
Avan terus berlari menyusuri koridor panjang.
Menuruni undakan.
Keseimbangannya goyah.
Dia terguling ke lantai dasar.
Tubuh telanjangnya membentur lantai keramik yang keras.
Tangisnya tak bisa dia bendung tapi dia tak ingin menyerah.
Dengan kekuatan kecilnya, dia terus berlari.
Sebuah jendela berjeruji tampak di depannya. Cahaya matahari masuk dari luar dan dia yakin bahwa pintu keluarnya berada di sekitar sini.
Dia membuka pintu di sebelah kanan.
Dia begitu terkejut saat dua tangan merangkulnya dengan kasar.
"Lepas! Lepaskan aku! Aku mau ketemu Daddy!"
"Di sini tidak ada Daddy, Nak! Adanya Papi. Mau, kan, sama Papi?"
Avan berontak. Menjerit saat pria berotot itu menggotongnya di pundak dan membawanya ke sebuah tempat gelap di bawah tanah.
Sebuah pintu besi dibuka.
Keran air dinyalakan.
Air mengguyur dari pancuran di ruangan berkeramik putih.
Pria itu melepaskan Avan. Membiarkannya terguyur air yang deras seperti hujan.
Air membasuh luka di badannya.
Terasa perih.
Mata abu-abunya menatap sang monster dengan ketakutan yang luar biasa.
Dan monster itu kini berada di depannya.
Siap memangsanya bulat-bulat.
Pria berotot itu melepas seluruh pakaiannya.
Menyeringai.
Memojokkan Avan.
Memainkan kelaminnya yang menggeliat bagai predator.
Avan menggeleng berlari, menyibakan tirai plastik yang menutupi ruangan mandi dengan ruangan di sebelahnya. Dan yang dia lihat di sana sangatlah mengerikan.
Ini bukan penjara. Apalagi rumah sakit jiwa. Ini neraka!
Tubuh anak-anak tergeletak di atas meja.
Terpotong-potong.
Dimutilasi.
Tercerai-berai.
Kulit-kulit manusia digantung di tali jemuran.
Bagian tubuh, tangan, dan kaki memenuhi tiap ember.
Organ tubuh mereka—dari jantung, paru-paru, ginjal, hingga ke mata, dan otak terbungkus rapi dalam boks-boks berisi es.
Sementara sisanya yang tak berharga dimasukkan ke dalam kantong-kantong sampah.
Avan gemetaran.
Dia lunglai.
Dan dia tak bisa berpikir apakah semua ini bisa lebih mengerikan lagi.
"Kau sedang melihat makananmu, Nak. Bagaimana, rasa mereka? Lezat, bukan?" bisik pria itu memegang pundak kecilnya yang basah dan gemetaran.
Avan menangis tertahan. Pemandangan mengerikan ini membuatnya terkencing-kencing tanpa dia sadari. Matanya melirik sang predator yang memeluknya. Senyumnya tersungging kian lebar, lidahnya menjilat bibirnya sendiri. Bersiap melahap hidangan lezat di hadapannya. Dan Avan belum tahu apa yang hendak pria itu lakukan terhadapnya sampai dia mencengkeram lengan kecilnya dan membantingkan tubuhnya ke lantai.
"Mommy ... Daddy ...."
Lengan mungilnya menggapai-gapai lantai yang basah di saat predator itu menindihnya dan melakukan hal bejat terhadapnya.
Bokongnya dimasuki gumpalan terkutuk itu hingga robek. Gumpalan daging yang bahkan lebih besar dari tangan mungilnya.
Avan meraung.
Sang predator tertawa penuh kepuasan. Dia mencecar anusnya tanpa belas kasih.
__ADS_1
Darah merembes dari bokongnya. Terbasuh air ke tempat pembuangan.
Avan menjerit di sisa tenaga yang tersisa.
Percuma, lolongannya tak akan pernah tembus keluar dari ruangan itu.
Tubuhnya disodomi berkali-kali secara brutal.
Dengan ganas.
Hentakan demi hentakan yang merenggut nyawanya jengkal demi jengkal.
Avan kehilangan banyak darah.
Tubuhnya tak berdaya.
Tak sanggup untuk berontak.
Bahkan menangis.
Dirinya Terombang-ambing di ujung tanduk yang hendak membawanya ke dalam ajal.
Monster itu menghancurkan tubuhnya.
Melumatnya.
Mencabik-cabiknya dari dalam.
Mata Avan melayang ke tumpukan mayat itu. Ke dalam kepala berongga yang menggelinding tanpa mata.
Jeritan bersahutan di sekeliling ruangan.
Ketakutan anak-anak.
Kenangan tumpang tindih.
Gambaran anak-anak memenuhi kepalanya.
Anak-anak yang diperkosa monster itu.
Disiksa.
Dihancurkan dalam beragam cara.
Dan diakhiri secara sadis.
Dijagal.
Sebagian tubuh dimasak, dibagikan ke seluruh penguni neraka ini.
