Baros

Baros
Renofill 4


__ADS_3

"Hore, aku menang!" seru anak itu berdiri di atas kursi.


Ibunya menyuruhnya tetap duduk tapi dia mengabaikannya.


"Ah, aku kalah," kata David mengusap wajahnya.


"Mana koinnya?" pintanya.


"Ini," kata David memberikan sisa koin permainan yang dia punya.


"Mau main lagi?" tanya anak itu.


"Sudah cukup. Aku nyerah."


Kristine, Avan, dan ibu anak itu tertawa.


David bangkit dari kursinya. Membiarkan anak itu bermain sendiri.


"Kak, kita nonton saja. Ini sudah siang," ajak David.


Mereka bertiga memasuki bioskop. Memilih film roman berjudul Silent Valentine.


Studionya begitu penuh dan mereka beruntung masih ada kursi yang tersisa di bagian depan.


Lampu mulai dipadamkan.


David duduk di tengah sembari mengunyah popcorn.


Meski di dalam gelap tapi dia tak begitu merasa takut karena begitu banyaknya orang-orang yang menonton.


Avan duduk di samping kirinya. Tak memedulikan akan keberadaan hantu yang mematung di sudut atas studio. Ya, dia sempat melihatnya tadi. Dia bisa melihat hantu—tentu saja—dan dia sudah tahu bahwa bioskop tersebut terutama studio 6 memiliki penunggu. Karena dia sudah pernah melihatnya dulu tiap kali menonton di bioskop ini sebelum mendapatkan kalung berlian jimat itu.


Orang bilang hantu itu disebut Orangitam. Seluruh tubuhnya hitam seperti diguyur tinta. Menyisakan dua bola mata putih jernih.


Hantu itu hanya diam di pojok atas, ikut menonton film yang ditayangkan.


Lain halnya dengan Kristine, sedikit waswas kalau-kalau anak itu muncul di tempat gelap ini meski sedari tadi dia tak mendapati apa pun dan tak mungkin anak itu menempati kursi yang sudah penuh begini. Maka, mereka pun mulai menonton film tersebut dengan fokus dan santai.


Film Silent Valentine dibuka dengan seorang pemuda berkacamata menunggu di balik benteng sekolah. Setangkai bunga mawar dan sekotak coklat dia sembunyikan di balik badannya. Dengan sedikit gugup pemuda itu menunggu seorang gadis keluar dari gerbang sekolah. Hendak mengatakan cinta pada si gadis. Tapi si gadis malah keluar dengan seorang pemuda lain.


Musik sedih mengumandang dan remaja-remaja perempuan yang menonton mendadak sesenggukan. Termasuk Kristine yang mengelap sedikit air matanya.


"Kenapa menangis?" tanya David.


"Bodoh. Memangnya kau tidak merasa sedih? Memang di sekolahmu dulu kau tidak punya gadis yang kau suka terus direbut orang," kata Kristine.


"Tidak ada."


"Mungkin karena kau tidak suka perempuan."


David tampak berpikir sejenak seolah telat mencerna perkataan Avan, sebelum akhirnya membantah. "Kurang ajar!"


"Sstt," bisik orang di belakang mereka menyuruh diam dan menikmati film dengan tenang.


Adegan film berlanjut jauh ketika si pemuda pendiam itu dirundung oleh teman-teman sekelasnya, dicacimaki, dan dilecehkan tanpa ampun.


Pada saat adegan tersebut, Davidlah yang terdiam.


Ikut sedih.


Teringat akan sekolah sebelumnya di mana teman-temannya melakukan hal yang sama karena dia memiliki phobia meski tak separah dalam film tersebut.


Avan yang merasa simpati kemudian menyentuh tangannya dengan ragu.


Dan David hanya diam saja.


Adegan berlanjut pada aksi kejar-kejaran. Jatuh bangun antara kisah cinta si gadis nakal dan pemuda pendiam, bersama seorang kakak penyuka sesama jenis yang sedikit gila. Di mana si pemuda lebih memilih sang kakak yang maniak ketimbang gadis yang selama ini mencintainya begitu dalam.


"Dav, kalau kau ada di posisi pemuda itu? Kau bakalan milih siapa? Si gadis cantik atau kakaknya?" bisik Avan.


"Hmm ... sulit. Aku ingin dua-duanya," jawabnya sambil tergelak.


