Baros

Baros
Cirelat 4


__ADS_3

Kristine tengah menyapu halaman rumahnya saat dia melihat ke ujung jalan dan mendapati anak kecil semalam tengah berada di sana.


Anak itu mengenakan baju oren dan celana biru cerah. Rambutnya mirip batok kelapa, begitu hitam mengilat. Umurnya mungkin lima tahun. Dia melompat-lompat sendirian di pinggir jalan. Matanya menatap Kristine dalam-dalam.


Angin dingin berembus menusuk kulit.


Kristine menoleh ke langit.


Matahari, telah lenyap ditelan awan hitam. Saat dia melirik ke ujung jalan lagi, anak itu pun ikut lenyap.


Dia pikir mungkin anak itu telah masuk ke rumah di depannya.


Kristine tak mau ambil pusing memikirkan yang aneh-aneh. Berusaha untuk tak menghiraukannya dan kembali ke dalam rumah.


"Akhirnya beres juga semuanya," kata Randie lega. Merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk. "Ada apa?" tanyanya waktu melihat muka Kristine yang risau.


"Sudah jam empat dan David belum pulang juga."


"Tenanglah. Kita tunggu sebentar lagi. Jika dia belum pulang juga aku akan mencarinya."


Kristine mengangguk pelan. Memilih pergi ke dapur.


Saat dia melewati boneka di sudut dapur, ternyata benar—boneka yang seharusnya lucu itu—entah kenapa terasa begitu menyeramkan. Meski dia coba abaikan tapi senyuman boneka yang bagai seringai dan matanya yang hitam itu seolah memperhatikan gerak-gerik Kristine yang tengah membereskan peralatan makan.


Akhirnya, dia pun menyerah. Dia tak bisa melakukan sesuatu di dapur dengan sebuah boneka raksasa sebesar manusia duduk di kursi dan mengamati dirinya seperti sesosok hantu.


Dia meraba boneka itu. Saat ditekan, isinya terbuat dari kapuk mentah yang tak diolah. Bahkan masih terasa ada biji-biji buah kering di dalamnya.


Dia mengangkatnya—setengah menggusur—dan menaruh boneka itu di ruang belakang bersama perabotan rusak bekas penghuni lama lainnya.


Dia baringkan boneka itu di atas meja bobrok. Saat Kristine hendak kembali ke dapur, dia mendapati sesuatu terselip di baju yang dikenakan boneka itu.


Dia menariknya.


Hanya sebuah kertas dengan satu kalimat ditulis dengan tinta merah.


Tinggalkan kota ini!


Ukiran huruf aneh memenuhi tepian kertas bersama simbol berbentuk segitiga merah dengan bulatan dan garis yang menghubungkan tiap sisi dalam lingkaran yang juga berwarna merah. Tak ada apa pun yang Kristine rasakan. Itu hanya kertas biasa dengan kalimat biasa. Mungkin ditulis pemiliknya sendiri sebelum meninggalkan rumah ini dan minggat ke kota lain.


Hanya boneka itu yang membuatnya sedikit tak nyaman.


Dia menutupi tubuh boneka itu dengan kain sprei apak yang ada di kolong meja lalu bergegas kembali ke ruang depan.


Pintu depan mengayun terbuka. Rupanya David baru pulang.


"Aku pikir kau mungkin tersesat. Aku hendak mencarimu," kata Randie.


"Maaf, Kak. Aku pikir aku juga bakalan tersesat kalau pergi sendirian. Untung saja Avan membantuku," kata David menarik lengan teman barunya itu ke dalam rumah.


"Van, ini keluargaku. Kakak-kakakku," kata David memperkenalkan.


Avan membetulkan kacamatanya yang longgar. Menatap wajah Randie dan Kristine bergantian. "Kak, salam kenal namaku Avan," kataya sopan sembari berjabat tangan dengan Randie saat dia mendekatinya.


"Dia juga akan bersekolah di sana. Sama denganku. Tadi kami sudah melihat sekolahnya. Lumayan bagus," timpal David.


"Kami baru pindah kemari. Beruntung sekali David bisa punya teman di hari pertama," kata Kristine menepuk pundak Avan yang lebar.


Tubuh Avan bahkan lebih tinggi dari mereka bertiga.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mau membantu David. Kami begitu khawatir kalau adik kecil kami tersesat di kota ini," goda Randie.


"Ah, aku hanya kebetulan ketemu David. Tadi aku merasa kasihan melihat adik kecil Kakak kebingungan sendiri di pinggir jalan," timpal Avan meladeni.


Semua tertawa.


David menyenggolkan sikunya ke perut pemuda itu.


