
Bulir keringat menyelimuti kening Kristine. Dia melirik ke sana kemari dan anak itu tak ada di mana pun.
"Avan, apa kau melihat anak kecil yang bersamaku tadi?"
"Anak kecil? Ti-tidak," jawabnya sedikit gagap.
Avan memang tak melihatnya tapi ucapan Kristine membuatnya teringat akan fakta yang dia miliki. Dan dia tak ingin jika ada yang mengetahui soal itu.
"Lalu apa yang kau lihat tadi?"
"Aku hanya melihatmu sedang jongkok dan bicara sendiri. Ada apa, Kak?"
Kristine mengembuskan napas. "Mungkin hanya halusinasiku karena tadi aku merasa sedang berbicara dengan seorang anak kecil bernama Margin."
Jantung Avan berdegup kencang saat mendengarnya tapi dia tak menunjukkan rasa takut apa pun. Wajahnya begitu kalem. Terbalut dalam topeng tebal yang dia latih sejak lama.
Avan menyapu memori itu dan mengalihkan pembicaraan.
"Di mana, David? Aku membawa formulir pendaftaran sekolahnya."
"Masuklah ke kamarnya. Sepertinya dia masih tidur," kata Kristine menutup pintunya rapat.
Avan membuka kamar David. Melihatnya masih meringkuk dengan nyenyak di kasurnya.
Dia menaruh tas selendang yang dibawanya di samping pintu dan duduk di ranjang sembari tak lepas memandangi wajah David yang masih terpejam.
"David, bangun."
"Mmm ...."
Avan tersenyum. Lengannya kemudian mengelus pipi David dengan lembut.
"Ini masih pagi. Kenapa kau datang pagi-pagi sekali?" kata David dengan enggan tanpa membuka matanya.
"Aku merindukanmu," kata Avan.
David hanya membalasnya dengan gumaman tak jelas.
Avan masih menatapnya.
Senyumnya kembali tersungging.
Ada rasa dalam hatinya terhadap David sejak dia bertemu kemarin.
Seperti ada kekuatan magis dalam diri David yang menarik Avan dan membuatnya ingin menyelaminya lebih dalam.
Kristine mengintip mereka dari ambang pintu saat Avan membisikkan sesuatu di telinga David. Membuat David yang terpejam tertawa geli.
"Awas saja! Jika kau berani melakukan itu, aku akan menghajarmu!" candanya.
Avan tetap membisikkan sesuatu di telinganya. Membuatnya tertawa terpingkal-pingkal saat tangan Avan mulai menggerayang masuk ke dalam bajunya.
"Hentikan!" kata David bangkit dari tidurnya dan membanting tubuh Avan ke kasur.
"Maaf. Maaf," sergah Avan sembari menutup wajahnya saat David mengepalkan tinju tangannya.
__ADS_1
Mereka kembali terpingkal-pingkal oleh candaan yang tidak diketahui Kristine.
Kristine pergi ke dapur. Menyiapkan teh manis hangat untuk mereka.
"Tunggulah di ruang depan. Aku ingin mandi dulu," kata David saat mereka keluar dari kamar.
Avan duduk di sofa dan mulai mengeluarkan isi tasnya. Menaruh formulir itu di atas meja.
"Sepertinya kalian sudah sangat akrab, ya?" goda Kristine sembari menaruh tiga cangkir teh di atas meja.
"Benarkah? Mungkin karena aku senang bertemu David. Dia berbeda dengan cowok-cowok yang tinggal di sekitar sini. Soalnya mereka lebih tertutup. Tidak terlalu menyenangkan untuk diajak berteman."
"Bukankah kau juga tinggal di sekitar sini?"
"Ya. Tapi entahlah, aku merasa berbeda dari mereka."
"Sama seperti David. Di rumah kami di Vanjava, dia juga tidak senang bermain dengan cowok seusianya. Mereka selalu berbuat jahat terhadap David. Mereka sering mengolok-olok David soal phobia yang dideritanya."
"Phobia?"
"Ya. David menderita Eremophobia. Ketakutan akan ditinggal sendirian. Tapi sepertinya phobianya juga bukan hanya itu karena dia sangat takut gelap atau mendengar dan melihat sesuatu yang menakutkan. Dia sering histeris atau pingsan atau kejang-kejang saat dirinya merasa takut. Tergantung situasinya."
"Apa itu parah?"
"Tidak selalu, seiring dengan bertambah usia, kadar phobianya semakin berkurang tapi, ya ... kau mungkin paham bagaimana seorang pengidap phobia bereaksi. Orang akan melihatnya seperti reaksi yang berlebihan. Makanya aku khawatir jika teman-teman sekolahnya nanti akan membuat lelucon seperti itu pada David. Saat ini dia sudah besar. Sudah mendekati dewasa dan tentu saja phobianya kadang membuatnya malu."
"Kau tenang saja. Aku akan menjaganya. Tak akan kubiarkan mereka menciptakan lelucon seperti itu."
"Terima kasih, Van."
"Apa kalian sedang membicarakanku?" tanya David saat dia masih mengenakan handuk.