"Jangan serakah," balas Avan.


"Mmm ... aku akan memilh orang yang mau melindungiku saja. Aku tidak terlalu mementingkan jenis kelamin. Tapi bukan berarti aku suka sesama jenis," kata David.


David memang memiliki banyak phobia tapi jelas bahwa dia bukanlah seorang homophobia.


"Bagaimana denganmu?" tanya David gantian.


"Aku. Aku menyukaimu."


"Ha-ha-ha. Lucu," balas David tertawa sinis.


Dan David tidak pernah tahu bahwa ucapan Avan adalah sebuah kebenaran.


"David, aku mau ke toilet dulu," kata Kristine tak kuat menahannya padahal film tengah seru-serunya.


"Jangan lama-lama."


Kristine berjalan dengan tergesa ke luar. Pintu itu mengarah ke luar dari area bioskop.


Dia berlari menuju toilet yang terletak di ujung cukup jauh. Toilet wanita itu terkunci dan dia tak bisa membukanya. Tak ada seorang petugas pun di sekitar toilet.


Dia melirik kanan kiri dan ternyata sepi. Segera saja dia masuk ke dalam toilet pria yang tak terkunci.


"Astaga!" Kristine terkesiap.


Hampir saja dia kencing di celana.


Ada seseorang di dalam sana.


Di depan wastafel.


Berdiri di depan cermin.


Spg berkarung goni—berkaki seksi—yang dipanggil Sexy Benen itu.


Spg itu menoleh ke arah Kristine. Matanya mengintip dari lubang kecil di depan karung sembari membungkuk dua kali.


"Maaf. Permisi," cepat-cepat Kristine masuk ke dalam salah satu bilik dan menguncinya.


Tak memedulikan spg tersebut dan membuang apa yang ingin dia keluarkan sedari tadi.


Di luar, terdengar suara sesenggukan. Sepatu bertumit tingginya gemeletuk di lantai marmer.


Apa dia menangis? Apa yang dia tangisi?


Kristine menggelontorkan air. Bersiap untuk keluar tapi entah kenapa dia sedikit ragu.


Dia kemudian duduk kembali di kloset. Menunggu hingga spg itu keluar dari toilet.


Ada sebuah tong sampah tertutup di ujung bilik. Secerca kain menjuntai dari dalamnya. Karena penasaran, dia membukanya. Berisi dua potong pakaian kotor—pakaian wanita—dan dari dalam sakunya, Kristine menemukan secarik kertas.


Tangan Kristine gemetaran.


Rasa kagetnya semakin menjadi saat membuka lipatan kertas tersebut.


Logo segitiga merah dan aksara aneh yang sama tercetak di tepiannya beserta kalimat-kalimat tertulis di tengah-tengah.

__ADS_1


****Ini belum terlambat. Kau punya dua pilihan.


Tinggalkan kota ini secepatnya.


Bantu anak itu. Turuti keinginannya**.


Tinggal di kota ini dan tak melakukan apa-apa hanya akan membuatmu celaka. Jika kau menemukan surat ini, berarti kau sudah bertemu dengan makhluk itu. Berhati-hatilah, dia amat berbahaya.


***


Kini pikiran Kristine terpacu.


Siapa? Siapa yang menulis surat ini?


Dia yakin bahwa ini bukan kebetulan. Ada seseorang atau sesuatu yang tengah memberinya petunjuk.


Tapi apa?


Surat tersebut nyata.


Kertas itu bukanlah benda gaib.


Dia bisa menyentuhnya dan itu kertas biasa.


Bahkan dua surat yang dia temukan di rumah masih tersimpan.


Apakah ada orang yang sengaja menaruhnya untuk Kristine—atau orang-orang seperti dirinya—temukan?


Kristine tak bisa berpikir terlalu jauh. Yang dia pikirkan adalah kalimat terakhir.


Makhluk itu ... amat berbahaya.


Makhluk apa?


Makhluk yang mana?


Apa anak itu?


Kristine teringat perkataan anak itu tadi. Margin bilang, 'dia' sangat berbahaya.


Apa maksudnya spg itu?


Tapi spg itu bukan hantu.


Bukan makhluk.


Avan pun bisa melihatnya.


Apa yang berbahaya dari seorang sales wanita?


Si Spg masih terdengar menangis di luar dan Kristine masih waswas dengan penemuan-penemuan gaib ini.