"Duduklah. Aku akan buatkan minuman untuk kalian," kata Kristine.


"Tidak usah repot-repot. Aku cuma mampir sebentar. Hari sudah mulai gelap. Aku harus segera pulang," kata Avan.


Suaranya begitu lembut, kalem, dan dewasa. Membuat mereka lupa bahwa dia adalah seorang pemuda.


"Baiklah, kalau begitu, tapi besok mainlah lagi kemari," pinta Kristine.


"Tentu. Sekalian aku akan bawa formulir pendaftaran sekolah itu untuk David. Aku punya beberapa. Kalau begitu aku pamit dulu ya, Kak, Dav."


David mengangguk.


Randie kembali berbaring di sofa saat David dan Kristine mengamati Avan pergi menjauh meninggalkan rumah mereka.


Lagi-lagi, Kristine melihat anak itu di sana.


Duduk di beranda salah satu rumah.


Tapi Avan tak sekalipun melirik saat melewati anak itu. Seperti tak merasakan keberadaannya.


"David, kau bisa melihat anak itu?" tanya Kristine.


"Itu bukannya anak yang semalam?"


"Tentu saja. Siapa dia?"


"Aku tidak tahu. Tapi, Randie tidak bisa melihat anak itu," kata Kristine.


"Hentikan! Sudahlah, Kak, jangan takuti aku!" sentak David berteriak. Mengejutkan Kristine.


"Maaf, maaf. David. Baiklah, lupakan saja," kata Kristine lupa akan phobianya.


Itu memang salahnya.


David memang seperti itu.


Selalu reflek berteriak dengan nada tinggi saat merasa takut.


"Ada apa, David?" tanya Randie dari dalam.


"Tidak ada apa-apa," balas David. "Ayo masuk, Kak! Dan tutup pintunya rapat-rapat," pinta David sembari menarik lengan Kristine.


***


Cirelat-Bahrose City, 13 Juni 2011.


"Tak bisakah kau libur sehari lagi. Kau kelihatan masih lelah setelah beres-beres kemarin," kata Kristine mengelus pipi Randie dengan lembut.


"Aku tak ingin mengecewakan atasan yang telah memercayakanku tugas ini. Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Hari ini pembukaan resminya, tentunya aku harus hadir di sana, bukan?"


"Baiklah. Tapi, kau yakin tak ingin mengendarai mobil?"

__ADS_1


"Itu malah melelahkan. Aku akan naik bus saja."


"Ya, kau benar. Ini tasmu," Kristine memberikan tas kantor itu pada suaminya.


Randie pun berangkat kerja.


Pagi ini, sama seperti kemarin. Diawali dengan mentari yang menyapa meski tak begitu kentara dan biasanya akan menghilang menjelang sore. Bergantikan awan hitam yang tak pernah menurunkan hujan.


Dari ambang pintu, untuk sejenak, mata Kristine mengedar ke setiap beranda rumah yang ada.


Tak ada.


Hari ini, dia tak melihat keberadaan anak misterius itu. Baru saja dia menutup pintu, seseorang telah mengetuknya dari luar. Saat dia membukanya, anak yang baru saja dicarinya, telah berdiri di sana.


Untuk sedetik, Kristine membeku di tempat.


"Kakak, ayo main!" ajak anak itu sembari menyungging senyum ceria.


Kristine yang sedikit tegang mendadak lega.


Dia hanyalah anak-anak.


Anak yang lucu.


Dengan rambut batok kelapa, baju cerah, dan senyum lebar. Dia tak terlihat lebih janggal dari anak-anak seumurnya.


Kristine pun berjongkok di hadapannya.


"Adik kecil, siapa namamu?"


"Margin, Kakak," jawabnya malu-malu.


"Kau tinggal di mana?"


"Di sana-sini," jawabnya sambil menunjuk ke segala arah.


Anak itu kembali melompat-lompat. Sepatu hitamnya gemeletuk di teras beranda.


"Di mana ibumu?" tanya Kristine sembari mengusap bahu anak itu. Menyuruhnya diam.


"Aku enggak tahu. Kakak, tahu? Aku ingin ketemu Mama."


"Kak, sedang apa?" tanya Avan di samping beranda.


Kristine menoleh.


Avan datang tiba-tiba.


Kristine bahkan tak merasakan kehadirannya.


"Anak ini. Dia ingin—" Kristine terjatuh ke belakang karena terkejut.


Anak itu lenyap!


Yang dia raba sedari tadi hanyalah udara kosong.


"Kak, tidak apa-apa?" tanya Avan segera membantunya berdiri.


Kristine dengan reflek bangkit.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Avan bingung.


__ADS_2