
Hingga pulang ke rumah aku masih saja terpikirkan dengan ucapan Ibu tadi. Ya, andaikan saja dulu aku memberi kepastian dan menerima lamaran Kak Risqi, mungkin aku bisa menjadi pelipur lara untuk wanita tua itu.
Malam yang kian larut membuatku memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah. Lagi pula, aku tidak ingin besok kesiangan menjemput Ibu untuk mengunjungi makam Kak Risqi.
Aku mulai memejamkan mata. Menikmati alunan lagu yang kusetel dari ponsel. Lama-kelamaan aku larut ke dalam alam bawah sadar.
*****
"Loh, aku di mana?" tanyaku saat tiba-tiba aku berada di satu tempat yang begitu asing untukku.
Pandanganku berkeliling untuk mengingat-ingat, apakah aku pernah datang ke tempat ini. Namun, hasilnya nihil. Aku benar-benar tidak mengingat bahwa aku pernah datang ke tempat ini.
Tempat yang begitu indah, dengan beragam bunga yang mekar dengan sempurna. Di bagian tengah tempat itu terdapat air mancur buatan yang di bagian bawahnya menjadi tempat hidup ikan hias.
Ketika pandanganku tertuju pada ikan-ikan yang berenang ke sana ke mari dengan asiknya, tiba-tiba pundakku ditepuk seseorang dari belakang. Buru-buru aku berbalik ke belakang, betapa terkejutnya aku saat Kak Risqi berdiri di sana dengan senyumnya yang menawan.
Dia begitu tampan dengan pakaian serba putih, rambutnya yang dulu selalu pendek sekarang sedikit agak gondrong. Namun, tidak ada yang berubah dari wajahnya. Masih sama seperti dulu.
"Kak," gumamku lirih.
"Kamu udah pulang, Dek?" tanya Kak Risqi.
__ADS_1
Bibirku terasa berat untuk menjawab pertanyaannya. Namun, dengan sekuat tenaga kupaksa kakiku untuk melangkah maju. Ketika sudah dekat, aku langsung memeluk tubuh tegap itu begitu erat.
"Dek!" Kak Risqi memaksaku untuk melerai pelukan kami.
Usai pelukan itu terlepas, aku menatap wajahnya lekat-lekat. Bahagia, itulah yang saat ini aku rasakan. Bisa melihatnya berdiri di hadapanku lagi itu rasanya begitu melegakan hati.
"Kakak, jangan pergi lagi, ya." Aku menggenggam erat kedua tangannya.
Kak Risqi tersenyum. Begitu manis, hingga aku benar-benar terpesona oleh pahatan sempurna seorang pria yang berdiri di depanku ini.
"Kakak tidak pernah pergi, Dek." Dia menuntun tanganku untuk menyentuh dadaku. "Kakak selalu ada di sini," sambungnya lagi.
"Aku kangen, Kak."
"Pasti, Kak. Kakak juga, ya," balasku sambil tersenyum senang.
Lagi-lagi Kak Risqi hanya tersenyum. Dia tidak membalas ucapanku barusan.
"Dek, boleh kakak titip ibu?"
"Boleh. Ibu kan juga sayang padaku," ucapku yang ditanggapi anggukan olehnya.
__ADS_1
"Terima kasih, ya, Dek."
"Sama-sama, Kak." Aku kembali merentangkan kedua tanganku untuk memeluknya. Namun, tiba-tiba saja Kak Risqi menghilang dari hadapanku.
"Kak!" seruku memanggilnya.
Aku memutar badanku ke segala penjuru tempat itu untuk mencari keberadaan Kak Risqi, tetapi sama sekali tidak kutemukan dia maupun jejaknya.
"Kakak!"
Aku menatap sekeliling, ternyata aku masih berada di kamarku sendirian. Kulihat jam dinding yang tergantung di atas sana. Ternyata sudah pukul empat pagi.
"Ya Allah, ternyata cuma mimpi," ucapku lemah. Kuusap kasar wajahku yang terasa basah oleh keringat.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ibu muncul dengan wajah cemasnya. "Kamu kenapa, Sya?" tanya Ibu.
Ibu masuk, lalu menghampiriku. Wanita tua itu duduk di sampingku, tangan keriputnya membelai kening hingga rambutku.
"Tasya baik-baik aja, Bu."
"Tapi tadi ibu dengar kamu panggil-panggil nama Risqi, loh!"
__ADS_1
"Hah! Masa, sih?"