
"Enggak! Aku enggak mau dijodohkan!" Aku menolak mentah-mentah rencana Bapak.
"Kamu mau jadi anak durhaka, Tasya!" bentak Bapak dengan nada tinggi.
Aku sama sekali tidak gentar melihat Bapak yang dengan congkaknya mengatakan aku sebagai anak durhaka. "Tasya memang anak Bapak. Tapi selama ini semua yang seharusnya menjadi kewajiban Bapak, semua Tasya penuhi sendiri. Bapak tidak berhak menentukan pilihan atas hidup Tasya!"
"Berani membantah kamu!" Bapak semakin meninggikan suara. Tangan kanannya pun ikut terangkat, hendak menamparku. Namun, sekali lagi aku tidak gentar sedikitpun.
"Bapak mau tampar Tasya?" tanyaku dengan berani. "Silahkan. Jika perlu, akhiri saja hidup Tasya!" tantangku pada Bapak.
Mendapati sikapku yang semakin berani, Bapak mulai terbakar emosi. Laki-laki yang rambutnya sudah memutih itu menamparku dengan keras.
Tamparan keras itu bahkan sampai membuatku hampir terjungkal. Beruntung aku bisa mengimbangi beban tubuhku.
"Puas, Pak? Bapak sudah puas?" tanyaku padanya dengan sorot mata kebencian.
"Dasar anak tidak tahu diri!" Bapak memaki aku dengan kata-kata kasar. Tidak ingin suasana semakin memanas, aku pun langsung bangkit dan berlari menuju kamar.
Saat sudah berada di kamar, aku langsung merapikan pakaianku dan memasukkannya ke dalam koper. Meski sesak akibat ucapan-ucapan kasar Bapak, tetapi mataku ini sama sekali tidak mengeluarkan kristal bening. Mungkin karena kebencianku terhadapnya semakin mendarah daging membuatku sukar menangis.
Usai membereskan pakaian serta barang-barang pribadiku ke dalam koper, aku menggapai ponselku yang tergeletak di kasur. Segera kuhubungi seseorang yang akan menjadi tempatku berlindung.
Tidak butuh waktu lama. Baru dering pertama panggilan langsung tersambung. Terdengar suara seorang wanita yang selama ini menjadi tempat ternyamanku sejak kecil.
"Sya, ada apa?" tanyanya dengan suaranya yang sedikit cempreng.
"Mbak. Tasya mau ke Jambi lagi," ucapku tanpa basa-basi.
"Loh, kenapa? Di sana kan belum ada satu bulan."
"Aku mau tinggal di sana selamanya aja!"
"Apa ada masalah?" tanyanya curiga.
"Aku enggak mau dijodohkan, Mbak! Bapak mau jodohin aku sama orang yang sama sekali enggak aku kenal," ucapku berapi-api.
"Ya Allah, Bapak, ngapain bikin ulah lagi, sih!" Terdengar Mbak Retno mengatakan itu dengan nada frustasi. Sepertinya dia pun sama sepertiku, sudah muak dengan sikap Bapak yang selalu semena-mena.
"Ya udah. Rencana mau berangkat kapan?" tanya Mbak Retno.
"Nanti malam."
__ADS_1
"Kamu serius? Emang udah bilang sama Ibu?"
"Nanti aku bilang," jawabku sekedarnya.
"Oke. Nanti kabarin terus, ya!"
Sambungan telepon berakhir setelah perbincangan kami telah usai. Aku segera membersihkan diri karena berniat untuk mengunjungi seseorang sebelum aku berangkat ke pulau seberang.
Aku keluar dari kamar setelah rapi dengan pakaianku. Saat aku hendak keluar dari rumah, tidak ada satupun orang yang melihatnya. Segera kunyalakan mesin motor dan mengendarainya menuju tempat yang hendak aku datangi.
Beberapa saat kemudian, aku sampai di sebuah rumah minimalis yang terlihat sepi. Aku segera turun dari motor setelah memarkirkan kendaraan matic itu di bawah pohon jambu.
"Mungkin ibu di warung," ucapku seraya menatap sebuah warung yang terletak tidak jauh dari rumah ini.
Kulangkahkan kakiku menuju warung tersebut. Ketika sudah semakin dekat, aku bernapas lega saat melihat warung itu memang dalam keadaan buka. Itu artinya, Ibu memang ada di sana.
"Assalamualaikum!" seruku saat masuk ke dalam warung itu.
"Waalaikum salam." Beberapa orang yang ada di dalam menjawab salamku. Mereka menatapku dengan tatapan bingung, sedangkan ibu selalu menyambutku dengan senyuman hangat.
