Baros

Baros
Kali Angke 4


__ADS_3

"Apa ini?" tanya Kristine saat Randie memberinya sebuah kotak dan kartu undangan.


"Undangan pernikahan. Minggu depan, anak dari pemilik toko buku yang kukelola akan melangsungkan pernikahan. Tentu saja kita diundang. Dan mau tidak mau kita harus datang."


Kristine membaca undangannya. "Acaranya digelar di kawasan wisata alam Zona Alam Langka, Kali Angke?"


"Ya. Kau tahu kan, tempat wisata alam itu baru dibuka sebulan lalu. Iklannya selalu ada di televisi."


"Dan ... apa isi kotak ini?"


"Buka saja."


Kristine membukanya. Isinya sebuah gaun ungu cantik yang terbuat dari sutera dan sepatu yang warnanya sama dengan gaun. Gaun itu begitu lembut. Kristine menariknya dari kotak. Gaun model sederhana tapi elegan dengan bagian bawah bergelombang.


"Kenapa ungu? Padahal kau tahu warna kesukaanku itu krem."


"Aku suka warna ungu."


"Hmm ...."


"Coba pakai."


Kristine melepas pakaiannya dan mencoba gaun itu. Dia berdiri memandanginya di depan cermin. Ukuran gaunnya tampak begitu pas di badan. Dan memakai sepatu bertumit tinggi ungu yang cocok dengan gaunnya.


"Kau cantik. Apa kau menyukainya?" tanya Randie yang berbaring di kasur dengan sebelah tangan menopang kepala. Memandangi Kristine yang berputar-putar di hadapannya.


"Tapi, apa kau pikir ini tidak terlalu terbuka?" tanya Kristine menutupi belahan dadanya yang terlihat cukup kentara.


"Apa maksudmu? Kau terlihat cantik," kata Randie bangkit dan menyingkirkan lengan dari dadanya sendiri. "Sekali-sekali mengenakan ini tidak apa-apa, kan? Kita akan mendatangi pernikahan anak bos, aku ingin mengenalkan istriku yang cantik ini pada keluarga mereka."


Mereka saling bertatapan satu sama lain. "Oh ya, mereka mengatakan akan ada pesta dansa di sana. Dan mewanti-wantiku untuk ikut terlibat."


"Benarkah?"


"Ya. Kau tahu, aku tidak begitu pandai berdansa."


"Ayolah, itu tidak terlalu sulit."


"Kau menyukainya?"


"Tentu. Dulu aku suka berdansa. Dansa ala putri dan pangeran di film Cinderella. Sepertinya itu menyenangkan," kata Kristine bersemangat.


"Sayang, maaf. Sewaktu kita menikah, kita tidak merayakan apa pun," sesal Randie, senyumnya mendadak surut.


"Jangan sedih, aku mengerti. Aku lebih senang kau mengerti tentang kami. Tentangku dan adikku lebih dari apa pun. Kau telah menyelamatkan kami."


"Aku telah merenggut masa mudamu."

__ADS_1


"Seperti kau sudah tua saja. Karena kau, sekarang aku bisa santai-santai di rumah. Karena kau, David sekarang bisa melanjutkan sekolahnya. Itu cukup bagiku."


Randi menggangguk dan memeluknya. Mengecup bibir Kristine dengan lembut.


"Bagaimana dengan David?" tanya Kristine.


"Tentu saja harus ikut. Aku sudah menyewa jas untuknya dan juga Avan. Kita ajak mereka."


Randie mengecupnya kembali, sekali, dua kali, kemudian dia mengecup lehernya.


"Hentikan! Itu menggelikan!" teriak Kristine seraya tertawa lepas tapi Randie tak menghentikan aksinya.


Derap langkah panik terdengar di luar kamar.


"Kak, eh, tutup pintunya! Kupikir kau kesurupan. Teriak-teriak begitu!" cetus David di ambang pintu.


Randie dan Kristine malah terbahak.


"Maaf, maaf David," kata Randie sembari tetap memeluk Kristine di pangkuan.


David melengos pergi.


Randie mengunci pintu kamarnya dan melepas kausnya.


Kristine mencoba melepaskan gaunnya untuk ditaruh kembali tapi Randie melarangnya, malah memeluknya dari belakang sembari menatap cermin di lemari dan bergerak-gerak seolah mereka sedang berdansa dengan pelan.


"Kalau begitu kau harus istirahat sekarang. Ini sudah malam," kata Kristine hendak berbalik.


Randie menahannya.


Di depan cermin itu dia malah tersenyum dengan kumis tipis yang menggoda.


Randie mengelus perut Kristine.


"Mister Randie Arkton. Kau akan menyetir sendirian besok, pasti akan melelahkan."


"Aku tidak peduli. Aku ... sedang ingin ...."


