Bayang Cinta Semu

Bayang Cinta Semu
Kakak


__ADS_3

"Gausah aneh-aneh, deh! Aku nggak masalah kalau kamu mau jadi Kakakku untuk melindungi aku dari segala bahaya. Tapi, enggak dengan menikahi aku juga kali. Aku masih SMA, loh!" ocehku panjang lebar. 


"Enggak apa-apa. Aku enggak keberatan nunggu kamu sampai lulus, Sya," jawabnya santai, tetapi penuh dengan aura keseriusan. 


"Masalahnya enggak di situ aja. Aku ini udah punya cowok sejak tahun lalu. Enggak mungkin aku khianati dia dengan menjalin hubungan sama orang lain," paparku menjelaskan. 


Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah apa yang akan dikatakan olehnya. Namun, dari ekspresi itu, sepertinya dia akan menceramahiku lagi. 


"Kamu tahu, Sya. Yang nikah aja bisa cerai kalau jodohnya udah habis. Apa lagi yang baru pacaran. Kamu tahu, di agama kita bahkan tidak memperbolehkan kegiatan pacaran itu, Sya. Dosa," katanya yang mendadak berlaku seperti seorang ustadz. 


"Ya terus, ngapain kamu mau melamar aku kalau gitu?" tanyaku yang sengaja membalik ucapannya tadi. 


"Aku kan ngajak kamu nikah, bukan pacaran," jawabnya dengan nada santai tanpa beban. 


"Tetap aja. Ngajaknya nikah kan setelah aku lulus SMA," sahutku dengan cepat. 


"Kalau itu, sih, terserah kamu. Mau nikah besok juga aku enggak keberatan," celetuknya tanpa pikir panjang. 


"Idih, kamu ngelamar apa malak anak orang, sih?" tanyaku yang sedikit kesal. 


"Terserah apapun itu namanya. Asal kamu jadi istriku, ya enggak masalah." 


Ketika aku hendak menjawab ucapannya yang semakin melantur, tiba-tiba ponselku berdering. Segera kuambil benda pipih itu dan mendapati nomor Farid yang memanggil. Tidak ingin ada kesalahpahaman aku pun menerima panggilan darinya. 


"Hallo," sapaku singkat. 


"Lagi apa, Yang?" tanya Farid padaku. 


"Lagi di pantai," jawabku singkat. "Ada apa?" tanyaku dengan nada dingin. Aku memang sedang kesal padanya, dia kekasihku tapi tidak pernah ada ketika aku membutuhkan dirinya. 


"Oh, sama siapa?" Dia kembali melempar pertanyaan. 


"Sama Kakakku. Udah dulu, ya. Lagi enggak pengen di ganggu," pungkasku yang langsung mengakhiri panggilan. 

__ADS_1


"Nah, kan. Baru pacaran aja udah dingin gitu. Gimana nanti kalau udah nikah, terus punya anak? Nggak bisa dibayangkan," sahut laki-laki disampingku ini. 


"Enggak usah ikut campur, deh! Lagi males banget bahas dia," ucapku ketus, dia hanya mengedikkan bahunya. 


Pikiranku kini mulai setuju dengan apa yang dikatakan olehnya. Entah memang kini aku mulai sadar, atau karena dia berhasil mendoktrin pikiranku agar sepaham dengannya. Yang jelas, sejak mengenalnya, aku mulai melupakan Farid. 


Suasana kini semakin hening. Hanya ada suara yang berasal dari deburan ombak yang menabrak bibir pantai, serta suara semilir angin yang semakin kencang. 


Tempat itu juga sudah mulai gelap. Hanya ada penerangan dari beberapa lampu di belakang sana. Pantai yang biasanya begitu ramai, kali ini justru sepi tanpa seorang pun kecuali kami berdua. Entah ini terjadi berkat takdir Tuhan, atau memang dia yang merencanakan. 


"Udah makin malam, Sya. Mau pulang?" Dia menawarkan padaku untuk segera meninggalkan tempat ini. 


Aku mulai gamang, sebenarnya aku masih nyaman berada di tempat ini. Namun, malam yang semakin larut membuatku tidak memiliki pilihan lain. 


"Ya udah, ayok pulang!" ajakku menyetujui tawarannya. 


"Yaudah, ayok!" Dia pun bangkit, kemudian mengulurkan tangannya untuk membantuku bangun. 


"Mau pulang langsung, atau mampir makan dulu?" tanyanya, sambil memakai helm miliknya  "Aku laper banget dari siang belum makan," sambungnya, kemudian meraba perut rata itu. 


"Makan dulu boleh, deh!" 


"Oke," jawabnya singkat, lalu segera mengendarai motornya. 


Kami pun berlalu dari sana. Seperti perjanjian, kami mampir dulu ke tempat makan. Sebuah warung pinggir jalan dengan gerobak berwarna biru, bertuliskan mie ayam. 


"Kamu suka mie ayam, 'kan?" tanyanya setelah menaruh motornya di samping warung. 


"Suka," jawabku singkat.


"Kalau aku?" tanyanya ambigu. 


"Kamu kenapa?" tanyaku balik dengan mata memicing. 

__ADS_1


"Kamu suka aku enggak?"


"Enggak!" jawabku singkat, padat, dan sangat jelas. 


"Dih! Jujur banget. Pura-pura dikit ngapa?" 


Kudengar bibirnya mengomel, mungkin dia benar-benar kesal dengan kejujuranku saat ini. Aku memang tidak suka padanya, tetapi entah kenapa hatiku mulai nyaman bersamanya. 


Dia pun mengayunkan langkah untuk masuk ke warung mie ayam yang kami sambangi. Aku tetap mengikuti di belakang dengan bibir berkedut. Lucu sekali dia masih mengomel meski kami sudah duduk di kursi yang berhadapan. 


Si penjual menghampiri kami untuk menanyakan pesanan kami. Dia menjawab sebelum aku menjawab lebih dulu. 


"Dua mie ayam makan di sini, yang tiga dibungkus. Minumnya esteh aja dua," ucapnya yang membuatku kebingungan. 


"Baik, ditunggu sebentar," jawab si penjual dengan ramah. 


"Mbak, maaf, boleh air putihnya juga dua gelas," pintaku pada si penjual. 


"Boleh, Mbak. Sebentar, ya," pungkas si penjual lalu kembali ke gerobak dagangannya. 


Begitu si penjual sudah sibuk membuat pesanan kami, aku pun menatap laki-laki dihadapanku ini dengan lekat. Kulihat dia sedikit salah tingkah karena tatapanku. 


"Kenapa?" tanyanya dengan nada gugup. 


"Kamu yang kenapa? Bungkus tiga mie ayam buat apa? Memangnya kalau makan di sini enggak kenyang?" Berondongku dengan banyak pertanyaan. 


"Itu buat keluarga kamu, Sya. Ibu, Bapak, sama Masmu tadi," jawabnya, kini suaranya sudah kembali normal seperti biasa. 


"Lah, ngapain beliin mereka? Aku enggak mau nanti kamu jadi boros cuma buat terlihat baik di mata mereka," ucapku menyampaikan keberatan. 


"Sya, aku enggak semiskin itu sampai enggak bisa beliin keluarga kamu oleh-oleh. Lagian, berapa, sih, harga mi ayam? Enggak akan nguras dompetku juga, kok!" 


"Tapi nanti jadi kebiasaan. Setiap kita keluar, mereka nungguin oleh-olehnya, Kak!" Tanpa sadar, aku benar-benar memanggilnya dengan sebutan Kakak. 

__ADS_1


__ADS_2