Baros

Baros
Kali Angke 5


__ADS_3

Kali Angke-Bahrose City, Agustus 2011.


Kristine menata rambutnya membentuk sebuah gelungan kecil, membiarkan sedikit rambutnya yang bergelombang terjulur di bagian telinga. Dia kenakan anting-anting dan kalung hati dari ayahnya. Dia tak mendandani wajahnya terlalu berlebihan. Hanya menorehkan lipgloss pink di bibir. Menunjukkan kecantikannya yang lebih alami.


Kristine bangkit dan meraih tas tangannya. "Kalian sudah siap?" tanya Kristine pada tiga pria gagah di ruang depan yang tengah mengenakan jas.


"Kami sudah siap dari tadi, Kak!" gerutu David memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


"David, masukkan kemejamu dengan benar! Lihat Avan, dia begitu rapi."


"Iya. Iya," balasnya malas.


"Bagaimana denganku? Apa aku sudah kelihatan rapi?" tanya Randie.


"Kau selalu rapi setiap waktu. Itulah kenapa aku menyukaimu."


David memutar bola mata.


Randie tersenyum. "Baiklah, sebaiknya kita segera berangkat. Hari semakin siang."


Mereka masuk ke dalam Volkswagen antik itu dan melajukannya ke Kali Angke.


"Apa kau yakin tahu jalannya?" tanya Kristine memastikan.


"Aku kurang yakin. Coba lihat peta ini."


Kristine mengamati peta tersebut. Kali pertama dia melihatnya. Kota itu begitu unik. Segitiga.


Bahrose City adalah sebuah kota yang tenang. Terletak di bagian utara Java Island, satu pulau di bawah kekuasaan Kie Light Corporation yang termasuk bagian dari negara USI—United States Of Indo.


Di sebelah timur, kota ini berbatasan dengan Vanjava City.


Sebelah selatan berbatasan dengan pegunungan batu dan tebing-tebing curam yang mereka sebut Grand Cliff dan sebuah kota mati Lurid City ditemukan di tengah pegunungan itu beberapa tahun lalu.


Sedangkan sebelah utara dan barat kota ini adalah lautan.


Banyak orang dari luar kota salah kaprah mengenai kehidupan di kota ini. Mereka menganggap kota ini adalah kota berkabut yang sepi penduduk, menyeramkan, dan tertinggal. Nyatanya tidak semua hal itu benar. Saat fajar atau sore atau saat musim hujan datang, kota ini kerap diselubungi kabut dan awan hitam tak berujung. Kota ini sekilas memang tampak sepi dengan bangunan-bangunan yang tampak tak berisi, tapi sebenarnya semua bangunan yang berdiri di kota ini ada penghuninya. Kota ini dipenuhi oleh penduduk, hanya saja penduduk pribumi kurang suka berinteraksi dan memilih berdiam diri di rumah mereka masing-masing hingga yang tampak di jalan-jalan hanya sebagian orang. Dan sebagian besar adalah warga yang sebelumnya pindah dari kota lain.


Bahrose City terbagi menjadi sembilan distrik dan hanya beberapa daerah saja yang masih tertinggal. Salah satunya kota bagian Rango yang delapan puluh persennya masih berupa hutan belantara dan beberapa suku pedalaman masih tinggal di sana meskipun di sebelah baratnya telah dibangun resort mewah tempat liburan bagi para turis.


Sedangkan kota bagian lain terutama Chandelier, Liang Gong, Vandanch, Renofill, dan Cirelat sudah tampak maju dengan beberapa transportasi yang cukup modern.


Biaya hidup di kota ini terbilang cukup murah dengan segala fasilitas yang ada. Alasan yang masuk akal untuk pindah dari kota metropolitan yang mahal.


Kini mereka berada di bagian Kali Angke. Mata mereka mengamati setiap jalan menuju puncak.


"Belok kiri di depan sana," kata Kristine.


"Eh, Van, kau sedang baca apa?" tanya David setelah bosan mengamati pemandangan sepanjang jalan.


Avan menyibukkan dirinya sendiri dengan membaca buku yang dia beli tempo lalu.


"Kau masih kecil. Tak boleh baca buku ini," kata Avan tanpa menoleh.


"Sialan, aku sudah besar! Jangan anggap aku anak kecil lagi!"


"Benarkah, hmm ...?" goda Avan.


David membaca judul sampulnya. "Vimana? Memang buku apa itu. Berikan padaku, aku ingin baca."

__ADS_1


"Tapi, kau harus janji tidak boleh bilang jijik."


David mengangguk dan merebut buku tersebut. Dia dengan tekun membacanya. Di halaman itu dahinya mendadak berkerut. Alisnya naik turun.


"Ewh. Itu menjiji—"


Avan memperingatkan. "Eits! Janji."


"Apa itu enak? Kenapa lelaki itu melakukannya? Pasti menyakitkan ditusuk pedang itu?"


David terus mengomentari buku—yang menurutnya itu adalah buku terkutuk.


Avan hanya senyum-senyum sedari tadi.


"—Chand kemudian meminum air—" gumam David. Langsung menutup bukunya dan memberikannya lagi pada Avan. "Avan ... kau, maniak!"


Tawa Avan pecah.


"Jujur, padaku. Apa kau pernah melakukan itu dengan seseorang?" tanya David.


Avan malah tak bisa menghentikan tawanya mendengar pertanyaan itu sampai-sampai tetesan air mata menyeruak di kedua ekor matanya.


"Aku serius," kata David menepuk paha Avan dengan keras. Tapi wajahnya terlihat konyol di mata Avan.


"Hei, sedang membicarakan apa kalian? Hmmm ...?" tanya Kristine penasaran.


Keduanya langsung gugup membisu.


