Bayang Cinta Semu

Bayang Cinta Semu
Alasan Sebenarnya


__ADS_3

Air mataku lolos begitu saja saat mengingat kenangan bersama Kak Risqi. Tetapanku tidak lepas dari jam tangan berwarna merah yang kupegang sejak dua jam yang lalu. Sudah selama itu aku larut dalam kisah masa lalu bersama seorang pria yang dulu menjadi sosok pelindung untukku. 


Kini aku mulai melepaskan jam tangan tersebut, menaruhnya di pangkuan. Tangan kananku mulai menggapai sebuah kertas berwarna merah muda. Ketika aku membuka kertas tersebut, di sana terdapat coretan tangan yang begitu indah. 


(Hai, Dek. Jangan menangis, Sayang! Kakak mohon, jangan teteskan air mata kamu!) Tulisan itu sudah menyapa penglihatanku yang semakin kabur akibat pelupuk mataku telah dipenuhi oleh cairan bening. 


(Maaf, maafin kakak, Dek! Kakak terlalu pengecut untuk mengakui apa yang terjadi saat itu. Kakak tahu, kamu pasti membenci kakak karena wanita yang kakak bawa saat itu. Maaf, Dek. Mungkin sekarang tidak ada gunanya kakak menjelaskan, semua sudah terjadi. Satu yang harus kamu ingat, hingga hembusan napas terakhir kakak, kamu adalah satu-satunya gadis yang berhasil mengalihkan dunia kakak. Jangan bilang ini gombal, yah! Kakak udah berusaha jujur.) Tanganku mulai bergetar saat membaca untaian kata yang ditulis tangan oleh Kak Risqi. 


(Kakak bersyukur karena saat itu kamu tidak menerima kakak, Dek. Dengan begitu kakak tidak terlalu berat untuk bersandiwara. Entah bagaimana jika saat itu kita jadian, mungkin rasa sakit yang kamu rasakan akan lebih dari itu. Maafkan kakak yang memilih untuk menyembunyikan penyakit ini. Kakak tidak kuat jika suatu saat kamu menangis di depan jasad kakak. Sebab itulah kakak memutuskan untuk tidak memberitahu kamu.) Isak tangis mulai tidak bisa lagi kutahan saat membaca setiap kata yang ditulis oleh Kak Risqi, aku yakin, dia menulis surat ini dengan tangan bergetar. Terbukti dari tulisannya yang sedikit tidak rapi. 


(28 Desember 2015 menjadi hari kehancuran kakak. Saat itu, kakak harus menelan pil pahit ketika mengetahui di tubuh ini terdapat penyakit yang sudah parah. Kakak mengalami gagal ginjal, sebab itulah kakak memutuskan untuk membuat kamu membenci kakak. Maaf, ya, Dek. Mungkin kamu tidak akan mudah untuk memaafkan kakak. Tapi, semoga kamu bisa menerima takdir ini, ya, Dek. Biarkan kakak membawa rasa ini hingga ke liang lahat. Membawa cinta tulus ini dalam tidur panjang kakak. Kakak akan menunggu kamu di surga, Dek. I love you, more.) 


Tanganku bergetar hebat, air mata pun sudah tak mampu kubendung. Aku menangis sejadi-jadinya di dalam kamar ini. Tangisan itu juga menimbulkan suara sesegukan. Tidak ingin Ibu mendengar tangisanku, aku mencoba untuk membekap mulut agar tidak menimbulkan suara apapun. Namun, apa yang aku lakukan sudah terlambat. 


Ibu masuk ke dalam kamar yang memang pintunya lupa aku kunci. Wanita tua itu langsung panik saat melihat kondisiku yang menyedihkan. Tangan hingga bahu yang bergetar hebat, mata memerah dan suara suara sesegukan yang terdengar sangat pilu. 


"Tasya, kamu kenapa?" tanya Ibu cemas. Wanita itu tergopoh-gopoh menghampiriku. 


Segera kusembunyikan surat dari Kak Risqi. Aku berusaha menyembunyikan itu agar Ibu tidak tahu tentang hubungan kami yang sempat memburuk sebelum aku pergi ke pulau seberang. 


Ibu menatapku dengan bingung. Tangisku kini memang sudah berhenti, tetapi sesegukan itu belum bisa hilang. Tanpa menjawab pertanyaan Ibu, aku masuk ke dalam dekapan wanita yang telah melahirkanku. Ibu pun tidak kalah erat memeluk dan mengusap-usap punggungku. 