Sisanya dibuang di antah berantah.
Kini, hantu-hantu mereka bermunculan memenuhi ruangan.
Dan hanya Avan yang bisa melihat mereka semua.
"Tolong ... tolong ...," lirihnya pelan, bahkan tak terdengar sedikit pun.
Lengannya menggapai-gapai udara.
Mata lemahnya menatap hantu-hantu buruk rupa itu yang hanya diam menontonnya dihancurkan.
Sosok hitam muncul dari latar belakang.
Apakah itu malaikat pencabut nyawa?
Gaun hitam compang-camping berkibar-kibar di udara.
Kedua bola matanya yang biru menatap dari tudung kepala yang gelap.
Sebilah sabit raksasa dia genggam di lengan kanan.
Lengan lainnya terulur pada Avan.
Lengan yang kurus kering tapi memberikan kehangatan yang mendamaikan.
Jari makhluk itu kemudian menyentuh jemari Avan sebelum dia akhirnya memejamkan matanya.
"Aku akan menolongmu. Aku akan membalas rasa sakitmu. Akan kuberikan kau separuh milikku. Sebagai gantinya, berikan jiwamu. Berikan takdirmu untukku. Hanya untukku. Selamanya ...."
Suara itu bergema.
Embusan napas menyeruak ke dalam mata Avan yang terpejam. Mengubah matanya menjadi sebiru intan yang cemerlang—warna mata yang sama dengan makhluk tersebut.
Sebuah gambar tercipta di perutnya. Gambar bintang hitam dalam matahari merah yang berkobar.
Seutas benang masuk ke dalam pusar.
Mengikat jiwanya.
Ikatan yang menghubungkan mereka berdua hingga akhir hayat.
__ADS_1
Setelah itu, hanya putih yang terlihat.
Hanya kehangatan yang dia rasakan.
Meski begitu, Avan tahu yang terjadi selanjutnya.
Apa yang dilakukan sang makhluk berjubah hitam itu.
Benang merah itu, membuat mereka saling terkoneksi satu sama lain.
Makhluk itu berbeda dari semua iblis yang terdapat di kota ini.
Dia bukan berasal dari tempat ini.
Dia datang dari jauh.
Dari sebuah tanah di timur.
Dari dunia lain yang berbeda.
Dia muncul dan menampakkan wujudnya di dunia nyata, bukan malah menyesatkan orang-orang ke dalam dunia yang diciptakannya.
Dia tak punya misi di tanah ini.
Dia tak punya dendam terhadap siapa pun.
Dia datang bukan untuk kehancuran.
Dia hanya datang untuk anak-anak.
Dia menyukai anak-anak.
Dia tidak baik.
Dia hanya iblis yang cerdas.
Dia bisa memilih anak mana yang ingin dia langsung lahap, yang ingin dia jadikan pasukan, dan anak mana yang ingin dia biarkan hidup demi tujuan tertentu di masa depan.
Dia memilih untuk menolong Avan. Membalas rasa sakitnya di tempat itu.
"Kau, ingin aku menghukum siapa?" tanya iblis itu.
"Semua ... semua ...," kata Avan lemah.
Dan dia sendiri tak menyadari ucapannya sendiri.
Tak bisa berpikir akan hal itu.
Tak bisa paham.
Dia masihlah anak-anak, maka dia sendiri tak tahu apa yang telah diucapkan mulut mungilnya.
Iblis itu tersenyum lebar. Menampilkan deretan gigi putih cemerlang di antara wajahnya yang pekat.
Dia mengangkat sabit berkaratnya dan membantai semua orang yang ada di sana—semua orang, semua makhluk hidup—tak terkecuali. Pasien gila, suster gila, dokter gila, penjaga dan pengurus gila, serta pengunjung rumah sakit jiwa yang "waras" dan tak bersalah ikut mati dalam genosida yang dilakukan sang iblis. Iblis yang menyebut dirinya sebagai Oni—sang Raja Sandekala.
Semua orang mati.
Hanya Avan yang selamat.
Yang tersisa.
Terbaring sekarat di atas tumpukan mayat.
Di tengah semburan darah.
Di antara potongan daging sang predator yang kini termutilasi hingga ke tulang-tulang, meninggalkan sepotong kelamin utuh yang terlepas dari anusnya, saat maninya merembes keluar bersama darah dan kotoran.
Seseorang datang entah dari mana. Merangkul tubuh kecil Avan.
"Daddy ...," gumam Avan setengah sadar.
Segalanya tampak membingungkan.
Dia terombang ambing di antara kenyataan dan mimpi.
Hidup dan mati.
"Maafkan aku, Nak. Aku telat datang," pria itu sesenggukan.
Wajahnya bercahaya.
Hanya cambang di dagunya yang bisa Avan ingat.
Dan itu bukan ayahnya.
Itu orang lain.
Orang yang sama, yang membawanya ke rumah sakit di tragedi sekolah terbakar yang dia alami.
***
__ADS_1