"Bu," sapaku ramah.
Aku pun langsung menurut. Melangkah mendekati ibu yang sedang melayani beberapa pembeli.
"Bu Siska, ini siapa?" tanya salah satu pembeli sambil menatapku lekat.
"Dia pacarnya risqi, Mel." Ibu memperkenalkan aku sebagai kekasih Kak Risqi.
"Oalah. Kasihan kamu, Nduk! Yang tabah, ya. Risqi pasti bahagia sekali karena memiliki pacar seperti kamu. Meski dia sudah meninggal, kamu tetap ingat sama ibunya," ucap si pembeli tadi.
"Hm. Iya, Buk," jawabku sopan.
"Tasya duduk dulu di sana, Nak. Ibu buatkan teh dulu," kata Ibu dengan sangat lembut dan perhatian.
"Iya, Bu," jawabku singkat, lalu melangkah menuju tempat yang ditunjuk oleh Ibu.
Pandanganku berkeliling, melihat ke setiap sudut warung ini. Aku masih menimang keputusan untuk tetap berada di kota ini seperti permintaan Kak Risqi untuk menjaga Ibu atau pergi jauh agar terlepas dari belenggu Bapak.
"Sya!" panggil Ibu yang ternyata sudah ada di dekatku.
"Eh, Ibu."
__ADS_1
Ibu menaruh teh hangat di meja, lalu menatapku yang seketika memaksa bibit untuk tersenyum. Sepertinya Ibu peka dengan perasaanku saat ini.
"Tasya ada masalah?" Tanpa basa-basi, Ibu langsung bertanya.
Aku mengangguk kecil dengan mata berkaca-kaca. "Ada sesuatu yang mau Tasya bicarakan sama ibu," ucapku dengan ragu.
"Mau bilang apa, Sya?" tanya Ibu.
"Tasya mau minta izin ke Ibu. Nanti malam Tasya mau berangkat ke Jambi," kataku dengan susah payah.
Dari ekspresinya Ibu terlihat terkejut. "Jambi? Itu pulau seberang, 'kan?" tanya Ibu memastikan.
"Iya, Bu."
"Kenapa harus ke sana, Sya?" tanya Ibu dengan nada sedih.
"Tasya ingin hidup mandiri, Bu. Di sini, Tasya tidak pernah merasakan kedamaian hidup," jelasku pada Ibu.
"Maksud kamu?" tanya Ibu heran. Wajar saja, wanita itu pasti tidak tahu bagaimana seluk beluk keluargaku.
"Tasya ingin lepas dari belenggu Bapak, Bu. Tolong izinkan Tasya pergi, ya," pintaku dengan penuh harap.
Ibu menatap nanar padaku. Mungkin dia pun kecewa pada keputusan yang akan aku ambil.
"Ibu tenang saja. Tasya akan sering berkunjung jika pulang ke Jawa lagi," ucapku berusaha meyakinkan Ibu.
Ibu meraih tangan kananku, kemudian mengusapnya dengan lembut. "Ibu senang sekali kamu bisa menyayangi Ibu sangat dalam. Ibu juga tidak bisa melarang kamu untuk pergi," ucapnya dengan nada sendu.
Mendengar ucapan Ibu, aku juga ikut sedih. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Aku sudah sangat muak dengan sikap Bapak yang maunya menang sendiri.
"Maaf, ya, Bu. Maaf karena Tasya mengecewakan Ibu," kataku penuh sesal.
Meski sedih dan bimbang, tetapi aku tidak mau mengubah keputusan yang sudah aku ambil. Jika tidak dengan cara ini, selamanya Bapak tidak akan pernah berubah.
"Tidak apa-apa, Sya. Ibu mengerti," ucap Ibu yang seketika membuat hatiku pilu.
Sebenarnya aku tidak tega, tetapi aku juga tidak bisa menerima keputusan yang diambil Bapak secara sepihak. Aku takut jika pilihan Bapak tidak jauh-jauh dari sifat dan karakter Bapak. Memiliki Bapak yang tidak bertanggung jawab saja sudah membuat hidupku menderita sejak kecil. Bagaimana jika aku juga memiliki suami yang sepertinya. Aku tidak ingin anak-anakku nantinya hidup menderita seperti aku.
"Terima kasih, Bu. Tasya pamit dulu, ya," pamitku dengan berat hati.
"Kamu hati-hati, Sya. Jangan lupakan Ibu, ya," pinta Ibu dengan air mata yang luruh dari kedua mata keriputnya.
__ADS_1