Jalanan itu mengarah ke pegunungan. Tampak di kejauhan sebuah tebing yang disebut Grand Cliff menjulang bak benteng, berbuku-buku melindungi sesuatu yang berharga di baliknya yang tak lain kota—yang dulu pernah mati—Lurid City.


Randie mengikuti petunjuk ke arah kiri. Memasuki jalanan beraspal mulus yang dipenuhi belukar serta deretan pohon pinus di kanan kirinya.


Plang besi itu tampak berkarat. Seperti telah belasan tahun tertancap di situ.


Mereka masuk ke sebuah lahan parkir tapi tak ada area kosong. Mobil-mobil dari tamu undangan yang lain telah tiba memenuhi parkiran.


"Coba parkir sebelah sana saja," kata Kristine menunjuk lahan kosong di ujung jalan yang terhalang palang besi menuju kawasan hutan.


Mereka akhirnya turun dan meregangkan badan sejenak.


Randie menggandeng lengan Kristine dan berjalan di depan.


David dan Avan mengikuti mereka dari belakang.


Di atas gerbang masuk tertulis 'ZONA ALAM LANGKA'.


Sekeliling pintu masuknya dihiasi bunga-bunga dengan ornamen pernikahan.


"Mereka menyewa seluruh lokasi wisata ini," kata Randie saat mereka mendekati seorang wanita penerima tamu undangan yang duduk di balik meja di samping loket tiket masuk kawasan wisata.


Randie memberikan undangan itu padanya dan menulis namanya di daftar tamu.


"Acaranya diadakan di sebelah timur. Di area taman buah," kata wanita itu sembari tersenyum.


Bersama, mereka masuk mengikuti jalanan setapak berbatu.


Beberapa pelayan yang bertugas tampak mondar mandir di sekitar mereka. Beberapa tamu lain berada jauh di depan.


Mereka mengikutinya.

__ADS_1


Jalan setapak itu berada di antara pepohonan sakura yang tiap pohonnya dikelilingi pagar semak Arbei.


Cukup jauh di hadapan mereka, air terjun terlihat. Air terjun yang terasa asin itu mengalir dari dalam lubang di atas tebing setinggi lima puluh meter. Terjun ke bawah kolam alami yang dimodifikasi dengan bebatuan buatan hingga tampak indah. Ada beberapa anak dan orang tua sedang berenang di bawahnya.


"Bukankah semua kawasan ini disewa?" Kristine bertanya-tanya.


"Mungkin mereka juga tamu undangan," jawab Randie tak mau memikirkan hal itu lebih jauh.


Avan mengamati sekeliling dan dia tak menemukan sesuatu yang janggal.


Tak jauh dari sana, mereka memasuki taman bunga. Bunga berwarna-warni dari seluruh dunia tumbuh subur memenuhi lahan sejauh seratus meter. Randie diam-diam memetik satu dan memberikannya pada Kristine. Avan ikut-ikutan memetik bunga itu. Mencium harumnya sejenak sebelum akhirnya memberikannya pada David.


"Ini."


"Buang itu. Apa kau tidak lihat ada lebah di dalamnya!" sergah David menepisnya dari tangan Avan.


Tak lama kemudian, mereka memasuki area lain. Area taman buah.


Beberapa buah tampak ranum memenuhi sebagian pohon. Sisanya tidak berbuah. Rumah kaca berada di sebelah barat dan beberapa petugas wisata sedang memetik buah-buah yang matang cukup jauh dari jalan setapak.


Mereka tiba di tempat acara. Pernikahan diadakan di lahan kosong berumput di tengah-tengah pepohonan berbagai buah di sekitarnya.


Terdapat sebuah panggung megah di sana. Dihiasi ornamen-ornamen bunga-bunga putih.


Pemain orkestra tengah memainkan musik klasik menemani seluruh tamu undangan yang sedang berbincang-bincang.


Anak-anak mengambil kue-kue dari meja yang dijajakan di sepanjang lahan. Berlarian ke sana ke mari.


Pemuda seumuran David berkumpul di pojokan mereka masing masing. Tertawa lepas bersama para gadis bergaun putih sembari meminum minuman yang disajikan dan memetik buah-buahan langsung dari pohon di belakang mereka.


Randie dan Kristine memasuki kerumunan, mendekati sang empunya acara.


Mereka saling berkenalan. Berbasa-basi.


Acara pun dibuka. Sang mempelai pria dan wanita meikrarkan janji sehidup semati di bawah naungan bebungaan yang dirangkai sedemikian rupa membentuk gapura.


Dan acara dansa pun dimulai.


Randie dan Kristine beserta tamu undangan lainnya berdansa diiringi musik waltz yang mengalun merdu.


Para pemuda ikut berdansa bersama pasangannya masing-masing. Sementara David dan Avan duduk menonton mereka layaknya pemuda malang lain yang dilanda gundah gulana karena belum punya pasangan.


Avan kemudian mengulurkan lengannya.


"Bagimana kalau kita ikut berdansa juga?" tawar Avan.


"Ha. Ha. Ha," tawa David hambar, sembari menyungging senyum sinis dan menepis lengannya. "Dalam mimpimu. Ini sungguh memalukan."


David lalu berjalan menuju pohon buah-buahan di sebelah utara. Menjauhi mereka sembari menghirup udara yang terasa begitu segar.


Avan setia mengikutinya di belakang.


Di depannya ada pohon Apel. Satu apel yang tersisa di pohon itu tampak begitu menggoda. David mencoba memetiknya. Tangannya tak sampai meraihnya. Lalu Avan menyambar apel itu dengan tangannya yang panjang dan langsung menggigitnya tanpa permisi.


"Hei, itu milikku, sialan!"


"Nih," katanya memberikan apel yang sudah digigit setengah.


"Dasar!"

__ADS_1


__ADS_2