Baros

Baros
Kali Angke 3


__ADS_3

Avan tak begitu detail menceritakannya pada Kristine. Hanya sekelebat yang intinya dia mengalami hal serupa dengan yang Kristine maupun David alami.


"Semua orang tewas termasuk ibuku dan itu bukan karena kebakaran."


Hanya itu yang diucapkan Avan. Tapi Kristine mengerti maksudnya.


"Sebulan setelah peristiwa itu, polisi sempat menginterogasi kepala sekolah. Tapi, karena mereka menganggap dia mengalami gangguan akhirnya dia dibawa ke rumah sakit jiwa. Rumor pun menyebar sejak saat itu. Sebagian menganggap kepala sekolah itu seorang psikopat yang telah membunuh mereka semua. Tapi sebagian lagi—yang memilih untuk berdiam diri—percaya dengan apa yang dikatakan di satu media—yang lenyap pemberitaannya—bahwa ini disebabkan oleh hal lain."


"Lalu apa yang terjadi padamu setelah itu?" tanya Kristine.


"Walikota, ayahku, dan beberapa pihak terkait menyembunyikan keberadaanku dari media demi kebaikan. Aku dirawat di rumah sakit dan koma selama sebulan. Saat aku sadar, ayahku mencoba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di sekolah. Kenapa semua orang bisa mati bahkan ibu tewas di sana? Aku menceritakan segalanya mengenai apa yang aku lihat. Ayahku tidak percaya. Waktu keluar dari ruangan, aku melihat sosok mengerikan mengikutinya. Sesaat kemudian, ayahku tewas di lorong rumah sakit dengan serangan jantung mendadak—itu yang pihak rumah sakit katakan padaku. Itulah kenapa aku tidak ingin orang yang tidak bisa melihat atau tidak mengalami mengetahuinya."


Avan mengalami depresi setelah ayahnya meninggal.


Dia harus menjalani terapi mental selama dua tahun di sebuah rumah sakit jiwa.


Dia bahkan tak bicara selama setahun dan menjauhi orang-orang yang membicarakan tragedi di sekolah tersebut. Terutama tragedi yang lebih mengerikan yang dia alami setelahnya.


Dia takut iblis-iblis datang kepadanya dan melakukan hal buruk pada orang-orang yang tak bersalah.


Butuh waktu lima tahun baginya agar dia bisa menjalani hidup normalnya. Sejak saat itu, dia dititipkan tinggal di sebuah panti asuhan di Vandanch dan masuk ke sekolah dalam usia telat. Ketika masuk SMK umurnya sudah dua puluh satu tahun. Makanya dia memiliki kedewasaan lebih dari teman-temannya yang lain.


Meski indera keenamnya tetap berfungsi, Avan selalu tidak peduli lagi dengan penampakan yang dia lihat.


Dia kerap mengabaikannya tapi ada sosok-sosok yang benar-benar mengganggunya. Membuatnya kesulitan untuk menggunakan teknik abai.


Pada umur lima belas tahun seorang wanita tak dikenal dari Vandanch memberinya sebuah berlian. Mengatakan bahwa berlian itu bisa melindunginya dan menutup mata batinnya yang selama ini membuatnya bisa melihat penampakan.


Berlian itu pula yang telah menyelamatkan David dan Kristine dari kegelapan yang hendak membunuh mereka.


"Legenda kota, berbahaya untuk diceritakan. Ada hal-hal yang boleh dan tidak boleh. Kau akan terkena kutukan jika mendengar kisah yang terlarang."


"Lalu apa hubungan semua ini denganku? Dengan David?"


Mereka sama-sama terdiam dalam kebisuan selama beberapa detik.


"Surat itu ... ada seseorang yang mencoba memberi petunjuk kepadamu dan David."


Kristine membaca surat yang Avan temukan. Larangan jangan membuka pintu itu.

__ADS_1


"David membuka pintunya. Mengeluarkan iblisnya. Apa sebelumnya iblis itu terkurung di dalam ruangan? Atau ada yang mengurungnya? Dan sekarang iblis itu berkeliaran di sekolahmu? Dan Sexy Benen ada di mall. Bagaimana dengan Randie? Apa itu tidak membahayakan?!"


Avan sudah memikirkan segalanya.


Segala hipotesis.


Kemungkinan-kemungkinan.


Dia dapat sedikit menyimpulkan. Tapi dia tahan. Itu hanyalah asumsi tanpa bukti. Dia tidak boleh membuat Kristine dan David berada dalam bayang-bayang ketakutan.