"Enggak, kok, adik kecil," celetuk Avan.
"Pakai baju sana nanti masuk angin."
"Iya, iya. Oh, ya, Kak, kenapa kau taruh boneka itu di atas mesin cuci? Mau dicuci? Kakak ini bagaimana, tidak mungkin bonekanya bisa muat ke mesin cuci."
"Apa?" heran Kristine.
Tidak mungkin.
Kristine hendak menyangkal tapi akhirnya dia hanya mengangguk mengiyakan. Tak ingin membuat David panik.
Kristine kembali ke dapur mendekati mesin cuci di samping kamar mandi tapi boneka Mickey berpostur ganjil itu tidak ada di sana.
Apa David bercanda?
Rasanya tidak mungkin.
Kristine tahu benar mengenai David. Dia tidak pernah membuat lelucon menakut-nakuti seperti itu.
Akhirnya Kristine mengeceknya ke ruang belakang.
Boneka itu memang ada di situ.
__ADS_1
Di atas meja seperti terakhir kali.
Dengan posisi duduk dan sprei usang yang digunakan untuk menutupinya kini tercabik-cabik di bawah meja bobrok itu.
Detak jantungnya berdegup kencang. Seumur hidup dia belum pernah mengalami hal mistis. Semenjak dia tinggal di sini, dia mulai merasakannya. Diawali anak misterius itu. Dan kini, boneka ini.
David dan Avan tengah mengobrol sembari menonton televisi. Tapi di titik ini, di tempat Kristine berpijak, dia seakan merasa jauh dari mereka. Dia tahu dia tidak boleh takut atau panik. Menjaga agar David tidak histeris lagi. Terakhir kali David didongengkan cerita seram waktu umurnya dua belas tahun, dia terus merengek tiap malam dan tak ingin tidur sendirian. Bahkan David tak berani untuk sekadar menonton televisi sendirian di siang bolong sementara dirinya memasak di dapur.
"Oke, akan kuatasi ini!" kata Kristine pada diri sendiri.
Dia pun mengambil pisau tajam dari dapur.
Hendak memutilasi boneka itu di sini.
Dengan takut-takut, Kristine memegang pisau itu di dada, mendekati boneka itu pelan-pelan.
Berbagai pemikiran berseliweran di kepalanya. Dulu dia sering menonton film horor bersama ayahnya. Film mengenai boneka yang dirasuki roh jahat dan bisa bergerak, berbicara maupun membunuh orang-orang. Tapi dia meyakini itu hanyalah sebuah fiksi. Benda mati tak mungkin bisa membunuh. Lagi pula boneka itu tak memiliki jari—hanya gumpalan kain berisi kapuk. Tak ada bagian yang tajam dari boneka tersebut.
Jika aku menusuknya, apa boneka itu bakalan berdarah?
Dia harus melakukannya. Memikirkan membuangnya di tempat sampah hanya akan membuatnya bermimpi buruk. Lebih menakutkan jika boneka itu datang lagi setelah dibuang daripada menyelesaikan boneka itu sekarang.
Kristine menusukkan pisaunya ke perut boneka itu.
Tak ada perasaan apa pun.
Tak ada yang terjadi seperti dugaannya.
Dia tertawa konyol meski dalam batinnya merasa begitu lega.
Dia pun berani menyentuh boneka itu kali ini dan meraba torsonya dengan tangan kiri.
Kristine merasakan sesuatu.
Degupan jantung.
Embusan napas.
Apa boneka ini memiliki nyawa?
Kristine tak memedulikannya.
Dia kembali menusukkan pisaunya ke dada boneka. Membuka jahitannya hingga kapuk putih kekuningan itu terburai keluar.
Dia tak mau tanggung. Menghadapi ketakutan adalah cara terbaik melenyapkan ketakutan itu sendiri untuk selamanya. Dia berharap hal kecil semacam ini jangan sampai membuatnya mengalami mimpi buruk.
Dia tuntaskan apa yang dia mulai seutuhnya. Membongkar jahitan boneka Mickey Mouse yang tubuhnya tidak proporsional itu. Mengeluarkan seluruh kapuk mentah yang dipenuhi biji-biji hitam di dalamnya. Memisahkan bahan kain dan isinya pada kantong kresek. Tapi saat dia membongkar bagian perut boneka itu, dia menemukan secarik kertas. Kertas coklat dengan bercak-bercak hitam terbakar atau akibat dari terkena asap panas.
Sebuah aksara tertoreh di dalamnya dengan logo segitiga dan ukiran aksara sama di tepiannya seperti yang dia temukan kemarin. Isinya tak bisa dia baca dengan jelas. Beberapa kalimat tertutupi noda hitam. Hanya dua kalimat yang terbaca.
... abaikan anak itu ...
... dia menyukaimu ...
Dua detik kemudian, tulisan itu lenyap ditelan noda hitam yang menyebar melahap seluruh kertas tersebut. Saat Kristine merabanya, nodanya menempel di tangan seperti arang.
__ADS_1
***