Bayang Cinta Semu

Bayang Cinta Semu
Menolak


__ADS_3

Dengan berat hati aku urungkan niat untuk pergi merantau. Jika hanya aku yang dikutuk oleh Ibu, mungkin aku masih bisa egois. Namun, jika keegoisanku akan memakan banyak korban, rasanya tidak sebanding. Hanya demi sebuah kebebasan, aku mengesampingkan keselamatan orang banyak. 


Saat ini aku sedang duduk di kasur dengan tatapan kosong. Sungguh, aku merasa dunia sangat tidak adil padaku. Sejak kecil, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan, begitu aku menemukannya Tuhan justru mengambilnya dengan cepat. 


"Kak, andaikan kamu masih ada di sini," ucapku lirih. Kelopak mataku sudah sangat berat, hingga aku berkedip dan luruhlah air mata yang sejak tadi terbendung. 


Aku hanya bisa menangisi nasibku sendiri di dalam kamar. Aku bahkan lupa untuk mengabari Kakakku bahwa aku gagal berangkat ke sana. 


Lelah hati dan pikiran membuatku tanpa sadar jatuh ke alam mimpi. Esok harinya aku terbangun masih dengan posisi duduk bersandar di dinding. 


Kuusap kedua mataku pelan. Tidak ingin bertemu dengan kedua orang tuaku saat ini membuat aku memutuskan untuk merebahkan diri di kasur. 


Hari ini aku sudah bertekad untuk menghabiskan waktu di kamar saja. Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Aku hanya melirik ke arah pintu tanpa berniat untuk membukanya.


"Maaf, Bu. Tapi Tasya benar-benar kecewa pada Ibu," ucapku dengan bibir bergetar. 


"Sya, buka pintunya, Sayang!" teriak Ibu, tetapi sama sekali tidak kuhiraukan. 

__ADS_1


"Tasya!" Teriakan Ibu semakin keras, sebab aku sama sekali tidak menyahut. 


"Udah biarin aja. Paling dia lagi ngambek." Suara Bapak terdengar oleh telingaku. 


"Tapi dari semalam Tasya belum makan, Pak," jawab Ibu. 


"Biarin aja, kalau lapar nanti keluar sendiri," ucap Bapak dengan nada menekan. 


Setelah itu aku sama sekali tidak mendengar suara Bapak maupun Ibu. Hanya samar-samar terdengar suara langkah kaki yang menjauh. 


*****


Sehari setelah kejadian itu, aku baru mau keluar dari kamar. Namun, aku masih saja mendiamkan Ibu serta Bapak. Bagiku, mereka hanyalah orang tua egois yang tidak ingin anaknya bahagia. 


Berhari-hari aku tidak mau makan di rumah. Aku selalu pergi tanpa berpamitan pada mereka. Selama itu, aku sering mendengar Ibu dan Bapak bertengkar. Akan tetapi, hatiku pun sudah terlanjur kecewa pada Ibu. Hal itu menyebabkan aku malas untuk ikut campur ketika mereka saling beradu argument. 


Hingga pada suatu hari, ada tamu yang datang ke rumah. Mereka adalah orang yang sama dengan tamu saat itu. Tamu yang membuatku ingin sekali pergi dari tempat kelahiranku ini. 

__ADS_1


Bapak masih bersikeras untuk menjodohkan aku dengan laki-laki yang sama sekali tidak kukenal. Ibu, dia ikut memaksaku agar aku tidak menolak. Wanita tua itu memohon agar aku tidak membangkang pada kemauan Bapak. Padahal, aku pun memiliki hak untuk memilih, 'kan?


Usai perkenalan dengan laki-laki itu, keluarga meminta agar aku dan dia menghabiskan waktu bersama agar saling mengenal satu sama lain. Dengan berat hati, aku melakukan semua demi Ibu. 


Kini kami sedang berada di teras depan rumah. Dia duduk tepat di sampingku, tetapi sama sekali tidak kupedulikan. Aku masih belum bisa menerimanya sebagai calon suami. 


"Tasya," panggilnya yang hanya kurespon dengan lirikan saja. 


Dia menyampingkan tubuhnya untuk menghadap padaku. Namun, aku masih saja diam tanpa kata. Sesekali hanya ekor mataku saja yang memperhatikan gerak-geriknya. 


"Kamu tidak setuju dengan perjodohan ini?" tanya laki-laki yang merupakan calon suami pilihan Bapak. 


"Kalau aku jujur bahwa aku tidak setuju, apa kamu mau membatalkan rencana Perjodohan konyol ini?" tanyaku balik, kini aku menatap ke arah laki-laki berkulit putih bersih di sampingku ini. 


Aku dapat melihat raut wajahnya berganti datar setelah aku membahas perkara pembatalan Perjodohan. Akan tetapi, hatiku benar-benar belum bisa menerima kehadiran pria lain di kehidupanku. 


"Apa alasan kamu menolak perjodohan ini, Sya? Apakah karena aku jelek?" tanyanya tiba-tiba. Seketika aku teringat dengan ucapan Kak Risqi waktu itu, dia menuduhku tidak mau berkenalan hanya karena dia tidak tampan. 

__ADS_1


__ADS_2