
Cirelat-Bahrose City, 11 Juni 2011.
Volkswagen tersebut tengah terparkir di luar garasi salah satu rumah di kawasan perumahan Kie Light.
"Sayang, kita sudah sampai," kata Randie membangunkan Kristine.
Dengan sedikit mengantuk Kristine berusaha terbangun dan mengamati sekeliling. Dia melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil.
"David. David, bangun!" Kristine menggoyang-goyangkan tubuh David yang tersembunyi di belakang tumpukan koper dan beberapa perabot rumah.
"Apa kita sudah sampai?" tanyanya.
"Iya. Bangunlah."
"Sebaiknya kita langsung masuk dan istirahat. Kita bereskan barang-barang besok pagi saja," saran Randie saat dia tengah memasukkan kunci ke lubang pintu rumah.
Kristine mengangguk.
Dia berjalan sedikit ke depan. Sekadar melihat jalan lengang perumahan tersebut. Lampu jalan yang terang menerangi jalanan setiap sepuluh meter. Rumah-rumah lain yang berderet rapi dengan taman yang terawat tampak cukup indah.
Lampu depan setiap rumah menyala dengan terang seolah dibanjiri kehidupan di dalamnya tapi Randie pernah berkata padanya bahwa di blok komplek perumahan ini hanya ada dua rumah yang dihuni secara penuh. Sisanya, hanya dijadikan villa semata oleh para pemilik dari luar kota dan sebagian memang masih kosong. Setidaknya cahaya lampu-lampu ini dan suasananya yang begitu indah tak membuat tempat tinggal barunya terlihat menyeramkan.
Tak jauh dari tempatnya, Kristine mendapati seorang anak kecil sedang bermain sendirian di depan salah satu rumah. Anak itu melompat-lompat di bawah siraman lampu jalan. Tengah memandang balik Kristine. Anak itu bahkan melambaikan tangannya.
Kristine membalas lambaiannya seraya tersenyum.
"Sayang, kau melambai pada siapa?" tanya Randie saat dia mendekati istrinya.
"Anak itu. Apa dia anak penghuni rumah itu?" tunjuk Kristine pada rumah keempat dari rumahnya.
"Aku tidak melihat apa-apa. Lagi pula rumah itu kosong, kudengar pemiliknya telah pindah setahun lalu."
Senyum Kristine mendadak surut.
Anak itu masih berdiri di sana.
Di bawah lampu jalan.
Bergeming mematung.
Dan Kristine dapat melihatnya dengan jelas.
"Kapan kita masuk? Aku kedinginan. Ingin melanjutkan tidurku," celetuk David sembari menguap.
"Masuk saja duluan. Sudah ada tempat tidur untukmu di dalam," kata Randie.
David malah merengut sembari bersilang lengan, "Lampunya belum dinyalakan. Seperti tidak tahu saja."
Randie hanya terkekeh dan masuk terlebih dahulu sembari membawa koper pakaian. Menyalakan setiap lampu dalam rumah.
"Kak? Kau lihat apa?" tanya David sembari mengikuti pandangan Kristine. "Anak siapa itu? Malam-malam keluyuran di luar. Ayo kita masuk! Di sini dingin dan ...," David merinding. "... agak menakutkan."
__ADS_1
Kristine menoleh dan mengangguk mengikuti David masuk ke rumah.
Sebelum dia menutup pintu rumahnya, dia melihat kembali ke lampu jalan tersebut. Jika anak itu hantu, harusnya, dia menghilang, bukan?
Tapi anak itu masih berdiri di sana.
Dan Kristine heran kenapa Randie tidak bisa melihatnya.
***
Keesokan harinya.
Ada sesuatu yang membuat David merasa tidak nyaman di salah satu sudut rumah. Di kursi yang terletak di pojok ruangan, terduduk seonggok boneka Mickey besar dengan postur tubuh aneh yang membuatnya merinding.
"Boneka siapa itu?" tanya David dengan mata yang tak lepas menatap senyuman boneka misterius itu.
"Sepertinya milik orang yang tinggal di sini sebelumnya," kata Randie. "Mungkin mereka lupa membawanya."
David bertanya-tanya bagaimana mungkin boneka sebesar manusia itu terlupakan. Terlalu janggal tapi dia tak ingin memikirkannya lebih jauh.
Dia kembali memperhatikan brosur sekolah yang hendak dipilihnya.
"David, kau sudah menemukan sekolah yang cocok?" tanya Kristine padanya saat mereka duduk di ruang televisi dengan barang pindahan yang masih tampak berantakan.
"Ya, aku sudah menemukannya. Sekolahnya bagus dan biayanya murah."
David memperlihatkan brosur sekolah yang dia pilih pada Kristine.
SMKN BAHROSE 2.
"Letaknya tak jauh dari sini," kata Kristine saat mengamati brosur sekolah tersebut. "Benar-benar murah. Tapi, bagaimana dengan kualitas pendidikannya?"
"Lihat saja. Fasilitasnya hampir sama. Kukira sama bagusnya. Dan itu yang paling dekat. Aku bisa mencapainya dengan jalan kaki."
