ada di sana. Dia melirik ke kanan kiri. Dia pun tak melihat keberadaan Avan. Entah kenapa mendadak kepalanya begitu pening. Berdenyut-denyut. Dan telinganya berdengung.
"Kau! Pergi! Pergi dari sini!"
Kristine terperanjat.
Suara itu terdengar dari suatu tempat dekat gubuk tersebut.
Dia berdiri, menoleh ke belakang.
Tak ada apa pun.
"Bahaya! Dia akan membunuhnya! Cepat pergi!"
"Siapa? Siapa itu?"
Menggema.
Memantul-mantul di angkasa. Di antara pohon-pohon. Di antara kericuhan orang-orang yang berada dalam kolam.
"Adikmu ... Margin akan mengganggunya ... Tidak, Margin! Jangan!" suara itu berakhir dengan jeritan seorang perempuan.
Kristine mencengkeram lipatan gaunnya erat-erat. Bulir keringat meluncur dari kening ke pipinya.
"David!"
Kristine mengedarkan pandangan ke sekitar.
David tak ada di mana pun.
"David!" panggil Kristine lebih keras.
Tak ada jawaban darinya.
"Avan!"
Kristine mendekati kolam lumpur itu. Jejak sepatu David tercetak di pinggirannya. Di tempat dia berdiri tadi dan tak ada tanda-tanda David beranjak dari situ.
"David!" teriaknya sekali lagi ke arah orang-orang dalam kolam yang begitu ramai.
Matanya mengedar.
__ADS_1
Memindai setiap orang.
Tak ada di mana pun.
Di antara orang-orang itu, Kristine mendapati sesuatu. Seorang anak kecil berambut mirip batok kelapa tersenyum ke arahnya.
Seseorang melintas di hadapannya dan anak itu kemudian lenyap.
Ada sesuatu yang bergerak di air dengan cepat seperti ular. Riak air tercipta mengikuti gerakan—entah apa—di dalam sana.
Mendadak muncul sesuatu dari dalamnya, menyebur ke udara.
"Kak!" teriak David sekencang-kencangnya.
"Tidak! David! David!"
Ada sesuatu yang menariknya di dalam air keruh itu.
Tanpa pikir panjang Kristine menceburkan diri ke dalam kolam. Mengejar David yang timbul tenggelam di bawah air keruh.
"Tidak! Jangan adikku! David!"
Langkah Kristine melambat. Gaunnya yang basah kian berat dan ujung lancip sepatunya, terjerembab dalam lumpur di bawah kolam.
Orang-orang menghentikan keceriaannya. Memperhatikan Kristine dengan penuh tanda tanya.
Kristine tak peduli. Matanya memandang ke sekitar kolam. David berada tiga meter di depannya, berusaha untuk melepaskan diri dari—makhluk terkutuk—apa pun yang menariknya.
"David! David!" jerit Kristine berkali-kali.
Dia menangkap bahu David sebelum makhluk itu menariknya kembali. Mencengkeram jasnya. Menariknya ke dalam pelukan.
"Kak!"
David terbatuk-batuk. Seluruh tubuhnya penuh lumpur.
Makhluk yang menarik David ada di hadapan mereka.
Mereka tidak tahu apa itu.
Lengan berselaput itik.
Kepala bertempurung.
Mata sepekat tinta.
Kulit hijau selicin katak.
Deretan gigi piranha.
Tampak seperti Kappa.
Orang-orang yang memperhatikan mendadak histeris dengan keberadaan makhluk buruk rupa itu. Mereka kalang kabut berusaha keluar dari kolam.
Sang Kappa, menyunggingkan seringai pada mereka dan langsung menyelam kembali ke dasar kolam.
__ADS_1