Dia masukkan surat itu dalam tasnya dan memberanikan diri keluar dari bilik kloset.


Si spg menunduk-nunduk.


Mata Kristine tertuju pada tali karung yang kendur di bagian pinggangnya.


"Anda tidak apa-apa?" tanya Kristine.


Dia enyahkan rasa takutnya dan pikiran negatif itu.


Dia merasa kasihan.


Dia pikir mungkin spg itu kesusahan untuk membuka karung goninya. "Sini, biar saya bantu?"


Kristine mendekatinya dan menarik simpul tali yang mengikatnya. Tapi spg itu merasa enggan dengan menggeliatkan badannya saat Kristine menarik simpul itu hingga terlepas.


Tergerai jatuh ke lantai.


Kristine membelalak.


Itu usus!


Usus manusia!


Tergerai seperti ular dan menguarkan bau busuk yang menusuk.


Sebelum Kristine menarik lengannya dari karung goni itu, sebilah pisau mencuat dan menusuk lengan kirinya.


Rasa syok membuatnya tertegun selama sedetik yang terasa begitu lama.


Sembari mengamati lengannya yang mengucurkan darah, dia berusaha mencerna segalanya.


Itu darahnya.


Itu nyata dan dia merasakan kesakitan yang amat luar biasa.


Dia mundur dua langkah membentur tembok bersama dengan jeritannya yang tak tertahankan.


Si spg menarik ususnya yang tergerai masuk kembali ke dalam karung goni dalam sekejap dan tali itu mengingat kembali karung dengan sendirinya hingga ketat.


Tiba-tiba desingan peluru tercetus.


Sebuah lubang tercipta tepat di samping telinga Kristine.


Kristine panik.


Dia takut dan kesakitan.


Moncong pistol muncul dari dalam lubang di tengah karungnya dan peluru melesat kembali keluar.


Kristine berhasil menghindar.


Dia kemudian berlari membuka pintu toilet sembari memegang lengannya yang mengalirkan darah segar.


Dia berlari dan tak bisa membendung tangisnya.


Aliran darah mengucur di sepanjang koridor.


Sexy Benen mengejarnya dengan lincah. Sepatunya, menciptakan melodi angker yang menciutkan nyali saat dia melangkah.


Peluru melesat ke sana sini dan yang bisa Kristine lakukan hanya berlari.


"Tolong! Tolong!" teriaknya berkali-kali.


Jeritan tak hentinya menggema.


Sewaktu dia sampai di area tengah lantai tersebut, hal yang mencengangkan dia dapati.


"Ke mana? Ke mana semua orang?!"


Tak ada apa pun di sana.


Tak ada siapa pun.


Semua hening.


Semua lenyap.

__ADS_1


Peluru melesat menembus tong sampah hingga berkelontang berguling-guling.


Kristine merunduk meski dia tak tahu ke mana arah peluru itu tercetus.


Dia membenamkan lengannya di baju dan berlari menuju area food court.


Bergerak di antara kursi dan meja.


Menghindari kejaran makhluk itu tanpa henti.


Tepat di bagian konter minuman dia berusaha tenang. Sembunyi di belakang display buah-buahan.


Kristine menggigir bibir bawahnya. Menahan rasa sakit tangannya yang tak henti-hentinya mengucurkan darah.


Dia duduk tenang di situ. Bersembunyi dengan harap agar makhluk itu tak menemukannya.


Telinganya menajam mendengarkan gemeletuk sepatunya yang mulai mendekat.


Sexy Benen melenggak lenggok saat berjalan pelan di antara meja dan kursi seperti model. Mempertontonkan kakinya yang jenjang dan mulus bukan main.


Dia kemudian naik ke kursi dan berdiri di atas salah satu meja. Mengamati sekitar.


Kristine harap-harap cemas agar makhuk itu pergi. Dia begitu tak bisa berpikir mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi.


Ke mana semua orang?


Kenapa mall ini mendadak sepi?!


Dia mengecek jam tangannya. Baru menunjukkan pukul dua siang.


Dia harus ke toko buku suaminya. Toko buku itu berada tak jauh di sebelah kiri dari sana—tepat di samping bioskop.


Kristine tetap menajamkan pendengaran dan tak ada apa pun yang terdengar.


Dengan sedikit ragu dia mengintip dari balik konter.


Sesuatu melesat di hadapannya.