"Kau yakin?" tanya Randie.
David mengangguk. Baginya sekolah di mana pun akan sama saja. Jika ada yang murah, dia akan memilihnya. Dia tak ingin membebani kakak-kakaknya lebih banyak lagi.
"Baiklah. Terserah padamu. Jika kau memang menyukainya, aku mendukungmu. Jadi, kapan pendaftaran dibuka?"
"Dua hari lagi. Tapi, hari ini, aku ingin pergi melihat sekolah itu terlebih dahulu, boleh?" pinta David saat mengamati barang pindahan yang masih belum dibereskan.
"Pergilah," kata Randie.
"Kau akan baik-baik saja?" tanya Kristine sedikit khawatir. Teringat mengenai phobia yang diderita David.
"Tak apa-apa. Ini siang hari. Banyak orang di jalanan. Aku janji tak akan menangis seperti anak kecil," balasnya sambil nyengir.
"Jangan sampai tersesat," Kristine mengingatkan.
David mengangguk. "Aku akan pulang sebelum sore."
__ADS_1
Dia pun melengos ke luar.
"Kau yakin David akan baik-baik saja?" kata Kristine pada suaminya.
"Kita harus berusaha untuk membiarkannya belajar menghadapi ketakutannya sendiri. Kota ini, cocok sebagai sarana terapi baginya."
***
David menyusuri trotoar menuju halte satu-satunya yang berada di gerbang masuk komplek perumahan Kie Light yang dia tinggali.
Jalanan tampak sepi.
Hanya satu dua kendaraan yang lewat.
David duduk di bangku halte sembari memperhatikan peta kota dan jadwal kedatangan bus.
Dia melihat jam tangannya. Sebentar lagi bus itu datang meski dia merasa hal itu meragukan.
David mengedarkan pandangan ke tepian jalan. Ke arah trotoar berlantaikan bebatuan dengan ukiran yang indah. Hampir di tiap seratus meter sekali, tampak sebongkah batu persegi dengan atasnya berbentuk limas lancip.
David mendekati salah satu bongkahan batu—tugu—yang ada di samping bangku halte.
Dia merabanya.
Ada ukiran aksara di sisi depannya. Sepertinya bebahasa Belanda tapi ada ukiran lain di sisi satunya. Bentuk hurufnya meliuk-liuk dan dia tidak mengetahui itu aksara apa.
"Itu aksara Kiligh," kata seorang pemuda tampan berwajah blasteran yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
"Apa kau bisa membacanya?" tanya David.
Pemuda itu menggeleng. "Tapi menurut legenda kota, itu artinya doa. Doa agar tanah ini aman dari roh-roh jahat."
"Apakah masyarakat di kota ini memercayai hal-hal begitu?"
Si pemuda hanya tersenyum dan kembali menggeleng.
"Kami hanya menganggapnya sebagai sejarah peninggalan masa lalu," jawabnya. "Apa kau orang baru? Kenalkan namaku Avan Crossie."
"Namaku David Sandiea. Aku baru pindah ke kota ini semalam," ucapnya sembari berjabat tangan.
"Kulihat sepertinya kau tertarik dengan tugu batu itu," kata Avan.
"Ah, tidak juga. Hanya saja tugu-tugu ini tampak aneh. Kulihat tugu ini dibangun tahun 1800. Bukankah ini benda bersejarah, kenapa tidak dipindahkan ke tempat yang lebih aman?"
"Kau tahu, kota ini dipenuhi oleh situs-situs berharga peninggalan Belanda yang menjajah ratusan tahun silam. Tugu ini hanya salah satunya. Banyak tugu-tugu batu bersejarah lainnya memenuhi setiap sudut jalan. Tapi semua itu bagi penduduk Bahrose City adalah hal yang biasa dan tak terlalu istimewa. Lagi pula selain karena walikota melarang memindahkan tugu dari tempat asalnya, alasan lain karena ... tak ada yang berani memindahkannya. Ya, kau tahu, lah, hal ini sudah jadi kebiasaan sejak jaman dulu. Sebagian besar 'orang tua' menganggap doa yang tertera di tugu itu adalah hal yang baik," ujar Avan. "Apa kau sedang menunggu bus?"
"Hanya ingin jalan-jalan keliling kota. Sekalian menyurvei sekolah yang aku pilih. SMKN Bahrose 2."
"Letak sekolah itu memang tak jauh. Tapi jika naik bus dari sini, kau harus memutar hingga Chandelier. Transportasi bus di sini banyak yang satu arah. Bagi orang baru mungkin hal itu akan sedikit membingungkan karena jika salah naik kau bisa tersesat."
"Bakalan rumit sepertinya," keluh David.
__ADS_1
"Mau aku antar? Aku juga hendak menyurvei sekolah-sekolah yang cocok sebelum aku melakukan pendaftaran," tawar Avan.
"Tentu. Kurasa aku butuh seorang pemandu jalan," kata David seraya tersenyum lepas.