"Kurasa anak itulah kuncinya. Jangan terjebak dalam bayang-bayang seperti itu. Ketakutan adalah hal yang mereka inginkan. Orang yang tak bisa melihat, tak akan bisa mengalami. Dan mengenai sekolah, aku tidak melihat apa pun—bahkan arwah atau kejadian aneh. Aku bahkan belum bertemu anak itu. Kau tenang saja, aku akan berada di dekat David apa pun yang terjadi. Jangan menyikapi hal ini dengan ketakutan yang berlebihan, itu saranku—saran dari orang-orang," kata Avan yang seperti biasa membuat ketegangan Kristine semakin berkurang.


"Kau harus terbiasa dengan ini. Mungkin kedepannya kau harus lebih berani. Kau mungkin akan mengalami hal-hal menakutkan lainnya."


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Kristine. "Tentang anak itu."


"Ada dua pilihan yang bisa diambil menurut surat itu. Mencari tahu tentang anak itu dan menemukan jasadnya atau pergi meninggalkan kota ini sebelum terlambat."


"Apa dengan aku pergi dari kota ini, aku tak akan mengalami hal-hal aneh lagi?"


"Aku tidak tahu. Tapi bagaimana dengan David, dan Randie?"


"Kota ini tak berbahaya. Meski memiliki misteri, tapi ini adalah kota damai."


Avan menaruh berlian itu di hadapannya.


"Seseorang memberiku berlian itu di Vandanch saat umurku lima belas. Sudah enam tahun aku memakainya dan tak melihat hantu hingga seminggu lalu, aku meminjamkannya pada David. Dia lebih berani saat mengenakannya."


Kristine menyentuhnya. "Apa ini?"


"Hanya berlian. Tapi orang itu—seorang wanita yang memberiku—mengatakan itu adalah jimat. Dan itu manjur untuk melindungimu dari roh jahat. Aku hanya punya satu. Kau bisa memilikinya jika mau atau berikan pada David. Dia pasti ingin memakai itu terus. Aku menggunakan berlian itu untuk melenyapkan Sexy Benen. Setidaknya berhasil membuatnya kabur."


"Benarkah? Apa kau mengenal orang itu? Siapa dia? Apa kau tahu di mana alamatnya?" tanya Kristine antusias.


"Tidak. Aku tidak mengenalnya. Aku pernah berkenalan dengan anaknya, namanya Michel tapi hanya itu yang kuketahui. Setelah itu, aku tidak pernah bertemu dengan keluarga mereka lagi."


Senyum Kristine kembali surut.


"Ambilah benda itu jika itu bisa membuatmu lebih tenang."

__ADS_1


"Tidak, Van. Ini milikmu. Lebih baik kau saja yang memakainya. Aku hanya minta tolong, jaga David selama dia berada di sampingmu atau di saat aku tidak ada."


"Lalu apa keputusanmu sekarang?"


"Menunggu. Menunggu petunjuk baru. Anak itu pasti bakalan muncul lagi. Atau surat itu. Aku akan membantunya jika aku menemukan petunjuk. Karena aku tak mungkin pergi meninggalkan kota ini."


Avan mengangguk setuju. "Aku akan membantumu."


"Terima kasih, Van."


***


Cirelat-Bahrose City, Agustus 2011.


Waktu telah berjalan sebulan sejak hari itu.


Tak ada kejadian aneh lagi.


Tak ada kemunculan anak itu.


Atau surat misterius.


Atau apa pun.


Di sekolah pun, David dan Avan belajar seperti biasa. Tak ada hal-hal mistis yang mengganggu.


Avan bahkan tak mengenakan kalungnya dan menyimpannya dalam saku.


Tak ada apa pun yang dia lihat.


Tak ada arwah penasaran atau hantu-hantu yang biasa menghuni ruangan kosong.


Segalanya lenyap.


Segalanya terasa begitu normal di sekitar mereka. Dan semua telah berusaha melupakan tragedi mall dalam dunia kesunyian yang tercipta di sana.


Meskipun begitu, Kristine kerap masih merasa gelisah setiap saat.


Harusnya dia senang dengan lenyapnya anak itu. Tapi kini, yang tersisa adalah sebuah tanda tanya besar. Di saat dia sudah siap untuk menghadapi anak itu lagi dan bertanya mengenai berbagai hal, anak itu malah menghilang tanpa jejak.

__ADS_1


__ADS_2