Kaca display buah-buahan itu pecah.


Kristine terjungkal ke belakang.


Sebatang panah tercetus menusuk sebuah apel dan tertancap di dinding.


"Tidak!"


Kristine segera bangkit dan masuk ke pintu dapur.


Sexy Benen meloncat dari meja langsung ke atas konter.


Anak panah meletus-letus dari berbagai lubang di karung goni badannya. Sebatang panah mengarah tepat ke wajah Kristine. Beruntung dia bisa menangkisnya dengan teflon yang dia ambil dari atas kompor.


Dia berusaha menutup pintu dapur almunium itu tapi tak ada slot untuk menguncinya. Dia menggulingkan rak besi untuk menghalangi jalan masuk.


Sebilah pedang terhunus menusuk kaca kemudian gergaji besi memotong lapisan pintu aluminium yang tipis.


Kristine panik.


Dia begitu panik!


Sebenarnya makhluk apa itu?!


Berbagai senjata tajam bermunculan dari dalam karung goni yang membungkus tubuhnya.


Sekarang, seutas kawat berduri, mencuat memasuki lubang pintu dan mengejar Kristine.


Kristine terpojok.


Tak ada jalan keluar dari dapur tersebut.


Dia melemparkan berbagai peralatan masak. Tapi kawat berduri itu bergerak seperti ular di udara dan hendak memagutnya.


"Tidak! Jangan!"


Dia mencoba menangkis kawat itu dengan wajan.


Tidak berhasil.


Kawat berduri itu melilit tangannya yang berdarah. Duri-duri menancap di pergelangan seperti hendak memutuskannya.


Kristine menjerit saat kawat itu menariknya sedangkan di saat yang sama dia berjuang berpegang pada rak besi lain di pojok ruangan.


Darah membanjiri pakaiannya.


"Oh, ya Tuhan, tolong aku."


Sebuah pisau daging dia temukan di lantai. Dengan itu, dia coba memotong kawat tersebut berkali-kali dan satu kali dia nyaris memotong tangannya sendiri.


Kawat itu tetap kokoh dan tak terputus sedikit pun.


Kristine mengerang.


Kawat itu berhasil menariknya keluar dari ujung dapur yang sesak. Menyeretnya mendekat ke hadapan pedang yang terhunus tepat di daun pintu.


"Tidak!!!"


"Halo!" sahut seseorang.


Pedang itu terhunus satu meter di depannya.


Sexy Benen mendadak melepaskan Kristine tanpa sebab. Berbalik menjauh dan pergi mencari asal suara tersebut.


"Halo, ada orang di sini!" sahut seorang pemuda.


Dengan terseok, Kristine mencoba bangkit. Mengintip di balik lubang. Seorang pemuda tampak kebingungan di sana.


Siapa dia?


Apa itu hantu?


Sexy Benen melenggok mendekatinya tapi pemuda itu tidak takut maupun lari.


Kristine menyingkirkan rak dan secara diam-diam kabur dari tempat itu.


"Hai, Nona. Apa Anda tahu ke mana semua orang?" tanya pemuda itu.


Kristine berjongkok untuk memperhatikannya.


Sexy Benen mendekatinya. Dia melepaskan sepatunya. Jari kakinya dia angkat dan dia arahkan ke **** si pemuda. Dengan jempol kakinya, makhluk itu membuat gerakan seperti sedang mengelus tonjolan kelaminnya.


"Hei hei hei! Ada apa, Nona?" godanya.


Makhluk itu berlaga menggoda dengan menggesekkan bokongnya di sana. Lalu berlalu pergi menuju toilet. Dan pemuda itu mengikutinya seperti seekor anjing tolol.


Sesampainya di toilet, si wanita karung mendesah-desah dan pemuda yang hilang akal tergoda bujuk rayunya. Lengannya meraba ke dalam rok si wanita hingga dia merasakan sesuatu di dalamnya yang membuatnya menjerit meraung-raung. Saat lengannya ditarik, pergelangan tangannya telah buntung.


Kristine mengendap-endap di antara stan penjual permen kapas. Setelah cukup aman, dia berlari memasuki toko Randie.


"Randie! Sayang!"

__ADS_1


Meski sudah menduga tapi Kristine masih belum percaya. Tak ada siapa pun di sana. Dia hendak kembali keluar tapi anak itu berdiri di sana menunggunya.


***


__ADS_2