"Kenapa, Nak? Coba cerita." Ibu berkata sepelan mungkin bermaksud untuk menenangkan aku. 


Kini aku melepaskan dekapan hangat ibu, kemudian menatap Ibu dengan tatapan sayu. Rasa sedih itu kian terasa ketika mengetahui alasan sebenarnya dia meninggalkanku. 


"Kak Risqi, Bu." Suaraku masih bergetar hebat. 

__ADS_1


"Risqi kenapa?" tanya Ibu heran. 


"Kak Risqi sudah meninggal, dua tahun yang lalu, Bu." 


Ibu tersentak kaget. Sepertinya ibu juga baru tahu tentang kematian Kak Risqi. 


"Innalilahi wainailaihi rojiun. Dia meninggal karena apa, Sya?" tanya Ibu menuntut penjelasan dariku. 


"Gagal ginjal," jawabku dengan Isak tangis yang kembali menggema. 


"Astagfirullah!" seru Ibu yang juga seakan tidak percaya dengan kenyataan yang terjadi. 


Ibu kembali memelukku dengan erat. Mengusap-usap punggungku yang mulai bergetar lagi. Sakit, ya, rasa sakit itu memang lebih terasa ketika mengetahui alasan sebenarnya. 


"Kenapa? Kenapa kakak menyembunyikan ini, Kak?" tanyaku dalam hati. "Jika kakak mau jujur padaku, aku pasti akan berusaha merawat kakak sampai sembuh. Jikapun tidak, kita akan mengukir kenangan indah kita sebelum Kakak benar-benar tiada," batinku penuh sesal. 


*****


Mataku mulai mengerjap saat samar-samar mendengar suara adzan berkumandang. Tanganku mengucek mata agar pandangan lebih terang. Ketika melihat jam di dinding kamar, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat. 


Aku segera beranjak dari pembaringan, lalu mengambil jam tangan serta surat dari Kak Risqi. Menaruh barang-barang tersebut ke dalam laci lemari. 


Begitu selesai menyimpan kenang-kenangan dari Kak Risqi, aku keluar dari kamar dan langsung menuju kamar mandi. Membersihkan diri sebelum nanti akan mengunjungi rumah sederhana yang dulu begitu nyaman untukku. 


Usai membersihkan diri dan melaksanakan sholat ashar, aku segera mengganti pakaian dengan yang lebih sopan. Setelah rapi, aku pun keluar dari kamar. Dari arah belakang Ibu mengejarku yang hendak keluar rumah. 


"Tasya!" seru Ibu dengan suara cukup keras. Aku pun menghentikan langkah, lalu berbalik. 

__ADS_1


"Ada apa, Bu?" tanyaku padanya. 


"Kamu mau ke mana?" Ibu balik bertanya. 


"Ke rumah Kak Risqi, Bu."


"Mau apa ke sana?" 


"Aku mau ngomong sama Ibunya Kak Risqi, Bu." 


"Loh, kamu dekat sama ibunya?" 


"Ibunya Kak Risqi sudah menganggap aku seperti anaknya. Jadi, aku juga ingin menemuinya," kataku menerangkan. 


"Oh. Ya sudah kalau begitu. Hati-hati," kata Ibu menasehati. 


Aku mengangguk pelan, kemudian kembali menganyunkan langkah keluar dari rumah. Dengan menggunakan motor, aku menuju rumah Kak Risqi. Sebelum sampai di sana, kebetulan melewati pasar. Aku pun membeli buah-buahan sebagai buah tangan untuk Ibunya Kak Risqi. 


Sudah mendapat apa yang akan kujadikan sebagai oleh-oleh, aku pun kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa saat kemudian motor yang dikendarai sendiri sampai di pekarangan rumah Kak Risqi. Rumah itu terlihat sepi. 


Aku turun setelah memarkirkan motor di teras rumah Kak Risqi, kemudian berjalan menuju pintu rumah berwarna cokelat tua itu. Pelan-pelan kuketuk pintu itu hingga terdengar suara seseorang menyahut dari dalam. 


"Assalamualaikum!" seruku. 


"Waalaikum salam." Pintu terbuka, menampakkan tubuh seorang wanita paruh baya yang kini terlihat sedikit kurus. 


"Ibu," sapaku disertai senyum hangat. 

__ADS_1


"Tasya!" 


__ADS_2