Kristine menggeleng dengan senyum tertahan.


"Ayolah ...," godanya.


Kristine terdiam sejenak.


"Tapi ... jangan sampai kebablasan!" timpal Kristine menatap mata Randie lekat-lekat.


"Tidak akan. Aku sudah berjanji, kan? Ya ... meski, David bilang padaku bahwa dia ingin segera punya keponakan," kata Randie sembari tersenyum nakal.

__ADS_1


"Ngarang! Tidak. Aku belum siap untuk punya anak."


"Oke ... setidaknya kau harus siap untuk ini."


Randie melepaskan gaun Kristine dan melumat bibirnya dengan romantis. Dengan perasaan. Tanpa gejolak menggebu yang melebihi batas meski hasrat mereka telah tertahan sejak malam pertama mereka menikah.


***


Avan tengah berbaring di kamarnya. Belum bisa memejamkan mata.


Suara air keran yang menetes dari kamar mandi memecah kesunyian.


Dia memperhatikan kalung berlian itu di tangannya. Tampak berkilauan saat lampu kamar menyinarinya. Ada sebuah retakan di sana dan dia baru menyadarinya. Tali kalungnya berwarna hitam dilengkapi hiasan bulatan tiap beberapa senti yang terbuat dari kayu harum.


Avan teringat dengan peristiwa yang dia alami paska tragedi sekolah itu. Baginya, tragedi itu tak ada apa-apanya. Yang dia takutkan adalah tragedi setelahnya, yang belum bisa dia ceritakan. Dia tak ingin tragedi itu terulang lagi. Terutama pada orang-orang yang disayanginya—mereka—keluarga Sandiea.


Bertahun-tahun dia hidup sendiri di rumah ini. Dia sudah terbiasa dengan hal itu. Tak pernah sekalipun dia mengajak siapa pun ke rumahnya ini. Dia tak ingin ada yang mengetahui kehidupannya.


Avan sering kali tak peduli jika ada orang yang mengalami kejadian buruk. Seperti beberapa tahun lalu, seorang wanita diikuti hantu kepala buntung. Dia berlari di jalanan karena ketakutan dan mati tertabrak mobil dengan kepala hancur. Ironisnya, sehari setelah dia dimakamkan, arwah wanita itu gentayangan dan menghuni jalanan tersebut dengan wajah mengerikan dan dia tak ketakutan lagi saat si hantu buntung mengajak kenalan dengannya. Dan mereka sama-sama sering kali menakuti para pengendara mobil yang lewat atau seorang bayi yang merengek saat ibunya melewati jalanan tersebut. Beruntung hantu-hantu itu tidak mencoba mengikuti dirinya.


Avan, tidak ingin hal itu—atau yang lebih buruk dari itu—mengenai iblis—terjadi pada David dan kakak-kakaknya. Dia begitu menyayangi mereka dan tak ingin mereka sampai mengalami hal-hal buruk—hal-hal mengerikan—seperti mimpi buruk yang jadi kenyataan. Baginya, David seperti magnet yang mampu menariknya lebih dekat dan dia masih tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Layaknya manusia pemilik indera keenam yang menarik para hantu untuk mendekatinya. Hanya saja, kini Avan seperti hantu yang tertarik pada David. Pada kekuatan yang dia dan kakaknya miliki. Semacam itu.


Selain tentu saja, dilihat dari sisi manusia, dia tertarik karena dia menyukainya.


Menyukai David.


Menyukai keluarga itu.


Menyayangi mereka seperti keluarganya sendiri.


Selama sebulan ini, dia pula yang berusaha menenangkan Kristine dan David. Menyuruh mereka berkali-kali melupakan kejadian hingga hidup mereka normal kembali.


Avan rasa itu cuma sementara.


Dia tahu itu.


Dia tahu.


Anak itu—siapa pun itu—tidak muncul kembali bukan karena dia telah pergi, melainkan tidur. Tidur untuk sementara waktu.


Avan menyakini anak itu bukanlah hantu biasa. Bukan pula sekadar arwah penasaran. Tapi lebih kompleks dari itu. Dan sesuatu yang tidak dia ketahui malah membuatnya lebih takut dari hantu-hantu mengerikan yang pernah dia lihat sekalipun.


Avan memutar-mutar berlian itu, menaruhnya di pusarnya. Dia mengembus napas. Tangannya meraba hal lain yang berada di perutnya, yang tidak bisa dilihat siapa pun termasuk David dan Kristine.


"Jika berlian ini tidak bisa menolongku dari apa yang ada dalam tubuhku, semoga ini cukup untuk menolong mereka. Semoga ini cukup untuk melenyapkan hal gaib apa pun yang mengganggu keluargaku."


Avan menaruh berlian dan kacamatanya di atas nakas dan terlelap dalam tidur.

__ADS_1


***


__ADS_2